مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ
Perumpamaan mereka seperti perumpamaan orang yang menyalakan api; setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَmatsaluhum ka-matsali lladzii staqada naaran fa-lammaa adhaa'at maa hawlahu dzahaba llaahu bi-nuurihim wa-tarakahum fii zhulumaatin laa yubshiruunaperumpamaan mereka seperti perumpamaan orang yang menyalakan api, setelah menerangi sekelilingnya, Allah melenyapkan cahaya mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat
Terjemahan per kata (17 kata)
- مَثَلُهُمْmatsaluhumperumpamaan mereka
- كَمَثَلِka-matsaliseperti perumpamaan
- الَّذِيlladziiyang
- اسْتَوْقَدَstaqadamenyalakan
- نَارًاnaaranapi
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- أَضَاءَتْadhaa'atia menerangi
- مَاmaaapa yang
- حَوْلَهُhawlahusekelilingnya
- ذَهَبَdzahabapergi
- اللَّهُllaahuAllah
- بِنُورِهِمْbi-nuurihimdengan cahaya mereka
- وَتَرَكَهُمْwa-tarakahumdan membiarkan mereka
- فِيfiidi
- ظُلُمَاتٍzhulumaatinkegelapan
- لَاlaatidak
- يُبْصِرُونَyubshiruunamelihat
Inti bacaan
Perumpamaan api yang menyala lalu padam menggambarkan cahaya yang didapat lewat cara yang salah (di sini: manipulasi/kepura-puraan) sebagai sesuatu yang tidak bertahan. Konkretnya: pencerahan atau pengetahuan yang diperoleh dengan cara tidak jujur (mencuri, memanipulasi, mengklaim tanpa usaha) cenderung runtuh tepat ketika paling dibutuhkan, kontras dengan cahaya yang ditanam lewat proses jujur dan bertahan lama.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membuka perumpamaan pertama dalam surah ini, dan susunannya menyimpan beberapa hal yang mudah terlewat.
Perumpamaan dimulai dengan satu orang: "orang yang menyalakan api" (الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا, lladzii staqada naaran), memakai bentuk tunggal. Kalimat berikutnya masih tunggal, "menerangi sekelilingnya" (مَا حَوْلَهُ, maa hawlahu). Tetapi begitu sampai pada bagian yang menentukan, bentuknya tiba-tiba berubah menjadi jamak: "cahaya mereka" (بِنُورِهِمْ, bi-nuurihim), "membiarkan mereka" (وَتَرَكَهُمْ, wa-tarakahum), dan "tidak dapat melihat" dalam bentuk jamak pula. Perumpamaan yang dimulai dengan satu orang berakhir pada banyak orang.
Kata "api" dan kata "cahaya" dalam ayat ini berasal dari akar yang sama persis dalam bahasa Arab. Yang dinyalakan adalah api; yang dilenyapkan adalah cahayanya. Kalimatnya berbunyi "Allah melenyapkan cahaya mereka" (ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ, dzahaba llaahu bi-nuurihim), bukan melenyapkan apinya. Api itu boleh jadi masih menyala; yang hilang adalah kemampuannya menerangi.
Ada satu pola di seluruh Al-Qur'an yang membuat penutup ayat ini lebih tajam. Kata "cahaya" muncul empat puluh tiga kali, dan semuanya tanpa kecuali dalam bentuk tunggal. Kata "kegelapan" muncul dua puluh tiga kali, dan semuanya tanpa kecuali dalam bentuk jamak. Bentuk tunggal untuk kegelapan tidak pernah dipakai sama sekali di seluruh Al-Qur'an. Di ayat ini keduanya bertemu: satu cahaya yang hilang, digantikan kegelapan yang berbilang (فِي ظُلُمَاتٍ, fii zhulumaatin).
Tiga rangkaian dalam ayat ini masing-masing hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an: pembuka perumpamaannya, gambaran menyalakan apinya, dan pernyataan tentang lenyapnya cahaya itu.
Ayat ini luar biasa langka kosakatanya. Empat katanya masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an: "menyalakan" (اسْتَوْقَدَ, istawqada), "menerangi" (أَضَاءَتْ, adhaa'at), "cahaya mereka" (بِنُورِهِمْ, bi-nuurihim), dan "dan membiarkan mereka" (وَتَرَكَهُمْ, wa-tarakahum). Empat kata sekali pakai dalam satu ayat adalah kepadatan yang jarang, dan semuanya jatuh persis pada bagian yang menggerakkan perumpamaan: menyalakan, menerangi, kehilangan, ditinggalkan.
Kata pembukanya, "perumpamaan mereka" (مَثَلُهُمْ, matsaluhum), dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an (2:17, 48:29). Yang satu lagi berjalan ke arah yang berlawanan: di 48:29 kata yang sama dipakai untuk orang-orang yang bersama Muhammad. Satu kata pembuka, dua kelompok yang bertolak belakang, dan satu-satunya tempat lain kata ini muncul justru untuk mereka yang dipuji.
Kata "sekelilingnya" (حَوْلَهُ, hawlahu) muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an (2:17, 17:1, 26:25, 26:34, 40:7). Di sini ia menandai batas terjauh yang sempat diterangi api itu sebelum cahayanya diambil.
Tafsiran
Yang dilenyapkan dalam perumpamaan ini bukan apinya, melainkan cahayanya, dan kedua kata itu berasal dari akar yang sama. Api yang tidak lagi menerangi tetaplah api: ia masih panas, masih menyala, masih membakar apa pun yang disentuhnya. Yang hilang hanya kemampuannya menunjukkan jalan. Gambaran ini jauh lebih menakutkan daripada api yang padam, karena yang tersisa adalah bahayanya tanpa manfaatnya.
Perpindahan dari bentuk tunggal ke jamak di tengah kalimat juga tidak biasa. Yang menyalakan api disebut satu orang; yang ditinggalkan dalam gelap disebut banyak orang. Api yang dinyalakan seorang diri ternyata menerangi lebih dari satu orang, dan ketika cahayanya diambil, yang kehilangan bukan hanya yang menyalakannya. Ada yang ikut bergantung pada terang itu tanpa pernah ikut menyalakannya.
Dan pola yang berlaku di seluruh Al-Qur'an memberi bobot tambahan pada penutupnya. Cahaya selalu disebut tunggal, kegelapan selalu disebut jamak, tanpa satu pun pengecualian. Jalan yang benar tidak bercabang; yang menyimpang bercabang tak terhitung. Kehilangan satu cahaya, dengan demikian, bukan berpindah ke satu kegelapan, melainkan tersebar ke banyak arah sekaligus.
Yang paling menyedihkan dari perumpamaan ini adalah bahwa cahaya itu pernah ada. Bukan orang yang tidak pernah melihat, melainkan orang yang pernah melihat lalu kehilangan penglihatannya. Mata yang belum pernah terbuka tidak tahu apa yang tidak dimilikinya; mata yang pernah terbuka lalu tertutup tahu persis apa yang hilang, dan itulah yang membuat gelapnya terasa jauh lebih pekat.
Renungan dan Hikmah
- Yang dilenyapkan bukan apinya, melainkan cahayanya, dan kedua kata itu berakar sama dalam bahasa Arab. Api yang tidak lagi menerangi tetaplah api: masih panas, masih membakar. Yang hilang hanya kemampuannya menunjukkan jalan. Ini gambaran yang lebih menakutkan daripada api yang padam, karena yang tersisa adalah bahayanya tanpa manfaatnya. Kata kerja untuk menyalakannya (اسْتَوْقَدَ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya bentuk yang menyatakan usaha, bukan sekadar perbuatan. Bunyinya lebih dekat ke mengusahakan nyala daripada ke menyalakan. Kalau usahanya sudah berhasil dan apinya sudah menyala, apa lagi yang bisa hilang? Yang hilang ternyata bukan hasil usahanya melainkan gunanya.
- Di seluruh Al-Qur'an, kata "cahaya" selalu muncul dalam bentuk tunggal, empat puluh tiga kali tanpa kecuali, dan kata "kegelapan" selalu dalam bentuk jamak, dua puluh tiga kali tanpa kecuali. Bentuk tunggal untuk kegelapan tidak pernah dipakai sama sekali. Jalan yang benar tidak bercabang; yang menyimpang bercabang tak terhitung. Kehilangan satu cahaya bukan berpindah ke satu kegelapan, melainkan tersebar ke banyak arah sekaligus.
- Yang digambarkan bukan orang yang tidak pernah melihat, melainkan orang yang pernah melihat lalu kehilangan penglihatannya. Mata yang belum pernah terbuka tidak tahu apa yang tidak dimilikinya. Mata yang pernah terbuka lalu tertutup tahu persis apa yang hilang, dan justru pengetahuan itulah yang membuat gelapnya terasa jauh lebih pekat.
- Perumpamaan ini dimulai dengan satu orang yang menyalakan api, tetapi yang ditinggalkan dalam gelap disebut banyak orang. Api yang dinyalakan seorang diri ternyata menerangi lebih dari satu orang. Ada yang ikut bergantung pada terang itu tanpa pernah ikut menyalakannya, dan ketika cahayanya diambil, mereka pun ikut kehilangan.
- Api itu sempat menerangi sekelilingnya, dan pada saat itu kemungkinan besar terasa cukup. Tidak ada yang menduga terang itu akan diambil justru ketika ia sedang bekerja paling baik. Waktu antara menyala dan padam adalah waktu yang paling mudah dilalui dengan tenang, dan justru ketenangan itulah yang membuat kehilangan sesudahnya terasa mendadak. Waktu pengambilannya juga bukan waktu sembarangan. Cahaya itu tidak diambil sebelum menyala, dan tidak diambil sesudah padam sendiri. Ia diambil tepat pada saat sedang menerangi, yaitu saat satu-satunya ketika kehilangan itu benar-benar terasa. Kehilangan sesuatu yang belum pernah dinikmati jauh lebih ringan daripada kehilangan sesuatu yang sedang dipakai.
- Kegelapan yang digambarkan ditutup dengan "tidak dapat melihat". Bukan hanya tidak ada yang bisa dilihat, tetapi juga tidak ada lagi kemampuan melihat. Dalam keadaan seperti itu, mencari jalan keluar sendiri menjadi mustahil, sebab alat untuk mencarinya justru yang lebih dulu diambil. Yang tersisa hanyalah kemungkinan bahwa terang itu datang lagi dari luar. Ada perbedaan besar antara berada di tempat gelap dan kehilangan penglihatan. Orang yang berada di tempat gelap masih bisa keluar dengan meraba, sebab matanya akan bekerja lagi begitu ada terang. Orang yang kehilangan penglihatan tidak tertolong oleh terang yang datang kemudian. Ayat ini memakai gambaran yang kedua, dan itu menutup jalan keluar yang paling wajar dibayangkan pembaca.