بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِbi-smi llaahi r-rahmaani r-rahiimidengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih
Terjemahan per kata (4 kata)
- بِسْمِbi-smidengan nama
- اللَّهِllaahiAllah
- الرَّحْمَٰنِr-rahmaaniAr-Rahman
- الرَّحِيمِr-rahiimiSang Pengasih
Inti bacaan
Basmalah bukan formula pembuka yang dilafalkan lalu dilupakan, ia adalah penetapan arah sebelum bertindak. Konkretnya: sebelum memulai pekerjaan, percakapan sulit, atau keputusan besar, sadari lebih dulu bahwa yang akan dilakukan berada di 'nama' (di bawah wewenang/watak) Ar-Rahmaan, Sang Pengasih. Praktisnya: jadikan kasih-sayang sebagai filter pertama sebelum bertindak, bukan pertimbangan belakangan setelah untung-rugi dihitung. Sebuah rapat, sebuah keputusan bisnis, sebuah teguran kepada anak, semuanya bisa diuji: apakah ini konsisten dengan 'dengan nama Ar-Rahmaan'?
Penjelasan pilihan kata
"Bismillah" (بِسْمِ اللَّهِ, bismi llaahi) membuka surah ini. "Ar-Rahman" (الرَّحْمَٰنِ, r-rahmaani) dipertahankan sebagai nama, bukan diterjemahkan, karena ada ayat yang secara eksplisit menyandingkannya dengan "Allah" sebagai dua nama yang setara: "serulah Allah atau serulah Ar-Rahman" (ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ, d'uu llaaha awi d'uu r-rahmaana), "nama mana saja yang kalian seru, maka milik-Nya nama-nama yang terindah" (فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ, fa-lahu l-asmaa'u l-husnaa), demikian bunyi 17:110. Bukti yang lebih tajam ada di 25:59: frasa "yang menciptakan langit dan bumi, kemudian bersemayam di atas Arasy" (الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ, alladzii khalaqa s-samaawaati wa-l-ardha wa-maa baynahumaa fii sittati ayyaamin) adalah kalimat yang sama persis dengan yang di ayat lain (7:54, 10:3, 32:4) bersubjek "Allah", tetapi di sini langsung diikuti "Ar-Rahman" (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaanu) sebagai penjelasnya, menyamakan keduanya dalam satu kalimat. Pola ini berulang: "Ar-Rahman" berkali-kali menjadi subjek kalimat yang melakukan tindakan sendiri, seperti mengajarkan Al-Qur'an dan menciptakan manusia (55:1-3) atau bersemayam di atas Arasy (20:5), sebuah peran gramatikal yang mustahil dimainkan kata sifat semata. "Ar-rahiim" (الرَّحِيمِ, r-rahiimi) sebaliknya tidak pernah menjadi subjek kalimat sendiri di ayat mana pun; ia selalu menerangkan subjek yang sudah ada, dan di ayat lain (9:128) juga dipakai menggambarkan sifat seorang rasul, karena itu diterjemahkan "Sang Pengasih", bukan dipertahankan sebagai nama.
Dua nama ini berakar pada satu kata, dan akar itu sendiri punya arti yang bisa ditunjuk di teks. Dari akar yang sama lahir kata untuk rahim, tempat janin dibentuk (فِي الْأَرْحَامِ, fii l-arhaami, 3:6): organ yang memberi nutrisi dan penghidupan, bukan lambang perasaan. Begitu pula kata "rahmat" di seluruh mushaf menunjuk pada pemberian yang nyata: hujan yang diturunkan setelah manusia berputus asa (يُنَزِّلُ الْغَيْثَ... يَنْشُرُ رَحْمَتَهُ, yunazzilu l-ghaytsa... wa yansyuru rahmatahu, 42:28), dan penghidupan sehari-hari yang dibagikan kepada manusia (يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ, yaqsimuuna rahmata rabbika, dan مَعِيشَتَهُمْ, ma'iisyatahum, 43:32). Kasih sayang yang disebut di baris pertama surah ini, dengan demikian, bukan gambaran suasana hati, melainkan pemberian yang menghidupkan, dari kandungan sampai hujan sampai rezeki.
Frasa ini juga menempati posisi yang tidak biasa di dalam mushaf: hampir setiap surah dibuka dengannya, dan satu-satunya surah yang tidak dibukakan dengannya adalah surah kesembilan, yang langsung dimulai dengan pernyataan pemutusan. Di dalam teks pun ia muncul sekali sebagai pembuka sebuah surat (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ, bismi llaahi r-rahmaani r-rahiimi, 27:30), surat yang isinya seruan kepada penerimanya. Posisi-posisi itu menunjukkan fungsinya: ia adalah kalimat yang dipakai untuk memulai sesuatu atas nama-Nya, menempatkan apa pun yang mengikutinya di dalam wewenang nama yang disebut.
Tafsiran
Ayat pembuka ini menyandingkan dua kata yang berasal dari akar yang sama, namun berbeda status: satu adalah nama yang bisa menggantikan "Allah" sepenuhnya sebagai pelaku kalimat, satu adalah sebutan sifat yang selalu menerangkan pelaku lain, seperti dijelaskan di atas. Susunan "Ar-Rahman, Sang Pengasih" karena itu bukan dua sebutan yang setara kedudukannya, melainkan nama diikuti sebutan sifat yang menjelaskannya, seperti seseorang disebut dengan namanya lalu segera diterangkan sifatnya. Ayat-ayat berikutnya akan segera membahas hal yang lebih berat, yaitu hari pertanggungjawaban di 1:4 dan kemungkinan tersesat atau dimurkai di ayat penutup surah ini; menempatkan nama dan sifat kasih sayang di baris paling awal membingkai seluruh pembahasan berikutnya, termasuk bagian yang paling mengingatkan sekalipun, sebagai bagian dari rahmat yang disebut lebih dulu, rahmat yang oleh akarnya sendiri ditegaskan sebagai pemberian yang menghidupkan, bukan sekadar kelembutan perasaan.
Perlu juga diperhatikan bentuk ayat ini sendiri: ia bukan kalimat berita. Tidak ada pengakuan, tidak ada perintah; yang ada hanyalah frasa "dengan nama...", kata sambung yang menggantungkan diri pada sesuatu yang mengikutinya. Surah ini, dan hampir seluruh mushaf bersamanya, dibuka bukan dengan pernyataan tentang Allah, melainkan dengan tindakan pembacanya sendiri: menyebut nama-Nya untuk memulai. Sebelum Allah diperkenalkan sebagai yang dipuji (1:2), pembaca lebih dulu ditempatkan dalam posisi memulai segala sesuatu di dalam nama-Nya. Pengenalan tentang Dia, dengan demikian, didahului oleh hubungan dengan-Nya, sebuah urutan yang akan terus berulang di sepanjang surah.
Renungan dan Hikmah
- Kedua kata dalam ayat ini berasal dari akar yang sama, tapi statusnya berbeda jauh: satu bisa berdiri sendiri sebagai pelaku, satu selalu bergantung pada pelaku lain untuk diterangkan. Ada sesuatu yang layak direnungkan dalam perbedaan itu, tentang apa yang menjadi bagian dari identitas diri sendiri sejak semula, dan apa yang sekadar sifat yang menempel dari luar. Perbedaan semacam itu tidak ditentukan oleh asal-usulnya, sebab keduanya berasal dari akar yang sama persis; ia ditentukan oleh apa yang dilakukan kata itu dalam kalimat, dan itu terus berlaku setiap kali keduanya disebut.
- Sebelum satu perintah pun disampaikan, yang muncul lebih dulu adalah nama yang berarti pengasih. Ayat-ayat berikutnya dalam surah ini akan segera membahas hal yang jauh lebih berat: hari pertanggungjawaban, jalan yang bisa ditempuh salah, murka yang mungkin diturunkan. Meletakkan nama itu di baris paling awal berarti apa pun yang datang setelahnya, betapa pun berat, akan selalu berdiri di atas fondasi yang telah diletakkan lebih dulu ini. Cara sesuatu diperkenalkan pertama kali menentukan bagaimana semua yang menyusul akan dipahami, dan di sini yang dipilih untuk disebut lebih dulu bukan perintah atau ancaman.
- Akar kata yang sama dipakai untuk rahim, organ yang memberi nutrisi bagi janin, dan untuk hujan yang diturunkan setelah manusia berputus asa (lih. penjelasan). Kasih sayang yang disebut di baris pertama surah ini, karena itu, bukan suasana hati yang lembut, melainkan pemberian yang menghidupkan. Barangkali selama ini kata itu terdengar lebih ringan dari seharusnya: yang dimaksud bukan perasaan, melainkan sesuatu yang sungguh diberikan, dari kandungan sampai hujan sampai penghidupan sehari-hari.
- Baris ini begitu akrab, diucapkan berulang kali hingga mudah terlewat tanpa benar-benar didengar. Namun di baliknya ada argumen yang tersusun dari perbandingan sangat cermat lintas ayat, sesuatu yang jauh lebih padat daripada yang biasa disadari siapa pun yang mengucapkannya sambil lalu.
- Di dalam Al-Qur'an, frasa ini sekali muncul sebagai pembuka sebuah surat (27:30), surat yang seluruh isinya berdiri di atas nama yang disebut di baris pertamanya. Memulai sesuatu dengan menyebut sebuah nama berarti menempatkan apa pun yang mengikutinya di dalam wewenang nama itu. Setiap pekerjaan, percakapan, atau keputusan yang dibuka dengan kalimat ini, dengan sendirinya sedang diuji: apakah isinya layak berdiri di bawah nama yang baru saja disebut.
- Frasa "dengan nama" punya dua ejaan di dalam mushaf, dan pembagiannya rapi tanpa satu pun pengecualian. Bentuk pendek tanpa alif, بِسْمِ, ada di tiga ayat (1:1, 11:41, 27:30), dan di ketiganya yang menyusul adalah nama Allah. Bentuk panjang dengan alif, بِاسْمِ, ada di empat ayat (56:74, 56:96, 69:52, 96:1), dan di keempatnya yang menyusul adalah sebutan "Tuhanmu". Apakah selisih satu huruf pantas diperhatikan? Di teks yang ejaannya dijaga huruf demi huruf, selisih itulah yang paling mudah diperiksa dan paling sukar dibuat-buat. Nama yang paling sering diucapkan justru ditulis dengan huruf paling sedikit, sedangkan bentuk yang lebih penuh disimpan untuk sebutan yang menyertakan kata ganti orang yang sedang membaca.