وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah,” mereka berkata, “Bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati padanya leluhur kami.” Apakah demikian walaupun leluhur mereka tidak berakal sedikit pun dan tidak mendapat petunjuk?

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَاwa-idzaa qiila lahumu ttabi'uu maa anzala llaahu qaaluu bal nattabi'u maa alfaynaa 'alayhi aabaa'anaadan apabila dikatakan kepada mereka, ikutilah apa yang diturunkan Allah, mereka berkata, bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati padanya leluhur kami
  2. أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَa-wa-law kaana aabaa'uhum laa ya'qiluuna syay'an wa-laa yahtaduunaapakah walaupun leluhur mereka tidak berakal sedikit pun dan tidak mendapat petunjuk

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. قِيلَqiiladikatakan
  3. لَهُمُlahumubagi mereka
  4. اتَّبِعُواttabi'uuikutilah kalian
  5. مَاmaaapa yang
  6. أَنْزَلَanzalamenurunkan
  7. اللَّهُllaahuAllah
  8. قَالُواqaaluumereka berkata
  9. بَلْbalbahkan
  10. نَتَّبِعُnattabi'ukami mengikuti
  11. مَاmaaapa yang
  12. أَلْفَيْنَاalfaynaakami dapati
  13. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  14. آبَاءَنَاaabaa'anaaleluhur kami
  15. أَوَلَوْa-wa-lawapakah walaupun
  16. كَانَkaanaadalah
  17. آبَاؤُهُمْaabaa'uhumleluhur mereka
  18. لَاlaatidak
  19. يَعْقِلُونَya'qiluunayang mengerti
  20. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  21. وَلَاwa-laadan tidak pula
  22. يَهْتَدُونَyahtaduunamendapat petunjuk

Inti bacaan

Kritik terhadap 'mengikuti nenek moyang' tanpa mempertimbangkan apakah mereka 'bernalar' atau 'mendapat petunjuk', tradisi tidak otomatis benar hanya karena diwariskan. Konkretnya: menghormati warisan leluhur tidak berarti mengikutinya tanpa evaluasi kritis, pertanyaan yang sehat adalah 'apakah ini benar' bukan sekadar 'apakah ini yang selalu dilakukan'.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ, wa idzaa qiila lahumu) yang berarti "dan apabila dikatakan kepada mereka". Kata (قِيلَ, qiila) dari akar yang berarti mengatakan adalah bentuk pasif, "dikatakan", tanpa menyebut siapa yang mengatakannya, membuat ajakan ini terdengar sebagai seruan umum yang bisa datang dari siapa pun yang menyampaikan wahyu. Ajakan itu sendiri, (اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ, ittabi'uu maa anzala llaahu), berarti "ikutilah apa yang diturunkan Allah". Kata (اتَّبِعُوا, ittabi'uu) dari akar yang berarti mengikuti adalah akar yang sama dengan kata "mengikuti" di 2:166 dan 2:167, tentang pengikut dan yang diikuti, serta di 2:168, tentang larangan mengikuti langkah setan. Ayat ini memakainya lagi, kali ini sebagai perintah mengikuti wahyu, sesudah satu ayat, 2:169, yang tidak memakai akar ini sama sekali karena berbicara tentang isi ajakan setan, bukan tentang tindakan mengikuti itu sendiri.

Jawaban penolakan, (قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا, qaaluu bal nattabi'u maa alfaynaa 'alayhi aabaa'anaa), berarti "mereka berkata, bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati leluhur kami menganutnya". Kata (بَلْ, bal) adalah partikel koreksi yang menegaskan penolakan secara terbuka, bukan sekadar diam atau berpaling, melainkan menyatakan pilihan yang berlawanan secara eksplisit. Kata (أَلْفَيْنَا, alfaynaa) dari akar yang berarti mendapati, dan ia sendiri berarti "kami dapati" atau "kami temukan dalam keadaan begitu". Frasa persis "wa idzaa qiila lahumu ittabi'uu maa anzala llaahu qaaluu bal nattabi'u" muncul juga di 31:21, dengan satu pergantian kata: 31:21 memakai (وَجَدْنَا, wajadnaa) dari akar yang berarti menemukan, bukan alfaynaa, meski maknanya sama, "kami dapati". Dua ayat ini membuka dengan susunan yang identik, lalu bercabang pada kata kerja yang berbeda akar namun sepadan makna.

Pertanyaan retoris penutup, (أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ, a-wa-law kaana aabaa'uhum laa ya'qiluuna syai'an wa laa yahtaduuna), berarti "apakah demikian walaupun leluhur mereka tidak berakal sedikit pun dan tidak mendapat petunjuk?". Kata (يَعْقِلُونَ, ya'qiluuna) dari akar yang berarti mengikat dan berakal, dan ia sendiri berarti "mereka berakal" atau "mereka menalar", dan (يَهْتَدُونَ, yahtaduuna) dari akar yang berarti menunjukkan jalan, dan ia sendiri berarti "mereka mendapat petunjuk". Bentuk negatif "laa ya'qiluuna", tidak berakal, muncul di berbagai tempat dalam mushaf, termasuk di ayat berikutnya, 2:171, yang akan melanjutkan gambaran tentang orang yang tidak menggunakan akalnya. Pertanyaan retoris ini berbeda dari penutup 31:21. Di ayat ini, yang dipersoalkan adalah kualitas leluhur itu sendiri, apakah mereka berakal dan mendapat petunjuk. Di 31:21, yang dipersoalkan bukan kualitas leluhur, melainkan siapa yang sesungguhnya menyeru di balik kesetiaan pada tradisi itu, "apakah demikian walaupun setan menyeru mereka ke azab yang menyala-nyala?". Dua ayat dengan pembuka yang sama persis ini menyerang argumen taklid buta dari dua arah berbeda, satu meragukan sumber tradisi itu sendiri, satu membongkar siapa penggeraknya.

Tafsiran

Ayat ini menghidupkan kembali tema mengikuti setelah satu ayat jeda. Tiga ayat sebelum 2:169, akar kata mengikuti muncul berturut-turut, pengikut yang berlepas diri dari pemimpinnya di 2:166, pengikut yang menyesal di 2:167, larangan mengikuti langkah setan di 2:168. Ayat 2:169 kemudian berbicara tentang isi ajakan setan tanpa memakai kata mengikuti sama sekali, karena fokusnya bergeser dari tindakan mengikuti kepada apa yang diajak. Ayat ini mengembalikan tema mengikuti, kini pada objek yang paling mendasar dari semuanya, wahyu Allah, dan pada penolakan yang paling terang-terangan, memilih tradisi leluhur di atasnya.

Ayat ini adalah ilustrasi konkret dari peringatan dua ayat sebelumnya. Ayat 2:168 melarang mengikuti langkah setan, dan 2:169 merinci isi ajakannya, kejahatan dan berkata tentang Allah tanpa ilmu. Ayat ini menampilkan kasus nyata dari pola itu, orang-orang yang ketika diminta mengikuti wahyu, memilih mengikuti leluhur, bukan karena argumen yang mereka bangun, melainkan karena kebiasaan yang sudah mereka dapati. Ayat paralel 31:21 bahkan menyebut secara eksplisit bahwa penggerak di balik kesetiaan buta pada tradisi semacam ini adalah setan sendiri, menyeru mereka bukan ke arah kebaikan, melainkan ke azab yang menyala-nyala. Ayat ini sendiri tidak menyebut setan secara langsung, tapi kesamaan persis pembukanya dengan 31:21 membuat keterkaitan itu tersirat dengan jelas bagi siapa yang membaca keduanya berdampingan.

Pertanyaan retoris penutup meruntuhkan dasar argumen para penolak ini dengan caranya sendiri. Argumen mereka bertumpu pada otoritas leluhur, seolah kesetiaan pada apa yang lebih dulu ada secara otomatis benar. Pertanyaan ini membalikkan tumpuan itu dengan mempersoalkan kelayakan leluhur tersebut sebagai otoritas, apakah mereka sendiri berakal dan mendapat petunjuk. Jika jawabannya tidak, seperti tersirat dari pertanyaan ini, maka argumen mengikuti leluhur bukan lagi argumen tentang kebenaran, melainkan argumen tentang kebiasaan semata, yang sama sekali tidak menjamin arah yang benar.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata mengikuti muncul lagi di ayat ini setelah absen satu ayat, sesudah tiga kali berturut-turut muncul di tiga ayat sebelum jeda itu. Ada pola yang tersingkap dari susunan ini, bahwa satu ayat yang berbicara tentang isi sebuah ajakan tanpa memakai kata mengikuti tetap bisa menjadi bagian utuh dari rangkaian yang sama, karena isi itulah yang menjelaskan mengapa mengikuti sesuatu tertentu berbahaya. Jeda satu ayat ini bukan pemutusan topik, melainkan pendalaman sebelum topik yang sama muncul lagi pada objek yang berbeda.
  • Jawaban yang diberikan bukan penolakan diam atau sikap berpaling tanpa penjelasan; ia memakai partikel yang secara eksplisit mengoreksi ajakan yang baru saja disampaikan, menyatakan pilihan yang berlawanan secara terang-terangan. Ada perbedaan antara mengabaikan sebuah ajakan dan menjawabnya dengan penegasan bahwa pilihan yang sudah ada tetap dipertahankan. Bentuk penolakan yang eksplisit semacam ini menunjukkan bahwa kesetiaan pada tradisi leluhur, dalam kasus ini, bukan kelalaian, melainkan pendirian yang secara sadar dipertahankan bahkan ketika alternatifnya sudah dinyatakan jelas.
  • Ayat ini dan 31:21 membuka dengan susunan kata yang sama persis, tapi menutup dengan pertanyaan retoris yang menyerang argumen taklid buta dari dua arah berbeda: ayat ini meragukan kualitas leluhur itu sendiri, sedang 31:21 membongkar siapa yang sesungguhnya menyeru di balik kesetiaan itu. Ada kelengkapan dalam dua serangan yang saling melengkapi ini, seolah argumen mengikuti tradisi leluhur bisa diruntuhkan dari sisi mana pun ia dipertahankan, baik dari sisi kelayakan sumbernya maupun dari sisi motif tersembunyi di baliknya.
  • Argumen para penolak ini bertumpu pada fakta bahwa sesuatu sudah dilakukan leluhur, seolah fakta itu sendiri cukup menjadi dasar kebenaran. Pertanyaan retoris penutup tidak menerima tumpuan itu begitu saja; ia mempersoalkan apakah leluhur tersebut memang layak menjadi otoritas, dengan bertanya apakah mereka berakal dan mendapat petunjuk. Ada pelajaran dalam cara pertanyaan ini disusun, bahwa sesuatu yang sudah lama dilakukan tidak otomatis menjadi layak diikuti, kelayakan itu perlu diperiksa sendiri, terlepas dari berapa lama kebiasaan itu sudah berjalan.
  • Ayat ini dan 31:21 membuka dengan kalimat yang sama persis, lalu bercabang pada satu kata, mendapati, yang di sini memakai satu akar, dan di sana memakai akar yang berbeda, meski maknanya sepadan. Ada sesuatu yang menenangkan dari variasi kecil semacam ini, bahwa gagasan yang sama, kesetiaan buta pada apa yang sudah didapati dari leluhur, tidak terikat pada satu pilihan kata tunggal untuk bisa disampaikan dengan tepat. Dua ayat yang berbicara tentang pola manusia yang sama bisa memakai kosakata yang sedikit berbeda tanpa kehilangan kesamaan intinya, menunjukkan bahwa pola itu sendiri cukup dikenali lewat lebih dari satu cara pengucapan.
  • Kata kerja yang mereka pakai (أَلْفَيْنَا) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Artinya mendapati, menemukan sesuatu yang sudah ada di tempatnya. Jadi pembelaan mereka tidak mengaku memilih, tidak mengaku menimbang, dan tidak mengaku menerima keterangan. Ia cuma mengaku menemukan. Apakah menemukan sesuatu sudah cukup menjadi alasan untuk meneruskannya? Allah menjawab dengan satu pertanyaan lagi di ujung ayat, yaitu bagaimana kalau yang ditemukan itu ternyata tidak berakal dan tidak mendapat petunjuk.