يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal tidaklah mereka menipu selain diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَyukhaadi'uuna llaaha wa-lladziina aamanuu wa-maa yakhda'uuna illaa anfusahum wa-maa yash'uruunamereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal tidaklah mereka menipu selain diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadarinya
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memakai dua bentuk kata kerja yang berasal dari akar yang sama, tetapi dengan bobot yang berbeda, dan perbedaan itu menjadi inti seluruh ayat.

Bentuk pertama, "hendak menipu" (يُخَادِعُونَ, yukhaadi'uuna), adalah bentuk yang dalam bahasa Arab menandai usaha yang sungguh-sungguh dan berbalasan, seperti dua pihak yang saling berhadapan. Bentuk kedua, "mereka menipu" (يَخْدَعُونَ, yakhda'uuna), adalah bentuk dasarnya yang sederhana. Jadi yang diusahakan dengan susah payah dan yang benar-benar terjadi disebut dengan dua bentuk yang berbeda: usaha kerasnya diarahkan ke luar, hasilnya jatuh ke dalam.

Akar kata ini sendiri layak diperhatikan. Para penyusun kamus klasik mencatat bahwa makna dasarnya bukan "menipu", melainkan menyembunyikan atau menutupi. Dari situ ia berkembang menjadi "melipat", seperti melipat kain sehingga satu bagian menutupi bagian yang lain, dan barulah dari sana lahir makna menipu. Gambaran aslinya adalah kain yang dilipat: sisi dalam disembunyikan, sisi luar ditampilkan.

Gambaran ini menyambung dengan tiga ayat sebelumnya. Di 2:6, kata yang dipakai untuk orang yang menolak berakar pada menutupi. Di 2:7, hati disebut disegel dan pada penglihatan ada penutup. Dan di sini, akar katanya kembali bermakna menyembunyikan. Tiga ayat berturut-turut, tiga kata yang berbeda, satu gambaran yang sama.

Yang menjadi sasaran usaha itu disebut dua: Allah dan orang-orang yang beriman. Tetapi yang benar-benar tertipu disebut hanya satu: "diri mereka sendiri" (أَنْفُسَهُمْ, anfusahum). Rangkaian ini (وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ, wa-maa yakhda'uuna illaa anfusahum) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an.

Penutupnya, "dan mereka tidak menyadarinya" (وَمَا يَشْعُرُونَ, wa-maa yash'uruuna), memakai kata kerja yang berakar pada merasakan atau menangkap dengan kepekaan. Bentuk kata sambungnya menandai keadaan yang menyertai, jadi bukan peristiwa terpisah melainkan keadaan yang berlangsung bersamaan dengan seluruh usaha mereka. Bentuk yang lebih kuat dari kata kerja ini juga muncul di 4:142, satu-satunya tempat lain yang memakainya.

Tafsiran

Ada ironi yang tersusun rapi dalam ayat ini, dan ia terletak pada tata bahasanya, bukan pada pilihan katanya saja. Usaha menipu disebut dengan bentuk yang menandai kerja keras dan perlawanan dua arah; hasilnya disebut dengan bentuk yang paling sederhana. Semua tenaga yang dikerahkan untuk mengelabui pihak lain berakhir sebagai peristiwa biasa yang menimpa diri sendiri.

Gambaran akar katanya memperjelas mengapa demikian. Menipu, dalam bahasa aslinya, adalah melipat kain: menyembunyikan satu sisi dan menampilkan sisi lain. Yang dilipat tidak hilang; ia hanya berada di bagian yang tidak terlihat. Dan yang melipat selalu tahu persis apa yang ia sembunyikan, sekurang-kurangnya pada mulanya. Masalahnya muncul ketika lipatan itu dibiarkan cukup lama sampai yang melipat sendiri lupa bahwa masih ada sisi yang tersembunyi di sana.

Kalimat penutupnya menutup kemungkinan terakhir untuk membela diri. Kalau seseorang tahu ia sedang merugikan dirinya sendiri, setidaknya masih ada jalan untuk berhenti. Tetapi yang digambarkan di sini adalah kerugian yang berjalan tanpa disadari. Kata yang dipakai berakar pada kepekaan merasakan, dan yang hilang bukanlah pengetahuan melainkan kepekaan itu sendiri.

Dan sasaran yang disebut, Allah dan orang-orang yang beriman, diletakkan berdampingan dengan cara yang tidak biasa. Berusaha mengelabui manusia mungkin masuk akal; berusaha mengelabui Yang mengetahui seluruh isi hati tidak masuk akal sama sekali. Menyebut keduanya dalam satu tarikan napas justru menunjukkan bahwa yang sedang berlangsung bukan perhitungan yang cermat, melainkan kebiasaan menyembunyikan yang sudah berjalan tanpa berpikir lagi kepada siapa ia diarahkan.

Implikasi (6)
  • Usaha menipu disebut dengan bentuk kata kerja yang menandai kerja keras dan perlawanan dua arah; hasilnya disebut dengan bentuk yang paling sederhana. Seluruh tenaga yang dikerahkan untuk mengelabui pihak lain berakhir sebagai peristiwa biasa yang menimpa diri sendiri. Tidak ada kesia-siaan yang lebih lengkap daripada kerja keras yang hasilnya berbalik utuh ke arah pengerjanya.
  • Akar kata yang dipakai untuk menipu bermakna dasar menyembunyikan, lalu melipat, seperti melipat kain sehingga satu bagian menutupi bagian lain. Yang dilipat tidak hilang; ia hanya berada di sisi yang tidak terlihat. Dan orang yang melipat selalu tahu apa yang ia sembunyikan, setidaknya pada mulanya. Bahaya datang ketika lipatan itu dibiarkan terlalu lama sampai yang melipat sendiri lupa ada sisi lain di sana.
  • Kata terakhir ayat ini berakar pada merasakan dan menangkap dengan kepekaan, bukan pada mengetahui. Yang hilang bukan informasi, melainkan kemampuan merasakan bahwa ada yang tidak beres. Kerugian yang disadari masih menyisakan jalan untuk berhenti; kerugian yang tidak terasa berjalan terus tanpa perlawanan, dan justru itulah yang paling sulit dihentikan.
  • Tiga ayat berturut-turut memakai tiga kata yang berbeda, tetapi ketiganya berakar pada gambaran yang sama: menutupi, menyegel, menyembunyikan. Sikap yang digambarkan bukan sikap orang yang tidak tahu, melainkan sikap orang yang menaruh sesuatu di balik penutup. Dan penutup yang dipasang untuk orang lain ternyata bekerja paling efektif terhadap yang memasangnya.
  • Sasaran yang disebut adalah Allah dan orang-orang beriman, diletakkan berdampingan. Mengelabui manusia mungkin terpikirkan; mengelabui Yang mengetahui seluruh isi hati tidak masuk akal sama sekali. Menyebut keduanya sekaligus justru menggambarkan sesuatu yang lebih menyedihkan daripada kelicikan: kebiasaan menyembunyikan yang sudah berjalan tanpa berpikir lagi kepada siapa ia sedang diarahkan.
  • Kain yang dilipat tetap utuh di dalam lipatannya, dan lipatan tidak pernah bersifat permanen. Ada yang membuka kembali, entah oleh waktu, oleh keadaan, atau oleh tangan yang lain. Menyembunyikan bukan menyelesaikan; ia hanya menunda pertemuan dengan apa yang disembunyikan, dan penundaan itu sendiri punya batas.