خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci hati mereka dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup, dan bagi mereka azab yang agung.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْkhatama llaahu 'alaa quluubihim wa-'alaa sam'ihimAllah telah mengunci hati mereka dan pendengaran mereka
  2. وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌwa-'alaa abshaarihim ghisyaawatundan pada penglihatan mereka ada penutup
  3. وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌwa-lahum 'adzaabun 'azhiimundan bagi mereka azab yang agung

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. خَتَمَkhatamatelah mengunci
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. عَلَىٰ'alaaatas
  4. قُلُوبِهِمْquluubihimhati mereka
  5. وَعَلَىٰwa-'alaadan atas
  6. سَمْعِهِمْsam'ihimpendengaran mereka
  7. وَعَلَىٰwa-'alaadan atas
  8. أَبْصَارِهِمْabshaarihimpenglihatan mereka
  9. غِشَاوَةٌghisyaawatunpenutup
  10. وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
  11. عَذَابٌ'adzaabunazab
  12. عَظِيمٌ'azhiimunyang agung

Inti bacaan

Hati yang 'terkunci' bukan takdir tetap sejak lahir, melainkan konsekuensi dari pola penolakan berulang (lih. 2:6), kuncian ini digambarkan sebagai akibat, bukan sebab pertama. Konkretnya: setiap kali kebenaran ditolak secara sadar, kemampuan untuk menerimanya di masa depan sedikit demi sedikit menyusut, sebuah peringatan untuk tidak meremehkan efek kumulatif dari kekerasan-hati yang dibiarkan berulang.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menyebut tiga jalur penerimaan yang tertutup: hati, pendengaran, dan penglihatan. Tetapi cara menyebutnya tidak sama untuk ketiganya, dan perbedaan itu terlihat jelas dalam susunan kalimatnya.

Untuk hati dan pendengaran, pelakunya disebut secara terbuka: "Allah telah mengunci hati mereka dan pendengaran mereka" (خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ, khatama llaahu 'alaa quluubihim wa-'alaa sam'ihim). Ada kata kerja, dan ada pelakunya. Tetapi untuk penglihatan, susunannya berubah sama sekali: "dan pada penglihatan mereka ada penutup" (وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ, wa-'alaa abshaarihim ghisyaawatun). Kalimat ini tidak mengandung kata kerja sama sekali. Penutup itu hanya dinyatakan ada, tanpa disebutkan siapa yang meletakkannya.

Perbedaan ini bukan kebetulan penyusunan, dan Al-Qur'an sendiri menyediakan pembandingnya. Kata "penutup" hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: di ayat ini dan di 45:23. Di ayat yang kedua itu, susunannya berbeda: "dan Dia meletakkan tutup atas penglihatannya" (وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً, wa-ja'ala 'alaa basharihi ghisyaawatan). Di sana ada kata kerja "meletakkan" dan pelakunya jelas. Jadi ketika Al-Qur'an ingin menyebut siapa yang meletakkan penutup itu, ia bisa dan memang melakukannya. Di ayat ini, ia memilih tidak.

Kata "mengunci" (خَتَمَ, khatama) dalam bahasa Arab bermakna membubuhkan cap atau segel, khususnya pada surat atau dokumen yang sudah selesai ditulis. Kata untuk cincin stempel berasal dari akar yang sama. Yang digambarkan bukan pintu yang dipalang, melainkan surat yang sudah disegel: isinya tidak lagi menerima tambahan, dan urusannya sudah dianggap selesai. Kata kerja ini muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an (2:7, 6:46, 36:65, 42:24, 45:23).

Ayat ini juga menyambung langsung dengan ayat sebelumnya. Di sana disebut bahwa mereka menutupi, dengan kata kerja yang pelakunya adalah mereka sendiri. Di sini disebut ada penutup pada penglihatan mereka, tanpa pelaku. Dua ayat berturut-turut memakai gambaran menutup, satu dengan pelaku manusia, satu tanpa pelaku sama sekali.

Ayat 45:23 yang tadi disebut ternyata memuat ketiga unsur ayat ini sekaligus, hanya dengan urutan yang dibalik. Di sana tertulis "dan Dia mengunci pendengarannya dan hatinya" (وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ, wa-khatama 'alaa sam'ihi wa-qalbihi), baru menyusul penutup pada penglihatan. Di ayat ini hati disebut lebih dulu, di sana pendengaran. Ada perbedaan lain yang lebih besar: 45:23 berbicara tentang satu orang, ayat ini tentang sekelompok orang.

Ayat 6:46 memakai kata kerja yang sama dan menyebut tiga jalur yang sama, tetapi dalam bentuk pertanyaan: bagaimana kalau Allah mencabut pendengaran dan penglihatan kalian, lalu mengunci hati kalian. Di sana ketiganya masih berupa kemungkinan yang ditawarkan untuk direnungkan; di sini ketiganya sudah dinyatakan terjadi.

Tafsiran

Susunan ayat ini menyimpan sesuatu yang mudah terlewat kalau dibaca terburu-buru. Untuk hati dan pendengaran, pelakunya disebut: Allah yang mengunci. Untuk penglihatan, kalimatnya berhenti pada kenyataan bahwa penutup itu ada, tanpa menyebut tangan siapa yang memasangnya. Dan Al-Qur'an membuktikan bahwa perbedaan ini disengaja, karena di satu-satunya ayat lain yang memakai kata "penutup", pelakunya justru disebutkan dengan jelas.

Kesenyapan itu membuka ruang yang tidak ditutup oleh ayat ini. Ayat sebelumnya baru saja menyebut mereka sebagai orang-orang yang menutupi, dengan kata kerja yang pelakunya mereka sendiri. Kalau dua ayat ini dibaca berurutan, penutup pada penglihatan itu bisa jadi bukan sesuatu yang ditimpakan dari luar, melainkan sesuatu yang dipasang sendiri lalu dibiarkan tetap terpasang.

Gambaran "mengunci" pun bukan gambaran pintu yang dipalang dari luar. Kata yang dipakai adalah kata untuk menyegel surat yang sudah selesai ditulis. Surat yang disegel tidak lagi menerima tambahan bukan karena tintanya habis, melainkan karena penulisnya sudah menyatakan selesai. Yang disegel di sini adalah hati yang isinya sudah dianggap final oleh pemiliknya sendiri.

Urutan ketiganya juga layak diperhatikan: hati disebut lebih dulu, baru pendengaran, baru penglihatan. Dari yang paling dalam menuju yang paling luar, kebalikan dari urutan bagaimana sesuatu masuk ke dalam diri. Yang tertutup lebih dulu adalah yang paling dalam, dan penutupan di lapisan terluar hanyalah akibat yang sampai belakangan.

Renungan dan Hikmah

  • Untuk hati dan pendengaran, ayat ini menyebut siapa yang mengunci. Untuk penglihatan, ia hanya menyatakan bahwa penutup itu ada, tanpa menyebut siapa yang memasangnya. Dan di satu-satunya ayat lain yang memakai kata yang sama, pelakunya justru disebutkan dengan jelas. Ketika sebuah teks bisa menyebut sesuatu lalu memilih tidak menyebutnya, keheningan itu sendiri menjadi bagian dari yang dikatakan.
  • Ayat sebelumnya menyebut mereka sebagai orang yang menutupi, dengan kata kerja yang pelakunya mereka sendiri. Ayat ini menyebut ada penutup pada penglihatan mereka, tanpa pelaku. Dibaca berurutan, keduanya menyisakan kemungkinan yang tidak nyaman: penutup itu barangkali bukan ditimpakan dari luar, melainkan dipasang sendiri lalu dibiarkan tetap di tempatnya sampai lupa bahwa ia pernah dipasang.
  • Kata yang diterjemahkan "mengunci" adalah kata untuk membubuhkan segel pada surat yang sudah selesai ditulis. Bukan pintu yang dipalang, melainkan dokumen yang dinyatakan final. Surat yang disegel berhenti menerima tambahan bukan karena kehabisan ruang, melainkan karena penulisnya sudah memutuskan tidak ada lagi yang perlu ditulis. Hati yang seperti itu tidak buta; ia hanya sudah menyatakan urusannya selesai. Rangkaian "Allah mengunci" (خَتَمَ اللَّهُ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kalimat sekeras itu, dengan Allah disebut terang-terangan sebagai pelakunya dan dalam bentuk yang sudah selesai, ternyata tidak pernah diulang. Apakah kelangkaan itu meringankan atau justru memberatkan? Sesuatu yang cuma dikatakan sekali tidak bisa dibaca sebagai rumusan umum tentang bagaimana Allah biasa memperlakukan manusia. Ia keterangan tentang satu keadaan tertentu yang sudah sampai di ujungnya.
  • Urutan yang disebut adalah hati, lalu pendengaran, lalu penglihatan: dari yang paling dalam menuju yang paling luar. Ini kebalikan dari arah masuknya sesuatu ke dalam diri, yang selalu bermula dari mata dan telinga sebelum sampai ke hati. Penutupan, menurut susunan ini, tidak bermula dari indra yang gagal menangkap, melainkan dari pusat yang sudah lebih dulu berhenti mau menerima.
  • Hati, pendengaran, dan penglihatan disebut bersama-sama, mencakup hampir seluruh jalan masuk pemahaman ke dalam diri seseorang. Ketika ketiganya tertutup, bukan satu sumber informasi yang hilang melainkan seluruh saluran. Gambaran ini menjelaskan mengapa ayat sebelumnya menyatakan peringatan tidak lagi berpengaruh: bukan karena peringatannya tidak sampai, melainkan karena tidak ada lagi pintu tempat ia bisa masuk.
  • Surat yang disegel tetap berisi apa yang tertulis di dalamnya; segel tidak menghapus isinya, hanya menghentikan perubahannya. Begitu pula hati yang digambarkan di sini: apa yang sudah ada di dalamnya tetap ada, dan itulah yang kelak dibuka dan dibaca. Penutupan bukan penghapusan; ia justru pengawetan dari apa yang sudah terlanjur ada. Ada sisi yang jarang diperhatikan dari gambaran ini. Segel tidak menambahkan apa pun ke dalam surat, dan tidak mengurangi apa pun. Ia cuma menghentikan lalu lintas. Jadi yang digambarkan bukan hati yang diisi dengan keburukan dari luar, melainkan hati yang isinya dibiarkan persis seperti pada saat penutupan. Pada saat itu isinya adalah penolakan yang sudah mereka pilih sendiri di ayat sebelumnya.