وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ ۗ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman,” mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُwa-idzaa qiila lahum aaminuu ka-maa aamana n-naasu qaaluu a-nu'minu ka-maa aamana s-sufahaa'udan apabila dikatakan kepada mereka, berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman, mereka menjawab, apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal beriman
  2. أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَalaa innahum humu s-sufahaa'u wa-laakin laa ya'lamuunaingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. قِيلَqiiladikatakan
  3. لَهُمْlahumkepada mereka
  4. آمِنُواaaminuuberimanlah kalian
  5. كَمَاka-maasebagaimana
  6. آمَنَaamanaberiman
  7. النَّاسُn-naasumanusia
  8. قَالُواqaaluumereka berkata
  9. أَنُؤْمِنُa-nu'minuapakah kami akan beriman
  10. كَمَاka-maasebagaimana
  11. آمَنَaamanaberiman
  12. السُّفَهَاءُs-sufahaa'uorang-orang yang kurang akal
  13. أَلَاalaaIngatlah
  14. إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
  15. هُمُhumumerekalah
  16. السُّفَهَاءُs-sufahaa'uorang-orang yang kurang akal
  17. وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
  18. لَاlaatidak
  19. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

Menolak ajakan untuk beriman dengan alasan 'aku tak mau seperti orang-orang bodoh itu' adalah kesombongan intelektual yang menyamar sebagai kekritisan. Konkretnya: menolak kebenaran karena gengsi sosial (takut disamakan dengan kelompok tertentu) sering kali menyembunyikan kepicikan yang justru dituduhkan kepada orang lain, periksa apakah penolakanku terhadap sesuatu didasari argumen, atau semata gengsi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini mengikuti pola yang sama persis dengan dua ayat sebelumnya: ada yang dikatakan kepada mereka, mereka menjawab, lalu jawaban itu dibantah. Tetapi ada satu perbedaan halus di ujungnya yang menjadi kunci seluruh rangkaian.

Seruan yang disampaikan adalah "berimanlah kalian sebagaimana orang lain telah beriman" (آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ, aaminuu ka-maa aamana n-naasu), memakai kata yang berarti manusia pada umumnya. Jawaban mereka mengulang susunan kalimat itu hampir kata demi kata, tetapi mengganti satu kata saja: "apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal beriman?" (أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ, a-nu'minu ka-maa aamana s-sufahaa'u). Kata "manusia" mereka ganti dengan sebutan yang merendahkan.

Bantahannya kemudian mengembalikan kata itu persis kepada mereka: "merekalah orang-orang yang kurang akal" (هُمُ السُّفَهَاءُ, humu s-sufahaa'u). Sebutan yang mereka lemparkan dipulangkan tanpa diubah sedikit pun.

Kata yang mereka pakai itu berasal dari akar yang dalam bahasa Arab menggambarkan keringanan dalam menimbang, bukan kekosongan pengetahuan. Para penyusun kamus klasik menjelaskannya sebagai ringan akal, kurang bijaksana, atau tidak memiliki kematangan pertimbangan. Ini berbeda dari kata Arab lain yang berarti tidak tahu. Yang dituduhkan bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan pertimbangan.

Bentuk pertanyaan yang mereka pakai (أَنُؤْمِنُ, a-nu'minu) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an (2:13, 23:47, 26:111), dan dua tempat lainnya sama-sama berupa penolakan terhadap utusan. Di 23:47 sebuah kaum berkata "apakah kami akan percaya kepada dua manusia seperti kami", dan di 26:111 sebuah kaum berkata "apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikutimu adalah orang-orang yang hina". Di ketiga tempat itu yang ditolak bukan isi seruannya, melainkan orang yang dianggap lebih rendah dari penolaknya.

Perbedaan yang paling menentukan ada di penutup ayat. Rangkaian sebelumnya (2:12) ditutup dengan "tetapi mereka tidak sadar", memakai kata yang berakar pada merasakan. Ayat ini ditutup dengan "tetapi mereka tidak tahu" (وَلَٰكِنْ لَا يَعْلَمُونَ, wa-laakin laa ya'lamuuna), memakai kata yang berakar pada mengetahui. Ketika yang dipersoalkan adalah kerusakan, yang hilang dari mereka adalah kepekaan. Ketika yang dipersoalkan adalah iman, yang hilang adalah pengetahuan.

Sebutan yang dipakai di ayat ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an (2:13, 2:142, 4:5, 7:155), sementara tiga rangkaian kalimat di ayat ini masing-masing hanya muncul sekali.

Tafsiran

Jawaban mereka disusun dengan mengulang persis kalimat yang ditujukan kepada mereka, hanya mengganti satu kata. Yang menyeru menyebut "manusia"; mereka menggantinya dengan sebutan yang merendahkan. Cara membantah seperti ini tidak menyentuh isi seruannya sama sekali. Ia hanya merendahkan siapa yang menjalankannya, lalu menganggap urusan selesai.

Dan bantahan yang datang menjawab dengan cara yang paling sederhana: mengembalikan kata itu tanpa mengubahnya. Tidak ada kata baru yang ditambahkan, tidak ada bantahan panjang. Cukup kata mereka sendiri, dipulangkan ke alamat pengirimnya.

Kata yang mereka pakai berkaitan dengan ringannya pertimbangan, bukan kosongnya pengetahuan. Menuduh orang beriman kurang pertimbangan mengandaikan bahwa merekalah yang lebih matang menimbang. Dan justru penilaian atas kematangan diri sendiri itu yang paling jarang diperiksa oleh siapa pun.

Penutup ayat ini juga berbeda dari penutup ayat sebelumnya, dan perbedaannya tepat. Pada soal kerusakan, yang dinyatakan hilang adalah kepekaan merasakan. Pada soal iman, yang dinyatakan hilang adalah pengetahuan. Dua jenis kebutaan yang berbeda: yang satu tidak lagi merasa, yang lain tidak lagi tahu. Dan keduanya sama tertutupnya bagi yang mengalaminya, karena tak seorang pun bisa merasakan bahwa ia sudah berhenti merasakan, atau mengetahui bahwa ia sudah berhenti mengetahui.

Renungan dan Hikmah

  • Jawaban mereka mengulang persis kalimat yang ditujukan kepada mereka, hanya mengganti satu kata: yang disebut "manusia" mereka ganti dengan sebutan yang merendahkan. Cara membantah seperti ini tidak menyentuh isi seruannya sama sekali. Ia memindahkan pembicaraan dari apa yang benar ke siapa yang mengatakannya, dan itu adalah cara paling tua untuk menghindari pertanyaan tanpa terlihat menghindar.
  • Bantahannya tidak menambahkan kata baru. Ia hanya mengembalikan sebutan yang mereka lemparkan, persis seperti semula. Tidak ada bantahan panjang, tidak ada penjelasan yang berbelit. Kadang jawaban paling tepat atas sebuah tuduhan adalah tuduhan itu sendiri, dipulangkan ke alamat pengirimnya tanpa diubah. Cara menjawab seperti ini punya satu syarat yang berat: yang memulangkan kata itu harus benar. Kalau tidak, ia cuma balas mengejek, dan dua ejekan tidak menghasilkan satu kebenaran. Yang membuat pemulangan di ayat ini bukan sekadar balasan adalah kalimat sesudahnya, yang menambah keterangan yang tidak dimiliki para pengejek, yaitu bahwa mereka tidak mengetahuinya.
  • Kata yang mereka pakai berkaitan dengan ringannya menimbang, bukan kosongnya pengetahuan. Yang dituduhkan bukan kebodohan melainkan ketidakmatangan dalam mempertimbangkan. Dan menuduh orang lain kurang matang mengandaikan bahwa penuduhnya lebih matang, sebuah penilaian atas diri sendiri yang paling jarang diperiksa ulang oleh siapa pun. Sebutan itu (السُّفَهَاءُ) muncul di tiga ayat: 2:13, 2:142, dan 7:155. Perjalanannya di dalam ketiga ayat itu patut diikuti. Di sini ia dilemparkan kepada orang beriman lalu dikembalikan kepada yang melemparkannya. Di 2:142 ia menamai orang yang akan mempersoalkan perpindahan kiblat. Di 7:155 ia dipakai Musa untuk sebagian kaumnya sendiri, dalam permohonan agar mereka semua tidak dibinasakan karena perbuatan sebagian itu. Kata yang sama bisa jadi ejekan, bisa jadi keterangan, dan bisa jadi bagian dari doa yang meminta keringanan.
  • Rangkaian sebelumnya ditutup dengan "mereka tidak merasakan"; ayat ini ditutup dengan "mereka tidak mengetahui". Pada soal kerusakan yang hilang adalah kepekaan; pada soal iman yang hilang adalah pengetahuan. Dua jenis kebutaan yang berbeda, dan keduanya sama tertutupnya bagi yang mengalaminya: tak seorang pun bisa merasakan bahwa ia berhenti merasakan, atau mengetahui bahwa ia berhenti mengetahui. Perbedaan dua penutup itu tidak main-main. Kepekaan bisa tumpul karena kebiasaan, dan biasanya orangnya tidak tahu bahwa ia sedang menumpul. Pengetahuan bisa keliru sambil terasa lengkap, dan orangnya justru merasa lebih tahu daripada yang lain. Mana yang lebih sukar dibetulkan? Yang kedua, sebab ia datang bersama rasa cukup.
  • Seruan yang disampaikan menunjuk kepada orang lain sebagai contoh yang sudah menempuh jalan itu lebih dulu. Mereka menjawab dengan merendahkan justru orang-orang yang dijadikan contoh. Menolak teladan dengan merendahkan yang meneladankan adalah cara yang rapi untuk menolak tanpa perlu memeriksa apakah jalan itu sendiri benar atau salah.
  • Dua rangkaian berturut-turut memakai susunan yang sama persis: dikatakan, dijawab, dibantah, lalu dinyatakan bahwa mereka tidak menyadarinya. Yang berbeda hanya pokok soalnya dan kata terakhirnya. Pengulangan susunan dengan isi yang berbeda menunjukkan bahwa yang digambarkan bukan satu peristiwa, melainkan sebuah cara menanggapi yang berlaku pada soal apa pun.