وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ

Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan kepada hari akhir,” padahal mereka bukanlah orang-orang yang beriman.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَwa-mina n-naasi man yaquulu aamannaa bi-llaahi wa-bi-l-yawmi l-aakhiri wa-maa hum bi-mu'miniinadan di antara manusia ada yang berkata, kami beriman kepada Allah dan kepada hari akhir, padahal mereka bukanlah orang-orang yang beriman

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَمِنَwa-minadan dari
  2. النَّاسِn-naasimanusia
  3. مَنْmanorang yang
  4. يَقُولُyaquuluberkata
  5. آمَنَّاaamannaakami beriman
  6. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  7. وَبِالْيَوْمِwa-bi-l-yawmidan pada hari
  8. الْآخِرِl-aakhiriakhir
  9. وَمَاwa-maadan tidaklah
  10. هُمْhummereka
  11. بِمُؤْمِنِينَbi-mu'miniinaorang-orang yang beriman

Inti bacaan

Mengaku beriman secara lisan tanpa itu benar-benar tertanam adalah pola manusia yang lintas zaman. Konkretnya: ayat ini mengundang kejujuran-diri, bukan menilai iman orang lain, tapi memeriksa apakah pengakuan imanku sendiri konsisten dengan bagaimana aku benar-benar hidup, atau hanya kalimat yang diucapkan tanpa akar.

Penjelasan pilihan kata

Setelah orang bertakwa (2:2-5) dan orang yang menutupi (2:6-7), ayat ini memperkenalkan kelompok ketiga. Yang paling mencolok dari ayat ini adalah pergeseran jumlah yang terjadi tiga kali dalam satu kalimat.

Kalimatnya dibuka dengan bentuk tunggal: "ada yang berkata" (مَنْ يَقُولُ, man yaquulu), menunjuk satu orang. Tetapi yang diucapkan orang itu memakai bentuk jamak orang pertama: "kami beriman" (آمَنَّا, aamannaa). Lalu bantahannya kembali memakai bentuk jamak, kali ini orang ketiga: "padahal mereka bukanlah" (وَمَا هُمْ, wa-maa hum). Satu orang berbicara seolah mewakili banyak orang, dan yang dibantah adalah banyak orang itu.

Bantahannya sendiri memakai penegasan tambahan. Dalam bahasa Arab, menambahkan huruf tertentu pada kata yang dinegasikan membuat penolakan itu lebih tegas. Bentuk "bukanlah orang-orang yang beriman" (بِمُؤْمِنِينَ, bi-mu'miniina) di sini memakai tambahan itu, sehingga bunyinya bukan sekadar "mereka tidak beriman" melainkan penyangkalan yang lebih tandas.

Ada juga perbedaan penting antara kata yang dipakai di sini dan yang dipakai untuk orang bertakwa di 2:3 dan 2:4. Di sana yang disebut adalah kata kerja: mereka beriman, mereka melakukan. Di sini yang disangkal adalah kata benda: mereka bukan orang beriman. Yang dibantah bukan sekadar perbuatannya, melainkan penyandangan sebutan itu atas diri mereka.

Bentuk kata kerja "berkata" menandai sesuatu yang berlangsung berulang, sedangkan "kami beriman" menandai sesuatu yang sudah selesai terjadi. Jadi gambarannya: terus-menerus mengatakan bahwa mereka sudah beriman.

Pembukaannya, "dan di antara manusia ada yang berkata", muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an (2:8 dan 29:10), dan keduanya sama-sama memperkenalkan orang yang mengucapkan pengakuan iman lalu dibantah oleh kelanjutannya. Bentuk pembuka yang sama dipakai untuk memperkenalkan kasus yang sama.

Bentuk penegasan itu muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:8, 7:132, 10:78, 11:53, 12:103, 23:38), dan empat kemunculan lainnya punya kesamaan yang mencolok. Di 7:132 para penyihir berkata "kami tidak akan beriman kepadamu", di 10:78 kaum Musa berkata "kami tidak akan beriman kepada kalian berdua", di 11:53 kaum Hud berkata "kami tidak percaya kepadamu", dan di 23:38 sebuah kaum menolak rasulnya dengan kata yang sama. Di keempat tempat itu bentuk penegasan ini keluar dari mulut orang yang menolak secara terbuka, dan mereka memakainya untuk diri mereka sendiri. Hanya di ayat ini ia datang dari luar, untuk membantah orang yang justru sedang mengaku beriman. Yang kelima, 12:103, bukan ucapan siapa pun melainkan pernyataan tentang kebanyakan manusia.

Sebutan "dan kepada hari akhir" (وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ, wa-bi-l-yawmi l-aakhiri) dalam bentuk persis seperti ini hanya ada di ayat ini, meskipun iman kepada Allah dan hari akhir disebut berpasangan berkali-kali di tempat lain.

Tafsiran

Pergeseran jumlah dalam ayat ini menggambarkan sesuatu yang bisa dikenali dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang tidak yakin pada pendiriannya sendiri sering berbicara atas nama kelompok. "Kami percaya" terasa lebih aman daripada "aku percaya", karena yang pertama menyembunyikan diri di balik banyak orang sementara yang kedua berdiri sendirian dan bisa ditagih.

Dan bantahannya menjawab dengan cara yang sama: bukan "dia bukan orang beriman", melainkan "mereka bukan orang-orang beriman". Perlindungan yang dicari di balik jumlah tidak memberikan perlindungan apa pun; ia hanya memindahkan seluruh kelompok ke dalam bantahan yang sama.

Yang disangkal juga bukan perbuatan mereka, melainkan sebutan yang mereka pakai untuk diri mereka. Ayat-ayat sebelumnya menyebut orang bertakwa dengan kata kerja: mereka percaya, mereka menegakkan, mereka memberikan. Di sini yang dibantah adalah kata bendanya. Sebutan yang dilekatkan pada diri sendiri ternyata tidak otomatis melekat hanya karena diucapkan.

Dua hal yang mereka akui, Allah dan hari akhir, persis dua hal yang tidak bisa diperiksa siapa pun dari luar. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa seseorang benar-benar mempercayainya, dan tidak ada yang bisa membantahnya. Justru pada wilayah yang paling sulit diperiksa itulah pengakuan paling mudah diucapkan, dan justru di situ pula ayat ini menempatkan bantahannya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang berbicara disebut dengan bentuk tunggal, tetapi kata-katanya memakai "kami". Berlindung di balik jumlah adalah cara lama untuk menghindari tagihan pribadi: "kami percaya" terdengar lebih aman daripada "aku percaya", karena yang pertama tidak bisa ditagih kepada siapa pun secara khusus. Tetapi bantahan yang datang justru memakai bentuk jamak juga, dan perlindungan itu runtuh dengan sendirinya.
  • Yang disangkal di ayat ini bukan perbuatan mereka, melainkan sebutan yang mereka lekatkan pada diri sendiri. Ayat-ayat sebelumnya menggambarkan orang bertakwa lewat kata kerja: apa yang mereka lakukan. Di sini yang dibantah adalah kata bendanya: siapa mereka mengaku. Sebuah sebutan ternyata tidak melekat hanya karena diucapkan, dan tidak ada pengakuan yang bisa menggantikan apa yang seharusnya dikerjakan. Bentuk yang dipakai untuk menyangkalnya (بِمُؤْمِنِينَ) ada di enam ayat: 2:8, 7:132, 10:78, 11:53, 12:103, dan 23:38. Yang menarik, di beberapa tempat kalimat itu justru keluar dari mulut orang yang menolak, sebagai pernyataan tentang diri sendiri. Kaum Hud berkata mereka tidak akan menjadi orang yang percaya kepadanya (11:53), dan begitu pula kaum yang menuduh utusan mereka mengada-ada (23:38). Kata yang sama dipakai untuk mengaku tidak beriman dan untuk dinyatakan tidak beriman. Bedanya, yang pertama diucapkan sendiri, yang kedua dijatuhkan Allah kepada orang yang justru mengaku sebaliknya.
  • Dua hal yang mereka akui, Allah dan hari akhir, adalah persis dua hal yang tidak bisa diperiksa orang lain dari luar. Tidak ada yang bisa membuktikan seseorang benar mempercayainya, dan tidak ada pula yang bisa membantahnya. Pada wilayah seperti itulah pengakuan paling murah diucapkan. Dan justru di situ ayat ini menempatkan bantahannya, seolah mengingatkan bahwa yang tak terperiksa oleh manusia tidak berarti tak terperiksa sama sekali. Lalu untuk apa pengakuan itu diucapkan kalau tidak ada yang bisa memeriksanya? Justru karena tidak bisa diperiksa itulah ia berguna bagi yang mengucapkannya. Pengakuan tentang hal yang tak terlihat memberi keuntungan yang terlihat, yaitu tempat di tengah orang beriman, tanpa menuntut ongkos yang bisa dihitung siapa pun.
  • Bentuk kata kerjanya menggambarkan sesuatu yang berlangsung berulang: terus-menerus mengatakan. Dan yang dikatakan adalah sesuatu yang sudah selesai: kami sudah beriman. Pengulangan pengakuan tentang sesuatu yang diklaim sudah selesai justru menimbulkan pertanyaan sendiri; yang benar-benar sudah terjadi biasanya tidak perlu diumumkan berulang kali.
  • Rangkaian pembuka surah ini memperkenalkan tiga sikap berurutan: yang menerima dan mengerjakan, yang menutupi secara terbuka, dan yang mengaku menerima tanpa mengerjakan. Yang ketiga tidak diletakkan di tengah antara dua yang pertama, melainkan setelah keduanya, sebagai kelompok tersendiri. Menolak secara terbuka dan mengaku menerima tanpa bukti ternyata bukan dua titik pada garis yang sama.
  • Bantahannya tidak disampaikan dengan penolakan biasa, melainkan dengan bentuk yang lebih tandas. Ada penekanan yang sengaja dipasang pada penyangkalan itu, seolah untuk menutup celah bagi pembacaan yang lebih lunak. Ketika sebuah pengakuan diucapkan dengan keras, bantahannya perlu sekeras itu pula agar terdengar.