Kamus ini bertambah bertahap. Saat ini 27 akar kata sudah didokumentasikan, dan jumlahnya terus bertambah seiring ayat-ayat baru digarap mendalam.
Alasan memilih kata netral "berkehendak" untuk hamma di 12:24, kata yang mencakup niat ringan sampai hasrat kuat tanpa memastikan derajatnya.
Alasan mempertahankan "wasilah" di 5:35 dan 17:57 alih-alih "jalan": kata "jalan" sudah dipakai untuk akar sabiil di seluruh terjemahan ini, dan keduanya bertabrakan di dalam 5:35 sendiri.
Akar f-t-n terbelah dua kelompok makna: ujian yang netral atau datang dari Allah, dan kekacauan yang lahir dari perbuatan manusia sendiri. Bentuk kata kerjanya berbeda lagi, yaitu memperdayakan.
Alasan menerjemahkan muhaymin sebagai "pengawas", bukan "penjaga", diselaraskan antara 5:48 dan 59:23.
Empat ayat berpola simetris (larangan, positif, positif, larangan) diseragamkan menjadi "pelindung". Memecahnya jadi "wali", "penolong", dan "teman setia" menyembunyikan pola itu.
Alasan menerjemahkan tanqimuuna di 5:59 sebagai "membenci", bukan "mencela": akar ini menunjuk dendam atau benci yang tertahan, bukan kritik yang diucapkan.
Alasan memilih "pahala" yang ironis di 5:60 dan bukan "balasan" yang netral: kata yang sama di lima belas kemunculan lain selalu berarti ganjaran baik, dan efek itu hilang bila dinetralkan.
Ungkapan "tangan Allah terbelenggu" dan "kedua tangan-Nya terbuka" (5:64) diterjemahkan apa adanya, tanpa penafsiran yang menggantikannya dengan "kikir" atau "Maha Pemurah".
Alasan memilih "sangat benar", bukan "berpegang teguh pada kebenaran", di seluruh kemunculannya: 5:75, 12:46, 19:41, 19:56, dan 57:19.
Alasan menerjemahkan tabayyun sebagai "verifikasilah" di 49:6 dan 4:94, ayat yang memuat kata itu dua kali dan dulu diterjemahkan dengan dua kata berbeda.
Alasan menerjemahkan na'budu sebagai "kami mengabdi", bukan "kami menyembah": inti akar ini adalah kedudukan hamba ('abd) di hadapan tuan (rabb, malik).
Alasan menerjemahkan salaat sebagai kewajiban atau komitmen yang ditegakkan, bukan ritual: Allah dan malaikat pun disebut ber-salaat (33:43, 33:56).
Satu perintah, dua akar: kata kerjanya (aatuu) berakar a-t-y yang berarti memberikan, sedangkan nominanya (az-zakaata) berakar z-k-w. Alasan memilih "memberikan zakat", bukan "menunaikan" atau "membayar".
Terjemahan "rabi" dipertahankan, tetapi penjelasannya wajib menyebut bahwa akar katanya sama dengan "Tuhan" (rabb), ditambah akhiran penguat.
Rumusan "menyuruh kepada makruf dan melarang dari mungkar" muncul di delapan tempat, dan Al-Qur'an sendiri menjadikannya ciri orang yang beruntung.
Dua kata yang sama-sama berarti "melakukan" berbeda kadarnya: akar s-n-' berarti mengerjakan dengan terampil dan sengaja, sedangkan akar '-m-l lebih umum.
Alasan menerjemahkan diin sebagai "pertanggungjawaban", bukan "agama", dan penerapannya secara konsisten pada tiap bentuk kata serumpun yang muncul.
Ungkapan qaaluu subhaanaka (2:32, 25:18, 34:41) selalu diucapkan pihak yang sedang menjauhkan diri dari kesan pernah mengklaim sesuatu di luar dirinya.
Akar 'ilm merangkai empat ayat berturut-turut, 2:29 sampai 2:32, dan ditutup "laa 'ilma lanaa illaa maa 'allamtanaa". Dua bentuk di dalamnya hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an.
Kedua sifat ini muncul bertakrif dan berdampingan tanpa disela kata lain hanya di empat tempat. Catatan ini merekam keempatnya dan bedanya dengan bentuk tanpa kata sandang yang jauh lebih sering.
Delapan kemunculan tawallaytum di tujuh surah dan alasan menerjemahkannya sebagai "memunggungi", bukan "menyangkal".
Alasan menerjemahkan i'tadaw sebagai "melewati batas", bukan "berbuat jahat" atau "keterlaluan": kata ini menunjuk garis yang dilanggar, bukan kadar pelanggarannya.
Tiga kemunculan khaasi' di tiga surah (2:65, 7:166, 67:4) dan alasan menerjemahkannya sebagai terhalau atau dipulangkan, bukan sekadar "hina".
Kata arjih di 7:111 berakar r-j-w, bukan r-j-', menurut korpus morfologi. Catatan pilihan kata untuk ayat itu mengikuti akar yang benar.
Kata berakar cacat (mu'tall) menampakkan alif atau ya di permukaan, padahal huruf akarnya waw atau ya yang lain. Menyalin bentuk permukaan itu ke dalam klaim akar adalah kekeliruan yang paling sering terjadi di kolom pilihan kata.
Rumus (غَفُورٌ رَحِيمٌ, *ghafuurun rahiim*) dan bentuk takrifnya (الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, *al-ghafuuru r-rahiimu*) muncul di 58 ayat total di seluruh…
Akar d-y-n dibakukan ke **"pertanggungjawaban"** di seluruh corpus, bukan "ketaatan", bukan "agama", untuk sense intinya (sistem nilai yang seseorang…