صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Tuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَshummun bukmun 'umyun fa-hum laa yarji'uunatuli, bisu, buta, maka mereka tidak akan kembali

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. صُمٌّshummuntuli
  2. بُكْمٌbukmunbisu
  3. عُمْيٌ'umyunbuta
  4. فَهُمْfa-hummaka mereka
  5. لَاlaatidak
  6. يَرْجِعُونَyarji'uunakembali

Inti bacaan

'Tuli, bisu, buta' sebagai metafora menggambarkan kondisi di mana ketiga jalur penerimaan-kebenaran (mendengar nasihat, menyuarakan pertanyaan jujur, melihat bukti) semuanya tertutup sekaligus. Konkretnya: periksa satu per satu, apakah aku masih benar-benar mendengar pandangan yang berbeda, masih berani bersuara jujur meski tak populer, dan masih mau melihat bukti yang mengganggu kenyamananku?

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menutup perumpamaan api dengan tiga kata yang berdiri sendiri tanpa kata kerja: "tuli, bisu, buta" (صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ, shummun bukmun 'umyun). Dalam bahasa aslinya ketiganya adalah kata benda, bukan pernyataan tentang sesuatu yang terjadi pada mereka. Tidak ada kata kerja "menjadi" di sana. Keadaan itu dinyatakan begitu saja, seperti menyebutkan sifat yang sudah melekat.

Urutan ketiganya layak diperhatikan. Tuli menyangkut jalan masuknya sesuatu ke dalam diri lewat pendengaran. Buta juga menyangkut jalan masuk, lewat penglihatan. Tetapi bisu berbeda sendiri: ia menyangkut jalan keluar. Dan justru yang menyangkut jalan keluar itu diletakkan di tengah, diapit oleh dua yang menyangkut jalan masuk. Yang rusak bukan hanya kemampuan menerima, melainkan juga kemampuan menyampaikan.

Rangkaian tiga kata ini muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 2:171. Yang menarik, penutupnya berbeda. Di sini ditutup dengan "maka mereka tidak akan kembali" (فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ, fa-hum laa yarji'uuna), sedangkan di 2:171 ditutup dengan "maka mereka tidak berakal". Rangkaian keadaan yang sama menghasilkan dua akibat yang disebut berbeda, masing-masing sesuai dengan pokok pembicaraannya.

Kata "kembali" yang dipakai di sini berasal dari akar yang sama dengan kalimat yang sangat dikenal, "sungguh kepada-Nya kami kembali" (2:156), dan dengan bentuk "kalian dikembalikan" yang muncul dua puluh kali di berbagai surah. Jadi kata ini bukan sekadar berarti berbalik arah; ia membawa muatan tentang kembali kepada asal.

Ada juga pergeseran dari ayat sebelumnya. Di 2:17 disebut "tidak dapat melihat", yaitu keadaan yang sedang berlangsung. Di sini disebut "buta", yaitu sifat yang melekat. Yang semula keadaan telah menjadi ciri.

Rangkaian penutup ayat ini hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an.

Ketiga kata itu tidak sama sebarannya. "Tuli" (صُمٌّ, shummun) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an (2:18, 2:171, 6:39), sedangkan "bisu" dan "buta" masing-masing hanya dua kali, yaitu di ayat ini dan di 2:171. Jadi ada satu tempat, 6:39, yang menyebut tuli dan bisu tanpa buta. Di sana yang menggantikan kata ketiga justru gambaran kegelapan, kata yang di surah ini dipakai satu ayat sebelumnya. Dua ayat yang berjauhan menyusun bahan yang sama dengan urutan yang berbeda.

Kata "kembali" (يَرْجِعُونَ, yarji'uuna) muncul enam belas kali di seluruh Al-Qur'an, di antaranya 7:168, 21:95, 30:41, dan 36:31. Di ayat ini ia dinegasikan, sehingga yang tertutup bukan hanya jalan masuk dan jalan keluar, melainkan juga jalan pulang.

Tafsiran

Tiga kata yang menutup perumpamaan ini disebutkan tanpa kata kerja apa pun. Tidak dikatakan mereka menjadi tuli, atau dijadikan buta. Keadaan itu dinyatakan langsung, seperti menyebut warna sebuah benda. Cara menyatakan seperti ini menghilangkan pertanyaan tentang kapan dan bagaimana; yang tersisa hanya kenyataan bahwa demikianlah adanya sekarang.

Yang paling mudah terlewat adalah letak "bisu" di tengah. Tuli dan buta sama-sama menyangkut apa yang bisa masuk ke dalam diri. Bisu menyangkut apa yang bisa keluar. Menempatkannya di antara keduanya menutup lingkaran sepenuhnya: tidak ada yang masuk, dan tidak ada pula yang keluar. Orang yang tidak bisa menerima masih mungkin ditolong kalau ia bisa bertanya; yang tidak bisa bertanya kehilangan jalan terakhir itu.

Kata "kembali" yang dipakai di penutup membawa gema yang lebih jauh daripada sekadar berbalik dari jalan yang salah. Akar yang sama dipakai dalam kalimat yang diucapkan ketika musibah datang, "sungguh kepada-Nya kami kembali", dan dalam pernyataan berulang bahwa semua akan dikembalikan. Kembali, dalam bahasa Al-Qur'an, selalu berarti pulang ke tempat asal.

Dan ada pergeseran halus dari ayat sebelumnya yang layak diperhatikan. Di sana mereka disebut tidak dapat melihat, sebuah keadaan. Di sini mereka disebut buta, sebuah sifat. Jarak antara keduanya adalah jarak antara sesuatu yang sedang terjadi dan sesuatu yang sudah menjadi. Keadaan bisa berubah; ciri melekat lebih dalam, dan justru karena itu ayat ini terasa lebih berat daripada ayat sebelumnya.

Renungan dan Hikmah

  • Tuli dan buta sama-sama menyangkut apa yang bisa masuk ke dalam diri; bisu menyangkut apa yang bisa keluar. Menempatkan bisu di antara keduanya menutup lingkaran sepenuhnya: tidak ada yang masuk, dan tidak ada pula yang keluar. Orang yang tidak bisa menerima masih mungkin ditolong kalau ia sanggup bertanya; yang tidak sanggup bertanya kehilangan jalan terakhir itu.
  • Ayat sebelumnya menyebut mereka tidak dapat melihat, sebuah keadaan yang sedang berlangsung. Ayat ini menyebut mereka buta, sebuah sifat yang melekat. Jarak antara keduanya adalah jarak antara sesuatu yang sedang terjadi dan sesuatu yang sudah menjadi. Keadaan masih bisa berubah; ciri sudah menempel lebih dalam, dan justru di situlah letak beratnya.
  • Kata yang dipakai untuk "kembali" berakar sama dengan kalimat yang diucapkan ketika musibah datang, "sungguh kepada-Nya kami kembali", dan dengan pernyataan berulang bahwa semua akan dikembalikan. Kembali, dalam bahasa Al-Qur'an, bukan sekadar berbalik arah dari jalan yang salah. Ia berarti pulang ke tempat asal, dan yang tertutup dari mereka adalah jalan pulang itu.
  • Ketiga kata itu disebut tanpa kata kerja apa pun. Tidak dikatakan mereka menjadi tuli atau dijadikan buta. Keadaan itu dinyatakan langsung, seperti menyebut warna sebuah benda. Cara menyatakan seperti ini menghapus pertanyaan tentang kapan dan bagaimana, dan menyisakan hanya kenyataan bahwa demikianlah adanya sekarang. Kalimat tanpa kata kerja juga tidak punya waktu. Tidak ada keterangan kapan keadaan itu bermula dan tidak ada isyarat kapan ia berakhir. Sebuah perbuatan selalu bisa ditanya kapan dilakukan, dan pertanyaan itu membuka kemungkinan bahwa sebelumnya belum begitu. Sebuah sifat yang dinyatakan begitu saja menutup pertanyaan tersebut sejak awal.
  • Rangkaian tiga kata ini muncul dua kali di Al-Qur'an (2:18, 2:171), dengan penutup yang berbeda: di sini "tidak akan kembali", di tempat lain "tidak berakal". Keadaan yang sama persis menghasilkan dua akibat yang disebut berlainan, masing-masing tepat pada pokok pembicaraannya. Kebutaan yang sama bisa berakibat kehilangan jalan pulang, atau kehilangan kemampuan menimbang, tergantung apa yang sedang dipertaruhkan. Rangkaian tiga kata itu (صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ) memang cuma di dua tempat, dan dua-duanya di surah ini. Yang dibicarakan pun bukan golongan yang sama. Di sini yang digambarkan adalah orang yang mengaku beriman tanpa beriman; di 2:171 yang digambarkan adalah orang yang menolak karena mengikuti kebiasaan nenek moyangnya. Dua sebab yang berjauhan sampai pada satu keadaan yang persis sama.
  • Tidak ada pihak lain yang disebut menutup jalan mereka. Yang disebut hanyalah keadaan mereka sendiri, dan dari keadaan itulah ketidakmungkinan kembali menjadi kesimpulan. Pintu yang tidak bisa dilewati bukan karena ada yang menjaganya, melainkan karena yang hendak melewatinya sudah kehilangan alat untuk menemukannya. Lalu siapa yang harus disalahkan atas pintu yang tidak bisa dilewati itu? Ayat ini tidak menyebut siapa-siapa, dan ketiadaan nama itu sendiri adalah jawabannya. Halangan yang datang dari luar bisa diadukan kepada yang memasangnya. Keadaan yang tumbuh dari dalam tidak punya alamat pengaduan, dan Allah membiarkan kalimat ini tanpa pelaku supaya hal itu terbaca sendiri.