وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, “Kami beriman.” Tetapi apabila mereka menyendiri bersama setan-setan mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanya berolok-olok.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَwa-idzaa laquu lladziina aamanuu qaaluu aamannaa wa-idzaa khalaw ilaa shayaatiinihim qaaluu innaa ma'akum innamaa nahnu mustahzi'uunadan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, kami beriman, tetapi apabila mereka menyendiri bersama setan-setan mereka, mereka berkata, sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanya berolok-olok
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menempatkan dua percakapan berdampingan: apa yang mereka katakan di hadapan orang beriman, dan apa yang mereka katakan ketika berkumpul dengan kelompok sendiri.

Yang paling menentukan adalah susunan kalimat yang mereka pakai di tempat kedua: "sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang berolok-olok" (إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ, innamaa nahnu mustahzi'uuna). Susunan ini sama persis dengan yang mereka pakai di 2:11, "sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang memperbaiki keadaan" (إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ, innamaa nahnu muslihuuna). Kata pembatasnya sama, kata gantinya sama, bahkan bentuk kata terakhirnya sama, yaitu kata benda pelaku yang menyatakan identitas. Hanya satu kata yang berbeda, dan kata itu berlawanan arti.

Susunan kalimat semacam ini hanya muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya adalah dua ayat ini, yang diucapkan oleh kelompok yang sama. Kefasihan yang sama, kalimat yang sama rapinya, dipakai untuk dua pernyataan yang saling meniadakan.

Kata "menyendiri" (خَلَوْا, khalaw) diikuti kata depan yang berarti "ke arah" (إِلَىٰ, ilaa), bukan kata depan yang berarti "bersama". Jadi yang digambarkan bukan sekadar keadaan berada di tempat yang sama, melainkan gerakan menuju: mereka pergi menghampiri.

Yang mereka hampiri disebut "setan-setan mereka" (شَيَاطِينِهِمْ, shayaatiinihim), memakai kata ganti kepemilikan. Bentuk ini hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Bukan setan pada umumnya, melainkan yang secara khusus melekat pada mereka.

Pengakuan mereka di hadapan kelompok sendiri terdiri dari dua bagian: "sesungguhnya kami bersama kalian" (إِنَّا مَعَكُمْ, innaa ma'akum), lalu penjelasan tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan. Bagian pertama muncul tiga kali di Al-Qur'an (2:14, 9:52, 26:15), sedangkan bagian keduanya hanya di ayat ini.

Tafsiran

Yang paling mengganggu dari ayat ini bukan isi kedua pernyataannya, melainkan kenyataan bahwa keduanya disusun dengan kerapian yang sama. Kalimat "kami hanyalah orang yang memperbaiki" dan "kami hanyalah orang yang berolok-olok" memakai susunan yang identik, sampai ke bentuk kata terakhirnya. Kefasihan yang sama, ketegasan yang sama, hanya satu kata yang ditukar.

Ini menggambarkan sesuatu yang lebih dalam daripada kebohongan biasa. Orang yang berbohong biasanya terdengar berbeda ketika berbohong. Yang digambarkan di sini adalah orang yang sama meyakinkannya di dua tempat yang berlawanan, karena kedua wajah itu sudah sama-sama terlatih. Tidak ada suara yang bergetar, tidak ada kalimat yang tersendat.

Gerakan yang digambarkan juga bukan gerakan pasif. Mereka tidak kebetulan berada di tempat itu; mereka pergi menghampiri. Dan yang dihampiri disebut milik mereka sendiri, bukan kekuatan asing yang menyeret. Pilihan kata ini memindahkan seluruh tanggung jawab kembali kepada yang melangkah.

Dan pengakuan mereka di tempat kedua, "kami hanya berolok-olok", menyimpan sesuatu yang sering luput. Olok-olok adalah cara paling ringan untuk menolak sesuatu tanpa harus menghadapinya. Yang membantah harus menyediakan alasan; yang menertawakan tidak perlu menyediakan apa-apa. Menjadikan diri sebagai orang yang berolok-olok, dengan demikian, adalah cara menghindar yang paling murah, dan justru karena murahnya ia paling sering dipilih.

Implikasi (6)
  • Kalimat yang mereka ucapkan di hadapan orang beriman dan di hadapan kelompok sendiri memakai susunan yang identik, sampai ke bentuk kata terakhirnya. Hanya satu kata yang ditukar, dan kata itu berlawanan arti. Yang digambarkan bukan orang yang gugup saat berbohong, melainkan orang yang sama meyakinkannya di dua tempat yang bertolak belakang, karena kedua wajah itu sudah sama-sama terlatih.
  • Kata yang dipakai bukan "berada bersama", melainkan "menyendiri ke arah". Yang digambarkan adalah gerakan menuju, bukan keadaan yang kebetulan terjadi. Dan yang dihampiri disebut sebagai milik mereka sendiri, bukan kekuatan asing yang menyeret dari luar. Seluruh tanggung jawab dikembalikan kepada kaki yang melangkah.
  • Olok-olok adalah cara paling ringan untuk menolak sesuatu tanpa harus menghadapinya. Yang membantah harus menyediakan alasan dan siap dibantah balik; yang menertawakan tidak perlu menyediakan apa pun. Menjadikan diri sebagai orang yang berolok-olok adalah jalan menghindar yang paling murah, dan justru karena murahnya ia paling sering ditempuh.
  • Yang mereka hampiri tidak disebut dengan sebutan umum, melainkan dengan kata ganti kepemilikan: yang melekat pada mereka sendiri. Bentuk seperti ini hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Godaan yang paling berbahaya bukan yang berkeliaran di luar sana mencari korban, melainkan yang sudah dipelihara sendiri sampai terasa menjadi bagian dari diri.
  • Di kedua tempat mereka memakai bentuk yang sama: bukan "kami sedang memperbaiki" atau "kami sedang berolok", melainkan "kami adalah orang yang memperbaiki" dan "kami adalah orang yang berolok-olok". Keduanya diucapkan sebagai identitas. Ketika identitas bisa dipakai bergantian seperti pakaian, yang tersisa di baliknya menjadi pertanyaan yang tidak dijawab oleh ayat ini, dan mungkin memang tidak terjawab oleh yang memakainya.
  • Ukuran yang ditawarkan ayat ini sederhana dan bisa dipakai siapa saja: apakah yang dikatakan di satu ruangan sanggup diulang utuh di ruangan yang lain. Bukan soal apakah orang lain mendengar, melainkan soal apakah kalimatnya sanggup berdiri sama tegaknya di kedua tempat. Yang berubah bunyinya ketika berpindah pendengar sedang mengatakan sesuatu tentang pengucapnya, terlepas dari isi yang diucapkan.