Ayat 1:6

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَihdinaa sh-shiraatha l-mustaqiimatunjukilah kami jalan yang lurus

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. اهْدِنَاihdinaatunjukilah kami
  2. الصِّرَاطَsh-shiraathajalan itu
  3. الْمُسْتَقِيمَl-mustaqiimayang lurus

Inti bacaan

Ihdinaa = 'tunjukkan kami' (arah), bukan 'berikan kami peta lengkap', doa ini memodelkan sikap yang tepat terhadap ketidakpastian hidup: bukan menuntut jawaban instan atas setiap persoalan, melainkan memohon arah yang bisa dipegang sambil melangkah. Konkretnya: dalam kebingungan mengambil keputusan besar (karier, hubungan, pindah tempat), permohonan yang jujur bukan 'beri aku jawaban pasti', tapi 'tunjukkan aku arah yang lurus', sebuah sikap rendah hati yang tetap mengundang tindakan, bukan menunggu pasif.

Penjelasan pilihan kata

"Tunjukilah kami" (اهْدِنَا, ihdinaa) adalah permohonan pertama yang diajukan langsung setelah ikrar pengabdian di 1:5. Bentuknya adalah kata perintah: bukan pernyataan bahwa petunjuk sudah dimiliki, bukan pula pertanyaan apakah petunjuk akan diberikan, melainkan permintaan aktif yang mengandaikan bahwa petunjuk harus terus dimohon, bukan dimiliki sekali lalu disimpan.

"Jalan yang lurus" dalam bentuk yang benar-benar sama dengan ayat ini, dengan kata sandang pada kedua kata (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, ash-shiraatha l-mustaqiima), jarang: ia muncul hanya satu kali lagi di seluruh Al-Qur'an, di 37:118, tentang Musa dan Harun (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ, s-siraata l-mustaqiima, "dan Kami bimbing keduanya ke jalan yang lurus"). Satu varian dekatnya muncul di 7:16, diucapkan justru oleh Iblis kepada Allah: "aku akan menghadang mereka di jalan-Mu yang lurus" (لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ, la-aq'udanna lahum shiraathaka l-mustaqiima), jalan yang sama persis yang dimohonkan di sini, disebut oleh pihak yang bersumpah menghadanginya. Kata "lurus" sendiri berasal dari akar yang berarti berdiri atau tegak, sehingga bukan sekadar jalan yang tidak berbelok, melainkan jalan yang berdiri teguh, yang tidak goyah. Yang jauh lebih sering dipakai justru bentuk tanpa kata sandang pada siraat ("suatu jalan yang lurus") dengan pola kalimat yang berbeda-beda; empat tempat memakainya identik sebagai penutup ajakan mengabdi. 36:61, 3:51, 19:36, dan 43:64 seluruhnya berakhir dengan kalimat yang sama persis, "inilah jalan yang lurus" (هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ, haadzaa shiraathun mustaqiim), tanpa kata sandang pada siraat maupun mustaqiim, pernyataan tentang bagaimana pengabdian itu bersifat, bukan penunjuk pada satu jalan tertentu seperti kata sandang di ayat ini menandainya.

Ayat 15:41 menyebut jalan ini dengan pernyataan yang lebih langsung lagi: Allah sendiri yang berkata "inilah jalan lurus yang menuju kepada-Ku" (هَٰذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ, haadzaa shiraathun 'alayya mustaqiimun). Jadi permohonan "tunjukilah kami jalan yang lurus" pada dasarnya adalah permohonan untuk ditunjukkan jalan yang mengarah kepada-Nya. Setelah menyatakan bahwa seluruh pengabdian hanya kepada-Nya, hamba kini meminta agar ditunjukkan rute untuk sampai.

Ayat ini tidak berdiri sendiri: ia berlanjut ke 1:7 yang menjelaskan jalan apa yang dimaksud, yaitu jalan orang-orang yang telah diberi nikmat, bukan jalan yang dimurkai atau sesat. Itu sebabnya terjemahan diakhiri koma. Cara mendefinisikan jalan ini patut diperhatikan, dan tafsiran di bawah menguraikannya.

Tafsiran

Permohonan petunjuk di ayat ini bukan permohonan sekali jadi. Bentuknya adalah perintah yang diucapkan berulang-ulang, setiap kali surah ini dibaca, oleh orang yang sedang mengaku beriman sekalipun. Ini mengandung pengakuan yang dalam: petunjuk bukan sesuatu yang pernah diperoleh lalu selesai, melainkan sesuatu yang harus terus-menerus dimohon karena bisa hilang kapan saja. Bahkan orang yang sudah berada di jalan yang lurus tetap memohon untuk ditunjukkan jalan itu, seolah mengakui bahwa berada di atasnya hari ini tidak menjamin masih berada di atasnya esok.

Di tempat lain, Al-Qur'an menyamakan jalan yang lurus dengan pengabdian itu sendiri, sebagaimana penjelasan di atas menunjukkan lewat 36:61 dan tiga ayat serupa. Jadi apa yang dimohon di sini bukan sesuatu yang asing dari ikrar yang baru saja diucapkan di 1:5. Hamba telah menyatakan bahwa ia mengabdi hanya kepada-Nya; kini ia memohon agar ditunjukkan seperti apa wujud pengabdian itu dalam hidup nyata, wujud yang sudah ditegaskan di implikasi 1:5 lewat Al-Ma'un: bukan sekadar ibadah ritual. Jarak antara ikrar dan pelaksanaannya diisi oleh permohonan petunjuk.

Cara jalan ini didefinisikan di ayat berikutnya, lewat orang-orang yang telah menempuhnya, bukan lewat rumusan abstrak, mengungkapkan sesuatu yang penting tentang bagaimana Al-Qur'an memahami kebenaran: ia bukan sekadar konsep yang bisa diformulasikan, melainkan realitas yang sudah dihidupi oleh manusia-manusia sebelumnya. Meminta petunjuk kepada jalan ini berarti meminta untuk disatukan dengan mereka, bukan untuk diberi peta yang bisa dipegang sendiri-sendiri. Jalan yang lurus, dengan demikian, selalu merupakan jalan yang sudah berpenghuni.

Renungan dan Hikmah

  • Setelah menyatakan bahwa seluruh pengabdian dan permohonan pertolongan hanya kepada Allah, permohonan pertama yang diajukan bukan rezeki, bukan keselamatan, bukan kemenangan. Permohonan pertama adalah petunjuk arah. Hamba yang baru saja berikrar, sebelum meminta apa pun yang lain, mengakui bahwa ia tidak tahu jalan untuk menjalankan ikrarnya sendiri. Mengabdi tanpa tahu arah adalah kesia-siaan; tahu arah tanpa mengabdi adalah kemunafikan. Ayat ini dan ayat sebelumnya saling melengkapi.
  • Ayat ini diucapkan berulang, dalam salat yang sama, hari demi hari, oleh orang yang sama. Tidak ada titik ketika pengulangan itu menjadi basi atau berlebihan, karena permohonan ini bukan formulir yang cukup diisi sekali. Setiap pengulangan adalah kesempatan baru untuk benar-benar memintanya, bukan sekadar mengucapkannya. Bahaya yang sebenarnya bukan lupa mengucapkan kalimat ini, melainkan mengucapkannya tanpa benar-benar memintanya.
  • Ayat 15:41, sebagaimana penjelasan di atas menunjukkan, menyatakan bahwa jalan ini menuju kepada-Nya sendiri. Permohonan di ayat ini, dengan demikian, adalah pengakuan yang merendahkan: hamba tahu kepada siapa ia menuju, tetapi tidak tahu jalannya sendiri. Banyak orang berhenti puas begitu mengetahui kepada siapa mereka berserah, seolah itu sudah cukup; permohonan ini menolak berhenti di situ, dan memohon secara eksplisit yang kedua, bagaimana caranya sampai, setiap kali diucapkan.
  • Empat ayat lain menutup ajakan mengabdi dengan kalimat yang persis sama, "haadzaa siraatun mustaqiim", inilah jalan yang lurus (36:61, 3:51, 19:36, 43:64). Jalan yang dimohon di sini, dengan demikian, bukan proyek terpisah yang harus dicari dari nol. Ia sudah ditunjuk arahnya oleh ikrar yang baru saja diucapkan di 1:5: mengabdi. Yang belum diketahui hamba bukan lagi apa yang harus dilakukan, melainkan cara menempuhnya hari demi hari. Permohonan ini mengakui jarak itu secara jujur, tanpa berpura-pura sudah sampai.
  • Meminta petunjuk ke jalan yang didefinisikan lewat orang, bukan lewat rumusan, berarti meminta untuk dimasukkan ke dalam golongan mereka yang jejaknya sudah terbukti, bukan untuk diberi peta yang bisa disimpan sendiri-sendiri dan dijalani sendirian. Kebenaran, dalam cara pandang ini, selalu bersifat komunal sebelum bersifat individual: sebelum menjadi miliknya sendiri, ia sudah menjadi milik bersama.
  • Petunjuk yang dimohon di ayat ini bukan hanya kejelasan arah. Kata "lurus" (dijelaskan di atas berakar pada makna berdiri atau tegak) menambahkan satu lapis lagi: kekuatan untuk tetap berdiri di jalan itu, bukan sekadar tahu ke mana harus melangkah. Mengetahui arah tanpa kekuatan untuk bertahan di atasnya adalah pengetahuan yang rapuh; permohonan ini meminta keduanya sekaligus. Kekuatan itu paling teruji bukan pada hari-hari lapang, melainkan pada saat ada alasan untuk berbelok.
  • Struktur Al-Fatihah mengajarkan sesuatu yang mudah dilupakan: antara ikrar dan pelaksanaannya, ada satu langkah lagi yang tidak boleh dilewati, yaitu memohon petunjuk. Ikrar tanpa petunjuk adalah semangat tanpa arah. Petunjuk tanpa ikrar adalah peta tanpa tujuan. Keduanya bertemu di 1:5 dan 1:6, dan urutannya tidak bisa ditukar: hamba berikrar dulu, baru meminta ditunjukkan jalan untuk menunaikan ikrarnya.
  • Kata "mengabdi" yang diikrarkan di 1:5 berasal dari akar yang sama dengan "hamba". Ayat ini menunjukkan akar itu bekerja bahkan dalam tindakan meminta: hamba yang mengabdi tidak berhenti menjadi hamba ketika ia butuh sesuatu. Dua ayat sebelumnya sudah menegaskan bahwa pertolongan pun hanya dimohon kepada-Nya; ayat ini menambahkan bahwa arah pun begitu. Tidak ada wilayah, bahkan permohonan sekalipun, yang keluar dari status sebagai hamba.
  • Kata "tunjukilah kami" (اهْدِنَا) ada di dua ayat: di sini dan di 38:22. Yang kedua bukan doa kepada Allah. Ia diucapkan dua orang yang berselisih kepada Dawud, meminta seorang manusia menunjukkan mereka ke jalan yang lurus dan memutuskan perkara mereka dengan benar. Apa bedanya meminta arah kepada Allah dan meminta arah kepada seorang hakim yang adil? Rangkaian "jalan yang lurus" dalam bentuk persis seperti di ayat ini (الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) juga ada di dua ayat, di sini dan di 37:118. Bedanya, 37:118 bukan permohonan melainkan laporan bahwa Allah sudah membimbing Musa dan Harun ke sana. Satu rangkaian yang sama menjadi permintaan di satu tempat dan peristiwa yang sudah terjadi di tempat lain, dan itu memberi tahu bentuk jawaban yang sedang diminta di sini.

Ayat 1:7

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, selain jalan orang-orang yang dimurkai, dan tidak pula jalan orang-orang yang tersesat.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَshiraatha lladziina an'amta 'alayhim ghayri l-maghdhuubi 'alayhim wa-laa dh-dhaalliinajalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. صِرَاطَshiraathajalan
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. أَنْعَمْتَan'amtatelah Engkau beri nikmat
  4. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  5. غَيْرِghayriselain
  6. الْمَغْضُوبِl-maghdhuubiorang-orang yang dimurkai
  7. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  8. وَلَاwa-laadan tidak pula
  9. الضَّالِّينَdh-dhaalliinaorang-orang yang tersesat

Inti bacaan

Tiga pola akhir ayat ini, diberi-nikmat, dimurkai, tersesat, bukan label kelompok/agama untuk ditempelkan pada orang lain, melainkan tiga lintasan yang bisa diperiksa pada diri sendiri: apakah aku sedang berjalan seperti mereka yang menerima kebaikan lalu meresponsnya dengan baik (nikmat)? Seperti mereka yang tahu jalan yang benar tapi sengaja menolaknya (murka, pengetahuan yang diingkari)? Atau seperti mereka yang tidak pernah benar-benar mencari arah sama sekali (sesat, kehilangan tanpa usaha mencari)? Konkretnya: doa ini paling jujur dipanjatkan bukan sebagai penilaian atas orang lain, tapi sebagai cermin diri setiap kali dibaca.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini adalah kelanjutan langsung dari "jalan yang lurus" di 1:6, menjelaskannya lewat tiga rujukan yang bersama-sama membentuk peta lengkap tentang kemungkinan arah hidup manusia. "Orang-orang yang telah Engkau beri nikmat" (الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ, lladziina an'amta 'alayhim) adalah golongan pertama. Bentuk kata kerjanya memakai "Engkau" sebagai pelaku: nikmat itu datang dari Dia, bukan dari usaha mereka sendiri. Ayat 4:69 menyebut siapa mereka secara terperinci: "para nabi, orang-orang yang sangat benar, para saksi, dan orang-orang saleh" (مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ, mina n-nabiyyiina wa-sh-shiddiiqiina wa-sy-syuhadaa'i wa-sh-shaalihiina). Jadi jalan yang dimohon bukan sekadar konsep atau daftar aturan; ia adalah jalan yang sudah berpenghuni, sudah pernah dilalui oleh manusia-manusia yang kategorinya sudah disebutkan dan jejaknya bisa dikenali.

Dua golongan berikutnya disebut sebagai yang harus dijauhi, dan keduanya berbeda sifat. "Orang-orang yang dimurkai" (الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ, l-maghdhuubi 'alayhim) memakai bentuk pasif: kemurkaan yang menimpa mereka, bukan yang mereka lakukan. Golongan ini terkait dengan mereka yang mengetahui kebenaran tetapi dengan sengaja melanggarnya. Penyembah anak lembu adalah contohnya: ayat yang mengabarkan kemurkaan itu menyebut mereka "الْمُفْتَرِينَ" (al-muftariina, 7:152), pengada-ada, bukan orang yang keliru tanpa sengaja. Frasa "kaum yang dimurkai Allah" (قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ, qawman ghadhiba Allahu 'alayhim) sendiri terulang persis di dua tempat lain, sama-sama sebagai peringatan agar orang beriman tidak menjadikan golongan itu sekutu (58:14, 60:13); kemurkaan dalam Al-Qur'an, dengan begitu, selalu melekat pada golongan yang bisa ditunjuk, bukan disebut sekali lalu hilang. "Orang-orang yang tersesat" (الضَّالِّينَ, dh-dhaalliina) berbeda sifatnya: kata ini adalah bentuk pelaku aktif yang menggambarkan keadaan, bukan tindakan yang disengaja. Akar yang sama dipakai untuk Nabi sendiri sebelum menerima wahyu, "Dia mendapatimu dalam keadaan ضَالًّا (daallan), lalu Dia memberi petunjuk" (93:7, diterjemahkan proyek ini sebagai "belum-terbimbing"), dan untuk Musa yang menyebut masa sebelum kenabiannya sebagai saat "aku termasuk mereka yang tersesat" (وَأَنَا مِنَ الضَّالِّينَ, wa ana mina d-daalliina, 26:20). Jadi bedanya: golongan pertama tahu lalu melanggar; golongan kedua berada dalam keadaan yang justru diselesaikan oleh datangnya petunjuk itu sendiri, keadaan yang sama pernah dialami manusia-manusia pilihan sebelum mereka dibimbing keluar darinya.

Dua penyimpangan itu tidak disangkal dengan cara yang sama, dan bedanya terletak pada kata yang dipakai. Yang pertama disangkal dengan kata yang langsung menempel pada golongan sebelumnya, “selain” (غَيْرِ, ghayri), sehingga ia bekerja seperti saringan: jalan yang dimohon adalah jalan mereka yang diberi nikmat, yaitu yang selain jalan orang yang dimurkai. Yang kedua disangkal dengan penolakan yang berdiri sendiri, “dan tidak pula” (وَلَا, wa-laa), yang mengulang penyangkalan dari awal alih-alih meneruskan yang sudah ada. Pilihan ini menjaga kedua golongan tetap terpisah. Kalau keduanya disangkal dengan satu kata yang sama, melanggar karena tahu dan tersesat karena tidak tahu bisa terbaca sebagai satu golongan yang sama, dan perbedaan yang baru saja dibangun ayat ini akan runtuh di kata terakhirnya sendiri.

Tafsiran

Ayat penutup ini merampungkan seluruh surah dengan cara yang sekaligus sederhana dan tak terduga. Setelah seluruh pujian tentang Allah (1:1-4), setelah ikrar pengabdian dan permohonan pertolongan yang eksklusif (1:5), setelah permohonan petunjuk ke jalan yang lurus (1:6), jawaban atas "jalan apakah itu?" ternyata bukan definisi. Ia adalah penunjukan kepada orang-orang: mereka yang telah Engkau beri nikmat. Kebenaran, dalam ayat terakhir surah ini, bukanlah sistem yang bisa dirumuskan dalam poin-poin. Ia adalah wajah-wajah yang sudah hidup, jejak yang sudah diukir di bumi oleh mereka yang berjalan lebih dulu.

Dua golongan yang disebut sebagai peringatan juga bukan sekadar label. Yang pertama, yang dimurkai, adalah cermin bagi mereka yang tahu tapi memilih menyimpang: pengetahuan tanpa penyerahan diri. Yang kedua, yang tersesat, adalah cermin bagi mereka yang berada dalam keadaan belum tersentuh petunjuk (lih. penjelasan), keadaan yang selesai bukan karena usaha mencari sendiri, melainkan karena datangnya bimbingan dari luar diri. Ayat ini tidak menyebutkan siapa mereka secara spesifik, sebagaimana ia juga tidak hanya menyebut satu golongan yang diberi nikmat. Ketiganya dibiarkan terbuka sebagai kategori, bukan sebagai vonis terhadap kelompok tertentu. Setiap pembaca bisa menempatkan diri ke dalam salah satunya.

Dengan ayat ini, Al-Fatihah membentuk lingkaran penuh. Ia dimulai dengan menyebut nama-Nya dan memuji siapa Dia (1:1-4), berlanjut ke pengakuan bahwa seluruh pengabdian hanya kepada-Nya (1:5), lalu memohon petunjuk (1:6), dan berakhir dengan mengetahui seperti apa petunjuk itu diwujudkan dalam kehidupan nyata: menjadi bagian dari mereka yang telah berjalan di atasnya, dan dijauhkan dari mereka yang menyimpang darinya. Dari pengenalan, ke ikrar, ke permohonan, ke komunitas. Itulah busur lengkap surah yang paling sering diulang dalam hidup seorang hamba.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menutup surah dengan menunjuk kepada orang, bukan dengan definisi (lih. tafsiran). Konsekuensinya bagi siapa pun yang mengucapkan doa ini: petunjuk yang diminta tidak selesai dengan menghafal rumusan yang benar. Ia menuntut sesuatu yang lebih menuntut, mencari dan memperhatikan orang-orang yang sudah menjalani jalan itu, sebab merekalah wujud nyata dari jawaban yang diminta. Doa yang sama, dipahami begini, mengubah arah pencarian: bukan ke rumusan yang dihafal, melainkan ke kehidupan orang lain yang bisa diperhatikan dan diteladani.
  • Di hadapan setiap orang, menurut ayat ini, hanya ada tiga kemungkinan arah: mengikuti jejak mereka yang diberi nikmat, mengetahui kebenaran tapi melanggarnya, atau tersesat tanpa menyadarinya. Tidak ada kemungkinan keempat. Dua penyimpangan itu pun berbeda hakikatnya: yang pertama adalah dosa karena tahu, yang kedua adalah dosa karena tidak mau tahu. Keduanya sama-sama menjauhkan dari jalan yang lurus, tapi lewat pintu yang berbeda. Mengenali dari pintu mana diri sendiri lebih rentan adalah separuh dari permohonan ini.
  • Nikmat itu datang dari Dia, bukan dari usaha mereka sendiri, sebagaimana ditunjukkan bentuk kata kerjanya (lih. penjelasan). Konsekuensinya: mereka yang menjadi teladan di jalan ini tidak digambarkan sebagai orang yang mencapai kedudukan itu dengan kekuatan sendiri. Bahkan berada di jalan yang lurus, dalam rumusan terakhir surah ini, bukanlah prestasi yang bisa dibanggakan. Ia adalah pemberian yang dimohon, dari awal sampai akhir.
  • Busur penuh surah ini, dari mengenal Dia sampai memohon petunjuk (lih. tafsiran), sengaja ditutup bukan dengan ajaran atau perintah, melainkan dengan komunitas: orang-orang yang jalannya bisa diikuti. Konsekuensinya bagi pembaca: iman yang paling pribadi sekalipun, pada akhirnya, membutuhkan teladan yang bisa dilihat, sebab surah yang paling sering diulang dalam hidup seorang hamba ini memilih menutup dirinya bukan dengan simpulan, melainkan dengan arah yang harus terus dituju.
  • Ayat ini sengaja tidak menamai siapa mereka (lih. tafsiran), dan keheningan itu punya akibat bagi siapa pun yang membacanya. Tanpa nama dan suku yang ditunjuk, bahaya menjadi golongan yang dimurkai atau tersesat tidak bisa dilempar ke kelompok lain, seolah itu selalu masalah orang lain. Ia tinggal sebagai kemungkinan yang terbuka bagi pembaca sendiri, diperbarui setiap kali doa ini diucapkan, bukan vonis yang sudah selesai dijatuhkan kepada pihak lain sejak awal.
  • Enam ayat pertama surah ini semuanya berbicara tentang Allah dan hubungan hamba dengan-Nya secara langsung, tanpa perantara. Ayat terakhir tiba-tiba memunculkan orang lain: mereka yang telah diberi nikmat, mereka yang dimurkai, mereka yang tersesat. Hubungan dengan Tuhan, yang dibangun begitu intim di sepanjang surah, ternyata tidak bisa dijalani sendirian. Ia membutuhkan teladan untuk diikuti dan peringatan untuk dijauhi, dan keduanya hadir dalam bentuk manusia-manusia lain. Iman yang paling vertikal sekalipun, pada akhirnya, selalu bersinggungan dengan orang lain.
  • Struktur kontrak Al-Fatihah mencapai klimaksnya di sini. Kredensial sudah disebutkan (1:1-4), ikrar sudah diucapkan (1:5), dan kini, di dua ayat terakhir, hamba meminta petunjuk untuk menjalankan ikrarnya (1:6) dan diberi tahu bahwa petunjuk itu sudah ada wujudnya dalam kehidupan orang-orang terdahulu (1:7). Sebuah kontrak tidak selesai ketika ditandatangani; ia selesai ketika dilaksanakan. Ayat terakhir ini memberitahu ke mana harus melihat untuk tahu bagaimana melaksanakannya.