Coba baca ayat ini pelan-pelan:

“Dan milik Allah timur dan barat. Maka ke mana pun kalian menghadap, di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah luas lagi berilmu.”, QS 2:115

Banyak pembaca tertegun di kata “wajah”. Apakah Allah punya muka seperti manusia? Karena rasa janggal itu, sebagian terjemahan mengganti kata ini, misalnya menjadi “keridaan Allah”, atau menambahkan penjelasan di dalam kurung.

Terjemahan ini memilih jalan lain dan menerjemahkan kata Arab (وَجْه, wajh) menjadi “wajah” di semua ayat, tanpa kecuali. Esai ini menjelaskan alasannya.

Di dalam Al-Qur’an, wajh jarang sekali berarti kulit dan tulang di bagian depan kepala. Kata ini lebih sering menunjuk diri seseorang seutuhnya, termasuk arah hidupnya dan cara ia dikenali orang lain. Karena itu terjemahan ini tetap memakai kata “wajah”. Pembaca akan menemukan kata yang sama di setiap tempat, lalu pelan-pelan terbiasa membacanya seluas Al-Qur’an memakainya.


1. Seluruh kemunculannya dibaca

Keputusan seperti ini tidak boleh bertumpu pada satu atau dua ayat, sehingga seluruh kemunculannya diperiksa. Akar و-ج-ه dipakai di 71 ayat, dan pemakaiannya bisa dikelompokkan seperti ini:

PemakaianJumlah ayat
Wajah pada hari akhir, mewakili orang itu sendiri24
Menyerahkan atau menghadapkan wajah, yaitu mengarahkan diri13
Wajah Allah11
Wajah sebagai bagian tubuh7
Wajah yang memperlihatkan isi hati6
Arah dan menghadap3
Kedudukan dan perhatian3
Seluruh tubuh bergerak dengan wajah di depan2
Ungkapan (“awal siang”, “yang sebenarnya”)2

Hanya tujuh dari 71 ayat itu memakai wajh untuk wajah sebagai bagian tubuh, misalnya wajah yang dibasuh sebelum salat. Enam puluh empat ayat lainnya memakainya dengan makna yang lebih luas. Daftar lengkapnya, per kelompok, ada di halaman akar و-ج-ه.


2. Wajah yang bekerja dan merasa puas

Kelompok terbesar ada di ayat-ayat tentang hari akhir, dan surah 88 memberi contoh yang paling jelas:

“Banyak wajah pada hari itu tertunduk, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.”, QS 88:2-4

Wajah tidak bisa bekerja keras, dan tidak masuk ke dalam api sendirian. Orangnyalah yang bekerja, kelelahan, lalu masuk ke api. Ayat ini menyebut “wajah”, tetapi perbuatan sesudahnya hanya bisa dilakukan oleh seluruh diri.

Beberapa ayat kemudian polanya berulang untuk kelompok yang lain:

“Banyak wajah pada hari itu berseri-seri, merasa puas atas usahanya.”, QS 88:8-9

Wajah juga tidak berusaha; orang itu sendiri yang berusaha selama hidupnya. Dalam teks Arabnya, akhiran “-nya” pada (سَعْيِهَا, sa’yihaa), “usahanya”, kembali kepada wajah tadi. Akhiran itu membuat “wajah” di ayat ini berarti orang itu sendiri beserta seluruh usahanya.

Pola yang sama muncul di 75:22-23, “wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannya memandang”, dan di 80:38-39, “wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, tertawa lagi bergembira”. Tentu saja orangnya yang tertawa dan bergembira, bukan hanya mukanya. Ada dua puluh empat ayat yang berbicara dengan cara ini, dan di semuanya wajah menjadi tempat seluruh diri seseorang terlihat pada hari itu.


3. Menyerahkan wajah

Kelompok kedua memakai wajh bersama kata kerja menyerahkan atau menghadapkan.

“Siapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebaikan, maka baginya pahalanya di sisi Tuhannya.”, QS 2:112

Orang tidak bisa melepas wajahnya lalu menyerahkannya kepada siapa pun. Ayat ini berbicara tentang orang yang menyerahkan dirinya, termasuk arah hidupnya, kesetiaannya, dan seluruh perhatiannya. Karena itu sebagian terjemahan menulis “berserah diri” di ayat ini. Maksudnya tidak salah, tetapi kata wajh ikut hilang dari terjemahan. Terjemahan ini mempertahankannya sebagai “menyerahkan wajahnya”, supaya pembaca bisa mengenali kata yang sama ketika muncul lagi di ayat lain.

Ayat-ayat tentang kiblat memakai kata yang sama: “hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam” (2:144, 2:149, 2:150). Di sini wajah memang menghadap secara tubuh, tetapi Al-Qur’an sendiri mengingatkan bahwa menghadapkan wajah belum cukup:

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat, melainkan kebajikan itu adalah orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, Kitab, dan nabi-nabi…”, QS 2:177

Ayat ini memisahkan dua hal dengan terang: wajah yang menghadap ke satu arah, dan diri yang ikut menghadap bersamanya. Tanpa diri yang ikut menghadap, wajah yang menghadap ke kiblat belum disebut kebajikan.


4. Wajah yang memperlihatkan isi hati

Di dunia pun, Al-Qur’an memakai wajah sebagai tempat isi hati terlihat.

“Engkau mengenali pada wajah mereka cahaya kenikmatan.”, QS 83:24

Ketika orang-orang yang kufur melihat azab sudah dekat, “muramlah wajah orang-orang yang kufur” (67:27). Orang-orang yang tekun sujud membawa tandanya, sebab “pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud” (48:29). Ayat-ayat ini tidak membicarakan bentuk wajah. Wajah disebut karena memperlihatkan apa yang ada di dalam diri.

Ada juga ayat yang memakai wajh untuk perhatian seseorang. Dalam kisah Yusuf, saudara-saudaranya berkata bahwa kalau Yusuf disingkirkan, “wajah ayah kalian menjadi kosong bagi kalian”. Mereka tidak menginginkan wajah ayahnya, tetapi perhatiannya, seluruhnya untuk mereka. Dua orang nabi, Isa dan Musa, juga disebut (وَجِيهًا, wajiihan), “terpandang”, dari akar yang sama. Orang yang terpandang adalah orang yang wajahnya diakui, dalam arti punya kedudukan di mata orang lain.


5. Wajah Allah

Sekarang kita kembali ke pertanyaan pertama: apa arti wajah Allah?

Petunjuk pertama ada di 2:115: ke mana pun kalian menghadap, di sanalah wajah Allah. Wajah makhluk hanya ada di satu tempat dan hanya terlihat dari depan, sedangkan wajah Allah ada di setiap arah. Al-Qur’an juga menegaskan, “tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya” (112:4), sehingga “wajah” di sini tidak bisa dibaca sebagai muka.

Petunjuk kedua ada di surah Ar-Rahman:

“Semua yang ada di atasnya akan binasa, dan wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.”, QS 55:26-27

Sesudah semuanya binasa, Dia sendiri yang tetap ada, bukan salah satu bagian dari-Nya. Al-Qur’an tidak menjelaskan lebih jauh seperti apa wajah-Nya, dan esai ini tidak akan menambahkannya. Frasa “wajah Tuhanmu” cukup dipahami sebagai Dia sendiri, bukan sesuatu yang lebih kecil dari-Nya.

Petunjuk ketiga datang dari ayat-ayat tentang memberi. Orang-orang yang memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan berkata:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepada kalian hanya demi wajah Allah. Kami tidak mengharap balasan dan syukur dari kalian.”, QS 76:9

Di 92:19-20, orang yang memberi tidak sedang membalas budi siapa pun, “kecuali karena mencari wajah Tuhannya yang tertinggi.” Di kedua ayat itu mereka tidak mencari balasan atau ucapan terima kasih. Mereka mencari Dia.

Karena itu terjemahan “keridaan” terasa kurang tepat. Keridaan menunjuk sikap Allah terhadap sebuah perbuatan, sedangkan ayat-ayat ini menunjuk lebih jauh, kepada Dia sendiri. Arah itu tetap terbaca kalau kata “wajah” dipertahankan.


6. Tujuh ayat tentang wajah di tubuh

Tujuh ayat memang berbicara tentang wajah sebagai bagian tubuh. Wajah dibasuh ketika berwudu dan diusap ketika bertayamum. Baju Yusuf diletakkan di wajah ayahnya sehingga ayahnya bisa melihat kembali, dan malaikat memukul wajah serta punggung orang-orang yang kufur ketika nyawa mereka dicabut.

Ayat-ayat ini penting karena dari sanalah gambarannya berasal. Wajah adalah bagian tubuh yang menghadap ke depan, yang pertama dilihat orang, dan yang membuat seseorang dikenali. Ayat-ayat lain berangkat dari gambaran itu. Karena seseorang dikenali dari wajahnya, wajah menunjuk dirinya. Karena seseorang menghadap dengan wajahnya, menghadapkan wajah berarti mengarahkan hidupnya.

Ayat 67:22 memperlihatkan perpindahan makna itu dalam satu kalimat:

“Maka apakah orang yang berjalan tertelungkup atas wajahnya lebih mendapat petunjuk, ataukah orang yang berjalan tegak di atas jalan yang lurus?”, QS 67:22

Gambarannya tubuh, yaitu orang yang berjalan jatuh tertelungkup, tetapi ayat itu berbicara tentang petunjuk, yaitu arah hidup seseorang.


7. Kenapa tetap “wajah”

Ada beberapa pilihan lain, dan masing-masing hanya menangkap sebagian:

  • “Keridaan” cocok untuk beberapa ayat tentang memberi, tetapi tidak cocok untuk wajah yang tertunduk pada hari akhir.
  • “Diri” cocok untuk banyak ayat, tetapi gambaran menghadapnya hilang.
  • “Berserah diri” menangkap maksud 2:112, tetapi menghapus kata wajh sama sekali.

Setiap pilihan itu mengambil satu lapis makna dan membuang lapis yang lain, sedangkan dengan “wajah” semua lapis itu tetap ada. Pembaca pun melihat kata yang sama di ke-71 ayat dan bisa menghubungkannya sendiri. Orang yang di 92:20 mencari wajah Tuhannya adalah orang yang di 2:112 menyerahkan wajahnya kepada Allah, dan wajah yang diserahkan di dunia akan berseri-seri atau muram pada hari akhir. Hubungan seperti ini hanya terlihat kalau katanya tidak diganti-ganti.

Bahasa Indonesia sebenarnya sudah siap untuk makna yang luas ini. Kita biasa berkata “wajah kota”, “wajah baru sekolah kami”, atau “wajah pendidikan kita”, dan tidak ada yang mengira kota punya hidung. Orang yang tidak jujur kita sebut “bermuka dua”, dan orang yang dipermalukan kita sebut “kehilangan muka”. Dalam ungkapan-ungkapan itu, wajah dan muka berarti sifat dan jati diri, bukan kulit. Kata “wajah” lebih sering dipakai untuk makna yang luas daripada “muka”, karena orang berkata “wajah kota” dan jarang berkata “muka kota”. Karena itu terjemahan ini memakai “wajah”.

Ketika membaca “wajah” di terjemahan ini, pembaca bisa memahaminya seperti ungkapan-ungkapan itu. Menyerahkan wajah kepada Allah berarti menyerahkan diri seutuhnya, menghadapkan wajah berarti mengarahkan hidup, dan mencari wajah Allah berarti mencari Dia, bukan sesuatu selain Dia.


Penutup

Kata yang awalnya terdengar paling jasmani ternyata dipakai Al-Qur’an untuk hal yang paling utuh: diri manusia seutuhnya, yang kelak tampak pada hari akhir, dan Dia yang tetap ada ketika semua yang lain binasa. Terjemahan ini tidak mengganti kata itu, tetapi mengajak pembaca memperluas cara membacanya.