Sebelum membaca terjemahan ini, ada satu pertanyaan yang baik ditanya lebih dulu. Kalau semua kalimat Tuhan ditulis, apakah tintanya akan habis?
Al-Qur’an sendiri sudah menjawab. Jawabannya tegas.
“Katakanlah, ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum habis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu.’”, QS 18:109
“Dan seandainya pohon-pohon yang ada di bumi menjadi pena-pena, dan laut menjadi tinta, disambung oleh tujuh laut lagi sesudahnya, kalimat-kalimat Allah tidak akan pernah habis.”, QS 31:27
Dua ayat ini sengaja memakai bahan sebanyak-banyaknya. Bukan satu lautan saja, tapi lautan ditambah lagi sebanyak itu (18:109). Bukan satu lautan, tapi seluruh pohon di bumi jadi pena, ditambah tujuh lautan lagi (31:27).
Tapi semua bahan itu, sebanyak apa pun, tetap akan habis. Itulah maksudnya. Kalau bahan sebanyak itu saja tetap habis duluan, maka tulisan manusia, betapapun panjang dan teliti, pasti berhenti di suatu titik. Yang tertulis bukan seluruh kalimat itu. Hanya sebagian yang sempat ditulis sebelum tintanya habis.
Terjemahan ini berangkat dari kenyataan itu. Ini bukan cuma kata rendah hati di halaman depan. Ini alasan kenapa terjemahan ini dibuat berlapis, bukan satu jawaban tunggal.
Kenapa satu ayat dibaca berlapis, bukan sekali jadi
Bayangkan Anda memotret gunung dari jauh. Fotonya bagus, tapi bukan gunungnya sendiri. Kalau foto itu difotokopi, lalu ada orang lain menggambar ulang dari fotokopiannya, gambar itu makin jauh dari gunung yang asli. Tiap langkah, ada sesuatu yang hilang.
Terjemahan bekerja mirip begitu. Setiap ayat di situs ini punya lima bagian: kata demi kata mengikuti jeda bacaannya, terjemahan yang mengalir, penjelasan pilihan katanya, tafsiran maksudnya, dan implikasinya buat pembaca. Kalau tujuannya cuma memberi satu “arti yang benar”, satu bagian saja cukup. Tapi lima bagian ini sengaja dibuat begini. Sebabnya sudah dikatakan sendiri oleh 18:109 dan 31:27: tulisan manusia tidak pernah sama dengan yang ditulisnya.
Bagian kata demi kata paling dekat dengan aslinya, mengikuti bentuk Arab apa adanya. Terjemahan sudah satu langkah lebih jauh, karena harus dipilih kata Indonesia yang enak dibaca. Penjelasan mundur satu langkah lagi, menerangkan kenapa satu kata dipilih. Tafsiran mundur lebih jauh lagi, mencoba menangkap maksudnya. Implikasi paling jauh dari sumbernya, menghubungkan ke kehidupan pembaca sekarang.
Kalau Anda tidak setuju dengan implikasi, itu tidak berarti penjelasan yang lebih dekat ke teks jadi salah. Keduanya berjarak beda dari sumber yang sama. Menganggap tafsiran sama kuat dengan kutipan Arab yang mendasarinya, itu jalan paling gampang membuat pembaca percaya sesuatu yang sebetulnya cuma dugaan.
Bayan: kemampuan menjelaskan, bukan tiket untuk merasa pasti
Surah Ar-Rahman dibuka dengan urutan yang terasa aneh kalau dibaca cepat.
“Ar-Rahmaan, telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia, Dia mengajarinya pandai menjelaskan.”, QS 55:1-4
Mengajarkan Al-Qur’an disebut lebih dulu, sebelum menciptakan manusia. Dan kemampuan menjelaskan, disebut bayaan dalam bahasa Arab, disebut sesudah manusia diciptakan. Artinya kemampuan ini diajarkan, bukan bakat yang otomatis dipunyai sejak lahir.
Banyak makhluk bisa bersuara. Tapi menjelaskan sesuatu supaya orang lain paham, itu beda. Ayat ini menyebutnya sebagai pelajaran tersendiri, terpisah dari sekadar diciptakan.
Kalau kemampuan menjelaskan itu diajarkan, bukan otomatis dipunyai, maka orang yang menerjemahkan pun sedang belajar menjelaskan. Bukan sedang memegang kepastian. Setiap kalimat di bagian penjelasan dan tafsiran adalah usaha menjelaskan sebaik mungkin, bukan pernyataan yang setara dengan ayat itu sendiri.
Yang bisa dilakukan pembaca dengan batasan ini
Ini bukan alasan untuk berhenti menerjemahkan. Bukan juga alasan untuk menganggap semua bacaan sama benarnya.
Esai sebelumnya di seri ini sudah menjelaskan kenapa proyek ini menuntut bukti dari dirinya sendiri lebih dulu, haatuu burhaanakum, sebelum menuntutnya dari pembaca. Batasan yang dibahas di esai ini adalah alasan kenapa tuntutan itu tidak berhenti di satu bagian saja.
Bagian kata demi kata dan penjelasan membawa kutipan Arab yang bisa Anda periksa sendiri. Itu paling dekat ke sumbernya. Bagian tafsiran dan implikasi tidak selalu bisa dibuktikan seketat itu, karena jaraknya memang lebih jauh. Esai ini tidak berpura-pura sebaliknya.
Kalau Anda membaca bagian tafsiran atau implikasi dan merasa itu bukan satu-satunya bacaan yang mungkin, itu bukan kegagalan terjemahan ini. Itu akibat yang sudah tertulis di 18:109, jauh sebelum terjemahan ini ada.