أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka perniagaan mereka tidak beruntung, dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَulaa'ika lladziina shtaraw d-dalaalata bi-l-hudaa fa-maa rabihat tijaaratuhum wa-maa kaanuu muhtadiinamereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka perniagaan mereka tidak beruntung, dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menutup rangkaian dengan memakai bahasa perdagangan, dan tiga kata dari dunia dagang muncul sekaligus dalam satu kalimat: membeli, untung, dan perniagaan.
Arah transaksinya perlu diperhatikan. Kalimatnya berbunyi "membeli kesesatan dengan petunjuk" (اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ, shtaraw d-dalaalata bi-l-hudaa). Yang dibeli adalah kesesatan; yang dipakai untuk membayar adalah petunjuk. Petunjuk di sini berkedudukan sebagai harga, bukan sebagai barang. Mereka menyerahkan sesuatu yang berharga untuk memperoleh sesuatu yang tidak berharga. Rangkaian ini muncul dua kali di Al-Qur'an (2:16 dan 2:175).
Kata "untung" (رَبِحَتْ, rabihat) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan justru dalam bentuk yang dinegasikan: perniagaan mereka tidak untung. Al-Qur'an tidak pernah memakai kata itu untuk menyatakan keuntungan yang benar-benar terjadi.
Kerugiannya disebut berlapis dua. Pertama, "perniagaan mereka tidak beruntung" (فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ, fa-maa rabihat tijaaratuhum), yang hanya muncul di ayat ini. Kedua, "mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk". Jadi bukan hanya transaksinya yang merugi; modal yang dipakai untuk membayar pun tidak kembali.
Al-Qur'an memakai kata "perniagaan" tujuh kali, dan dua di antaranya menjadi kebalikan langsung dari ayat ini. Di 35:29 disebut "perdagangan yang tidak akan pernah rugi", dan di 61:10 ditawarkan "perdagangan yang menyelamatkan kalian dari azab yang pedih". Jadi ada dua jenis perniagaan yang berhadapan: yang satu kehilangan modal dan barang, yang lain dijamin tidak akan pernah merugi.
Tafsiran
Bahasa perdagangan yang dipakai ayat ini mengubah seluruh cara memandang apa yang sudah digambarkan sejak 2:8. Sikap yang dijelaskan panjang lebar itu tidak disebut sebagai nasib yang menimpa, melainkan sebagai transaksi yang dilakukan sendiri. Ada yang diserahkan, ada yang diterima, dan ada perhitungan di ujungnya.
Yang paling menyakitkan dari transaksi ini adalah arahnya. Petunjuk diperlakukan sebagai alat pembayaran, bukan sebagai barang yang dicari. Orang biasanya menyerahkan yang kurang berharga untuk mendapatkan yang lebih berharga; di sini yang terjadi sebaliknya. Dan seperti transaksi mana pun yang terbalik, kerugiannya tidak terasa pada saat kesepakatan dibuat, melainkan belakangan, ketika yang dibeli mulai dipakai.
Kata "untung" yang hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, dan justru dalam bentuk yang disangkal, menyisakan gema tersendiri. Seolah kata itu disimpan khusus untuk satu momen ini, untuk mengatakan bahwa yang paling dicari manusia dalam setiap transaksinya justru tidak diperoleh di sini.
Namun ayat ini tidak menutup pintu perdagangan itu sendiri. Di tempat lain, dengan kata yang sama, ditawarkan perniagaan yang dijamin tidak akan pernah merugi dan yang menyelamatkan dari siksa. Jadi yang dipersoalkan bukan berdagangnya, melainkan apa yang diserahkan dan apa yang diambil. Setiap orang sedang berdagang dengan hidupnya; yang membedakan hanyalah dengan apa ia membayar, dan apa yang ia bawa pulang.
Implikasi (6)
- Yang dibeli adalah kesesatan; yang dipakai membayar adalah petunjuk. Petunjuk berkedudukan sebagai harga, bukan sebagai barang yang dicari. Orang biasanya menyerahkan yang kurang berharga untuk memperoleh yang lebih berharga; di sini arahnya terbalik. Dan seperti transaksi terbalik mana pun, ruginya tidak terasa saat kesepakatan dibuat, melainkan belakangan, ketika yang dibeli mulai dipakai.
- Kata "untung" hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan justru untuk mengatakan bahwa keuntungan itu tidak diperoleh. Seolah kata yang paling dicari manusia dalam setiap transaksinya disimpan khusus untuk satu momen ini, dan dipakai hanya untuk menyangkalnya.
- Kerugiannya disebut dua kali: perniagaannya tidak untung, dan mereka bukan orang yang mendapat petunjuk. Bukan hanya barang yang dibeli ternyata tidak berharga; modal yang dipakai membayar pun tidak kembali. Ada kerugian yang menghabiskan keuntungan, dan ada kerugian yang menghabiskan modal. Yang digambarkan di sini adalah yang kedua.
- Seluruh sikap yang digambarkan sejak beberapa ayat sebelumnya tidak disebut sebagai nasib yang menimpa, melainkan sebagai transaksi yang dilakukan sendiri. Ada yang diserahkan, ada yang diterima, ada perhitungan di ujungnya. Bahasa perdagangan memindahkan seluruh kejadian dari wilayah keterpaksaan ke wilayah pilihan, dan bersamanya berpindah pula tanggung jawabnya.
- Ayat ini tidak menutup pintu perdagangan itu sendiri. Di tempat lain, dengan kata yang sama persis, ditawarkan perniagaan yang dijamin tidak akan pernah merugi dan yang menyelamatkan dari siksa. Yang dipersoalkan bukan berdagangnya, melainkan apa yang diserahkan dan apa yang diambil. Setiap orang sedang berdagang dengan hidupnya; yang membedakan hanya dengan apa ia membayar dan apa yang ia bawa pulang.
- Tidak ada yang sengaja memilih transaksi yang merugikan. Setiap kesepakatan dibuat karena pada saat itu terasa menguntungkan. Justru di situlah letak beratnya: yang digambarkan bukan orang yang tahu ia sedang rugi, melainkan orang yang merasa sedang beruntung. Perhitungan sebenarnya baru terbuka belakangan, dan pada saat itu kesepakatannya sudah lama ditandatangani.