Kenapa terjemahan ini dikerjakan

Alasannya tidak berdiri di atas satu ayat. Ia dikumpulkan dari beberapa hal yang Al-Quran katakan tentang dirinya sendiri, dan tentang orang yang membacanya.

Kitab ini menyebut dirinya sudah dijelaskan

“Maka, apakah aku mencari selain Allah sebagai hakim, padahal Dialah yang menurunkan Kitab kepada kalian secara terperinci?”

QS 6:114

“Kitab yang tanda-tandanya telah dikukuhkan kemudian dijelaskan secara terperinci dari sisi yang penuh hikmah lagi waskita.”

QS 11:1

“Dan Kami turunkan kepadamu Kitab, penjelasan tuntas bagi segala sesuatu.”

QS 16:89

Klaim itu punya akibat langsung bagi cara menerjemahkan. Kalau Kitab menyatakan dirinya sudah terperinci, maka perincian itu ada di dalamnya, dan di situlah tempat pertama mencarinya. Bukan karena sumber di luar teks tidak berharga, melainkan karena sumber di luar teks tidak bisa menjadi penjelas pertama bagi sesuatu yang menyatakan dirinya sudah menjelaskan.

Ia meminta dibaca dengan dipikirkan

Perintahnya bukan menerima, melainkan menimbang.

“Maka, tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an, ataukah pada hati ada kunci-kuncinya?”

QS 47:24

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, supaya mereka menghayati tanda-tandanya dan supaya orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.”

QS 38:29

“Dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran; maka, adakah yang mengambil pelajaran?”

QS 54:17

Ayat yang paling sering dipakai untuk membicarakan konsistensi Al-Quran juga dimulai dengan perintah yang sama, dan itu bukan kebetulan:

“Tidakkah mereka menadaburi Al-Qur’an? Sekiranya ia dari selain Allah, tentu mereka menemukan di dalamnya banyak pertentangan.”

QS 4:82

Ayat ini menawarkan sebuah ujian, dan ujian hanya berguna kalau benar-benar dijalankan. Kalau tidak adanya pertentangan memang ciri teks ini, maka konsistensi boleh dipakai sebagai alat untuk menguji terjemahan atasnya. Terjemahan yang membuat satu kata berarti berlainan di dua tempat tanpa alasan yang bisa ditunjukkan sedang menciptakan pertentangan yang tidak ada di sumbernya.

Yang ditanya nanti satu per satu

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kauketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

QS 17:36

“Dan semuanya akan datang kepada-Nya pada hari Kiamat dalam keadaan sendiri-sendiri.”

QS 19:95

Kalau pertanggungjawabannya perorangan, maka pembaca perlu bisa memeriksa, dan bukan sekadar diberi tahu. Itulah sebabnya situs ini menampilkan alasannya, bukan hanya hasilnya. Terjemahan yang meminta dipercaya tanpa menunjukkan dasarnya meminta sesuatu yang tidak bisa diberikan siapa pun kepada orang lain.

Al-Quran juga menyebut jawaban yang paling mudah diberikan ketika sebuah bacaan diminta diperiksa ulang:

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah,” mereka berkata, “Bahkan kami mengikuti apa yang kami dapati padanya leluhur kami.” Apakah demikian walaupun leluhur mereka tidak berakal sedikit pun dan tidak mendapat petunjuk?”

QS 2:170

“Dan jika engkau menaati kebanyakan orang di bumi, mereka menyesatkanmu dari jalan Allah; mereka hanya mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah menduga-duga.”

QS 6:116

Ini bukan alasan untuk membuang apa yang diwariskan. Warisan keilmuan Islam adalah kekayaan, dan situs ini memakainya terus-menerus. Yang ditolak hanya satu hal: bahwa sebuah bacaan menjadi benar semata-mata karena sudah lama dipakai. Kalau ia benar, ia akan tahan diperiksa. Memeriksanya bukan penghinaan kepada yang mewariskan.

Yang ditakutkan

“Dan Rasul berkata, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang terabaikan.””

QS 25:30

Sebuah kitab bisa terabaikan sambil tetap dibaca setiap hari. Ia terabaikan ketika dilafalkan tanpa dimengerti, atau ketika dimengerti lewat ringkasan orang lain saja. Terjemahan ini disusun untuk membuat satu jalan kecil ke arah sebaliknya, yaitu supaya pembaca Indonesia bisa mengerti apa yang sedang ia baca, sampai ke tingkat kata, dan bisa membantah penerjemahnya kalau ternyata salah.

Bukti internal sebagai fondasi sekaligus penguji

Dari alasan di atas turun satu aturan kerja. Bukti internal, yaitu bagaimana sebuah kata dipakai di seluruh kemunculannya di dalam Al-Quran sendiri, punya dua peran sekaligus:

  1. Fondasi. Makna sebuah kata ditegakkan dari pola pemakaiannya lintas ayat, bukan diambil dari kamus atau tafsir lebih dulu lalu ditempelkan ke ayat.
  2. Penguji. Bukti internal boleh membatalkan pembacaan lain, termasuk pembacaan yang sudah luas diterima, kalau pembacaan itu ternyata tidak konsisten dengan pemakaian kata yang sama di ayat-ayat lain.

Kamus klasik dan terjemahan lain tetap dipakai, tetapi sebagai saksi, bukan wasit akhir. Kesaksian mereka diterima selama tidak dibantah oleh bukti internal yang sampelnya cukup. Kalau bertabrakan, bukti internal yang menang, dan pertentangan itu dicatat secara terbuka, bukan disembunyikan.

Setiap klaim di situs ini harus bisa dilacak balik ke teks ayat itu sendiri, morfologinya, dan pola pemakaiannya di ayat-ayat lain, bukan ke narasi di luar teks.

Kutipan yang bisa diperiksa ulang

Setiap klaim tentang pilihan kata di situs ini disertai kutipan Arab asli berpasangan transliterasi, supaya pembaca yang tidak lancar membaca aksara Arab pun bisa memverifikasi klaimnya sendiri lewat ejaan Latin. Ini bukan sekadar hiasan. Ini syarat sah bagi proyek yang mengkritik terjemahan lain karena dianggap memutuskan tanpa menunjukkan alasan. Kalau penjelasan di sini sendiri tidak beralasan, ia melakukan kesalahan yang sama.

Rujukan ke ayat lain, misalnya “pola yang sama muncul di 2:30”, ditautkan langsung, supaya pembaca bisa memeriksa klaim pola-lintas-ayat itu sendiri, bukan sekadar mempercayainya.

Tiga tingkat mempertahankan kata Arab

Ada tiga keadaan berbeda ketika sebuah kata Arab dipertahankan, yaitu tidak diterjemahkan, dan pembaca berhak tahu yang mana yang berlaku:

  1. Ada bukti kuat dari pemakaian internal atau leksikon bahwa kata itu berfungsi sebagai nama atau istilah generik yang lebih luas dari padanan Indonesia biasa, misalnya “Ar-Rahman” dipertahankan sebagai nama, bukan diterjemahkan “Yang Maha Pengasih”.
  2. Bukti tipis atau berbenturan. Pembacaan terkuat tetap ditulis, tetapi keraguannya ditandai secara eksplisit, disertai apa yang akan mengubah putusan itu kalau ditemukan bukti baru.
  3. Buntu. Ketika leksikon dan pemakaian internal sama-sama tidak memberi dasar yang cukup, kata itu ditransliterasi sebagai pengakuan ketidaktahuan, bukan sebagai temuan. Pembaca berhak tahu beda antara dua hal ini. Menyamarkan pengakuan sebagai temuan sama saja menyembunyikan ketiadaan bukti.

Transliterasi

Transliterasi di situs ini ditulis tanpa tanda diakritik, jadi tanpa ā, ī, ṣ, dan sejenisnya. Vokal panjang ditulis dengan huruf ganda (aa, ii, uu), begitu pula konsonan bersyaddah, supaya bisa dibaca lancar tanpa font khusus. Transliterasi selalu ditulis miring untuk membedakannya dari teks Indonesia biasa.

Kata ganti orang kedua

Bahasa Indonesia punya padanan yang lebih presisi daripada “kamu” untuk membedakan sapaan tunggal dan jamak. Situs ini memakai “Engkau” untuk sapaan tunggal, biasanya percakapan langsung kepada Allah atau seorang nabi, dan “kalian” untuk sapaan jamak, yaitu komunitas orang beriman. Pembedanya adalah bentuk kata kerja Arab yang menandai jumlah sapaan.

Ini dikerjakan tangan, dan pelan

Terjemahan ini bukan keluaran mesin. Ia ditulis satu orang, satu ayat pada satu waktu, dan setiap putusan di dalamnya adalah putusan manusia yang bisa salah.

Ada perkakas, dan perkakas itu banyak. Tetapi tugasnya memeriksa, bukan memutuskan. Sebuah program bisa menemukan seluruh kemunculan satu bentuk kata di 6.236 ayat dalam sekejap, dan itu memang dipakai, karena mengandalkan ingatan untuk pekerjaan semacam itu adalah cara tercepat menghasilkan klaim yang salah. Tetapi tidak ada program yang bisa memutuskan apakah yazhunnuuna di satu ayat berarti “yakin” atau “menduga-duga”, padahal Arabnya sama huruf demi huruf, dan kedua-duanya benar di tempatnya masing-masing. Yang memutuskan itu orang, dan alasannya ditulis supaya bisa dibantah.

Salah satu perkakas itu menolak menerbitkan apa pun kalau satu bentuk Arab mendapat dua padanan Indonesia yang berbeda tanpa alasan tertulis. Ia tidak memilihkan padanan. Ia hanya berdiri di pintu dan bertanya kenapa berbeda, lalu menuntut jawabannya disimpan.

Akibat wajarnya, terjemahan yang sudah terbit kadang dikoreksi. Kata dzaalika mula-mula diterjemahkan “itulah”, dan selama berbulan-bulan itu terbaca wajar, karena ia selalu muncul di awal kalimat. Ia baru ketahuan salah ketika muncul di tengah, pada susunan yang tidak mungkin dibaca “di antara itulah”. Partikel “-lah” itu memang tidak ada di Arabnya. Ayat-ayat lama diperbaiki, dan perbaikannya dicatat.

Kekeliruan semacam itu diperkirakan masih ada, dan bukan sedikit. Halaman Ketika Al-Qur’an Meminta Diperiksa memuat permintaan koreksi terbuka kepada siapa pun yang bersedia memeriksa.

Contoh satu ayat yang digarap mendalam

Untuk melihat cara kerja ini secara konkret, ambil Q.S. Al-Baqarah 2:185. Ia satu contoh, bukan ayat pendiri metodologi ini.

Yang pertama dilakukan adalah membaca apa yang benar-benar tertulis. Ayat itu dimulai dengan “Bulan Ramadan”, dan tidak ada kata “turun” di sana, jadi tidak ditambahkan. Godaan terbesar seorang penerjemah adalah menyisipkan kata yang membuat kalimat terasa lengkap. Sisipan semacam itu hampir selalu berasal dari tafsir yang sudah ada di kepala penerjemah, bukan dari ayatnya.

Berikutnya kata-kata kuncinya ditelusuri ke seluruh Al-Quran. Kata bayyinaat ternyata muncul dalam konteks pembuktian, bukan sekadar penjelasan biasa, dan itu mengubah pilihan padanannya.

Lalu hasilnya diuji balik. Kalau kata yang sama di ayat lain sudah diterjemahkan berbeda, harus ada alasan konteks yang membedakannya. Kalau alasan itu tidak ada, salah satu dari keduanya keliru, dan yang keliru diperbaiki.

Terakhir semuanya ditulis. Bukan hasilnya saja, melainkan pertimbangannya, termasuk yang meleset. Pembaca bisa memeriksa sendiri apakah bukti yang disajikan memang mendukung bacaan yang dipilih, atau justru melemahkannya.

Hasil akhirnya berupa halaman ayat yang bisa Anda baca sendiri, memuat Arab, terjemahan bertahap, penjelasan per kata, tafsiran, dan renungan implikasinya.

Untuk melihat seluruh ayat yang sudah digarap dengan kedalaman seperti ini, kunjungi halaman Mulai dari Sini.

Status

Seluruh 6.236 ayat Al-Quran sudah tersedia di situs ini dengan terjemahan dasar dan catatan pilihan kata ringkas. Sebagian kecil di antaranya sudah digarap jauh lebih mendalam, dengan riset lintas-teks penuh, pola pan-tekstual, alasan eksplisit per kata, dan renungan implikasi. Jumlah yang mendalam itu bertambah pelan.

Kedalaman tiap ayat ditandai jujur di halamannya masing-masing, tidak disamarkan seolah semua ayat berkedalaman sama. Lihat halaman Daftar Surah untuk status terkini.

Terjemahan ini adalah proyek riset pribadi, bukan terjemahan resmi lembaga mana pun. Ia dibangun untuk memberi pembaca landasan bukti agar bisa menarik kesimpulannya sendiri, bukan untuk menggantikan penilaian pembaca.