أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka perniagaan mereka tidak beruntung, dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَulaa'ika lladziina sytaraw dh-dhalaalata bi-l-hudaa fa-maa rabihat tijaaratuhum wa-maa kaanuu muhtadiinamereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka perniagaan mereka tidak beruntung, dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk
Terjemahan per kata (11 kata)
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- اشْتَرَوُاsytarawmembeli
- الضَّلَالَةَdh-dhalaalatakesesatan
- بِالْهُدَىٰbi-l-hudaadengan petunjuk
- فَمَاfa-maamaka tidaklah
- رَبِحَتْrabihatberuntung
- تِجَارَتُهُمْtijaaratuhumperniagaan mereka
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- كَانُواkaanuumereka adalah
- مُهْتَدِينَmuhtadiinaorang-orang yang mendapat petunjuk
Inti bacaan
Citra 'berdagang' di sini menekankan bahwa setiap pilihan hidup adalah transaksi: sesuatu ditukar dengan sesuatu yang lain. Konkretnya: menukar arah/kejelasan-hidup demi kebingungan/pembenaran-sesaat adalah dagang yang rugi, pertanyaan praktis untuk keputusan besar: apa yang sebenarnya kutukar demi pilihan ini, dan apakah nilainya sepadan?
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menutup rangkaian dengan memakai bahasa perdagangan, dan tiga kata dari dunia dagang muncul sekaligus dalam satu kalimat: membeli, untung, dan perniagaan.
Arah transaksinya perlu diperhatikan. Kalimatnya berbunyi "membeli kesesatan dengan petunjuk" (اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ, sytaraw dh-dhalaalata bi-l-hudaa). Yang dibeli adalah kesesatan; yang dipakai untuk membayar adalah petunjuk. Petunjuk di sini berkedudukan sebagai harga, bukan sebagai barang. Mereka menyerahkan sesuatu yang berharga untuk memperoleh sesuatu yang tidak berharga. Rangkaian ini muncul dua kali di Al-Qur'an (2:16 dan 2:175).
Kata "untung" (رَبِحَتْ, rabihat) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan justru dalam bentuk yang dinegasikan: perniagaan mereka tidak untung. Al-Qur'an tidak pernah memakai kata itu untuk menyatakan keuntungan yang benar-benar terjadi.
Kerugiannya disebut berlapis dua. Pertama, "perniagaan mereka tidak beruntung" (فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ, fa-maa rabihat tijaaratuhum), yang hanya muncul di ayat ini. Kedua, "mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk". Jadi bukan hanya transaksinya yang merugi; modal yang dipakai untuk membayar pun tidak kembali.
Al-Qur'an memakai kata "perniagaan" tujuh kali, dan dua di antaranya menjadi kebalikan langsung dari ayat ini. Di 35:29 disebut "perdagangan yang tidak akan pernah rugi", dan di 61:10 ditawarkan "perdagangan yang menyelamatkan kalian dari azab yang pedih". Jadi ada dua jenis perniagaan yang berhadapan: yang satu kehilangan modal dan barang, yang lain dijamin tidak akan pernah merugi.
Kata kerja "membeli" dalam bentuk ini muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an (2:16, 2:86, 2:175, 3:177), dan keempatnya menggambarkan transaksi yang polanya sama: yang dibeli selalu yang buruk, yang dibayarkan selalu yang baik. Di 2:86 yang dibeli adalah kehidupan dunia dengan akhirat, di 2:175 kesesatan dengan petunjuk seperti di sini, dan di 3:177 kekufuran dengan keimanan. Tidak sekali pun kata ini dipakai untuk transaksi yang arahnya terbalik.
Penutupnya, "dan mereka bukanlah orang-orang yang mendapat petunjuk" (وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ, wa-maa kaanuu muhtadiina), dipakai tiga kali (2:16, 6:140, 10:45). Di 6:140 dan 10:45 ia menutup ayat yang dibuka dengan pernyataan kerugian, sama seperti di sini. Ketiganya menempatkan hilangnya petunjuk bukan sebagai sebab kerugian, melainkan sebagai keterangan yang menyusul sesudahnya.
Susunan ayat ini juga menempatkan penilaian sesudah transaksi, bukan sebelumnya. Perbuatannya disebut lebih dulu, hasilnya menyusul, dan keterangan tentang petunjuk datang paling akhir. Urutan itu membuat kalimatnya terbaca seperti laporan pembukuan, bukan seperti peringatan yang mendahului perbuatan.
Tafsiran
Bahasa perdagangan yang dipakai ayat ini mengubah seluruh cara memandang apa yang sudah digambarkan sejak 2:8. Sikap yang dijelaskan panjang lebar itu tidak disebut sebagai nasib yang menimpa, melainkan sebagai transaksi yang dilakukan sendiri. Ada yang diserahkan, ada yang diterima, dan ada perhitungan di ujungnya.
Yang paling menyakitkan dari transaksi ini adalah arahnya. Petunjuk diperlakukan sebagai alat pembayaran, bukan sebagai barang yang dicari. Orang biasanya menyerahkan yang kurang berharga untuk mendapatkan yang lebih berharga; di sini yang terjadi sebaliknya. Dan seperti transaksi mana pun yang terbalik, kerugiannya tidak terasa pada saat kesepakatan dibuat, melainkan belakangan, ketika yang dibeli mulai dipakai.
Kata "untung" yang hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an, dan justru dalam bentuk yang disangkal, menyisakan gema tersendiri. Seolah kata itu disimpan khusus untuk satu momen ini, untuk mengatakan bahwa yang paling dicari manusia dalam setiap transaksinya justru tidak diperoleh di sini.
Namun ayat ini tidak menutup pintu perdagangan itu sendiri. Di tempat lain, dengan kata yang sama, ditawarkan perniagaan yang dijamin tidak akan pernah merugi dan yang menyelamatkan dari siksa. Jadi yang dipersoalkan bukan berdagangnya, melainkan apa yang diserahkan dan apa yang diambil. Setiap orang sedang berdagang dengan hidupnya; yang membedakan hanyalah dengan apa ia membayar, dan apa yang ia bawa pulang.
Renungan dan Hikmah
- Yang dibeli adalah kesesatan; yang dipakai membayar adalah petunjuk. Petunjuk berkedudukan sebagai harga, bukan sebagai barang yang dicari. Orang biasanya menyerahkan yang kurang berharga untuk memperoleh yang lebih berharga; di sini arahnya terbalik. Dan seperti transaksi terbalik mana pun, ruginya tidak terasa saat kesepakatan dibuat, melainkan belakangan, ketika yang dibeli mulai dipakai.
- Kata "untung" hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini, dan justru untuk mengatakan bahwa keuntungan itu tidak diperoleh. Seolah kata yang paling dicari manusia dalam setiap transaksinya disimpan khusus untuk satu momen ini, dan dipakai hanya untuk menyangkalnya. Bentuk yang dipakai (رَبِحَتْ) memang muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Satu-satunya penyebutan keuntungan dagang di dalam kitab ini adalah penyebutan yang menyangkalnya.
- Kerugiannya disebut dua kali: perniagaannya tidak untung, dan mereka bukan orang yang mendapat petunjuk. Bukan hanya barang yang dibeli ternyata tidak berharga; modal yang dipakai membayar pun tidak kembali. Ada kerugian yang menghabiskan keuntungan, dan ada kerugian yang menghabiskan modal. Yang digambarkan di sini adalah yang kedua. Lapis keduanya yang lebih berat. Pedagang yang rugi masih bisa berdagang lagi besok dengan modal yang tersisa. Tapi apa yang tersisa kalau yang dipakai membayar justru alat untuk mengenali dagangan yang baik? Kehilangan petunjuk bukan kehilangan satu barang di antara barang lain. Ia kehilangan kemampuan menilai untung rugi berikutnya.
- Seluruh sikap yang digambarkan sejak beberapa ayat sebelumnya tidak disebut sebagai nasib yang menimpa, melainkan sebagai transaksi yang dilakukan sendiri. Ada yang diserahkan, ada yang diterima, ada perhitungan di ujungnya. Bahasa perdagangan memindahkan seluruh kejadian dari wilayah keterpaksaan ke wilayah pilihan, dan bersamanya berpindah pula tanggung jawabnya.
- Ayat ini tidak menutup pintu perdagangan itu sendiri. Di tempat lain, dengan kata yang sama persis, ditawarkan perniagaan yang dijamin tidak akan pernah merugi dan yang menyelamatkan dari siksa. Yang dipersoalkan bukan berdagangnya, melainkan apa yang diserahkan dan apa yang diambil. Setiap orang sedang berdagang dengan hidupnya; yang membedakan hanya dengan apa ia membayar dan apa yang ia bawa pulang. Perniagaan yang dimaksud disebut di 35:29, dan syaratnya dirinci di sana: membaca Kitab Allah, menegakkan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tiga hal itu hampir sama persis dengan ciri orang bertakwa di 2:3. Jadi dua perniagaan yang dibandingkan surah ini sudah dipaparkan sejak awal: yang satu di ayat ketiga, yang satu lagi di sini.
- Tidak ada yang sengaja memilih transaksi yang merugikan. Setiap kesepakatan dibuat karena pada saat itu terasa menguntungkan. Justru di situlah letak beratnya: yang digambarkan bukan orang yang tahu ia sedang rugi, melainkan orang yang merasa sedang beruntung. Perhitungan sebenarnya baru terbuka belakangan, dan pada saat itu kesepakatannya sudah lama ditandatangani.