مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ

Perumpamaan mereka seperti perumpamaan orang yang menyalakan api; setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَmatsaluhum ka-matsali lladzii staqada naaran fa-lammaa adaa'at maa hawlahu dzahaba llaahu bi-nuurihim wa-tarakahum fii zhulumaatin laa yubsiruunaperumpamaan mereka seperti perumpamaan orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini membuka perumpamaan pertama dalam surah ini, dan susunannya menyimpan beberapa hal yang mudah terlewat.

Perumpamaan dimulai dengan satu orang: "orang yang menyalakan api" (الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا, lladzii staqada naaran), memakai bentuk tunggal. Kalimat berikutnya masih tunggal, "menerangi sekelilingnya" (مَا حَوْلَهُ, maa hawlahu). Tetapi begitu sampai pada bagian yang menentukan, bentuknya tiba-tiba berubah menjadi jamak: "cahaya mereka" (بِنُورِهِمْ, bi-nuurihim), "membiarkan mereka" (وَتَرَكَهُمْ, wa-tarakahum), dan "tidak dapat melihat" dalam bentuk jamak pula. Perumpamaan yang dimulai dengan satu orang berakhir pada banyak orang.

Kata "api" dan kata "cahaya" dalam ayat ini berasal dari akar yang sama persis dalam bahasa Arab. Yang dinyalakan adalah api; yang dilenyapkan adalah cahayanya. Kalimatnya berbunyi "Allah melenyapkan cahaya mereka" (ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ, dzahaba llaahu bi-nuurihim), bukan melenyapkan apinya. Api itu boleh jadi masih menyala; yang hilang adalah kemampuannya menerangi.

Ada satu pola di seluruh Al-Qur'an yang membuat penutup ayat ini lebih tajam. Kata "cahaya" muncul empat puluh tiga kali, dan semuanya tanpa kecuali dalam bentuk tunggal. Kata "kegelapan" muncul dua puluh tiga kali, dan semuanya tanpa kecuali dalam bentuk jamak. Bentuk tunggal untuk kegelapan tidak pernah dipakai sama sekali di seluruh Al-Qur'an. Di ayat ini keduanya bertemu: satu cahaya yang hilang, digantikan kegelapan yang berbilang (فِي ظُلُمَاتٍ, fii zhulumaatin).

Tiga rangkaian dalam ayat ini masing-masing hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an: pembuka perumpamaannya, gambaran menyalakan apinya, dan pernyataan tentang lenyapnya cahaya itu.

Tafsiran

Yang dilenyapkan dalam perumpamaan ini bukan apinya, melainkan cahayanya, dan kedua kata itu berasal dari akar yang sama. Api yang tidak lagi menerangi tetaplah api: ia masih panas, masih menyala, masih membakar apa pun yang disentuhnya. Yang hilang hanya kemampuannya menunjukkan jalan. Gambaran ini jauh lebih menakutkan daripada api yang padam, karena yang tersisa adalah bahayanya tanpa manfaatnya.

Perpindahan dari bentuk tunggal ke jamak di tengah kalimat juga tidak biasa. Yang menyalakan api disebut satu orang; yang ditinggalkan dalam gelap disebut banyak orang. Api yang dinyalakan seorang diri ternyata menerangi lebih dari satu orang, dan ketika cahayanya diambil, yang kehilangan bukan hanya yang menyalakannya. Ada yang ikut bergantung pada terang itu tanpa pernah ikut menyalakannya.

Dan pola yang berlaku di seluruh Al-Qur'an memberi bobot tambahan pada penutupnya. Cahaya selalu disebut tunggal, kegelapan selalu disebut jamak, tanpa satu pun pengecualian. Jalan yang benar tidak bercabang; yang menyimpang bercabang tak terhitung. Kehilangan satu cahaya, dengan demikian, bukan berpindah ke satu kegelapan, melainkan tersebar ke banyak arah sekaligus.

Yang paling menyedihkan dari perumpamaan ini adalah bahwa cahaya itu pernah ada. Bukan orang yang tidak pernah melihat, melainkan orang yang pernah melihat lalu kehilangan penglihatannya. Mata yang belum pernah terbuka tidak tahu apa yang tidak dimilikinya; mata yang pernah terbuka lalu tertutup tahu persis apa yang hilang, dan itulah yang membuat gelapnya terasa jauh lebih pekat.

Implikasi (6)
  • Yang dilenyapkan bukan apinya, melainkan cahayanya, dan kedua kata itu berakar sama dalam bahasa Arab. Api yang tidak lagi menerangi tetaplah api: masih panas, masih membakar. Yang hilang hanya kemampuannya menunjukkan jalan. Ini gambaran yang lebih menakutkan daripada api yang padam, karena yang tersisa adalah bahayanya tanpa manfaatnya.
  • Di seluruh Al-Qur'an, kata "cahaya" selalu muncul dalam bentuk tunggal, empat puluh tiga kali tanpa kecuali, dan kata "kegelapan" selalu dalam bentuk jamak, dua puluh tiga kali tanpa kecuali. Bentuk tunggal untuk kegelapan tidak pernah dipakai sama sekali. Jalan yang benar tidak bercabang; yang menyimpang bercabang tak terhitung. Kehilangan satu cahaya bukan berpindah ke satu kegelapan, melainkan tersebar ke banyak arah sekaligus.
  • Yang digambarkan bukan orang yang tidak pernah melihat, melainkan orang yang pernah melihat lalu kehilangan penglihatannya. Mata yang belum pernah terbuka tidak tahu apa yang tidak dimilikinya. Mata yang pernah terbuka lalu tertutup tahu persis apa yang hilang, dan justru pengetahuan itulah yang membuat gelapnya terasa jauh lebih pekat.
  • Perumpamaan ini dimulai dengan satu orang yang menyalakan api, tetapi yang ditinggalkan dalam gelap disebut banyak orang. Api yang dinyalakan seorang diri ternyata menerangi lebih dari satu orang. Ada yang ikut bergantung pada terang itu tanpa pernah ikut menyalakannya, dan ketika cahayanya diambil, mereka pun ikut kehilangan.
  • Api itu sempat menerangi sekelilingnya, dan pada saat itu kemungkinan besar terasa cukup. Tidak ada yang menduga terang itu akan diambil justru ketika ia sedang bekerja paling baik. Waktu antara menyala dan padam adalah waktu yang paling mudah dilalui dengan tenang, dan justru ketenangan itulah yang membuat kehilangan sesudahnya terasa mendadak.
  • Kegelapan yang digambarkan ditutup dengan "tidak dapat melihat". Bukan hanya tidak ada yang bisa dilihat, tetapi juga tidak ada lagi kemampuan melihat. Dalam keadaan seperti itu, mencari jalan keluar sendiri menjadi mustahil, sebab alat untuk mencarinya justru yang lebih dulu diambil. Yang tersisa hanyalah kemungkinan bahwa terang itu datang lagi dari luar.