Ayat 2:2
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Itulah Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَdzaalika l-kitaabu laa raybaitulah Kitab, tidak ada keraguan
- فِيهِfiihidi dalamnya
- هُدًى لِلْمُتَّقِينَhudan li-l-muttaqiinapetunjuk bagi orang-orang yang bertakwa
Penjelasan pilihan kata
Kata pembuka ayat ini, "itulah" (ذَٰلِكَ, dzaalika), adalah kata tunjuk untuk sesuatu yang jauh atau yang sudah disebut sebelumnya, bukan untuk sesuatu yang baru akan datang. Dalam bahasa Indonesia bedanya seperti "itu" dan "ini". Pilihan kata ini layak diperhatikan karena Al-Qur'an sebenarnya punya cara sendiri untuk menyebut diri dengan kata tunjuk dekat: bentuk "Al-Qur'an ini" (هَٰذَا الْقُرْآنَ, haadzaa l-qur'aana) muncul enam belas kali di berbagai surah. Sementara bentuk "itulah Kitab" (ذَٰلِكَ الْكِتَابُ, dzaalika l-kitaabu) hanya muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Ketika sebuah teks memiliki cara yang lazim untuk mengatakan sesuatu lalu memakai cara yang berbeda di satu tempat, perbedaan itu biasanya disengaja. Di sini, yang berdiri persis sebelumnya adalah tiga huruf pembuka di 2:1.
Kata "Kitab" (الْكِتَابُ, l-kitaabu) memakai kata sandang yang menandai sesuatu yang sudah dikenal, bukan sesuatu yang baru diperkenalkan. Bunyinya bukan "sebuah kitab" melainkan "Kitab itu", seolah pembaca sudah tahu Kitab mana yang dimaksud sebelum disebutkan.
Frasa "tidak ada keraguan padanya" (لَا رَيْبَ, laa rayba, dilanjutkan فِيهِ, fiihi) muncul tiga belas kali di seluruh Al-Qur'an. Yang menarik, sembilan dari tiga belas kemunculan itu bukan tentang Kitab, melainkan tentang Hari Kiamat, hari pengumpulan, atau janji Allah (3:9, 3:25, 4:87, 6:12, 18:21, 22:7, 40:59, 45:26, 45:32). Jadi ini adalah rumusan yang biasa dipakai untuk menegaskan kepastian hari perhitungan. Dipakainya rumusan yang sama untuk Kitab menempatkan keduanya pada tingkat kepastian yang sejajar.
Ada satu hal lagi yang khas pada ayat ini. Di antara "tidak ada keraguan" dan "di dalamnya", serta antara "di dalamnya" dan "petunjuk", terdapat dua tanda berhenti yang berpasangan. Tanda semacam ini hanya ada di enam ayat dalam seluruh Al-Qur'an, dan ayat ini salah satunya. Aturannya: pembaca boleh berhenti di salah satu tanda, tetapi tidak di keduanya. Akibatnya ada dua cara membaca yang sama-sama sah. Cara pertama: "Itulah Kitab, tidak ada keraguan; di dalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." Cara kedua: "Itulah Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa." Terjemahan di sini memakai koma di kedua tempat agar tidak memaksakan salah satunya.
Penutup ayat, "petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa" (هُدًى لِلْمُتَّقِينَ, hudan li-l-muttaqiina), juga hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Bandingkan dengan rumusan yang lebih sering dipakai, "petunjuk bagi manusia" (هُدًى لِلنَّاسِ, hudan li-n-naasi), yang muncul tiga kali (2:185, 3:4, 6:91). Kata "bertakwa" berasal dari akar yang berarti menjaga atau melindungi diri, jadi menggambarkan sikap berhati-hati agar tidak terjerumus, bukan sekadar status keagamaan.
Tafsiran
Ada sesuatu yang tampak berputar dalam ayat ini. Kitab ini disebut petunjuk, tetapi petunjuk bagi orang yang bertakwa. Padahal bukankah petunjuk seharusnya diberikan kepada yang belum tahu jalannya? Kalau seseorang sudah bertakwa, untuk apa lagi ia membutuhkan petunjuk? Dan kalau petunjuk hanya berguna bagi yang sudah bertakwa, bagaimana orang bisa mulai bertakwa tanpa petunjuk itu lebih dulu?
Al-Qur'an sendiri tidak menutup kemungkinan lain. Di tempat lain ia menyebut diri "petunjuk bagi manusia" tanpa syarat apa pun. Jadi dua rumusan itu berdampingan dalam kitab yang sama: petunjuk bagi semua orang, dan petunjuk bagi mereka yang sudah menjaga diri. Yang membedakan bukan isinya, melainkan siapa yang benar-benar menerimanya. Sesuatu bisa saja tersedia bagi semua orang tanpa sampai kepada semua orang. Yang menentukan bukan ketersediaannya, melainkan kesediaan yang menerima.
Rumusan "tidak ada keraguan" yang dipakai di sini adalah rumusan yang di sembilan tempat lain dipakai untuk menyatakan kepastian hari perhitungan. Sesuatu yang belum terjadi dan tidak bisa dibuktikan hari ini, disebut dengan kata-kata yang sama seperti kitab yang sedang dipegang. Keduanya diletakkan pada tingkat kepastian yang sama, dan keduanya sama-sama menuntut sikap yang sama dari pembacanya.
Terakhir, kata tunjuk yang dipakai menunjuk ke belakang, bukan ke depan, dan yang berdiri persis di belakang hanyalah tiga huruf yang tak terjelaskan. Susunan dua ayat pertama surah ini menghasilkan urutan yang tak biasa: sesuatu yang tidak dipahami lebih dulu, baru kemudian pernyataan bahwa yang tak dipahami itu adalah Kitab yang tidak diragukan.
Implikasi (Renungan dan Hikmah, 7)
- Petunjuk ini diperuntukkan bagi orang yang bertakwa. Tetapi bagaimana seseorang bisa bertakwa sebelum menerima petunjuk? Lingkaran ini tidak diselesaikan oleh ayat ini, dan mungkin memang tidak dimaksudkan untuk diselesaikan. Barangkali ia menggambarkan sesuatu yang memang benar tentang bagaimana pemahaman bekerja: yang bersedia menerima akan menerima lebih banyak, dan yang menolak sejak awal tidak akan menemukan apa pun, betapapun terangnya yang disodorkan.
- Di tempat lain Al-Qur'an menyebut diri petunjuk bagi seluruh manusia tanpa syarat, dan di sini petunjuk bagi yang bertakwa. Dua rumusan itu tidak bertentangan kalau dibedakan antara apa yang tersedia dan apa yang sampai. Matahari bersinar untuk semua, tetapi hanya menerangi mata yang terbuka. Yang menentukan bukan sumber cahaya, melainkan apakah mata dipejamkan.
- Dua tanda berhenti berpasangan di ayat ini, yang hanya ada di enam ayat sepanjang Al-Qur'an, membuka dua cara membaca yang sama-sama benar. Bisa dibaca "tidak ada keraguan" sebagai pernyataan utuh, atau "tidak ada keraguan di dalamnya" sebagai satu kesatuan. Sebuah teks yang menyediakan dua bacaan sah pada baris keduanya sendiri sedang mengatakan sesuatu tentang bagaimana ia ingin dibaca: dengan kehati-hatian, bukan dengan ketergesaan.
- Rumusan "tidak ada keraguan padanya" dipakai sembilan kali untuk hari perhitungan yang belum datang, dan di sini untuk kitab yang sudah ada di tangan. Sesuatu yang bisa dipegang dan sesuatu yang belum terjadi disebut dengan tingkat kepastian yang sama. Bagi yang menerima salah satunya, yang lain menjadi sulit ditolak; keduanya diikat oleh rumusan yang sama.
- Kata yang diterjemahkan "bertakwa" berasal dari akar yang berarti menjaga atau melindungi diri. Ia menggambarkan sikap waspada seseorang yang tahu ada bahaya dan berusaha tidak terjerumus, bukan gelar atau keanggotaan yang sekali diperoleh lalu melekat. Sikap itu bisa naik dan turun, bisa hadir hari ini dan hilang esok, dan karena itu ia lebih tepat disebut kewaspadaan daripada kedudukan.
- Kata "Kitab" di sini memakai bentuk yang menandai sesuatu yang sudah dikenal, bukan sesuatu yang baru diperkenalkan. Bunyinya bukan "ada sebuah kitab" melainkan "Kitab itu", seolah pembaca sudah semestinya tahu Kitab mana yang dimaksud. Cara memperkenalkan sesuatu yang mengandaikan pengenalan lebih dulu selalu menyisakan pertanyaan yang menarik bagi yang membacanya untuk pertama kali.
- Al-Qur'an menyebut diri "Al-Qur'an ini" enam belas kali, memakai kata tunjuk dekat. Tetapi di ayat ini, satu-satunya kali dalam seluruh kitab, ia memakai kata tunjuk jauh: "itulah Kitab". Ketika sebuah teks punya kebiasaan yang jelas lalu sekali saja menyimpang darinya, penyimpangan itu jarang kebetulan. Membaca dengan teliti berarti memperhatikan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana ia dikatakan berbeda dari kebiasaannya sendiri.
Ayat 2:3
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
yaitu orang-orang yang beriman pada yang gaib, dan menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَalladziina yu'minuuna bi-l-ghaybi wa-yuqiimuuna s-salaata wa-mimmaa razaqnaahum yunfiquunayaitu orang-orang yang beriman pada yang gaib, dan menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini merinci siapa "orang-orang yang bertakwa" yang disebut di akhir ayat sebelumnya, lewat tiga ciri yang disebut berurutan.
Ciri pertama, "beriman pada yang gaib" (يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ, yu'minuuna bi-l-ghaybi), hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata "gaib" berarti sesuatu yang tersembunyi dari jangkauan indra, bukan sesuatu yang mustahil atau tanpa dasar. Yang diminta bukan mempercayai hal yang bertentangan dengan penalaran, melainkan menerima bahwa ada kenyataan yang tidak bisa dilihat atau diraba.
Ciri kedua, "menegakkan salat" (وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ, wa-yuqiimuuna s-salaata), memakai kata kerja yang berasal dari akar yang berarti berdiri atau menegakkan. Akar yang sama ini muncul pada kata "lurus" dalam permohonan "tunjukilah kami jalan yang lurus" (1:6): jalan yang tegak, dan salat yang ditegakkan, berasal dari akar yang sama. Kata kerjanya bukan "melakukan" atau "menjalankan", melainkan "menegakkan", yang mengandaikan sesuatu yang bisa roboh kalau tidak ditopang terus-menerus.
Ciri ketiga, "menginfakkan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka" (وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ, wa-mimmaa razaqnaahum yunfiquuna), mengandung dua hal yang layak diperhatikan. Pertama, kata yang dipakai berarti "sebagian dari", bukan seluruhnya; yang diminta bukan melepaskan segalanya. Kedua, harta itu disebut "yang Kami rezekikan kepada mereka", bukan "yang mereka miliki" atau "yang mereka hasilkan". Yang memberi disebut lebih dulu sebelum yang memberikan.
Rangkaian tiga ciri ini juga muncul hampir sama persis di 8:3, dan dua bagian akhirnya berulang di beberapa tempat lain (5:55, 9:71, 27:3, 31:4 untuk salat; 22:35, 28:54, 32:16, 42:38 untuk infak).
Tafsiran
Tiga ciri yang disebut di ayat ini tersusun dalam urutan yang bukan kebetulan: dari yang paling tersembunyi ke yang paling terlihat. Beriman pada yang gaib sepenuhnya berada di dalam, tak seorang pun bisa memeriksanya. Menegakkan salat berada di tengah, sebagian terlihat dan sebagian tidak. Memberikan sebagian rezeki sepenuhnya terlihat, bahkan bisa dihitung oleh orang lain. Ketakwaan, dalam susunan ini, bergerak dari batin ke perbuatan, dan tidak berhenti di salah satunya.
Yang menarik, ciri pertama justru dimulai dari pengakuan keterbatasan. Sebelum menyebut satu pun perbuatan, ayat ini menyebut kesediaan menerima bahwa ada yang tidak terjangkau penglihatan. Ini bukan permintaan untuk berhenti berpikir, melainkan pengakuan bahwa penglihatan manusia bukan ukuran terakhir dari apa yang ada. Sikap ini justru sejalan dengan cara kerja pengetahuan mana pun: banyak hal diterima keberadaannya jauh sebelum ia bisa dilihat langsung.
Kata kerja "menegakkan" pada ciri kedua mengandaikan sesuatu yang tidak berdiri dengan sendirinya. Yang ditegakkan bisa roboh, dan karena itu perlu ditegakkan lagi, berulang kali. Ini bukan gambaran tentang tugas yang selesai sekali jalan, melainkan tentang komitmen yang harus terus ditopang.
Dan pada ciri ketiga, sumber yang diberikan disebut lebih dulu daripada tindakan memberi. Yang dikeluarkan bukan milik sendiri yang direlakan, melainkan bagian dari titipan yang dialirkan kembali. Cara menyebut ini mengubah kedudukan si pemberi: ia bukan dermawan yang berbaik hati, melainkan penerima yang meneruskan.
Implikasi (Renungan dan Hikmah, 7)
- Tiga ciri yang disebut tersusun dari yang paling tersembunyi menuju yang paling kasatmata: keyakinan pada yang tak terlihat, lalu komitmen yang sebagian terlihat, lalu pemberian yang sepenuhnya bisa dihitung orang lain. Ketakwaan tidak berhenti sebagai urusan hati, dan juga tidak dimulai dari perbuatan luar. Ia bergerak dari dalam ke luar, dan baru lengkap ketika sampai ke luar.
- Ciri pertama orang bertakwa bukan sebuah perbuatan, melainkan kesediaan menerima bahwa ada kenyataan di luar jangkauan indra. Ini bukan ajakan berhenti berpikir. Justru sebaliknya: hampir seluruh pengetahuan manusia dibangun di atas hal-hal yang diterima keberadaannya sebelum bisa dilihat langsung. Yang ditolak bukan penalaran, melainkan anggapan bahwa yang tak terlihat dengan sendirinya tidak ada.
- Kata kerjanya bukan "melakukan" melainkan "menegakkan", dan sesuatu yang ditegakkan selalu mengandaikan kemungkinan roboh. Komitmen yang sudah dijalankan bertahun-tahun tetap bisa runtuh kalau berhenti ditopang. Tidak ada titik di mana penegakan itu selesai dan bisa ditinggalkan; yang berdiri hari ini berdiri karena ditegakkan hari ini juga.
- Kata "menegakkan" di sini berasal dari akar yang sama dengan kata "lurus" dalam permohonan "tunjukilah kami jalan yang lurus" pada surah sebelumnya. Jalan yang diminta adalah jalan yang tegak, dan yang diminta dari orang yang menempuhnya adalah menegakkan. Permohonan dan jawabannya bertemu di akar kata yang sama, tepat di ambang perpindahan dari surah pembuka ke surah terpanjang.
- Yang diminta adalah sebagian, bukan seluruhnya. Kata yang dipakai secara khusus menandai bagian dari keseluruhan. Tuntutan ini tidak menghendaki kemiskinan sukarela atau pelepasan total; ia menuntut agar aliran tidak berhenti, bukan agar bejana dikosongkan. Ukurannya bukan berapa banyak yang tersisa, melainkan apakah ada yang mengalir keluar.
- Harta yang dikeluarkan disebut "yang Kami rezekikan kepada mereka", bukan "yang mereka miliki" atau "yang mereka hasilkan". Sumbernya disebut lebih dulu daripada tindakan memberinya. Cara menyebut ini mengubah kedudukan si pemberi: ia bukan pemilik yang murah hati melepaskan sebagian miliknya, melainkan penerima yang meneruskan sebagian dari apa yang lebih dulu diterimanya. Kesombongan sulit tumbuh di atas cara pandang seperti ini.
- Ciri pertama tidak bisa diperiksa siapa pun, tetapi ciri ketiga bisa dihitung dengan angka. Kalau ketiganya disebut sebagai satu rangkaian, maka yang paling tersembunyi sesungguhnya terbaca dari yang paling terlihat. Sulit mengaku percaya pada yang gaib sambil menggenggam erat yang kasatmata; apa yang dilakukan terhadap yang bisa dihitung menjadi keterangan tentang apa yang sebenarnya diyakini tentang yang tak terhitung.
Ayat 2:4
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
dan orang-orang yang percaya pada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, dan terhadap akhirat, merekalah yang yakin.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَwa-lladziina yu'minuuna bi-maa unzila ilayka wa-maa unzila min qablika wa-bi-l-aakhirati hum yuuqinuunadan orang-orang yang percaya pada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, dan terhadap akhirat, merekalah yang yakin
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan rincian ciri orang bertakwa dari ayat sebelumnya, dan memakai dua kata yang berbeda untuk dua jenis keyakinan.
Terhadap wahyu dipakai kata "percaya" (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna), kata yang sama dengan yang dipakai di ayat sebelumnya untuk yang gaib, dan yang muncul delapan puluh lima kali di seluruh Al-Qur'an. Tetapi terhadap akhirat dipakai kata yang berbeda: "yakin" (يُوقِنُونَ, yuuqinuuna), yang hanya muncul sebelas kali. Akar kata yang kedua ini dalam bahasa Arab bermakna mengetahui dengan pasti, dan para penyusun kamus klasik menyebutnya bersinonim dengan kata "mengetahui" itu sendiri. Jadi kata yang kedua lebih kuat daripada yang pertama.
Urutannya justru kebalikan dari yang mungkin diduga. Terhadap wahyu yang sudah ada di tangan dipakai kata "percaya"; terhadap akhirat yang belum terjadi dan tidak bisa disaksikan siapa pun justru dipakai kata yang bermakna pengetahuan yang pasti. Yang paling jauh dari jangkauan indra disebut dengan kata yang paling kuat.
Bagian penutup ayat ini mengandung dua penekanan sekaligus. Pertama, kata "akhirat" (وَبِالْآخِرَةِ, wa-bi-l-aakhirati) diletakkan mendahului kata kerjanya, susunan yang tidak biasa dalam bahasa Arab dan menandai penekanan. Kedua, kata ganti "mereka" (هُمْ, hum) disisipkan padahal kata kerjanya sendiri sudah menandai siapa pelakunya. Penambahan yang secara tata bahasa tidak diperlukan itu memberi tekanan tersendiri: bukan sekadar "mereka yakin", melainkan "merekalah yang yakin". Karena itu terjemahan di sini berbunyi "dan terhadap akhirat, merekalah yang yakin", bukan "dan mereka yakin akan akhirat". Seluruh rangkaian penutup ini (وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ, wa-bi-l-aakhirati hum yuuqinuuna) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an.
Kata "diturunkan" (أُنْزِلَ, unzila) dipakai dua kali, keduanya dalam bentuk yang tidak menyebutkan siapa yang menurunkan. Yang ditekankan adalah bahwa wahyu itu datang dari luar, bukan disusun dari dalam. Dan yang dipercayai bukan hanya wahyu yang sedang diturunkan, melainkan juga "apa yang diturunkan sebelummu" (وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ, wa-maa unzila min qablika).
Tafsiran
Pembedaan dua kata untuk keyakinan di ayat ini menyimpan sesuatu yang layak direnungkan. Terhadap kitab yang bisa dibaca dan dipegang, dipakai kata "percaya". Terhadap hari perhitungan yang belum datang dan tak seorang pun pernah menyaksikannya, dipakai kata yang bermakna mengetahui dengan pasti. Semakin jauh sesuatu dari jangkauan indra, semakin kuat kata yang dituntut untuk menyikapinya.
Ini bukan kejanggalan. Justru di sinilah letak beratnya: hal-hal yang bisa dilihat tidak membutuhkan keteguhan untuk diterima, karena penglihatan sudah menanggungnya. Yang tak bisa dilihat sepenuhnya bergantung pada keteguhan orang yang menyikapinya. Kalau keyakinan tentang akhirat hanya sekuat "kira-kira begitu", ia tidak akan sanggup mengubah satu pun keputusan dalam hidup sehari-hari. Yang dituntut adalah tingkat keyakinan yang setara dengan pengetahuan, karena hanya keyakinan setingkat itulah yang benar-benar menggerakkan.
Cakupan yang dipercayai juga meluas melampaui wahyu yang sedang berlangsung, mencakup juga yang diturunkan sebelumnya. Sikap ini menempatkan wahyu sebagai satu rangkaian yang bersambung, bukan sebagai penggantian yang menghapus segala yang datang lebih dulu. Orang yang bertakwa, menurut ayat ini, bukan orang yang menolak semua yang datang sebelum masanya.
Dan penekanan pada bagian penutup, "merekalah yang yakin", menyisakan gema yang tidak nyaman: kalau perlu ditegaskan bahwa merekalah yang yakin, itu berarti keyakinan semacam itu tidak merata, bahkan mungkin jarang. Banyak yang mengucapkannya; yang benar-benar meyakininya sampai ke tingkat pengetahuan adalah kelompok yang secara khusus ditunjuk.
Implikasi (Renungan dan Hikmah, 6)
- Terhadap kitab yang bisa dipegang, ayat ini memakai kata "percaya". Terhadap hari perhitungan yang belum datang, ia memakai kata yang bermakna mengetahui dengan pasti. Yang paling jauh dari jangkauan mata justru dituntut dengan kata yang paling kuat. Barangkali karena hal yang bisa dilihat tidak membutuhkan keteguhan untuk diterima; yang tak bisa dilihat sepenuhnya bergantung pada keteguhan orang yang menyikapinya.
- Keyakinan sebatas "kira-kira begitu" tidak pernah mengubah satu pun keputusan dalam hidup sehari-hari. Orang yang benar-benar tahu ada jurang di depan akan berhenti berjalan; orang yang hanya menduga mungkin ada jurang akan terus melangkah sambil berharap. Kata yang dipakai ayat ini untuk sikap terhadap akhirat adalah kata untuk yang pertama, bukan yang kedua.
- Kata ganti "mereka" disisipkan padahal secara tata bahasa tidak diperlukan, mengubah "mereka yakin" menjadi "merekalah yang yakin". Penegasan semacam ini biasanya muncul ketika sesuatu perlu dibedakan dari yang lain. Kalau perlu ditegaskan bahwa merekalah yang yakin, maka keyakinan setingkat itu tampaknya tidak merata. Banyak yang mengucapkan; yang meyakini sampai ke tingkat pengetahuan ditunjuk secara khusus.
- Yang dipercayai bukan hanya wahyu yang sedang berlangsung, melainkan juga apa yang diturunkan sebelum itu. Ciri orang bertakwa, menurut ayat ini, justru mencakup pengakuan terhadap apa yang datang lebih dulu. Sikap yang menganggap semua yang lampau sudah batal dan hanya yang terbaru yang berlaku tidak menemukan dukungannya di sini.
- Kata "diturunkan" dipakai dua kali, keduanya tanpa menyebutkan siapa yang menurunkan. Yang ditekankan bukan pelakunya, melainkan arahnya: dari atas ke bawah, dari luar ke dalam. Sesuatu yang diterima berbeda kedudukannya dari sesuatu yang disusun sendiri, dan perbedaan itu menentukan bagaimana ia diperlakukan.
- Kata "akhirat" diletakkan mendahului kata kerjanya, susunan yang tidak biasa dan karenanya menandai penekanan. Yang paling akhir dalam urutan waktu justru didahulukan dalam urutan kalimat. Ada cara pandang di balik penyusunan seperti ini: yang terjadi paling belakang justru yang paling menentukan bagaimana yang sekarang dijalani.
Ayat 2:5
أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Mereka itu berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْulaa'ika alaa hudan min rabbihimmereka itu berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka
- وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَwa-ulaa'ika humu l-muflihuunadan mereka itulah orang-orang yang beruntung
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menutup rangkaian pembuka surah dengan dua pernyataan tentang orang-orang yang ciri-cirinya baru saja dirinci.
Pernyataan pertama, "berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka" (أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ, ulaa'ika alaa hudan min rabbihim), memakai kata "di atas", bukan "di dalam" atau "dengan". Gambarannya adalah berpijak, seperti seseorang yang berdiri di atas jalan, bukan seperti sesuatu yang dipegang atau dimiliki. Kata "petunjuk" di sini juga tidak memakai kata sandang, jadi bunyinya "suatu petunjuk", bukan "petunjuk itu" yang sudah dikenal. Dan sumbernya disebutkan: dari Tuhan mereka, bukan dari kecerdasan atau usaha mereka sendiri.
Pernyataan kedua, "dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ, wa-ulaa'ika humu l-muflihuuna), kembali memakai penekanan seperti di ayat sebelumnya: kata ganti "mereka" disisipkan padahal secara tata bahasa tidak diperlukan, sehingga bunyinya bukan sekadar "mereka beruntung" melainkan "merekalah orang-orang yang beruntung".
Kata yang diterjemahkan "beruntung" di sini layak diperhatikan akar katanya. Dalam bahasa Arab, akar kata ini makna dasarnya adalah membelah, memecah, atau merobek. Para penyusun kamus klasik mencatat contoh pemakaiannya: membelah kepala, membelah bibir, dan yang paling sering, membajak tanah untuk ditanami. Kata untuk petani dalam bahasa Arab berasal dari akar yang sama ini. Makna "beruntung" atau "berhasil" adalah makna turunan yang lahir darinya, bukan makna aslinya. Jadi orang yang disebut beruntung di sini, secara akar kata, adalah orang yang membelah tanah keras lalu menanaminya, bukan orang yang kejatuhan nasib baik.
Seluruh susunan ayat ini muncul lagi hampir sama persis di 31:5, dan bagian penutupnya berulang di lima tempat lain (3:104, 9:88, 24:51, 30:38, 31:5). Kebalikannya, "tidak akan beruntung", muncul sebelas kali di berbagai surah.
Tafsiran
Kata terakhir dalam rangkaian pembuka surah ini menyimpan gambaran yang mudah terlewat. Kata yang diterjemahkan "beruntung" berakar pada tindakan membelah tanah untuk bercocok tanam. Bukan keberuntungan yang jatuh dari langit tanpa sebab, melainkan hasil dari kerja seorang petani: memecah tanah yang keras, menanam, menunggu, dan baru kemudian menuai. Sebuah kata yang di permukaannya terdengar seperti nasib baik, di akarnya justru menggambarkan kerja keras yang paling melelahkan.
Gambaran ini menjelaskan urutan seluruh rangkaian pembuka surah. Ayat-ayat sebelumnya menyebutkan apa yang harus dikerjakan: menerima yang tak terlihat, menegakkan komitmen, mengalirkan sebagian rezeki, meyakini hari perhitungan. Semuanya adalah pekerjaan. Dan ayat ini menutupnya dengan kata yang akarnya sendiri berarti bekerja mengolah tanah. Yang dijanjikan bukan hasil tanpa usaha, melainkan panen bagi yang sudah membajak.
Namun ada keseimbangan yang dijaga di ayat ini. Petunjuk yang menjadi pijakan disebut datang "dari Tuhan mereka", bukan dari hasil pencarian mereka sendiri. Jadi ada dua sisi yang diletakkan berdampingan tanpa saling meniadakan: petunjuk adalah pemberian, tetapi berjalan di atasnya adalah pekerjaan. Yang satu diterima, yang lain dikerjakan.
Dan kata "di atas" pada "di atas petunjuk" menggambarkan pijakan, bukan kepemilikan. Petunjuk bukan barang yang disimpan di saku, melainkan tanah yang dipijak. Orang bisa turun dari pijakannya kapan saja, dan justru karena itu permohonan "tunjukilah kami jalan yang lurus" di surah sebelumnya terus diulang.
Implikasi (Renungan dan Hikmah, 7)
- Kata yang diterjemahkan "beruntung" berakar pada tindakan membelah tanah untuk bercocok tanam; kata untuk petani dalam bahasa Arab berasal dari akar yang sama. Bukan nasib baik yang jatuh begitu saja, melainkan hasil dari memecah tanah yang keras lalu menanam dan menunggu. Sebuah kata yang di permukaan terdengar seperti keberuntungan, di akarnya justru menggambarkan pekerjaan yang paling melelahkan.
- Petunjuk disebut datang dari Tuhan mereka, bukan dari hasil pencarian mereka sendiri. Tetapi berjalan di atasnya adalah pekerjaan, dan kata penutupnya berakar pada membajak tanah. Dua hal ini diletakkan berdampingan tanpa saling meniadakan: yang satu diterima, yang lain dikerjakan. Menolak salah satunya akan merusak keduanya.
- Kata yang dipakai adalah "di atas petunjuk", bukan "di dalam" atau "dengan". Gambarannya adalah berpijak, seperti berdiri di atas jalan. Petunjuk bukan barang yang disimpan lalu aman selamanya, melainkan tanah yang dipijak dan bisa ditinggalkan kapan saja. Yang berdiri di atasnya hari ini tidak dijamin masih berdiri di atasnya esok.
- Kata "petunjuk" di sini tidak memakai kata sandang, jadi bunyinya "suatu petunjuk", bukan "petunjuk itu" yang sudah dikenal dan selesai. Bentuk yang terbuka ini menyisakan ruang: apa yang diterima seseorang bukan seluruh petunjuk yang mungkin ada, melainkan sebagian yang cukup untuk melangkah. Selalu ada yang belum diterima, dan karena itu permohonan tak pernah berhenti.
- Untuk kedua kalinya dalam dua ayat berturut-turut, kata ganti disisipkan padahal secara tata bahasa tidak diperlukan: "merekalah yang yakin" di ayat sebelumnya, "merekalah orang-orang yang beruntung" di ayat ini. Pengulangan penegasan semacam ini menyisakan kesan bahwa ada yang perlu dibedakan, bahwa banyak yang mengaku namun tidak semua yang termasuk.
- Petani yang membajak tanah tidak menuai pada hari yang sama. Ada jarak antara membelah tanah dan memetik hasil, dan jarak itu diisi oleh menunggu tanpa bukti bahwa yang ditanam akan tumbuh. Kata yang dipilih untuk menutup rangkaian ini membawa serta seluruh gambaran itu: kesabaran menunggu adalah bagian dari pekerjaan, bukan jeda di antara pekerjaan.
- Susunan ayat ini muncul lagi hampir sama persis di surah lain yang jaraknya sangat jauh, menutup rangkaian ciri yang serupa. Pengulangan yang begitu utuh di dua tempat berjauhan bukan kebetulan penyusunan. Sesuatu yang dianggap penting untuk dikatakan sekali, dikatakan lagi dengan kata-kata yang sama, kepada pembaca yang mungkin melewatkannya pada kesempatan pertama.