صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَsummun bukmun umyun fa-hum laa yarji'uunatuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menutup perumpamaan api dengan tiga kata yang berdiri sendiri tanpa kata kerja: "tuli, bisu, buta" (صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ, summun bukmun umyun). Dalam bahasa aslinya ketiganya adalah kata benda, bukan pernyataan tentang sesuatu yang terjadi pada mereka. Tidak ada kata kerja "menjadi" di sana. Keadaan itu dinyatakan begitu saja, seperti menyebutkan sifat yang sudah melekat.

Urutan ketiganya layak diperhatikan. Tuli menyangkut jalan masuknya sesuatu ke dalam diri lewat pendengaran. Buta juga menyangkut jalan masuk, lewat penglihatan. Tetapi bisu berbeda sendiri: ia menyangkut jalan keluar. Dan justru yang menyangkut jalan keluar itu diletakkan di tengah, diapit oleh dua yang menyangkut jalan masuk. Yang rusak bukan hanya kemampuan menerima, melainkan juga kemampuan menyampaikan.

Rangkaian tiga kata ini muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 2:171. Yang menarik, penutupnya berbeda. Di sini ditutup dengan "maka mereka tidak akan kembali" (فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ, fa-hum laa yarji'uuna), sedangkan di 2:171 ditutup dengan "maka mereka tidak berakal". Rangkaian keadaan yang sama menghasilkan dua akibat yang disebut berbeda, masing-masing sesuai dengan pokok pembicaraannya.

Kata "kembali" yang dipakai di sini berasal dari akar yang sama dengan kalimat yang sangat dikenal, "sungguh kepada-Nya kami kembali" (2:156), dan dengan bentuk "kalian dikembalikan" yang muncul dua puluh kali di berbagai surah. Jadi kata ini bukan sekadar berarti berbalik arah; ia membawa muatan tentang kembali kepada asal.

Ada juga pergeseran dari ayat sebelumnya. Di 2:17 disebut "tidak dapat melihat", yaitu keadaan yang sedang berlangsung. Di sini disebut "buta", yaitu sifat yang melekat. Yang semula keadaan telah menjadi ciri.

Rangkaian penutup ayat ini hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an.

Tafsiran

Tiga kata yang menutup perumpamaan ini disebutkan tanpa kata kerja apa pun. Tidak dikatakan mereka menjadi tuli, atau dijadikan buta. Keadaan itu dinyatakan langsung, seperti menyebut warna sebuah benda. Cara menyatakan seperti ini menghilangkan pertanyaan tentang kapan dan bagaimana; yang tersisa hanya kenyataan bahwa demikianlah adanya sekarang.

Yang paling mudah terlewat adalah letak "bisu" di tengah. Tuli dan buta sama-sama menyangkut apa yang bisa masuk ke dalam diri. Bisu menyangkut apa yang bisa keluar. Menempatkannya di antara keduanya menutup lingkaran sepenuhnya: tidak ada yang masuk, dan tidak ada pula yang keluar. Orang yang tidak bisa menerima masih mungkin ditolong kalau ia bisa bertanya; yang tidak bisa bertanya kehilangan jalan terakhir itu.

Kata "kembali" yang dipakai di penutup membawa gema yang lebih jauh daripada sekadar berbalik dari jalan yang salah. Akar yang sama dipakai dalam kalimat yang diucapkan ketika musibah datang, "sungguh kepada-Nya kami kembali", dan dalam pernyataan berulang bahwa semua akan dikembalikan. Kembali, dalam bahasa Al-Qur'an, selalu berarti pulang ke tempat asal.

Dan ada pergeseran halus dari ayat sebelumnya yang layak diperhatikan. Di sana mereka disebut tidak dapat melihat, sebuah keadaan. Di sini mereka disebut buta, sebuah sifat. Jarak antara keduanya adalah jarak antara sesuatu yang sedang terjadi dan sesuatu yang sudah menjadi. Keadaan bisa berubah; ciri melekat lebih dalam, dan justru karena itu ayat ini terasa lebih berat daripada ayat sebelumnya.

Implikasi (6)
  • Tuli dan buta sama-sama menyangkut apa yang bisa masuk ke dalam diri; bisu menyangkut apa yang bisa keluar. Menempatkan bisu di antara keduanya menutup lingkaran sepenuhnya: tidak ada yang masuk, dan tidak ada pula yang keluar. Orang yang tidak bisa menerima masih mungkin ditolong kalau ia sanggup bertanya; yang tidak sanggup bertanya kehilangan jalan terakhir itu.
  • Ayat sebelumnya menyebut mereka tidak dapat melihat, sebuah keadaan yang sedang berlangsung. Ayat ini menyebut mereka buta, sebuah sifat yang melekat. Jarak antara keduanya adalah jarak antara sesuatu yang sedang terjadi dan sesuatu yang sudah menjadi. Keadaan masih bisa berubah; ciri sudah menempel lebih dalam, dan justru di situlah letak beratnya.
  • Kata yang dipakai untuk "kembali" berakar sama dengan kalimat yang diucapkan ketika musibah datang, "sungguh kepada-Nya kami kembali", dan dengan pernyataan berulang bahwa semua akan dikembalikan. Kembali, dalam bahasa Al-Qur'an, bukan sekadar berbalik arah dari jalan yang salah. Ia berarti pulang ke tempat asal, dan yang tertutup dari mereka adalah jalan pulang itu.
  • Ketiga kata itu disebut tanpa kata kerja apa pun. Tidak dikatakan mereka menjadi tuli atau dijadikan buta. Keadaan itu dinyatakan langsung, seperti menyebut warna sebuah benda. Cara menyatakan seperti ini menghapus pertanyaan tentang kapan dan bagaimana, dan menyisakan hanya kenyataan bahwa demikianlah adanya sekarang.
  • Rangkaian tiga kata ini muncul dua kali di Al-Qur'an, dengan penutup yang berbeda: di sini "tidak akan kembali", di tempat lain "tidak berakal". Keadaan yang sama persis menghasilkan dua akibat yang disebut berlainan, masing-masing tepat pada pokok pembicaraannya. Kebutaan yang sama bisa berakibat kehilangan jalan pulang, atau kehilangan kemampuan menimbang, tergantung apa yang sedang dipertaruhkan.
  • Tidak ada pihak lain yang disebut menutup jalan mereka. Yang disebut hanyalah keadaan mereka sendiri, dan dari keadaan itulah ketidakmungkinan kembali menjadi kesimpulan. Pintu yang tidak bisa dilewati bukan karena ada yang menjaganya, melainkan karena yang hendak melewatinya sudah kehilangan alat untuk menemukannya.