وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
dan orang-orang yang percaya pada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, dan terhadap akhirat, merekalah yang yakin.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَwa-lladziina yu'minuuna bi-maa unzila ilayka wa-maa unzila min qablika wa-bi-l-aakhirati hum yuuqinuunadan orang-orang yang percaya pada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelummu, dan terhadap akhirat, merekalah yang yakin
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini melanjutkan rincian ciri orang bertakwa dari ayat sebelumnya, dan memakai dua kata yang berbeda untuk dua jenis keyakinan.
Terhadap wahyu dipakai kata "percaya" (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna), kata yang sama dengan yang dipakai di ayat sebelumnya untuk yang gaib, dan yang muncul delapan puluh lima kali di seluruh Al-Qur'an. Tetapi terhadap akhirat dipakai kata yang berbeda: "yakin" (يُوقِنُونَ, yuuqinuuna), yang hanya muncul sebelas kali. Akar kata yang kedua ini dalam bahasa Arab bermakna mengetahui dengan pasti, dan para penyusun kamus klasik menyebutnya bersinonim dengan kata "mengetahui" itu sendiri. Jadi kata yang kedua lebih kuat daripada yang pertama.
Urutannya justru kebalikan dari yang mungkin diduga. Terhadap wahyu yang sudah ada di tangan dipakai kata "percaya"; terhadap akhirat yang belum terjadi dan tidak bisa disaksikan siapa pun justru dipakai kata yang bermakna pengetahuan yang pasti. Yang paling jauh dari jangkauan indra disebut dengan kata yang paling kuat.
Bagian penutup ayat ini mengandung dua penekanan sekaligus. Pertama, kata "akhirat" (وَبِالْآخِرَةِ, wa-bi-l-aakhirati) diletakkan mendahului kata kerjanya, susunan yang tidak biasa dalam bahasa Arab dan menandai penekanan. Kedua, kata ganti "mereka" (هُمْ, hum) disisipkan padahal kata kerjanya sendiri sudah menandai siapa pelakunya. Penambahan yang secara tata bahasa tidak diperlukan itu memberi tekanan tersendiri: bukan sekadar "mereka yakin", melainkan "merekalah yang yakin". Karena itu terjemahan di sini berbunyi "dan terhadap akhirat, merekalah yang yakin", bukan "dan mereka yakin akan akhirat". Seluruh rangkaian penutup ini (وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ, wa-bi-l-aakhirati hum yuuqinuuna) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an.
Kata "diturunkan" (أُنْزِلَ, unzila) dipakai dua kali, keduanya dalam bentuk yang tidak menyebutkan siapa yang menurunkan. Yang ditekankan adalah bahwa wahyu itu datang dari luar, bukan disusun dari dalam. Dan yang dipercayai bukan hanya wahyu yang sedang diturunkan, melainkan juga "apa yang diturunkan sebelummu" (وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ, wa-maa unzila min qablika).
Tafsiran
Pembedaan dua kata untuk keyakinan di ayat ini menyimpan sesuatu yang layak direnungkan. Terhadap kitab yang bisa dibaca dan dipegang, dipakai kata "percaya". Terhadap hari perhitungan yang belum datang dan tak seorang pun pernah menyaksikannya, dipakai kata yang bermakna mengetahui dengan pasti. Semakin jauh sesuatu dari jangkauan indra, semakin kuat kata yang dituntut untuk menyikapinya.
Ini bukan kejanggalan. Justru di sinilah letak beratnya: hal-hal yang bisa dilihat tidak membutuhkan keteguhan untuk diterima, karena penglihatan sudah menanggungnya. Yang tak bisa dilihat sepenuhnya bergantung pada keteguhan orang yang menyikapinya. Kalau keyakinan tentang akhirat hanya sekuat "kira-kira begitu", ia tidak akan sanggup mengubah satu pun keputusan dalam hidup sehari-hari. Yang dituntut adalah tingkat keyakinan yang setara dengan pengetahuan, karena hanya keyakinan setingkat itulah yang benar-benar menggerakkan.
Cakupan yang dipercayai juga meluas melampaui wahyu yang sedang berlangsung, mencakup juga yang diturunkan sebelumnya. Sikap ini menempatkan wahyu sebagai satu rangkaian yang bersambung, bukan sebagai penggantian yang menghapus segala yang datang lebih dulu. Orang yang bertakwa, menurut ayat ini, bukan orang yang menolak semua yang datang sebelum masanya.
Dan penekanan pada bagian penutup, "merekalah yang yakin", menyisakan gema yang tidak nyaman: kalau perlu ditegaskan bahwa merekalah yang yakin, itu berarti keyakinan semacam itu tidak merata, bahkan mungkin jarang. Banyak yang mengucapkannya; yang benar-benar meyakininya sampai ke tingkat pengetahuan adalah kelompok yang secara khusus ditunjuk.
Implikasi (6)
- Terhadap kitab yang bisa dipegang, ayat ini memakai kata "percaya". Terhadap hari perhitungan yang belum datang, ia memakai kata yang bermakna mengetahui dengan pasti. Yang paling jauh dari jangkauan mata justru dituntut dengan kata yang paling kuat. Barangkali karena hal yang bisa dilihat tidak membutuhkan keteguhan untuk diterima; yang tak bisa dilihat sepenuhnya bergantung pada keteguhan orang yang menyikapinya.
- Keyakinan sebatas "kira-kira begitu" tidak pernah mengubah satu pun keputusan dalam hidup sehari-hari. Orang yang benar-benar tahu ada jurang di depan akan berhenti berjalan; orang yang hanya menduga mungkin ada jurang akan terus melangkah sambil berharap. Kata yang dipakai ayat ini untuk sikap terhadap akhirat adalah kata untuk yang pertama, bukan yang kedua.
- Kata ganti "mereka" disisipkan padahal secara tata bahasa tidak diperlukan, mengubah "mereka yakin" menjadi "merekalah yang yakin". Penegasan semacam ini biasanya muncul ketika sesuatu perlu dibedakan dari yang lain. Kalau perlu ditegaskan bahwa merekalah yang yakin, maka keyakinan setingkat itu tampaknya tidak merata. Banyak yang mengucapkan; yang meyakini sampai ke tingkat pengetahuan ditunjuk secara khusus.
- Yang dipercayai bukan hanya wahyu yang sedang berlangsung, melainkan juga apa yang diturunkan sebelum itu. Ciri orang bertakwa, menurut ayat ini, justru mencakup pengakuan terhadap apa yang datang lebih dulu. Sikap yang menganggap semua yang lampau sudah batal dan hanya yang terbaru yang berlaku tidak menemukan dukungannya di sini.
- Kata "diturunkan" dipakai dua kali, keduanya tanpa menyebutkan siapa yang menurunkan. Yang ditekankan bukan pelakunya, melainkan arahnya: dari atas ke bawah, dari luar ke dalam. Sesuatu yang diterima berbeda kedudukannya dari sesuatu yang disusun sendiri, dan perbedaan itu menentukan bagaimana ia diperlakukan.
- Kata "akhirat" diletakkan mendahului kata kerjanya, susunan yang tidak biasa dan karenanya menandai penekanan. Yang paling akhir dalam urutan waktu justru didahulukan dalam urutan kalimat. Ada cara pandang di balik penyusunan seperti ini: yang terjadi paling belakang justru yang paling menentukan bagaimana yang sekarang dijalani.