Ayat 1:1
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِbi-smi llaahi r-rahmaani r-rahiimidengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih
Terjemahan per kata (4 kata)
- بِسْمِbi-smidengan nama
- اللَّهِllaahiAllah
- الرَّحْمَٰنِr-rahmaaniAr-Rahman
- الرَّحِيمِr-rahiimiSang Pengasih
Inti bacaan
Basmalah bukan formula pembuka yang dilafalkan lalu dilupakan, ia adalah penetapan arah sebelum bertindak. Konkretnya: sebelum memulai pekerjaan, percakapan sulit, atau keputusan besar, sadari lebih dulu bahwa yang akan dilakukan berada di 'nama' (di bawah wewenang/watak) Ar-Rahmaan, Sang Pengasih. Praktisnya: jadikan kasih-sayang sebagai filter pertama sebelum bertindak, bukan pertimbangan belakangan setelah untung-rugi dihitung. Sebuah rapat, sebuah keputusan bisnis, sebuah teguran kepada anak, semuanya bisa diuji: apakah ini konsisten dengan 'dengan nama Ar-Rahmaan'?
Penjelasan pilihan kata
"Bismillah" (بِسْمِ اللَّهِ, bismi llaahi) membuka surah ini. "Ar-Rahman" (الرَّحْمَٰنِ, r-rahmaani) dipertahankan sebagai nama, bukan diterjemahkan, karena ada ayat yang secara eksplisit menyandingkannya dengan "Allah" sebagai dua nama yang setara: "serulah Allah atau serulah Ar-Rahman" (ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ, d'uu llaaha awi d'uu r-rahmaana), "nama mana saja yang kalian seru, maka milik-Nya nama-nama yang terindah" (فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, fa-lahu l-asmaa'u l-husnaa), demikian bunyi 17:110. Bukti yang lebih tajam ada di 25:59: frasa "yang menciptakan langit dan bumi, kemudian bersemayam di atas Arasy" (الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ, alladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha wa-maa baynahumaa fii sittati ayyaamin) adalah kalimat yang sama persis dengan yang di ayat lain (7:54, 10:3, 32:4) bersubjek "Allah", tetapi di sini langsung diikuti "Ar-Rahman" (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaanu) sebagai penjelasnya, menyamakan keduanya dalam satu kalimat. Pola ini berulang: "Ar-Rahman" berkali-kali menjadi subjek kalimat yang melakukan tindakan sendiri, seperti mengajarkan Al-Qur'an dan menciptakan manusia (55:1-3) atau bersemayam di atas Arasy (20:5), sebuah peran gramatikal yang mustahil dimainkan kata sifat semata. "Ar-rahiim" (الرَّحِيمِ, r-rahiimi) sebaliknya tidak pernah menjadi subjek kalimat sendiri di ayat mana pun; ia selalu menerangkan subjek yang sudah ada, dan di ayat lain (9:128) juga dipakai menggambarkan sifat seorang rasul, karena itu diterjemahkan "Sang Pengasih", bukan dipertahankan sebagai nama.
Dua nama ini berakar pada satu kata, dan akar itu sendiri punya arti yang bisa ditunjuk di teks. Dari akar yang sama lahir kata untuk rahim, tempat janin dibentuk (فِي الْأَرْحَامِ, fii l-arhaami, 3:6): organ yang memberi nutrisi dan penghidupan, bukan lambang perasaan. Begitu pula kata "rahmat" di seluruh mushaf menunjuk pada pemberian yang nyata: hujan yang diturunkan setelah manusia berputus asa (يُنَزِّلُ الْغَيْثَ... يَنْشُرُ رَحْمَتَهُ, yunazzilu l-ghaytsa... wa yansyuru rahmatahu, 42:28), dan penghidupan sehari-hari yang dibagikan kepada manusia (يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ, yaqsimuuna rahmata rabbika, dan مَعِيشَتَهُمْ, ma'iisyatahum, 43:32). Kasih sayang yang disebut di baris pertama surah ini, dengan demikian, bukan gambaran suasana hati, melainkan pemberian yang menghidupkan, dari kandungan sampai hujan sampai rezeki.
Frasa ini juga menempati posisi yang tidak biasa di dalam mushaf: hampir setiap surah dibuka dengannya, dan satu-satunya surah yang tidak dibukakan dengannya adalah surah kesembilan, yang langsung dimulai dengan pernyataan pemutusan. Di dalam teks pun ia muncul sekali sebagai pembuka sebuah surat (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, bismi llaahi r-rahmaani r-rahiimi, 27:30), surat yang isinya seruan kepada penerimanya. Posisi-posisi itu menunjukkan fungsinya: ia adalah kalimat yang dipakai untuk memulai sesuatu atas nama-Nya, menempatkan apa pun yang mengikutinya di dalam wewenang nama yang disebut.
Tafsiran
Ayat pembuka ini menyandingkan dua kata yang berasal dari akar yang sama, namun berbeda status: satu adalah nama yang bisa menggantikan "Allah" sepenuhnya sebagai pelaku kalimat, satu adalah sebutan sifat yang selalu menerangkan pelaku lain, seperti dijelaskan di atas. Susunan "Ar-Rahman, Sang Pengasih" karena itu bukan dua sebutan yang setara kedudukannya, melainkan nama diikuti sebutan sifat yang menjelaskannya, seperti seseorang disebut dengan namanya lalu segera diterangkan sifatnya. Ayat-ayat berikutnya akan segera membahas hal yang lebih berat, yaitu hari pertanggungjawaban di 1:4 dan kemungkinan tersesat atau dimurkai di ayat penutup surah ini; menempatkan nama dan sifat kasih sayang di baris paling awal membingkai seluruh pembahasan berikutnya, termasuk bagian yang paling mengingatkan sekalipun, sebagai bagian dari rahmat yang disebut lebih dulu, rahmat yang oleh akarnya sendiri ditegaskan sebagai pemberian yang menghidupkan, bukan sekadar kelembutan perasaan.
Perlu juga diperhatikan bentuk ayat ini sendiri: ia bukan kalimat berita. Tidak ada pengakuan, tidak ada perintah; yang ada hanyalah frasa "dengan nama...", kata sambung yang menggantungkan diri pada sesuatu yang mengikutinya. Surah ini, dan hampir seluruh mushaf bersamanya, dibuka bukan dengan pernyataan tentang Allah, melainkan dengan tindakan pembacanya sendiri: menyebut nama-Nya untuk memulai. Sebelum Allah diperkenalkan sebagai yang dipuji (1:2), pembaca lebih dulu ditempatkan dalam posisi memulai segala sesuatu di dalam nama-Nya. Pengenalan tentang Dia, dengan demikian, didahului oleh hubungan dengan-Nya, sebuah urutan yang akan terus berulang di sepanjang surah.
Renungan dan Hikmah
- Kedua kata dalam ayat ini berasal dari akar yang sama, tapi statusnya berbeda jauh: satu bisa berdiri sendiri sebagai pelaku, satu selalu bergantung pada pelaku lain untuk diterangkan. Ada sesuatu yang layak direnungkan dalam perbedaan itu, tentang apa yang menjadi bagian dari identitas diri sendiri sejak semula, dan apa yang sekadar sifat yang menempel dari luar. Perbedaan semacam itu tidak ditentukan oleh asal-usulnya, sebab keduanya berasal dari akar yang sama persis; ia ditentukan oleh apa yang dilakukan kata itu dalam kalimat, dan itu terus berlaku setiap kali keduanya disebut.
- Sebelum satu perintah pun disampaikan, yang muncul lebih dulu adalah nama yang berarti pengasih. Ayat-ayat berikutnya dalam surah ini akan segera membahas hal yang jauh lebih berat: hari pertanggungjawaban, jalan yang bisa ditempuh salah, murka yang mungkin diturunkan. Meletakkan nama itu di baris paling awal berarti apa pun yang datang setelahnya, betapa pun berat, akan selalu berdiri di atas fondasi yang telah diletakkan lebih dulu ini. Cara sesuatu diperkenalkan pertama kali menentukan bagaimana semua yang menyusul akan dipahami, dan di sini yang dipilih untuk disebut lebih dulu bukan perintah atau ancaman.
- Akar kata yang sama dipakai untuk rahim, organ yang memberi nutrisi bagi janin, dan untuk hujan yang diturunkan setelah manusia berputus asa (lih. penjelasan). Kasih sayang yang disebut di baris pertama surah ini, karena itu, bukan suasana hati yang lembut, melainkan pemberian yang menghidupkan. Barangkali selama ini kata itu terdengar lebih ringan dari seharusnya: yang dimaksud bukan perasaan, melainkan sesuatu yang sungguh diberikan, dari kandungan sampai hujan sampai penghidupan sehari-hari.
- Baris ini begitu akrab, diucapkan berulang kali hingga mudah terlewat tanpa benar-benar didengar. Namun di baliknya ada argumen yang tersusun dari perbandingan sangat cermat lintas ayat, sesuatu yang jauh lebih padat daripada yang biasa disadari siapa pun yang mengucapkannya sambil lalu.
- Di dalam Al-Qur'an, frasa ini sekali muncul sebagai pembuka sebuah surat (27:30), surat yang seluruh isinya berdiri di atas nama yang disebut di baris pertamanya. Memulai sesuatu dengan menyebut sebuah nama berarti menempatkan apa pun yang mengikutinya di dalam wewenang nama itu. Setiap pekerjaan, percakapan, atau keputusan yang dibuka dengan kalimat ini, dengan sendirinya sedang diuji: apakah isinya layak berdiri di bawah nama yang baru saja disebut.
- Frasa "dengan nama" punya dua ejaan di dalam mushaf, dan pembagiannya rapi tanpa satu pun pengecualian. Bentuk pendek tanpa alif, بِسْمِ, ada di tiga ayat (1:1, 11:41, 27:30), dan di ketiganya yang menyusul adalah nama Allah. Bentuk panjang dengan alif, بِاسْمِ, ada di empat ayat (56:74, 56:96, 69:52, 96:1), dan di keempatnya yang menyusul adalah sebutan "Tuhanmu". Apakah selisih satu huruf pantas diperhatikan? Di teks yang ejaannya dijaga huruf demi huruf, selisih itulah yang paling mudah diperiksa dan paling sukar dibuat-buat. Nama yang paling sering diucapkan justru ditulis dengan huruf paling sedikit, sedangkan bentuk yang lebih penuh disimpan untuk sebutan yang menyertakan kata ganti orang yang sedang membaca.
Ayat 1:2
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَal-hamdu li-llaahi rabbi l-'aalamiinasegala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam
Terjemahan per kata (4 kata)
- الْحَمْدُal-hamdusegala puji
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- رَبِّrabbiTuhan
- الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam
Inti bacaan
'Tuhan seisi alam' (Rabb al-'aalamiin) menuntut rasa syukur yang jangkauannya melampaui kepentingan pribadi, sebab yang dipuji adalah Pemelihara seluruh alam, bukan hanya pemberi berkah individual. Konkretnya: syukur yang sehat bukan hanya 'terima kasih atas rezeki saya', tapi kesadaran bahwa saya satu bagian kecil dari sistem yang dipelihara-Nya secara menyeluruh, termasuk manusia lain, makhluk lain, dan bumi itu sendiri. Praktis: keputusan yang hanya menguntungkan diri sendiri tapi merusak bagian lain dari 'seisi alam' (lingkungan, komunitas, generasi mendatang) berjalan berlawanan dengan pengakuan ayat ini.
Penjelasan pilihan kata
"Segala puji" (الْحَمْدُ, al-hamdu) berbentuk kata benda, bukan kata kerja, memakai kata sandang "ال" yang menandakan pujian menyeluruh. Bedanya dengan kata untuk "syukur" terlihat dari cara Al-Qur'an memakai keduanya. Syukur selalu diikat pada sesuatu yang sudah diterima, "dan syukurilah nikmat Allah" (وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ, wa-shkuruu ni'mata llaahi, 16:114), dan lawan katanya adalah kufur, "sungguh jika kalian bersyukur" (لَئِنْ شَكَرْتُمْ, la'in shakartum, 14:7) diikuti "dan sungguh jika kalian kufur" di ayat yang sama. Pujian di ayat ini tidak diikat pada satu pemberian pun; yang disebut sebagai dasarnya adalah kedudukan, "Tuhan seisi alam". "Tuhan seisi alam" (رَبِّ الْعَالَمِينَ, rabbi l-'aalamiina) adalah sebutan pertama dari rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" secara berturutan sampai 1:4; karena satu kalimat ini terbentang lintas tiga ayat, terjemahan diakhiri koma di sini dan di 1:3, baru ditutup titik setelah sebutan ketiga selesai di 1:4.
Kalimat pembuka ini bukan satu-satunya kemunculannya. Kata yang sama persis muncul lagi di 6:45, "dan segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam" (وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, wa-l-hamdu lillaahi rabbi l-'aalamiina), tepat setelah menggambarkan habisnya suatu kaum yang zalim, dan di 37:182 dengan kata yang sama persis, menutup rangkaian panjang kisah para nabi yang diselamatkan dari kaum mereka masing-masing. Ayat 45:36 memakai bentuk yang diperluas, "maka bagi Allah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan seisi alam" (فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, fa-lillaahi l-hamdu rabbi s-samaawaati wa-rabbi l-ardhi rabbi l-aalamiina), menempatkan "Tuhan seisi alam" sebagai sebutan puncak setelah dua sebutan yang lebih sempit disebut lebih dulu. Di luar rangkaian itu pun polanya searah: kalimat ini diucapkan sesudah keselamatan tercapai, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami" (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا, l-hamdu lillaahi lladzii najjaanaa, 23:28), dan sesudah kesusahan berlalu, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami" (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ, l-hamdu lillaahi lladzii adzhaba annaa l-hazana, 35:34). Di dalam Al-Qur'an, kalimat ini berulang kali menandai sesuatu yang sudah selesai, bukan sesuatu yang sedang dijalani.
Sebutan yang sama juga muncul dalam mulut penentang. Firaun, ketika diberitahu bahwa ia diutus rasul dari "Tuhan seisi alam", balik bertanya dengan nada meremehkan, "Apa itu Tuhan seisi alam?" (وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ, wa-maa rabbu l-aalamiina, 26:23), sebutan yang sama persis dengan yang membuka Al-Qur'an sebagai pengakuan penuh, di sini dilontarkan sebagai penolakan untuk mengakui.
Cakupan kata "seisi alam" (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina) sendiri tidak dirinci di mana pun, dan teksnya tidak menyebutkan batas mana yang dimaksud. Yang bisa dilacak hanya cara kata itu dipakai: peringatan disebut diberikan "bagi seisi alam" (لِلْعَالَمِينَ, li-l-aalamiina, 25:1), sedangkan peringatan hanya berguna bagi yang bisa diseru dan dimintai jawaban. Pemakaian itu mencondongkan cakupannya ke arah makhluk semacam itu, tetapi tidak menutup kemungkinan cakupan yang lebih luas. Batas ini dibiarkan terbuka di sini karena teksnya sendiri membiarkannya terbuka.
Tafsiran
Ayat ini menyatakan pujian bukan sebagai tindakan yang menunggu kebaikan diterima lebih dulu, melainkan sebagai kenyataan yang berlaku dengan sendirinya, tidak seperti syukur, yang di sepanjang Al-Qur'an selalu terikat pada sesuatu yang sudah diterima. Dasarnya pun bukan jasa yang dirasakan satu pihak saja, melainkan kedudukan yang mencakup seisi alam. Kata-kata pembuka ini ternyata bukan sekali pakai: ia dipinjam kembali di tempat lain persis pada momen-momen penyelesaian, entah setelah kejahatan sebuah kaum berakhir atau setelah rangkaian panjang kisah para nabi sampai pada penutupnya, seolah kalimat yang membuka kitab ini sekaligus membawa kosakata penutupan. Sebutan yang sama, "Tuhan seisi alam", bisa jatuh dalam dua sikap yang berlawanan sama sekali: di sini sebagai pengakuan penuh, di mulut Firaun sebagai pertanyaan yang menolak mengakui. Kata-katanya sama; yang berbeda adalah sikap yang membawanya. Cakupan "seisi alam" sendiri tidak pernah diputuskan oleh teksnya, dan itu dibiarkan begitu di sini; yang bisa dikatakan hanyalah arah pemakaiannya condong ke makhluk yang bisa diseru dan dimintai pertanggungjawaban, dan sejauh itu ayat pembuka ini sudah menyertakan setiap pembaca bukan sekadar sebagai bagian dari yang ada, melainkan sebagai pihak yang kelak diminta menjawab.
Renungan dan Hikmah
- Pujian di ayat ini tidak disandarkan pada sesuatu yang baru saja diterima. Al-Qur'an punya kata lain untuk itu, dan kata itu selalu diikat pada pemberian, "dan syukurilah nikmat Allah" (وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ, wa-shkuruu ni'mata llaahi, 16:114). Yang disebut di sini sebagai dasar pujian bukan pemberian, melainkan kedudukan yang tidak berubah oleh keadaan siapa pun yang mengucapkannya. Ada jarak yang layak direnungkan antara penghargaan yang naik turun mengikuti apa yang sedang diterima, dan pengakuan yang berdiri di atas sesuatu yang sama sekali tidak bergantung pada itu.
- Yang disebut sebagai dasar pujian di sini adalah kedudukan atas "seisi alam" (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina), bukan atas satu kaum, satu golongan, atau satu pihak yang merasa lebih berhak menyebutnya. Sebutan yang sama dipakai ketika peringatan disebut diberikan "bagi seisi alam" (لِلْعَالَمِينَ, li-l-aalamiina, 25:1), jadi keluasan itu bukan kiasan pembuka yang segera menyempit di halaman berikutnya. Kalimat pertama kitab ini sudah menutup pintu bagi pembacaan yang menjadikannya milik satu kelompok saja, dan siapa pun yang membacanya sebagai piagam golongannya sendiri sudah tergelincir sejak baris paling awal.
- Kata-kata yang membuka seluruh Al-Qur'an ini ternyata bukan sekali pakai. Kata yang sama muncul lagi di tempat lain, tepat pada saat sesuatu yang sulit akhirnya usai, atau ketika sebuah rangkaian kisah panjang akhirnya sampai pada penutupnya. Sebuah pembukaan yang meminjam kata-kata dari momen penutupan menyimpan sesuatu yang layak direnungkan tentang ke arah mana keseluruhan bacaan ini sebenarnya menuju.
- Sebutan yang sama persis, kata demi kata, muncul lagi jauh di ayat lain, kali ini diucapkan sebagai pertanyaan meremehkan oleh seorang penguasa yang menolak mengakuinya. Kata yang sama bisa menjadi pengakuan penuh atau penolakan penuh; yang membedakan keduanya bukan kata-katanya, melainkan sikap orang yang mengucapkannya.
- Cakupan sebutan "seisi alam" di sini bisa dibaca bukan sekadar segala sesuatu yang ada secara fisik, melainkan secara khusus makhluk yang bisa diseru dan dimintai pertanggungjawaban. Kalau bacaan ini benar, maka yang tercakup di dalamnya bukan soal eksistensi semata, melainkan soal kesanggupan untuk menjawab, sebuah kategori yang menyertakan siapa pun yang sedang membaca kalimat ini sekarang.
- Kalimat yang menggambarkan siapa yang dipuji ini tidak selesai dalam satu napas; ia terbentang sampai tiga ayat sebelum benar-benar tuntas. Ada sesuatu yang layak diperhatikan dalam cara ini: memahami sesuatu yang penting kadang memang tidak bisa dipadatkan menjadi satu baris saja.
- Sebutan "Tuhan seisi alam" (رَبِّ الْعَالَمِينَ) muncul tiga puluh tiga kali di enam belas surah, dan sebarannya jauh dari rata. Surah 26 sendirian memuatnya sembilan kali (26:16, 26:47, 26:98, 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, 26:180, 26:192), lebih banyak daripada surah mana pun. Surah itu pula tempat sebutan ini dijadikan bahan ejekan, ketika Firaun bertanya وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ, sebuah pertanyaan yang jelas bukan pertanyaan orang yang ingin tahu. Jadi surah yang paling sering mengulang sebutan ini adalah surah yang di dalamnya sebutan itu paling keras ditolak. Mengapa justru di sana ia paling banyak diulang? Pengulangan di sana bukan hiasan susunan. Ia jawaban yang diberikan berkali-kali kepada satu penolakan, dan Allah tidak mengubah sebutan-Nya sedikit pun untuk membuatnya lebih mudah diterima.
Ayat 1:3
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Ar-Rahman, Sang Pengasih,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِr-rahmaani r-rahiimiAr-Rahman, Sang Pengasih
Terjemahan per kata (2 kata)
- الرَّحْمَٰنِr-rahmaaniAr-Rahman
- الرَّحِيمِr-rahiimiSang Pengasih
Inti bacaan
Pengulangan Ar-Rahmaan (setelah disebut di 1:1) bukan redundansi, ia sebuah penekanan yang menuntut pengulangan serupa dalam hidup: kasih-sayang bukan sifat yang cukup diakui sekali lalu selesai, tapi sesuatu yang perlu terus-menerus disegarkan dalam ingatan dan tindakan. Konkretnya: dalam interaksi harian yang berulang, dengan pasangan, anak, rekan kerja, orang asing di jalan, pertanyaan 'apakah responsku ini masih berasal dari kasih-sayang, atau sudah mengeras jadi rutinitas dingin?' layak diulang sesering ayat ini sendiri diulang.
Penjelasan pilihan kata
"Ar-Rahman, Sang Pengasih" (الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, r-rahmaani r-rahiimi) adalah sebutan kedua dalam rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" sejak 1:2, masih dalam satu kalimat yang sama; ketiga sebutan ini berakhiran sama, tanda bahwa semuanya menerangkan kata yang sama, bukan berdiri sebagai kalimat terpisah-pisah. Dua kata ini persis sama dengan yang muncul di basmalah pembuka (1:1, lihat penjelasan di sana untuk alasan Ar-Rahman dipertahankan sebagai nama), diulang di sini bukan sebagai pengulangan berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari rangkaian sebutan yang sama.
Pasangan "Ar-Rahman, Ar-Rahiim" ini berdiri di awal hampir setiap surah dalam mushaf; satu-satunya surah yang tidak dibuka dengannya adalah surah kesembilan. Di luar posisi pembuka itu, kemunculannya sebagai bagian kalimat yang sesungguhnya bisa dihitung dengan jari, dan daftarnya lengkap: di sini; di 2:163, "tidak ada tuhan selain Dia, Ar-Rahman, Sang Pengasih" (لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ, laa ilaaha illaa huwa r-rahmaanu r-rahiimu); di 59:22, "Dialah Ar-Rahman, Sang Pengasih" (هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ, huwa r-rahmaanu r-rahiimu); dan di 41:2 dengan bentuk sedikit berbeda, menyandarkan sumber wahyu langsung kepada pasangan sebutan ini (تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, tanziilun mina r-rahmaani r-rahiimi). Sekali lagi ia muncul di dalam teks, sebagai pembuka sebuah surat (27:30). Dua kemunculan pertama persis mengikuti penegasan bahwa tidak ada tuhan selain Dia: sebutan kasih sayang ini, dalam kebiasaan teksnya sendiri, ditempatkan tepat sesudah pernyataan keesaan yang paling tegas.
Fungsi pasangan ini di sini berbeda dari kemunculannya di 1:1. Di sana keduanya bagian dari kalimat pembuka tindakan; di sini keduanya menjadi bagian dari rangkaian sebutan yang menerangkan siapa yang dipuji, berdiri di tengah rantai yang dimulai dari "Allah" (1:2) dan berakhir di "Pemilik hari pembalasan" (1:4). Kedudukan gramatikalnya sama dengan dua sebutan di sekelilingnya: sama-sama berakhiran bunyi yang menandai sambungan pada kata yang diterangkan, sehingga seluruh sebutan itu terbaca sebagai satu uraian panjang tentang satu pribadi, bukan kalimat-kalimat terpisah.
Satu hal lagi yang konsisten di seluruh mushaf: urutan keduanya tidak pernah terbalik. Baik di pembuka surah, maupun di 2:163, 41:2, 59:22, dan 27:30, Ar-Rahman selalu disebut lebih dulu, baru kemudian Ar-Rahiim. Dan dalam dua kemunculannya sebagai bagian kalimat (2:163, 59:22), pasangan ini menempati posisi penutup ayat, mengakhiri pernyataan tentang keesaan; sedangkan di sini ia berdiri di tengah rangkaian, masih menuju sebutan berikutnya. Posisi yang berbeda itu memberi fungsi yang berbeda: di sana ia menjadi kata akhir sesudah penegasan; di sini ia menjadi jembatan dari pujian menuju peringatan hari pembalasan yang menunggu di ayat berikutnya.
Tafsiran
Pengulangan "Ar-Rahman, Sang Pengasih" persis setelah "Tuhan seisi alam" di ayat sebelumnya bukan kebetulan, dan bukan pula pola sekali pakai. Dua kali lagi di tempat lain, pasangan sebutan yang sama muncul tepat setelah penegasan paling tegas tentang keesaan Allah, "tidak ada tuhan selain Dia". Pola yang berulang ini menunjukkan sesuatu: pernyataan tentang keesaan yang paling ketat dan tanpa kompromi, dalam kebiasaan teks ini, tidak pernah dibiarkan berdiri sendirian tanpa disertai penegasan kasih sayang segera sesudahnya. Di sini, kekuasaan atas seluruh alam semesta, yang bisa terdengar menjauhkan jika berdiri sendiri, langsung diimbangi dengan penegasan yang sama. Susunan ini menahan pembaca agar tidak memahami "Tuhan seisi alam" semata sebagai kekuasaan tanpa batas, sebelum sampai pada ayat berikutnya yang membicarakan hari pertanggungjawaban. Bahkan sumber wahyu itu sendiri, di tempat lain, disandarkan langsung kepada pasangan sebutan yang sama: apa yang diturunkan datang dari sumber yang sama yang telah disebut lebih dulu sebagai pengasih, termasuk bagian-bagian yang nanti terasa berat. Dan di antara seluruh rangkaian sebutan itu, hanya pasangan inilah yang sudah dikenal pembaca dari baris pembuka surah. Apa yang tadinya dipakai untuk memulai kini dipakai untuk menerangkan: pembaca yang baru saja membuka dengan nama itu sekarang diberi tahu bahwa nama yang sama melekat pada Dia yang dipuji seisi alam.
Renungan dan Hikmah
- Kata-kata yang sama ini terucap berulang-ulang, ratusan kali, setiap kali sebuah surah baru dimulai, sampai mudah menjadi sekadar pembuka yang terlewat begitu saja tanpa benar-benar didengar. Namun di luar pengulangan sebagai formula itu, kata yang sama ini nyaris tidak pernah muncul lagi sebagai bagian sungguhan dari sebuah kalimat. Ada sesuatu yang layak direnungkan dalam kelangkaan itu: seberapa sering sesuatu yang sering diucapkan justru kehilangan bobotnya, dan seberapa jarang kesempatan untuk benar-benar mendengarnya sebagai pernyataan yang dimaksudkan sepenuhnya.
- Dua kali di tempat lain, sebutan kasih sayang yang sama ditempatkan tepat sesudah pernyataan keesaan yang paling tegas dan tanpa kompromi (lih. penjelasan). Kebiasaan teks ini membawa pelajaran yang mudah terlewat: ketegasan tidak harus dingin. Menyampaikan sesuatu yang keras, sebuah penolakan, sebuah batas, sebuah kebenaran yang tidak bisa ditawar, tidak harus berarti menanggalkan kehangatan dari kalimat yang sama. Teks ini sendiri tidak pernah melakukannya.
- Di tempat lain, apa yang diturunkan sebagai wahyu disandarkan langsung kepada pasangan sebutan yang sama ini sebagai sumbernya. Ini berarti bagian mana pun dari pesan yang datang kemudian, termasuk yang terasa berat atau mengingatkan, berasal dari sumber yang sejak awal sudah dikenali sebagai pengasih, bukan dari sumber yang berbeda atau berubah wataknya di tengah jalan.
- Kata yang sama persis baru saja muncul dua baris sebelumnya, di baris pembuka. Mendengarnya lagi begitu cepat bisa terasa seperti pengulangan semata, padahal posisinya sudah berubah: di sana bagian dari cara menyebut nama, di sini bagian dari kalimat yang sedang menerangkan siapa yang dipuji. Kata yang sama, diucapkan dua kali berdekatan, tidak selalu berarti mengatakan hal yang persis sama.
- Perhatikan berapa panjang surah ini menunda permintaan pertama hamba. Baris demi baris dipakai untuk mengenal siapa yang sedang diajak bicara, sebutan demi sebutan dalam satu napas kalimat, dan permohonan apa pun baru muncul jauh kemudian. Urutan itu mencontohkan cara memulai hubungan: bukan dengan daftar kebutuhan, melainkan dengan pengenalan yang sabar. Sesuatu yang diucapkan setiap hari ternyata diam-diam mengajarkan tata cara yang paling dasar.
- Pasangan "Ar-Rahman, Sang Pengasih" (الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ) ada di empat ayat: 1:1, 1:3, 27:30, dan 41:2. Dua dari empat itu berada di surah ini, berjarak dua baris. Dua sisanya berdiri di tempat yang berlainan jenisnya. 27:30 adalah pembuka surat Sulaiman kepada Ratu Saba, sebuah surat yang dikirim manusia kepada manusia. 41:2 menyebut dari siapa wahyu itu diturunkan. Jadi pasangan ini dipakai untuk membuka bacaan, untuk membuka surat, dan untuk menamai sumber wahyu. Apa yang sama dari ketiganya? Ketiganya berada di titik mulai. Yang berulang di sini bukan sekadar kata, melainkan kebiasaan menaruh sifat kasih Allah tepat di ambang, sebelum isi apa pun disampaikan.
Ayat 1:4
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Pemilik Hari Pertanggungjawaban.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِmaaliki yawmi d-diiniPemilik Hari Pertanggungjawaban
Terjemahan per kata (3 kata)
- مَالِكِmaalikiPemilik
- يَوْمِyawmiHari
- الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban
Inti bacaan
Diin = pertanggungjawaban (bukan sekadar 'pembalasan' yang berkonotasi murni-hukuman), maka 'Pemilik Hari Pertanggungjawaban' bukan ancaman untuk ditakuti secara pasif, melainkan kerangka yang menuntut kesadaran-akuntabilitas aktif dalam setiap pilihan harian. Konkretnya: sebelum mengambil keputusan yang berdampak pada orang lain, janji yang dibuat, uang yang dikelola, kepercayaan yang dipegang, bertanya 'bisakah aku mempertanggungjawabkan ini?' adalah cara mengonkretkan diin dalam waktu nyata, bukan menundanya sampai 'hari' yang jauh.
Penjelasan pilihan kata
"Pemilik" (مَالِكِ, maaliki) menutup rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" sejak 1:2. Kalimat panjang yang terbentang tiga ayat itu baru diakhiri titik di sini. Kata ini dibedakan dari bacaan alternatif "raja" karena menunjuk bukan cuma kepada kekuasaan memerintah, melainkan kepada kepemilikan yang penuh atas apa yang disebut sesudahnya: Dialah yang memiliki hari itu sendiri. Kedua bacaan itu sama-sama beredar dan Al-Qur'an sendiri tidak menyatakan mana yang dimaksud di sini; yang bisa dilakukan hanyalah memilih satu dan menyebutkan akibat pilihannya, dan itulah yang dilakukan di sini. "Hari Pertanggungjawaban" (يَوْمِ الدِّينِ, yawmi d-diini) menerjemahkan kata "diin" sebagai "pertanggungjawaban", konsisten di seluruh terjemahan ini, bukan kata "agama" yang lazim di banyak terjemahan lain. Alasan perbedaan ini bukan sekadar pilihan kata sembarangan, melainkan bertumpu pada bukti dari beberapa jalur yang saling menguatkan.
Pertama, akar kata yang sama dipakai Al-Qur'an sebagai kata kerja yang artinya dibalas dan dihisab, bukan beragama. Penolak kebangkitan mengejek dengan bertanya "apakah kami benar-benar akan dibalas?" (أَإِنَّا لَمَدِينُونَ, a-innaa la-madiinuuna, 37:53), dan pertanyaan itu diucapkan tepat setelah menyebut mati menjadi tanah dan tulang-belulang, jadi yang ditolak jelas perhitungan sesudah mati, bukan sebuah lembaga. Bentuk yang sama muncul lagi dalam tantangan "mengapa jika kalian tidak dimintai pertanggungjawaban" (غَيْرَ مَدِينِينَ, ghayra madiiniina, 56:86). Lebih tegas lagi, kata bendanya sendiri muncul sebagai sesuatu yang dilunasi penuh pada hari itu, "pada hari itu Allah menyempurnakan pertanggungjawaban yang sebenarnya bagi mereka" (يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ, yawma'idzin yuwaffiihimu llaahu diinahumu l-haqqa, 24:25). Sesuatu yang disempurnakan pembayarannya kepada seseorang bukanlah agama yang ia anut, melainkan perhitungan yang menjadi haknya.
Kedua, hubungan antara "diin" dan tanggung jawab terhadap sesama manusia ditegaskan dengan sangat jelas di tempat lain. Surah Al-Ma'un (107) dibuka dengan pertanyaan tajam: "Tahukah engkau yang mendustakan pertanggungjawaban?" (أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ, a-ra'ayta lladzii yukadzdzibu bi-d-diini, 107:1). Pertanyaan itu langsung dijawab sendiri oleh ayat berikutnya: "Maka itulah orang yang menghardik anak yatim" (فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ, fa-dzaalika lladzii yadu'u l-yatiima, 107:2), "dan tidak mendorong memberi makan orang miskin" (وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ, wa-laa yahuddu alaa ta'aami l-miskiini, 107:3). Ayat itu tidak menggambarkan pendustaan sebagai sekadar kesalahan keyakinan yang abstrak. Ia langsung mendefinisikannya dalam wujud perilaku konkret terhadap orang yang paling lemah. Urutannya penting: bukan "ia berbuat jahat karena ia pendusta," melainkan "itulah orang yang mendustakan". Perbuatannya itulah definisi dari pendustaannya. Kalau "diin" diterjemahkan sebagai "agama" di ayat itu, pembaca akan bertanya apa hubungan antara mendustakan agama dan menghardik anak yatim; hubungan itu menjadi gelap dan penuh teka-teki. Tetapi kalau "diin" adalah pertanggungjawaban, hubungannya langsung terang: orang yang mengingkari bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban, merasa bebas melakukan apa pun terhadap yang lemah tanpa akibat.
Pola yang sama muncul di surah lain. Di awal surah Al-Mutaffifin (83), kecurangan dalam menakar dan menimbang, bentuk penipuan yang paling sehari-hari dan paling menguntungkan pelakunya, dikutip lebih dulu. Lalu kecaman itu memuncak pada gambaran tentang "orang-orang yang mendustakan Hari Pertanggungjawaban" (الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ, alladziina yukadzdzibuuna bi-yawmi d-diini, 83:11). Sekali lagi urutannya sama: kecurangan dalam urusan paling remeh, dilakukan di bawah radar penglihatan manusia, adalah buah paling nyata dari keyakinan bahwa tidak akan ada hari ketika semua itu dihisab. Surah Al-Infitar (82) bahkan lebih gamblang lagi. Ia membuka dengan pertanyaan, "Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Sang Mulia?", lalu pertanyaan itu dijawab sendiri oleh ayat berikutnya: "Sekali-kali tidak! Bahkan, kalian mendustakan pertanggungjawaban" (بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ, bal tukadzdzibuuna bi-d-diini, 82:9), yang langsung disusul oleh peringatan tentang malaikat pencatat, pengadilan akhir, dan hari ketika "tak seorang pun berkuasa apa-apa bagi orang lain; dan urusan pada hari itu milik Allah" (82:19). Ketiga surah ini, Al-Ma'un, Al-Mutaffifin, dan Al-Infitar, masing-masing membentangkan hubungan yang sama: pengabaian terhadap yang lemah, kecurangan dalam muamalah, dan kelengahan moral, semuanya bersumber dari satu akar yang sama, yaitu mengingkari adanya sistem pertanggungjawaban yang akan menagih semuanya pada waktunya.
Ketiga, kata "diin" di Al-Qur'an sendiri dipakai secara netral. Ia bisa mengarah kepada Allah maupun kepada selain-Nya. Firaun punya "diin" (40:26), orang yang mempermainkan hidup juga punya "diin" (6:70, 7:51), dan surah Al-Kafirun ditutup dengan "bagi kalian diin kalian, bagiku diin-ku" (109:6). Kata ini bukan nama satu sistem tertentu, melainkan nama untuk sistem nilai yang dijalani setiap orang, apa pun isinya. Menerjemahkannya sebagai "agama" dalam arti institusi keagamaan akan menyulitkan di ayat-ayat ini; menerjemahkannya sebagai "pertanggungjawaban", sistem hidup yang kelak dihisab, justru membuat ayat-ayat itu terang.
Keempat, frasa "Hari Pertanggungjawaban" (يَوْمِ الدِّينِ, yawmi d-diini) muncul tiga belas kali di seluruh Al-Qur'an (1:4, 15:35, 26:82, 37:20, 38:78, 51:12, 56:56, 70:26, 74:46, 82:15, 82:17, 82:18, 83:11), dan di antaranya, "ad-diin" tanpa "yawm" muncul di 51:6 sebagai sesuatu yang "pasti terjadi" (لَوَاقِعٌ, la-waaqi'un), disejajarkan dengan kepastian "apa yang dijanjikan kepada kalian" di ayat sebelumnya. Penegasan bahwa "pertanggungjawaban pasti terjadi" muncul di tengah rangkaian sumpah kosmis yang agung (51:1-5), memberikan bobot yang sama kepadanya seperti kepastian hukum-hukum alam semesta itu sendiri.
Tafsiran
Rangkaian tiga sebutan sejak 1:2 sampai ayat ini bergerak mengikuti sebuah urutan yang bukan sekadar daftar: dari "Tuhan seisi alam", yang menyatakan cakupan kekuasaan atas segalanya, ke "Ar-Rahman, Sang Pengasih", yang mewarnai kekuasaan itu, sampai "Pemilik Hari Pertanggungjawaban", saat ketika kekuasaan dan kasih sayang itu bertemu dalam perhitungan yang menentukan nasib setiap pribadi. Di ayat terakhir inilah rangkaian itu menemukan titik paling personalnya: dari "seisi alam" yang mencakup semesta, menyempit menjadi "hari", satu titik waktu, yang di dalamnya masing-masing orang akan berdiri sendiri. Ayat 82:19 merumuskan mengapa hari itu demikian menentukan: pada hari itu, tak seorang pun bisa berbuat apa-apa untuk orang lain, dan seluruh urusan menjadi milik Allah sepenuhnya. Hari itulah yang disebut "Hari Pertanggungjawaban."
Kata "diin" yang diterjemahkan "pertanggungjawaban" di sini bukan sekadar "hari pembalasan" sebagai label kosong. Seperti yang ditunjukkan oleh ayat-ayat yang sudah disebutkan, dari anak yatim yang dihardik karena orang mengingkari pertanggungjawaban (107:2), sampai takaran yang dicurangi oleh orang yang sama-sama mendustakan hari itu (83:1-11), "mendustakan diin" bukanlah pernyataan abstrak tentang teologi. Ia adalah fondasi yang, begitu diingkari, konsekuensinya langsung tampak dalam cara setiap orang memperlakukan orang lain yang lebih lemah darinya. Dengan demikian, menempatkan "Pemilik Hari Pertanggungjawaban" sebagai sebutan penutup dari rangkaian ini bukan ancaman yang berdiri sendiri, melainkan penutup dari sebuah busur: dari kekuasaan, ke kasih sayang, ke perhitungan. Tiga titik yang bersama-sama membentuk gambaran utuh tentang siapa yang sedang disapa di seluruh surah ini.
Renungan dan Hikmah
- Di surah Al-Ma'un, pertanyaan "tahukah engkau yang mendustakan pertanggungjawaban?" tidak menunggu jawaban teologis. Jawabannya langsung berupa gambaran: itulah orang yang menghardik anak yatim dan enggan memberi makan orang miskin. Keyakinan tentang pertanggungjawaban, atau pengingkarannya, ternyata tidak tinggal di dalam kepala. Ia menjelma menjadi cara seorang manusia memperlakukan orang yang tidak bisa membalas atau menguntungkannya.
- Kecurangan paling remeh, mengurangi takaran saat menjual dan meminta dilebihkan saat membeli, ternyata dalam Al-Qur'an didudukkan sejajar dengan mendustakan hari perhitungan. Bukan karena keduanya sama beratnya, melainkan karena yang kedua adalah akar dari yang pertama: kalau tidak ada yang akan menghisab, kenapa harus jujur saat tidak ada yang melihat? Kecurangan kecil-kecilan yang dianggap wajar dalam bisnis dan birokrasi, dalam cara pandang ini, bukan sekadar pelanggaran aturan. Ia adalah pernyataan diam-diam bahwa pertanggungjawaban itu tidak nyata.
- Rangkaian tiga sebutan yang menutup di ayat ini, kekuasaan, kasih sayang, dan perhitungan, membentuk sebuah busur yang setiap titiknya diperlukan agar yang lain tidak disalahpahami. Kekuasaan tanpa kasih sayang menjadi tirani; kasih sayang tanpa perhitungan menjadi pembiaran; perhitungan tanpa dua yang pertama menjadi kengerian belaka. Menempatkan ketiganya dalam satu kalimat yang sama, satu tarikan napas, adalah pernyataan bahwa semuanya benar bersama-sama dan tidak boleh dipisahkan.
- Penutup surah Al-Infitar menggambarkan hari itu dalam satu baris yang merangkum semuanya: hari ketika tak seorang pun bisa berbuat apa-apa untuk orang lain. Jabatan, koneksi, kekayaan, nama besar, semua yang bisa diandalkan untuk menutupi atau meringankan kesalahan di dunia, tidak berfungsi pada hari itu. Inilah makna "Pemilik Hari Pertanggungjawaban": pada hari itu, kepemilikan berpindah sepenuhnya dari tangan siapa pun kepada-Nya.
- Ada gerakan menyempit yang disengaja dalam tiga ayat terakhir rangkaian ini: dari "seisi alam" yang maha luas, ke "Ar-Rahman, Sang Pengasih" yang menyentuh hati, ke "Hari Pertanggungjawaban" yang menunjuk satu titik waktu tertentu. Gerakan ini terasa seperti bingkai yang perlahan mengecil sampai akhirnya hanya menyisakan satu pembaca, berhadapan dengan hari ketika semua urusan dikembalikan kepada-Nya.
- Kata "diin" di Al-Qur'an bukan milik satu pihak saja. Firaun punya "diin", para pengejek pun punya "diin", dan Nabi diperintahkan berkata "bagiku diin-ku, bagimu diin-mu". Yang membedakan satu "diin" dari yang lain bukan kata itu sendiri, melainkan arahnya: kepada siapa sistem itu menghadap. Menerjemahkannya sebagai "pertanggungjawaban", bukan "agama" sebagai institusi, menjaga agar pembaca tidak menyangka bahwa "diin" adalah nama satu lembaga tertentu yang dianut sebagian orang dan ditolak sebagian lain. Ia adalah kenyataan yang mencakup semua, disadari atau tidak.