إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang kufur, sama saja bagi mereka apakah engkau memperingatkan mereka atau tidak memperingatkan mereka, mereka tidak akan beriman.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَinna lladziina kafaruu sawaa'un alayhim a-andzartahum am lam tundzirhum laa yu'minuunasesungguhnya orang-orang yang kufur, sama saja bagi mereka apakah engkau memperingatkan mereka atau tidak memperingatkan mereka, mereka tidak akan beriman
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memulai bagian baru yang berlawanan dengan lima ayat sebelumnya: setelah ciri-ciri orang bertakwa dirinci, kini giliran mereka yang menolak.

Kata "kufur" (كَفَرُوا, kafaruu) berasal dari akar yang makna dasarnya adalah menutupi atau menyembunyikan. Bukti yang paling meyakinkan datang dari Al-Qur'an sendiri: di 57:20, kata yang sama persis dari akar ini, dalam bentuk jamaknya (الْكُفَّارَ, l-kuffaara), dipakai untuk menyebut para petani, yaitu orang yang menutupi benih dengan tanah. Jadi orang yang disebut kufur bukan sekadar orang yang "tidak percaya", melainkan orang yang menutupi sesuatu, menyembunyikan apa yang sebenarnya ada di hadapannya.

Yang menarik, ayat sebelumnya (2:5) menutup dengan kata yang berakar pada membelah tanah untuk ditanami. Dua ayat berturut-turut ini memakai dua gambaran dari dunia bercocok tanam yang saling berlawanan: membelah tanah agar benih bisa masuk, dan menutupi sehingga tidak terlihat lagi.

"Sama saja bagi mereka" (سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ, sawaa'un alayhim) diletakkan mendahului pertanyaan yang menyusul, sehingga kesimpulan disebut lebih dulu daripada dua kemungkinan yang dibandingkan. Kedua kemungkinan itu, "apakah engkau memperingatkan mereka atau tidak memperingatkan mereka" (أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ, a-andzartahum am lam tundzirhum), disebut dengan bentuk kata kerja yang berbeda: yang pertama menandai perbuatan yang sudah terjadi, yang kedua menandai yang tidak terjadi. Keduanya dinyatakan berujung sama.

Seluruh rangkaian ini muncul lagi hampir sama persis di 36:10. Rumusan "sama saja bagi mereka" juga dipakai di 63:6, tetapi di sana yang dibandingkan bukan peringatan melainkan permohonan ampunan.

Bentuk kata kerja "kufur" di sini menandai perbuatan yang sudah selesai, sedangkan "tidak akan beriman" (لَا يُؤْمِنُونَ, laa yu'minuuna) memakai bentuk yang menandai keadaan yang berlangsung terus. Yang sudah mengeras di masa lalu berlanjut tanpa putus ke masa yang akan datang.

Tafsiran

Pernyataan bahwa peringatan tidak akan mengubah apa pun terdengar seperti keputusasaan, tetapi akar kata yang dipakai membuka pembacaan yang berbeda. Kufur bukan digambarkan sebagai ketidaktahuan, melainkan sebagai penutupan. Yang ditutupi tetap ada di bawahnya; ia tidak hilang, hanya tidak terlihat. Peringatan gagal bukan karena tidak ada yang bisa dilihat, melainkan karena yang seharusnya melihat sudah menutupinya sendiri.

Ini menjelaskan mengapa disebut "sama saja". Peringatan bekerja dengan menyingkap; kalau yang mendengar sudah lebih dulu menutup, penyingkapan tidak menemukan permukaan untuk bekerja. Bukan peringatannya yang lemah, melainkan penutupnya yang rapat.

Dua ayat berturut-turut, 2:5 dan 2:6, memakai dua gambaran dari dunia yang sama. Petani membelah tanah agar benih masuk; petani yang sama juga menutupi benih itu dengan tanah. Gerakan yang satu membuka, gerakan yang lain menutup. Dalam bercocok tanam keduanya diperlukan. Tetapi ketika gambaran itu dipindahkan ke sikap manusia terhadap kebenaran, keduanya berpisah tajam: membuka menghasilkan panen, menutup menghasilkan kegelapan.

Dan bentuk kata kerjanya menyimpan sesuatu yang tidak nyaman. Yang menutupi disebut dengan bentuk yang menandai perbuatan selesai, seolah keputusan itu sudah diambil dan pintunya sudah dikunci dari dalam. Sementara akibatnya disebut dengan bentuk yang terus berlangsung. Satu keputusan yang selesai melahirkan keadaan yang tak selesai-selesai.

Implikasi (7)
  • Akar kata "kufur" berarti menutupi. Al-Qur'an sendiri memakai kata dari akar yang sama untuk menyebut petani, yaitu orang yang menutupi benih dengan tanah. Yang digambarkan bukan orang yang belum tahu, melainkan orang yang menutupi apa yang sudah ada di hadapannya. Ketidaktahuan bisa diobati dengan penjelasan; penutupan yang disengaja tidak bisa, karena masalahnya bukan pada ketiadaan cahaya melainkan pada tirai yang dipasang sendiri.
  • Ayat sebelumnya menutup dengan kata yang berakar pada membelah tanah; ayat ini membuka dengan kata yang berakar pada menutupi. Dua gerakan yang sama-sama dilakukan petani: membuka tanah agar benih masuk, lalu menutupnya kembali. Di ladang keduanya diperlukan. Tetapi ketika menyangkut sikap terhadap kebenaran, jalannya berpisah: yang satu berujung panen, yang lain berujung gelap.
  • Peringatan bekerja dengan menyingkap sesuatu yang belum terlihat. Kalau yang mendengar sudah lebih dulu menutup penglihatannya sendiri, penyingkapan tidak menemukan permukaan untuk bekerja. Kegagalan itu bukan pada isi peringatannya, melainkan pada penutup yang sudah terpasang lebih dulu. Inilah sebabnya disebut "sama saja".
  • Menutupi bukan menghapus. Benih yang ditimbun tanah tetap ada di bawahnya, hanya tidak terlihat. Begitu pula apa yang ditutupi oleh sikap yang digambarkan ayat ini: ia tidak lenyap karena tidak diakui. Yang berubah bukan kenyataannya, melainkan kemampuan melihatnya. Dan yang tertimbun, dalam gambaran bercocok tanam, punya kebiasaan muncul kembali pada musimnya.
  • Perbuatan menutupi disebut dengan bentuk kata kerja yang menandai sesuatu yang sudah selesai; akibatnya disebut dengan bentuk yang terus berlangsung. Satu keputusan yang diambil dan ditutup rapat melahirkan keadaan yang tidak selesai-selesai. Pintu yang dikunci dari dalam hanya butuh sekali dikunci untuk membuat semua ketukan sesudahnya menjadi sia-sia.
  • Kalimatnya menyebut "sama saja bagi mereka" lebih dulu, baru kemudian menyebut dua kemungkinan yang dibandingkan. Hasilnya diletakkan mendahului pilihannya. Susunan seperti ini menutup harapan sebelum harapan sempat muncul, dan justru karena itu ia terasa berat: pembaca sudah tahu ujungnya sebelum sempat membayangkan kemungkinannya.
  • Ayat ini tidak menyuruh berhenti memperingatkan. Ia hanya menyatakan bahwa hasilnya tidak berada di tangan yang menyampaikan. Ada kelegaan tersendiri dalam pengakuan semacam ini bagi siapa pun yang pernah berusaha keras menyadarkan orang lain dan gagal: kegagalan itu bukan selalu ukuran dari kesungguhan usahanya.