Rumus (غَفُورٌ رَحِيمٌ, ghafuurun rahiim) dan bentuk takrifnya (الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, al-ghafuuru r-rahiimu) muncul di 58 ayat total di seluruh Al-Qur'an, konvensi berikut berlaku sama di semuanya, ditulis pertama kali mendalam di 39:53 lalu dipakai ulang di 4:48, 4:116, 5:74.
- "Ghafara" berarti menutupi (dosa tetap ada, tapi diselubungi dari akibatnya). "Rahima" berarti memberi. Dua tindakan berbeda disandingkan, bukan dua kata untuk satu makna yang sama, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan pasangan kata pembuka basmalah.
- Kalau bentuknya takrif (berawalan al-), diterjemahkan "Sang Pengampun lagi Sang Pengasih" (39:53, 46:8). Kalau indefinit (tanpa al-), diterjemahkan huruf kecil, "pengampun lagi pengasih" (2:173 dan kebanyakan kemunculan lain, termasuk 4:48, 4:116, 5:74).
- Ghafuur berpola fa'uul, rahiim berpola fa'iil, pola intensif, bukan superlatif. Superlatif punya pola sendiri, af'al, seperti pada "arham" (7:151). Terjemahan lain memakai "Maha" di rumus ini secara tidak konsisten: di 9:128, ketika subjeknya manusia (bukan Allah), terjemahan lain sendiri menulis "rahiim" jadi "penyayang" polos tanpa "Maha", bukti bahwa aturan takrif/pola sudah diketahui, hanya tidak diterapkan konsisten di ayat-ayat lain.
- Akar gh-f-r muncul berdekatan dengan rahiim jauh lebih sering (puluhan kali) dibanding berdekatan dengan rahmaan (nyaris tak pernah). Profil kolokasi sedisjoin itu jadi salah satu dari beberapa jalur bukti bahwa rahiim dan rahmaan bukan sinonim yang bisa saling gantikan.
- (aziiz, hakiim, haliim, aliim, dst) sengaja dibiarkan mengikuti terjemahan lain untuk sementara, register campur ini menandai akar mana yang sudah digarap mendalam dan mana yang belum, bukan kelalaian.