يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali ia menyinari mereka, mereka berjalan di dalamnya, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْyakaadu l-barqu yakhtafu absaarahumhampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka
- كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواkullamaa adaa'a lahum mashaw fiihi wa-idzaa azhlama alayhim qaamuusetiap kali ia menyinari mereka, mereka berjalan di dalamnya, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti
- وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْwa-law shaa'a llaahu la-dzahaba bi-sam'ihim wa-absaarihimsekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka
- إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌinna llaaha alaa kulli shay'in qadiirunsesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menutup perumpamaan hujan badai dengan gambaran yang bergerak: terang dan gelap datang bergantian, dan langkah mereka mengikuti pergantian itu.
Dua bagian itu memakai kata sambung yang berbeda. Untuk terang dipakai kata yang berarti "setiap kali" (كُلَّمَا, kullamaa), yang menandai sesuatu yang berulang-ulang. Untuk gelap dipakai kata yang lebih biasa, "apabila" (وَإِذَا, wa-idzaa). Terang disebut sebagai sesuatu yang datang berkali-kali; gelap disebut begitu saja.
Kata yang dipakai untuk keadaan gelap, "gelap menimpa mereka" (أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ, azhlama alayhim), berasal dari akar yang di seluruh Al-Qur'an jauh lebih sering melahirkan kata untuk kezaliman daripada untuk kegelapan. Dari akar yang sama lahir kata "orang yang berbuat aniaya" yang muncul seratus dua puluh sembilan kali, kata kerja "berbuat aniaya" seratus sepuluh kali, dan kata "kezaliman" dua puluh kali, sementara kata untuk kegelapan dari akar itu muncul dua puluh tiga kali. Dalam bahasa Arab, gelap dan aniaya memang satu keluarga kata.
Yang mereka lakukan ketika gelap adalah "mereka berhenti" (قَامُوا, qaamuu). Kata ini berasal dari akar yang sama dengan kata "lurus" dalam permohonan "tunjukilah kami jalan yang lurus" (1:6) dan dengan kata "menegakkan" dalam "menegakkan salat" (2:3). Akar yang melahirkan kata untuk menegakkan dan untuk jalan yang tegak, di sini melahirkan kata untuk berdiri terpaku tanpa melangkah.
Bagian berikutnya adalah pengandaian yang tidak terjadi: "sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka" (وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ, wa-law shaa'a llaahu la-dzahaba bi-sam'ihim wa-absaarihim). Bentuk kalimatnya menyatakan sesuatu yang bisa saja terjadi tetapi belum terjadi. Ini berbeda dari perumpamaan sebelumnya (2:17), di mana cahaya sudah benar-benar diambil.
Tiga rangkaian dalam ayat ini masing-masing hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan penutupnya, "Allah berkuasa atas segala sesuatu", muncul tiga puluh lima kali.
Tafsiran
Gambaran yang paling hidup dari ayat ini adalah langkah yang mengikuti kedipan cahaya. Ketika terang, mereka berjalan; ketika gelap, mereka berhenti. Seluruh gerak mereka ditentukan oleh sesuatu di luar diri yang datang dan pergi tanpa mereka kendalikan. Berjalan hanya ketika keadaan mengizinkan bukanlah perjalanan; itu hanya reaksi terhadap keadaan.
Kata yang dipakai untuk berhenti itu berasal dari akar yang sama dengan kata untuk menegakkan dan untuk jalan yang tegak. Ada ironi yang tersimpan di sana: akar yang sama bisa melahirkan tegak yang berarti kokoh, dan tegak yang berarti mematung. Perbedaannya bukan pada berdirinya, melainkan pada apakah berdiri itu untuk menopang sesuatu atau sekadar karena tidak tahu harus ke mana.
Dan gelap yang membuat mereka berhenti berasal dari akar yang di seluruh Al-Qur'an lebih sering berarti aniaya. Bahasa Arab menempatkan kegelapan dan kezaliman dalam satu keluarga kata, dan pertemuan itu bukan kebetulan bunyi: keduanya sama-sama berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, sehingga yang seharusnya terang menjadi tertutup.
Namun ayat ini tidak ditutup seperti perumpamaan sebelumnya. Di sana cahaya sudah diambil; di sini penghilangan pendengaran dan penglihatan masih berupa pengandaian yang belum terjadi. Kalimat itu menyatakan bahwa hal itu mungkin, bukan bahwa hal itu sudah berlangsung. Selama masih berupa pengandaian, masih ada yang tersisa untuk dipakai, dan masih ada waktu untuk memakainya.
Implikasi (6)
- Ketika terang, mereka berjalan; ketika gelap, mereka berhenti. Seluruh gerak mereka ditentukan oleh sesuatu di luar diri yang datang dan pergi tanpa mereka kendalikan. Berjalan hanya ketika keadaan mengizinkan bukanlah perjalanan, melainkan reaksi terhadap keadaan. Perjalanan yang sebenarnya diuji justru pada bagian yang gelap, ketika tidak ada yang menuntun selain arah yang sudah dipilih sebelumnya.
- Kata untuk berhenti di ayat ini berakar sama dengan kata untuk menegakkan dan untuk jalan yang tegak. Akar yang sama melahirkan tegak yang berarti kokoh menopang, dan tegak yang berarti mematung tak tahu arah. Perbedaannya bukan pada berdirinya, melainkan pada apakah berdiri itu menopang sesuatu atau sekadar karena tidak tahu harus ke mana melangkah.
- Kata untuk gelap di ayat ini berakar sama dengan kata untuk kezaliman, dan di seluruh Al-Qur'an akar itu jauh lebih sering melahirkan kata untuk aniaya daripada untuk gelap. Keduanya sama-sama berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, sehingga yang seharusnya terang menjadi tertutup. Setiap kezaliman, dalam bahasa ini, adalah pemadaman.
- Untuk terang dipakai kata yang berarti "setiap kali", menandai sesuatu yang datang berulang-ulang; untuk gelap dipakai kata yang lebih biasa. Kesempatan disebut sebagai sesuatu yang berkali-kali datang, bukan sekali lewat. Yang terlewat hari ini masih mungkin datang lagi, dan justru pengulangan itu yang membuat pengabaiannya lebih sulit dimaafkan.
- Penghilangan pendengaran dan penglihatan mereka disebutkan sebagai pengandaian, bukan sebagai sesuatu yang sudah berlangsung. Berbeda dari perumpamaan sebelumnya, di mana cahaya sudah benar-benar diambil. Selama masih berupa pengandaian, masih ada yang tersisa untuk dipakai. Dan yang masih tersisa selalu punya batas waktu yang tidak diberitahukan.
- Kilat yang menerangi jalan mereka disebut hampir menyambar penglihatan. Yang sama-sama datang dari satu sumber bisa menerangi sekaligus membutakan, tergantung seberapa siap mata yang menerimanya. Terang yang datang tiba-tiba kepada mata yang lama berada dalam gelap tidak selalu terasa sebagai pertolongan; kadang ia terasa seperti serangan.