أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ

Ingatlah, sesungguhnya merekalah para pembuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَalaa innahum humu l-mufsiduuna wa-laakin laa yash'uruunaingatlah, sesungguhnya merekalah para pembuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini adalah bantahan langsung atas klaim yang baru diucapkan di ayat sebelumnya, dan bantahannya disusun lebih tegas satu tingkat daripada klaim yang dibantahnya.

Klaim mereka di 2:11 memakai tiga lapis penegasan. Bantahan di sini memakai lebih banyak lagi. Dibuka dengan kata penarik perhatian, "ingatlah" (أَلَا, alaa), lalu kata penegas "sesungguhnya" yang sudah membawa kata ganti "mereka" di dalamnya (إِنَّهُمْ, innahum), lalu kata ganti "mereka" disebut sekali lagi secara terpisah (هُمُ, humu), padahal secara tata bahasa sudah cukup tanpa pengulangan itu.

Yang paling menentukan adalah bentuk kata terakhirnya. Di 2:11 mereka menyebut diri "orang-orang yang memperbaiki" tanpa kata sandang, sehingga bunyinya "kami termasuk orang yang memperbaiki", salah satu dari banyak. Di sini bantahannya memakai kata sandang: "para pembuat kerusakan" (الْمُفْسِدُونَ, l-mufsiduuna), sehingga bunyinya bukan "mereka termasuk perusak" melainkan "merekalah para perusak itu". Klaim yang terbuka dijawab dengan penunjukan yang tertentu.

Seluruh rangkaian "merekalah para pembuat kerusakan" (هُمُ الْمُفْسِدُونَ, humu l-mufsiduuna) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, demikian pula penutupnya, "tetapi mereka tidak sadar" (وَلَٰكِنْ لَا يَشْعُرُونَ, wa-laakin laa yash'uruuna).

Kata "tidak sadar" di penutup memakai kata kerja yang sama persis dengan penutup 2:9, yaitu kata yang berakar pada merasakan atau menangkap dengan kepekaan, bukan pada mengetahui. Dua kali dalam rangkaian ayat yang sama, yang disebut hilang bukanlah informasi melainkan kepekaan.

Tafsiran

Bantahan di ayat ini tidak menyerang perbuatan mereka, melainkan sebutan yang mereka pakai. Mereka menyebut diri sebagai golongan yang memperbaiki; ayat ini menjawab dengan menempatkan mereka sebagai golongan yang persis sebaliknya, dan menempatkannya dengan lebih tegas daripada klaim yang mereka ucapkan. Mereka mengaku termasuk; mereka dinyatakan sebagai yang tertentu.

Tetapi penutup ayat ini mengubah seluruh nadanya. Setelah bantahan yang begitu tegas, kalimat terakhirnya justru menyatakan bahwa mereka tidak menyadarinya. Ini bukan gambaran orang yang berbohong sambil tahu ia berbohong. Ini gambaran orang yang benar-benar merasa sedang memperbaiki keadaan.

Dan justru di situlah letak beratnya. Kebohongan yang disadari masih menyisakan jalan pulang, karena yang berbohong tahu di mana letak kebenarannya. Keyakinan yang keliru tidak menyisakan jalan itu; tidak ada yang perlu diperbaiki karena tidak ada yang terasa salah. Setiap teguran akan terdengar sebagai kesalahpahaman orang lain, bukan sebagai kemungkinan bahwa ia sendiri keliru.

Kata yang dipakai untuk ketidaksadaran itu berakar pada merasakan, bukan pada mengetahui, dan kata yang sama sudah muncul beberapa ayat sebelumnya. Yang digambarkan bukan kekurangan informasi. Informasi bisa disampaikan; kepekaan yang hilang tidak bisa diberikan dari luar. Peringatan yang paling jelas sekalipun hanya akan lewat tanpa terasa.

Implikasi (6)
  • Setelah bantahan yang begitu tegas, ayat ini justru ditutup dengan pernyataan bahwa mereka tidak menyadarinya. Yang digambarkan bukan orang yang berbohong sambil tahu ia berbohong, melainkan orang yang benar-benar merasa sedang memperbaiki keadaan. Kebohongan yang disadari masih menyisakan jalan pulang, karena pelakunya tahu di mana letak kebenaran. Keyakinan yang keliru tidak menyisakan jalan itu.
  • Orang yang merasa sedang memperbaiki akan mendengar setiap teguran sebagai kesalahpahaman orang lain, bukan sebagai kemungkinan bahwa ia sendiri keliru. Tidak ada yang perlu dibenahi karena tidak ada yang terasa bengkok. Inilah sebabnya kelompok ini digambarkan lebih sulit ditembus daripada mereka yang menolak secara terbuka: penolakan terbuka setidaknya mengakui ada sesuatu yang ditolak.
  • Klaim mereka memakai bentuk yang terbuka: termasuk golongan yang memperbaiki, salah satu dari banyak. Bantahannya memakai bentuk yang tertentu: merekalah para perusak itu. Sebuah pengakuan yang diucapkan dengan longgar dijawab dengan penunjukan yang tepat sasaran. Yang mengaburkan diri dalam kelompok justru ditunjuk dengan paling jelas.
  • Kata yang dipakai untuk ketidaksadaran mereka berakar pada merasakan, bukan pada mengetahui, dan kata yang sama sudah muncul beberapa ayat sebelumnya. Yang hilang bukan informasi. Informasi bisa disampaikan siapa saja; kepekaan yang sudah tumpul tidak bisa diberikan dari luar. Peringatan yang paling terang sekalipun akan lewat tanpa terasa oleh yang sudah kehilangan alat untuk merasakannya.
  • Ayat ini dibuka dengan kata penarik perhatian, sebuah seruan agar yang membaca berhenti sejenak dan menyimak. Namun yang dibicarakan justru orang-orang yang tidak akan menyimak. Seruan itu, dengan demikian, tidak ditujukan kepada mereka yang digambarkan, melainkan kepada siapa pun yang masih bisa memeriksa apakah gambaran itu mengenai dirinya juga.
  • Perasaan sedang berbuat benar tidak pernah menjadi bukti bahwa yang dilakukan memang benar. Kedua hal itu berada di wilayah yang berbeda: yang satu di dalam dada, yang lain pada bekas yang ditinggalkan di dunia. Satu-satunya jalan menghubungkan keduanya adalah kesediaan memeriksa bekas itu, dan kesediaan semacam itu justru yang paling sulit muncul pada orang yang sudah merasa benar.