أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mereka itu berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْulaa'ika 'alaa hudan min rabbihimmereka itu berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka
  2. وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَwa-ulaa'ika humu l-muflihuunadan mereka itulah orang-orang yang beruntung

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  2. عَلَىٰ'alaaatas
  3. هُدًىhudanpetunjuk
  4. مِنْmindari
  5. رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
  6. وَأُولَٰئِكَwa-ulaa'ikadan mereka itu
  7. هُمُhumumerekalah
  8. الْمُفْلِحُونَl-muflihuunaorang-orang yang beruntung

Inti bacaan

'Atas mereka petunjuk' (bukan 'mereka meraih petunjuk' secara aktif-mandiri) menegaskan bahwa petunjuk adalah sesuatu yang diterima, bukan dicapai lewat usaha semata. Konkretnya: keberhasilan sejati (falaah, akar makna 'membelah tanah untuk bertani lalu memetik hasil') bukan kesuksesan instan, melainkan buah dari proses yang ditanam, sikap yang menenangkan ambisi tergesa sekaligus menuntut kerja nyata, bukan pasif menunggu.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menutup rangkaian pembuka surah dengan dua pernyataan tentang orang-orang yang ciri-cirinya baru saja dirinci.

Pernyataan pertama, "berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka" (أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ, ulaa'ika 'alaa hudan min rabbihim), memakai kata "di atas", bukan "di dalam" atau "dengan". Gambarannya adalah berpijak, seperti seseorang yang berdiri di atas jalan, bukan seperti sesuatu yang dipegang atau dimiliki. Kata "petunjuk" di sini juga tidak memakai kata sandang, jadi bunyinya "suatu petunjuk", bukan "petunjuk itu" yang sudah dikenal. Dan sumbernya disebutkan: dari Tuhan mereka, bukan dari kecerdasan atau usaha mereka sendiri.

Pernyataan kedua, "dan mereka itulah orang-orang yang beruntung" (وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ, wa-ulaa'ika humu l-muflihuuna), kembali memakai penekanan seperti di ayat sebelumnya: kata ganti "mereka" disisipkan padahal secara tata bahasa tidak diperlukan, sehingga bunyinya bukan sekadar "mereka beruntung" melainkan "merekalah orang-orang yang beruntung".

Kata yang diterjemahkan "beruntung" di sini layak diperhatikan akar katanya. Dalam bahasa Arab, akar kata ini makna dasarnya adalah membelah, memecah, atau merobek. Para penyusun kamus klasik mencatat contoh pemakaiannya: membelah kepala, membelah bibir, dan yang paling sering, membajak tanah untuk ditanami. Kata untuk petani dalam bahasa Arab berasal dari akar yang sama ini. Makna "beruntung" atau "berhasil" adalah makna turunan yang lahir darinya, bukan makna aslinya. Jadi orang yang disebut beruntung di sini, secara akar kata, adalah orang yang membelah tanah keras lalu menanaminya, bukan orang yang kejatuhan nasib baik.

Ada satu hal tentang kata itu yang baru terlihat kalau seluruh Al-Qur'an dihitung. Kata "orang-orang yang beruntung" (الْمُفْلِحُونَ, al-muflihuuna) muncul dua belas kali (2:5, 3:104, 7:8, 7:157, 9:88, 23:102, 24:51, 30:38, 31:5, 58:22, 59:9, 64:16), dan kedua belas kalinya selalu didahului kata ganti penegas "mereka" (هُمُ, humu). Tidak sekali pun ia berdiri sendiri. Jadi penekanan yang di ayat ini terasa seperti pilihan gaya ternyata melekat pada kata itu di mana pun ia dipakai: yang disebut selalu "merekalah orang-orang yang beruntung", tidak pernah sekadar "orang-orang yang beruntung".

Kata "petunjuk" (هُدًى, hudan) juga menghubungkan ayat ini kembali ke pembuka surah. Ia dipakai di 2:2 untuk menyebut kitab itu sendiri sebagai petunjuk bagi orang bertakwa, lalu dipakai lagi di sini untuk menyebut keadaan orang yang ciri-cirinya baru saja dirinci. Satu kata membingkai empat ayat di antaranya: dimulai dari kitab yang menjadi petunjuk, berakhir pada orang yang berpijak di atas petunjuk.

Seluruh susunan ayat ini muncul lagi hampir sama persis di 31:5, dan bagian penutupnya berulang di lima tempat lain (3:104, 9:88, 24:51, 30:38, 31:5). Kebalikannya, "tidak akan beruntung", muncul sebelas kali di berbagai surah.

Tafsiran

Kata terakhir dalam rangkaian pembuka surah ini menyimpan gambaran yang mudah terlewat. Kata yang diterjemahkan "beruntung" berakar pada tindakan membelah tanah untuk bercocok tanam. Bukan keberuntungan yang jatuh dari langit tanpa sebab, melainkan hasil dari kerja seorang petani: memecah tanah yang keras, menanam, menunggu, dan baru kemudian menuai. Sebuah kata yang di permukaannya terdengar seperti nasib baik, di akarnya justru menggambarkan kerja keras yang paling melelahkan.

Gambaran ini menjelaskan urutan seluruh rangkaian pembuka surah. Ayat-ayat sebelumnya menyebutkan apa yang harus dikerjakan: menerima yang tak terlihat, menegakkan komitmen, mengalirkan sebagian rezeki, meyakini hari perhitungan. Semuanya adalah pekerjaan. Dan ayat ini menutupnya dengan kata yang akarnya sendiri berarti bekerja mengolah tanah. Yang dijanjikan bukan hasil tanpa usaha, melainkan panen bagi yang sudah membajak.

Namun ada keseimbangan yang dijaga di ayat ini. Petunjuk yang menjadi pijakan disebut datang "dari Tuhan mereka", bukan dari hasil pencarian mereka sendiri. Jadi ada dua sisi yang diletakkan berdampingan tanpa saling meniadakan: petunjuk adalah pemberian, tetapi berjalan di atasnya adalah pekerjaan. Yang satu diterima, yang lain dikerjakan.

Dan kata "di atas" pada "di atas petunjuk" menggambarkan pijakan, bukan kepemilikan. Petunjuk bukan barang yang disimpan di saku, melainkan tanah yang dipijak. Orang bisa turun dari pijakannya kapan saja, dan justru karena itu permohonan "tunjukilah kami jalan yang lurus" di surah sebelumnya terus diulang.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang diterjemahkan "beruntung" berakar pada tindakan membelah tanah untuk bercocok tanam; kata untuk petani dalam bahasa Arab berasal dari akar yang sama. Bukan nasib baik yang jatuh begitu saja, melainkan hasil dari memecah tanah yang keras lalu menanam dan menunggu. Sebuah kata yang di permukaan terdengar seperti keberuntungan, di akarnya justru menggambarkan pekerjaan yang paling melelahkan. Kata itu sendiri (الْمُفْلِحُونَ) muncul di dua belas ayat, dan dua di antaranya mengikatnya pada satu gambaran yang sama: 7:8 dan 23:102 sama-sama menyebut bahwa yang beruntung adalah mereka yang timbangannya berat. Berat pada timbangan bukan hasil satu tindakan besar, melainkan kumpulan yang menumpuk sedikit demi sedikit sampai punya bobot. Gambaran petani dan gambaran timbangan bertemu di titik itu.
  • Petunjuk disebut datang dari Tuhan mereka, bukan dari hasil pencarian mereka sendiri. Tetapi berjalan di atasnya adalah pekerjaan, dan kata penutupnya berakar pada membajak tanah. Dua hal ini diletakkan berdampingan tanpa saling meniadakan: yang satu diterima, yang lain dikerjakan. Menolak salah satunya akan merusak keduanya.
  • Kata yang dipakai adalah "di atas petunjuk", bukan "di dalam" atau "dengan". Gambarannya adalah berpijak, seperti berdiri di atas jalan. Petunjuk bukan barang yang disimpan lalu aman selamanya, melainkan tanah yang dipijak dan bisa ditinggalkan kapan saja. Yang berdiri di atasnya hari ini tidak dijamin masih berdiri di atasnya esok. Perbedaan antara memiliki dan memijak terasa persis pada saat seseorang berhenti berjalan. Barang yang dimiliki tetap ada meski pemiliknya tidur; pijakan cuma berarti selama kaki masih menapak di atasnya. Apakah seseorang bisa kehilangan petunjuk yang sudah pernah diterimanya? Gambaran yang dipilih ayat ini tidak menjawab langsung, tapi ia memilih kata yang menuntut kehadiran terus-menerus, bukan kata yang menandai kepemilikan yang sudah selesai.
  • Kata "petunjuk" di sini tidak memakai kata sandang, jadi bunyinya "suatu petunjuk", bukan "petunjuk itu" yang sudah dikenal dan selesai. Bentuk yang terbuka ini menyisakan ruang: apa yang diterima seseorang bukan seluruh petunjuk yang mungkin ada, melainkan sebagian yang cukup untuk melangkah. Selalu ada yang belum diterima, dan karena itu permohonan tak pernah berhenti.
  • Untuk kedua kalinya dalam dua ayat berturut-turut, kata ganti disisipkan padahal secara tata bahasa tidak diperlukan: "merekalah yang yakin" di ayat sebelumnya, "merekalah orang-orang yang beruntung" di ayat ini. Pengulangan penegasan semacam ini menyisakan kesan bahwa ada yang perlu dibedakan, bahwa banyak yang mengaku namun tidak semua yang termasuk. Pengulangan penegasan dalam dua ayat berdampingan biasanya menandai sesuatu yang sedang dibedakan dari kemungkinan lain yang hadir di benak pembaca. Yang dibedakan di sini bukan orang lain yang sudah disebut, sebab sampai titik ini belum ada golongan lain yang dinamai. Yang dibedakan adalah anggapan pembacanya sendiri tentang siapa yang pantas disebut beruntung, dan Allah menutup daftar itu sebelum pembaca sempat mengisinya dengan nama lain.
  • Petani yang membajak tanah tidak menuai pada hari yang sama. Ada jarak antara membelah tanah dan memetik hasil, dan jarak itu diisi oleh menunggu tanpa bukti bahwa yang ditanam akan tumbuh. Kata yang dipilih untuk menutup rangkaian ini membawa serta seluruh gambaran itu: kesabaran menunggu adalah bagian dari pekerjaan, bukan jeda di antara pekerjaan. Jarak itu jugalah yang membuat kata ini pantas dipakai untuk orang yang digambarkan empat ayat sebelumnya. Mereka percaya pada yang tidak terlihat, menegakkan salat, dan memberi dari rezeki mereka, dan tak satu pun dari ketiganya berbuah pada hari yang sama. Petani yang menuntut hasil pada hari ia membajak bukan petani yang sabar, melainkan petani yang belum mengerti pekerjaannya sendiri.
  • Susunan ayat ini muncul lagi hampir sama persis di surah lain yang jaraknya sangat jauh, menutup rangkaian ciri yang serupa. Pengulangan yang begitu utuh di dua tempat berjauhan bukan kebetulan penyusunan. Sesuatu yang dianggap penting untuk dikatakan sekali, dikatakan lagi dengan kata-kata yang sama, kepada pembaca yang mungkin melewatkannya pada kesempatan pertama.