الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَal-hamdu li-llaahi rabbi l-'aalamiinasegala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. الْحَمْدُal-hamdusegala puji
  2. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  3. رَبِّrabbiTuhan
  4. الْعَالَمِينَl-'aalamiinaseisi alam

Inti bacaan

'Tuhan seisi alam' (Rabb al-'aalamiin) menuntut rasa syukur yang jangkauannya melampaui kepentingan pribadi, sebab yang dipuji adalah Pemelihara seluruh alam, bukan hanya pemberi berkah individual. Konkretnya: syukur yang sehat bukan hanya 'terima kasih atas rezeki saya', tapi kesadaran bahwa saya satu bagian kecil dari sistem yang dipelihara-Nya secara menyeluruh, termasuk manusia lain, makhluk lain, dan bumi itu sendiri. Praktis: keputusan yang hanya menguntungkan diri sendiri tapi merusak bagian lain dari 'seisi alam' (lingkungan, komunitas, generasi mendatang) berjalan berlawanan dengan pengakuan ayat ini.

Penjelasan pilihan kata

"Segala puji" (الْحَمْدُ, al-hamdu) berbentuk kata benda, bukan kata kerja, memakai kata sandang "ال" yang menandakan pujian menyeluruh. Bedanya dengan kata untuk "syukur" terlihat dari cara Al-Qur'an memakai keduanya. Syukur selalu diikat pada sesuatu yang sudah diterima, "dan syukurilah nikmat Allah" (وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ, wa-shkuruu ni'mata llaahi, 16:114), dan lawan katanya adalah kufur, "sungguh jika kalian bersyukur" (لَئِنْ شَكَرْتُمْ, la'in shakartum, 14:7) diikuti "dan sungguh jika kalian kufur" di ayat yang sama. Pujian di ayat ini tidak diikat pada satu pemberian pun; yang disebut sebagai dasarnya adalah kedudukan, "Tuhan seisi alam". "Tuhan seisi alam" (رَبِّ الْعَالَمِينَ, rabbi l-'aalamiina) adalah sebutan pertama dari rangkaian tiga sebutan yang menerangkan "Allah" secara berturutan sampai 1:4; karena satu kalimat ini terbentang lintas tiga ayat, terjemahan diakhiri koma di sini dan di 1:3, baru ditutup titik setelah sebutan ketiga selesai di 1:4.

Kalimat pembuka ini bukan satu-satunya kemunculannya. Kata yang sama persis muncul lagi di 6:45, "dan segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam" (وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, wa-l-hamdu lillaahi rabbi l-'aalamiina), tepat setelah menggambarkan habisnya suatu kaum yang zalim, dan di 37:182 dengan kata yang sama persis, menutup rangkaian panjang kisah para nabi yang diselamatkan dari kaum mereka masing-masing. Ayat 45:36 memakai bentuk yang diperluas, "maka bagi Allah segala puji, Tuhan langit dan Tuhan bumi, Tuhan seisi alam" (فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ, fa-lillaahi l-hamdu rabbi s-samaawaati wa-rabbi l-ardhi rabbi l-aalamiina), menempatkan "Tuhan seisi alam" sebagai sebutan puncak setelah dua sebutan yang lebih sempit disebut lebih dulu. Di luar rangkaian itu pun polanya searah: kalimat ini diucapkan sesudah keselamatan tercapai, "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami" (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا, l-hamdu lillaahi lladzii najjaanaa, 23:28), dan sesudah kesusahan berlalu, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami" (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ, l-hamdu lillaahi lladzii adzhaba annaa l-hazana, 35:34). Di dalam Al-Qur'an, kalimat ini berulang kali menandai sesuatu yang sudah selesai, bukan sesuatu yang sedang dijalani.

Sebutan yang sama juga muncul dalam mulut penentang. Firaun, ketika diberitahu bahwa ia diutus rasul dari "Tuhan seisi alam", balik bertanya dengan nada meremehkan, "Apa itu Tuhan seisi alam?" (وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ, wa-maa rabbu l-aalamiina, 26:23), sebutan yang sama persis dengan yang membuka Al-Qur'an sebagai pengakuan penuh, di sini dilontarkan sebagai penolakan untuk mengakui.

Cakupan kata "seisi alam" (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina) sendiri tidak dirinci di mana pun, dan teksnya tidak menyebutkan batas mana yang dimaksud. Yang bisa dilacak hanya cara kata itu dipakai: peringatan disebut diberikan "bagi seisi alam" (لِلْعَالَمِينَ, li-l-aalamiina, 25:1), sedangkan peringatan hanya berguna bagi yang bisa diseru dan dimintai jawaban. Pemakaian itu mencondongkan cakupannya ke arah makhluk semacam itu, tetapi tidak menutup kemungkinan cakupan yang lebih luas. Batas ini dibiarkan terbuka di sini karena teksnya sendiri membiarkannya terbuka.

Tafsiran

Ayat ini menyatakan pujian bukan sebagai tindakan yang menunggu kebaikan diterima lebih dulu, melainkan sebagai kenyataan yang berlaku dengan sendirinya, tidak seperti syukur, yang di sepanjang Al-Qur'an selalu terikat pada sesuatu yang sudah diterima. Dasarnya pun bukan jasa yang dirasakan satu pihak saja, melainkan kedudukan yang mencakup seisi alam. Kata-kata pembuka ini ternyata bukan sekali pakai: ia dipinjam kembali di tempat lain persis pada momen-momen penyelesaian, entah setelah kejahatan sebuah kaum berakhir atau setelah rangkaian panjang kisah para nabi sampai pada penutupnya, seolah kalimat yang membuka kitab ini sekaligus membawa kosakata penutupan. Sebutan yang sama, "Tuhan seisi alam", bisa jatuh dalam dua sikap yang berlawanan sama sekali: di sini sebagai pengakuan penuh, di mulut Firaun sebagai pertanyaan yang menolak mengakui. Kata-katanya sama; yang berbeda adalah sikap yang membawanya. Cakupan "seisi alam" sendiri tidak pernah diputuskan oleh teksnya, dan itu dibiarkan begitu di sini; yang bisa dikatakan hanyalah arah pemakaiannya condong ke makhluk yang bisa diseru dan dimintai pertanggungjawaban, dan sejauh itu ayat pembuka ini sudah menyertakan setiap pembaca bukan sekadar sebagai bagian dari yang ada, melainkan sebagai pihak yang kelak diminta menjawab.

Renungan dan Hikmah

  • Pujian di ayat ini tidak disandarkan pada sesuatu yang baru saja diterima. Al-Qur'an punya kata lain untuk itu, dan kata itu selalu diikat pada pemberian, "dan syukurilah nikmat Allah" (وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ, wa-shkuruu ni'mata llaahi, 16:114). Yang disebut di sini sebagai dasar pujian bukan pemberian, melainkan kedudukan yang tidak berubah oleh keadaan siapa pun yang mengucapkannya. Ada jarak yang layak direnungkan antara penghargaan yang naik turun mengikuti apa yang sedang diterima, dan pengakuan yang berdiri di atas sesuatu yang sama sekali tidak bergantung pada itu.
  • Yang disebut sebagai dasar pujian di sini adalah kedudukan atas "seisi alam" (الْعَالَمِينَ, l-'aalamiina), bukan atas satu kaum, satu golongan, atau satu pihak yang merasa lebih berhak menyebutnya. Sebutan yang sama dipakai ketika peringatan disebut diberikan "bagi seisi alam" (لِلْعَالَمِينَ, li-l-aalamiina, 25:1), jadi keluasan itu bukan kiasan pembuka yang segera menyempit di halaman berikutnya. Kalimat pertama kitab ini sudah menutup pintu bagi pembacaan yang menjadikannya milik satu kelompok saja, dan siapa pun yang membacanya sebagai piagam golongannya sendiri sudah tergelincir sejak baris paling awal.
  • Kata-kata yang membuka seluruh Al-Qur'an ini ternyata bukan sekali pakai. Kata yang sama muncul lagi di tempat lain, tepat pada saat sesuatu yang sulit akhirnya usai, atau ketika sebuah rangkaian kisah panjang akhirnya sampai pada penutupnya. Sebuah pembukaan yang meminjam kata-kata dari momen penutupan menyimpan sesuatu yang layak direnungkan tentang ke arah mana keseluruhan bacaan ini sebenarnya menuju.
  • Sebutan yang sama persis, kata demi kata, muncul lagi jauh di ayat lain, kali ini diucapkan sebagai pertanyaan meremehkan oleh seorang penguasa yang menolak mengakuinya. Kata yang sama bisa menjadi pengakuan penuh atau penolakan penuh; yang membedakan keduanya bukan kata-katanya, melainkan sikap orang yang mengucapkannya.
  • Cakupan sebutan "seisi alam" di sini bisa dibaca bukan sekadar segala sesuatu yang ada secara fisik, melainkan secara khusus makhluk yang bisa diseru dan dimintai pertanggungjawaban. Kalau bacaan ini benar, maka yang tercakup di dalamnya bukan soal eksistensi semata, melainkan soal kesanggupan untuk menjawab, sebuah kategori yang menyertakan siapa pun yang sedang membaca kalimat ini sekarang.
  • Kalimat yang menggambarkan siapa yang dipuji ini tidak selesai dalam satu napas; ia terbentang sampai tiga ayat sebelum benar-benar tuntas. Ada sesuatu yang layak diperhatikan dalam cara ini: memahami sesuatu yang penting kadang memang tidak bisa dipadatkan menjadi satu baris saja.
  • Sebutan "Tuhan seisi alam" (رَبِّ الْعَالَمِينَ) muncul tiga puluh tiga kali di enam belas surah, dan sebarannya jauh dari rata. Surah 26 sendirian memuatnya sembilan kali (26:16, 26:47, 26:98, 26:109, 26:127, 26:145, 26:164, 26:180, 26:192), lebih banyak daripada surah mana pun. Surah itu pula tempat sebutan ini dijadikan bahan ejekan, ketika Firaun bertanya وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ, sebuah pertanyaan yang jelas bukan pertanyaan orang yang ingin tahu. Jadi surah yang paling sering mengulang sebutan ini adalah surah yang di dalamnya sebutan itu paling keras ditolak. Mengapa justru di sana ia paling banyak diulang? Pengulangan di sana bukan hiasan susunan. Ia jawaban yang diberikan berkali-kali kepada satu penolakan, dan Allah tidak mengubah sebutan-Nya sedikit pun untuk membuatnya lebih mudah diterima.