اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Allah memperolok mereka, dan membiarkan mereka dalam kesewenangan mereka, terombang-ambing.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَallaahu yastahzi'u bihim wa-yamudduhum fii thughyaanihim ya'mahuunaAllah memperolok mereka, dan membiarkan mereka dalam kesewenangan mereka, terombang-ambing

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. اللَّهُallaahuAllah
  2. يَسْتَهْزِئُyastahzi'umemperolok
  3. بِهِمْbihimpada mereka
  4. وَيَمُدُّهُمْwa-yamudduhumdan mengulur mereka
  5. فِيfiidi
  6. طُغْيَانِهِمْthughyaanihimkesewenangan mereka
  7. يَعْمَهُونَya'mahuunaterombang-ambing

Inti bacaan

Konsekuensi atas manipulasi (2:14) bukan pembalasan sewenang-wenang, melainkan cermin: mereka 'diperolok' dengan cara yang setimpal atas keputusan mereka sendiri untuk memperolok. Konkretnya: pola hidup manipulatif cenderung berujung pada kebingungan-arah yang dialami pelakunya sendiri ('berkelana tanpa arah'), bukti bahwa integritas melindungi arah-hidup, sementara manipulasi mengikisnya.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menjawab ucapan yang baru saja dikutip di ayat sebelumnya, dan menjawabnya dengan kata yang mereka pilih sendiri.

Di 2:14 mereka menyebut diri dengan kata yang berarti berolok-olok. Di sini kata kerja yang dipakai berasal dari akar yang sama persis dan bentuk yang sama pula: "Allah memperolok mereka" (اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ, allaahu yastahzi'u bihim). Ini pola yang kedua kalinya muncul dalam rangkaian ini; di 2:13 sebutan yang mereka lemparkan juga dikembalikan tanpa diubah. Rangkaian kalimat ini hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an.

Kata "membiarkan" (وَيَمُدُّهُمْ, wa-yamudduhum) berasal dari akar yang makna dasarnya menarik atau mengulurkan sesuatu yang memanjang. Para penyusun kamus klasik memberi contoh pemakaiannya: menarik tali, menarik busur, dan menimba air dari sumur. Jadi yang digambarkan bukan pembiaran yang pasif, melainkan pengulur tali: memberi ruang gerak yang lebih panjang. Bentuk kata ini juga hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an.

Kata terakhir, "terombang-ambing" (يَعْمَهُونَ, ya'mahuuna), berasal dari akar yang oleh para penyusun kamus klasik dijelaskan sebagai keadaan bingung dan tidak sanggup melihat jalan yang benar, disertai berjalan bolak-balik berulang kali. Bukan diam kebingungan, melainkan bergerak terus tanpa arah.

Kata "kesewenangan" (طُغْيَانِهِمْ, thughyaanihim) dan kata terakhir tadi muncul bersama-sama di lima tempat dalam Al-Qur'an (2:15, 6:110, 7:186, 10:11, 23:75), selalu dalam gambaran yang serupa.

Ada tiga hal di ayat pendek ini yang masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an: bentuk kata kerja memperolok yang dipakai untuk Allah (يَسْتَهْزِئُ, yastahzi'u), bentuk "dan membiarkan mereka" (وَيَمُدُّهُمْ, wa-yamudduhum), dan seluruh rangkaian pembukanya. Tiga kelangkaan menumpuk dalam satu ayat yang panjangnya hanya enam kata.

Kata terakhirnya (يَعْمَهُونَ, ya'mahuuna) muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an (2:15, 6:110, 7:186, 10:11, 15:72, 23:75, 27:4). Lima di antaranya dipasangkan dengan kata "kesewenangan" seperti di ayat ini, dan dua sisanya tidak. Jadi pasangan itu bukan keharusan tata bahasa melainkan pilihan yang berulang: keadaan berjalan tanpa arah paling sering disebut justru ketika yang dibicarakan adalah orang yang merasa paling menentukan arahnya sendiri.

Ketiga kata kerja di ayat ini tersusun sebagai urutan, bukan sebagai daftar. Yang pertama adalah tanggapan atas ucapan yang baru saja mereka lontarkan, yang kedua adalah apa yang menyusul sesudah tanggapan itu, dan yang ketiga adalah keadaan mereka di dalamnya. Kalimatnya bergerak dari perbuatan Allah ke keadaan mereka sendiri, dan kata yang terakhir tidak lagi punya pelaku selain mereka.

Tafsiran

Untuk kedua kalinya dalam rangkaian ini, jawaban yang diberikan memakai kata yang dipilih sendiri oleh yang dijawab. Mereka menyebut diri sebagai orang yang berolok-olok; kata dari akar dan bentuk yang sama dikembalikan kepada mereka. Tidak ada kata baru yang perlu dicari.

Tetapi gambaran yang paling menentukan ada pada kata berikutnya. Akar katanya berarti mengulurkan tali, dan itu bukan gambaran tentang hukuman melainkan tentang kelonggaran. Tali yang diulur panjang memberi ruang gerak yang lebih luas kepada yang terikat, dan justru keluasan itulah yang membuatnya lupa bahwa ia masih terikat. Semakin panjang talinya, semakin jauh ia bisa melangkah, dan semakin lama ia baru menyadari bahwa lingkarannya tidak pernah berubah.

Kata penutupnya melengkapi gambaran itu. Yang digambarkan bukan orang yang diam kebingungan, melainkan orang yang terus bergerak bolak-balik tanpa sanggup melihat jalan yang benar. Ada kesibukan di situ, ada gerakan yang tak henti, tetapi tidak ada kemajuan. Bergerak terus dengan yakin sedang menuju suatu tempat adalah keadaan yang jauh lebih sulit disadari daripada berhenti kebingungan.

Dan kelonggaran itu diberikan justru dalam apa yang disebut kesewenangan mereka sendiri. Bukan dipaksa masuk ke sana, melainkan diberi ruang lebih luas di dalam sesuatu yang sudah mereka pilih. Ini bentuk pembiaran yang paling halus: tidak ada yang mendorong, tidak ada yang menahan, dan justru ketiadaan hambatan itulah yang terasa seperti pembenaran.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang dipakai berakar pada mengulurkan tali. Bukan gambaran hukuman, melainkan kelonggaran. Tali yang diulur panjang memberi ruang gerak yang lebih luas, dan justru keluasan itulah yang membuat yang terikat lupa bahwa ia masih terikat. Semakin panjang talinya, semakin lama ia baru menyadari bahwa lingkarannya tidak pernah berubah. Bentuk kata kerja yang dipakai di sini (يَمُدُّهُمْ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Jadi gambaran mengulurkan tali itu tidak diulang di tempat lain dengan bentuk yang sama, dan tidak menjadi rumus umum. Ia dipasang tepat di sini, sesudah mereka menyebut diri sebagai orang yang berolok-olok.
  • Kata penutupnya menggambarkan bukan orang yang diam kebingungan, melainkan orang yang terus bergerak bolak-balik tanpa sanggup melihat jalan yang benar. Ada kesibukan, ada gerakan tak henti, tetapi tidak ada kemajuan. Bergerak terus sambil yakin sedang menuju suatu tempat jauh lebih sulit disadari daripada berhenti karena tersesat. Kata itu (يَعْمَهُونَ) muncul di tujuh ayat (2:15, 6:110, 7:186, 10:11, 15:72, 23:75, 27:4), dan hampir semuanya menggambarkan keadaan yang sama: orang yang dibiarkan berjalan di dalam sesuatu, bukan orang yang dihentikan. Berjalan terus tanpa arah menghabiskan tenaga yang sama besarnya dengan berjalan menuju suatu tempat, dan itulah yang membuatnya sukar dikenali dari dalam.
  • Kelonggaran itu diberikan justru di dalam apa yang sudah mereka pilih sendiri. Tidak ada yang mendorong, tidak ada yang menahan. Dan ketiadaan hambatan itulah yang paling mudah disalahartikan sebagai pembenaran. Jalan yang lapang tidak selalu berarti jalan yang benar; kadang ia hanya berarti tidak ada lagi yang menghalangi. Bagaimana seseorang bisa membedakan jalan yang lapang karena benar dari jalan yang lapang karena dibiarkan? Ayat ini tidak memberi tanda lahiriah, dan memang tidak ada tanda lahiriah yang membedakannya. Yang tersisa cuma satu pemeriksaan, yaitu ke mana jalan itu menuju, dan pemeriksaan itu menuntut kesediaan berhenti sebentar dari kesibukan yang terasa produktif.
  • Untuk kedua kalinya dalam rangkaian ini, jawaban yang diberikan memakai kata yang dipilih sendiri oleh yang dijawab. Mereka menyebut diri sebagai yang berolok-olok; kata dari akar dan bentuk yang sama dikembalikan. Ada ketelitian yang menakutkan dalam cara ini: tidak ada kata baru yang perlu dicari, karena kata yang paling tepat sudah disediakan sendiri oleh yang bersangkutan.
  • Diberi waktu lebih panjang bisa berarti dua hal yang sepenuhnya berbeda: kesempatan untuk kembali, atau ruang untuk semakin jauh. Ayat ini tidak menutup salah satunya. Yang menentukan bukan panjang waktunya, melainkan apa yang dilakukan di dalamnya. Dan kesempatan yang tidak dikenali sebagai kesempatan berubah dengan sendirinya menjadi yang kedua.
  • Yang paling sulit dikenali dari keadaan ini adalah bahwa ia terasa seperti kebebasan. Ruang gerak yang luas, kesibukan yang tak henti, tidak ada yang melarang. Seluruh tanda-tanda lahiriah menunjukkan kemerdekaan, sementara yang tidak terlihat hanyalah bahwa arahnya tidak pernah berubah. Kebebasan bergerak dan kebebasan menentukan arah adalah dua hal yang sangat berbeda.