أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur'an? Sekiranya ia dari selain Allah, tentu mereka menemukan di dalamnya banyak pertentangan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَa-fa-laa yatadabbaruuna l-qur'aanatidakkah mereka menadaburi Al-Qur'an
  2. وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًاwa-law kaana min 'indi ghayri llaahi la-wajaduu fiihi khtilaafan katsiiransekiranya ia dari selain Allah, tentu mereka menemukan di dalamnya banyak pertentangan

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. أَفَلَاa-fa-laamaka tidakkah
  2. يَتَدَبَّرُونَyatadabbaruunamenadaburi
  3. الْقُرْآنَl-qur'aanaAl-Qur'an
  4. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  5. كَانَkaanaadalah
  6. مِنْmindari
  7. عِنْدِ'indisisi
  8. غَيْرِghayriselain
  9. اللَّهِllaahiAllah
  10. لَوَجَدُواla-wajaduutentu mereka menemukan
  11. فِيهِfiihidi dalamnya
  12. اخْتِلَافًاkhtilaafanpertentangan
  13. كَثِيرًاkatsiiranbanyak

Inti bacaan

Ayat metodologis kunci: 'sekiranya ia dari selain Allah, tentu mereka menemukan di dalamnya banyak pertentangan', konsistensi internal disebut sebagai bukti otentisitas, prinsip non-kontradiksi yang menjadi dasar metode pembacaan teks ini sendiri. Konkretnya: menguji konsistensi internal sebuah sumber (apakah bagian-bagiannya saling mendukung tanpa kontradiksi) adalah metode verifikasi yang bisa diterapkan luas, bukan hanya pada teks suci, tapi pada klaim, teori, atau argumen apa pun yang mengklaim kebenaran menyeluruh.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini tidak menuntut pembacanya percaya. Ia menawarkan sebuah cara memeriksa, dan menyerahkan pemeriksaannya kepada orang yang meragukan.

Kata kerjanya “menadaburi” (يَتَدَبَّرُونَ, yatadabbaruuna), bukan membaca dan bukan pula menghafal. Akarnya berkaitan dengan bagian belakang sesuatu, yaitu apa yang ada di balik dan apa yang menjadi akibatnya. Yang diminta adalah menelusuri sampai ke ujung, dan ujian yang ditawarkan ayat ini memang tidak bisa dijalankan dari permukaan.

Pertanyaan “tidakkah mereka menadaburi Al-Qur'an” muncul dua kali dengan kata yang persis sama (4:82, 47:24). Di tempat ini yang menyusul adalah alat ujinya, yaitu carilah pertentangan di dalamnya. Di tempat yang satu lagi yang menyusul justru penghalangnya, yaitu hati yang terkunci. Pertanyaan yang sama diajukan dua kali: sekali menunjuk apa yang harus diperiksa, sekali menunjuk apa yang membuat orang tak memeriksanya.

Yang dijadikan tanda bukan ketiadaan kesulitan, melainkan ketiadaan “banyak pertentangan” (اخْتِلَافًا كَثِيرًا, khtilaafan katsiiran). Ukuran itu penting dibaca apa adanya. Sebuah karangan manusia yang panjang, disusun bertahun-tahun dalam keadaan yang berganti-ganti, hampir mustahil tidak berselisih dengan dirinya sendiri di banyak tempat. Yang ditawarkan untuk diperiksa adalah keutuhan itu, bukan kemudahan.

Dua rangkaian kata di ayat ini tak terulang di mana pun. Yang pertama sebutan bagi asal-usul yang diandaikan, “dari selain Allah” (مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ, min 'indi ghayri llaahi). Yang kedua alat ujinya, “banyak pertentangan” (اخْتِلَافًا كَثِيرًا, khtilaafan katsiiran). Keduanya hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di ayat ini. Rumusan ujinya dibuat khusus, tidak dipinjam dari tempat lain.

Bentuk kalimatnya pengandaian yang dibalik. Tidak dikatakan bahwa keutuhan membuktikan asalnya; yang dikatakan, seandainya asalnya lain, pertentangannya pasti banyak. Perbedaan arah ini menentukan siapa yang menanggung pemeriksaan. Pembaca tidak diminta menemukan bukti bahwa kitab ini utuh, melainkan dipersilakan mencari kegagalannya. Sebuah pernyataan yang menawarkan cara untuk dijatuhkan berdiri di atas dasar yang berbeda dari pernyataan yang hanya meminta diterima.

Letaknya di dalam surah menambah satu lapis. Ayat sesudahnya (4:83) berbicara tentang orang yang menyebarluaskan kabar begitu mendengarnya, tanpa mengembalikannya kepada yang berwenang memeriksa. Dua ayat berdampingan, dan keduanya tentang cara memperlakukan keterangan: yang satu menawarkan pemeriksaan atas kitab, yang satu menegur kebiasaan meneruskan kabar tanpa pemeriksaan. Yang diminta di kedua tempat itu sama, yaitu berhenti sebentar sebelum menerima.

Tafsiran

Ayat ini adalah salah satu tempat paling tidak biasa di dalam Al-Qur'an, sebab di sini sebuah pernyataan tentang asal-usul kitab ini justru disampaikan dengan cara menyerahkan alat untuk merobohkannya. Yang ditawarkan bukan bukti yang harus diterima, melainkan pemeriksaan yang boleh dijalankan siapa saja, termasuk oleh orang yang paling ingin menemukan cacatnya.

Kekuatan susunan itu terletak pada arah pengandaiannya. Kalau dikatakan bahwa keutuhan membuktikan asalnya, pembaca akan diminta memeriksa sesuatu yang hasilnya sudah ditentukan lebih dahulu. Yang dikatakan justru sebaliknya: seandainya berasal dari selain Allah, pertentangan di dalamnya pasti banyak. Pernyataan semacam ini bisa gugur seketika oleh satu penemuan, dan kesediaan menempatkan diri pada posisi seperti itu adalah bagian dari isi pesannya.

Ukurannya pun dipilih dengan jujur. Yang disebut bukan ketiadaan satu pun kesulitan, melainkan ketiadaan pertentangan yang banyak. Perbedaan itu perlu dibaca pelan. Sebuah tulisan panjang yang disusun bertahun-tahun oleh manusia, di tengah keadaan yang berganti-ganti dan pengetahuan yang bertambah, hampir mustahil tidak berselisih dengan dirinya sendiri di banyak tempat. Ukuran itu memilih sesuatu yang bisa diperiksa dan bisa dihitung, bukan sesuatu yang bergantung pada perasaan pembacanya.

Yang mudah terlewat adalah kata kerjanya. Yang diminta bukan membaca, dan bukan pula membaca dengan teliti. Yang diminta menelusuri sampai ke belakang. Ujian yang ditawarkan ayat ini karena itu tidak bisa dijalankan oleh orang yang tidak bersedia menghabiskan waktu, dan di situlah letak keamanannya yang sebenarnya. Kebanyakan penolakan tidak pernah sampai pada tahap pemeriksaan, dan ayat ini sudah menyebutkan itu di kalimat pertamanya, dalam bentuk pertanyaan yang belum juga terjawab: tidakkah mereka menadaburinya. Pertanyaan yang sama diajukan sekali lagi di 47:24, dan di sana yang disebut bukan lagi alat ujinya, melainkan hati yang terkunci.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menawarkan ujian, bukan menuntut percaya. Carilah pertentangannya. Yang ditawarkan cara memeriksa, dan pemeriksanya mereka sendiri. Bentuk pertanyaannya (أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ) muncul di dua ayat, di sini dan di 47:24. Keduanya berbentuk teguran, bukan ajakan, dan keduanya menyangkut Al-Qur'an. Yang membedakan cuma apa yang menyusul: di sini disebutkan hasil yang akan ditemukan kalau ujian itu dijalankan, sedangkan di 47:24 disebutkan keadaan hati yang menghalanginya. Dua sisi dari satu perkara yang sama.
  • Kata yang dipakai menadaburi, bukan membaca. Menelusuri sampai dalam. Ujian itu tak bisa dijalankan dari permukaan. Perbedaan antara keduanya terletak pada apa yang dituntut dari pembacanya. Membaca menuntut mata dan waktu. Menadaburi menuntut kesediaan menemukan sesuatu yang tidak dicari, termasuk sesuatu yang tidak menyenangkan. Ujian yang ditawarkan ayat ini tidak bisa dijalankan oleh orang yang sudah memutuskan hasilnya, sebab pemeriksaan semacam itu cuma menemukan apa yang sudah disiapkan untuk ditemukan.
  • Allah menyebut banyak pertentangan, bukan satu. Ukurannya bukan kesempurnaan yang tanpa cela. Yang tak ditemukan bukan ketiadaan cacat, melainkan ketiadaan kekacauan. Rangkaian itu (اخْتِلَافًا كَثِيرًا) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Ukuran yang dipasang bukan ketiadaan mutlak melainkan banyaknya, dan itu ukuran yang jujur untuk sebuah kitab yang panjang. Mengapa ukurannya tidak dibuat semutlak mungkin? Karena ukuran yang mutlak akan gugur oleh satu tempat yang belum dimengerti pembacanya, sedangkan yang diuji di sini bukan pemahaman pembaca melainkan sumber kitabnya.
  • Allah menawarkan sebuah pemeriksaan dan menyerahkan alatnya kepada orang yang meragukan. Tawaran itu terbuka sampai sekarang. Kapan terakhir kali kita benar-benar menjalankannya, yaitu menelusuri sampai ke dalam untuk mencari selisihnya, dan bukan sekadar mencari penguat bagi yang sudah telanjur kita yakini? Ada satu hal yang tidak dilakukan ayat ini, dan ketiadaannya menentukan. Ia tidak menyebutkan siapa yang berhak menjalankan pemeriksaan itu, tidak menetapkan syarat keilmuan, dan tidak menunjuk pihak yang akan menilai hasilnya. Alatnya diserahkan kepada siapa saja yang mau memakai, termasuk kepada orang yang berharap menemukan pertentangannya.
  • Kalimatnya tidak berbunyi bahwa Al-Qur'an berasal dari Allah karena tidak ada pertentangan di dalamnya. Ia berbunyi sebaliknya: seandainya ia berasal dari selain Allah, tentu mereka menemukan banyak pertentangan. Arah pengandaiannya dibalik, dan pembalikan itu memindahkan pekerjaan. Pernyataan yang pertama menuntut pembacanya menerima kesimpulan; pernyataan yang kedua menuntutnya melakukan pemeriksaan. Yang satu meminta persetujuan, yang lain meminta waktu, dan cuma yang kedua yang bisa dikerjakan tanpa mendahului hasilnya.
  • Ayat ini dibuka dengan pertanyaan dan tidak menjawabnya. Ia cuma menyebutkan apa yang akan ditemukan seandainya pemeriksaan dijalankan, lalu berhenti. Siapa yang harus menutup kalimatnya? Pembacanya, dan cuma dengan mengerjakan pemeriksaan itu sendiri. Allah tidak menyediakan jalan pintas berupa kesimpulan yang tinggal disetujui, dan ketiadaan jalan pintas itulah yang membuat ayat ini tetap terbuka bagi pembaca zaman mana pun, termasuk bagi yang datang dengan niat membantahnya.