يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali ia menyinari mereka, mereka berjalan di dalamnya, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْyakaadu l-barqu yakhthafu abshaarahumhampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka
  2. كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُواkullamaa adhaa'a lahum masyaw fiihi wa-idzaa azhlama 'alayhim qaamuusetiap kali ia menyinari mereka, mereka berjalan di dalamnya, dan apabila gelap menimpa mereka, mereka berhenti
  3. وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْwa-law syaa'a llaahu la-dzahaba bi-sam'ihim wa-abshaarihimsekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka
  4. إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌinna llaaha 'alaa kulli syay'in qadiirunsesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu

Terjemahan per kata (25 kata)

  1. يَكَادُyakaaduhampir
  2. الْبَرْقُl-barqukilat
  3. يَخْطَفُyakhthafumenyambar
  4. أَبْصَارَهُمْabshaarahumpenglihatan mereka
  5. كُلَّمَاkullamaasetiap kali
  6. أَضَاءَadhaa'aia menerangi
  7. لَهُمْlahumkepada mereka
  8. مَشَوْاmasyawmereka berjalan
  9. فِيهِfiihidi dalamnya
  10. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  11. أَظْلَمَazhlamagelap
  12. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  13. قَامُواqaamuumereka berdiri
  14. وَلَوْwa-lawdan sekiranya
  15. شَاءَsyaa'amenghendaki
  16. اللَّهُllaahuAllah
  17. لَذَهَبَla-dzahabaniscaya pergi
  18. بِسَمْعِهِمْbi-sam'ihimdengan pendengaran mereka
  19. وَأَبْصَارِهِمْwa-abshaarihimdan penglihatan mereka
  20. إِنَّinnasesungguhnya
  21. اللَّهَllaahaAllah
  22. عَلَىٰ'alaaatas
  23. كُلِّkullisegala
  24. شَيْءٍsyay'insesuatu
  25. قَدِيرٌqadiirunberkuasa

Inti bacaan

Bergerak hanya saat ada cahaya, berhenti total saat gelap, menggambarkan ketergantungan pada kepastian eksternal untuk bertindak, sebuah pola rapuh. Konkretnya: hidup yang sehat butuh kemampuan melangkah bahkan di tengah ketidakpastian (kegelapan), bukan menunggu kejelasan sempurna sebelum bergerak sedikit pun.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menutup perumpamaan hujan badai dengan gambaran yang bergerak: terang dan gelap datang bergantian, dan langkah mereka mengikuti pergantian itu.

Dua bagian itu memakai kata sambung yang berbeda. Untuk terang dipakai kata yang berarti "setiap kali" (كُلَّمَا, kullamaa), yang menandai sesuatu yang berulang-ulang. Untuk gelap dipakai kata yang lebih biasa, "apabila" (وَإِذَا, wa-idzaa). Terang disebut sebagai sesuatu yang datang berkali-kali; gelap disebut begitu saja.

Kata yang dipakai untuk keadaan gelap, "gelap menimpa mereka" (أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ, azhlama 'alayhim), berasal dari akar yang di seluruh Al-Qur'an jauh lebih sering melahirkan kata untuk kezaliman daripada untuk kegelapan. Dari akar yang sama lahir kata "orang yang berbuat aniaya" yang muncul seratus dua puluh sembilan kali, kata kerja "berbuat aniaya" seratus sepuluh kali, dan kata "kezaliman" dua puluh kali, sementara kata untuk kegelapan dari akar itu muncul dua puluh tiga kali. Dalam bahasa Arab, gelap dan aniaya memang satu keluarga kata.

Yang mereka lakukan ketika gelap adalah "mereka berhenti" (قَامُوا, qaamuu). Kata ini berasal dari akar yang sama dengan kata "lurus" dalam permohonan "tunjukilah kami jalan yang lurus" (1:6) dan dengan kata "menegakkan" dalam "menegakkan salat" (2:3). Akar yang melahirkan kata untuk menegakkan dan untuk jalan yang tegak, di sini melahirkan kata untuk berdiri terpaku tanpa melangkah.

Bagian berikutnya adalah pengandaian yang tidak terjadi: "sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka" (وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ, wa-law syaa'a llaahu la-dzahaba bi-sam'ihim wa-abshaarihim). Bentuk kalimatnya menyatakan sesuatu yang bisa saja terjadi tetapi belum terjadi. Ini berbeda dari perumpamaan sebelumnya (2:17), di mana cahaya sudah benar-benar diambil.

Tiga rangkaian dalam ayat ini masing-masing hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan penutupnya, "Allah berkuasa atas segala sesuatu", muncul tiga puluh lima kali.

Ayat ini pun bertumpu pada kata-kata yang tidak berulang. Lima katanya hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an: "kilat" dalam bentuk ini (الْبَرْقُ, l-barqu), "menyambar" (يَخْطَفُ, yakhthafu), "menyinari" (أَضَاءَ, adhaa'a), "mereka berjalan" (مَشَوْا, masyaw), dan "pendengaran mereka" (بِسَمْعِهِمْ, bi-sam'ihim). Bentuk menyinari di sini dan bentuknya di 2:17 sama-sama sekali pakai, jadi dua perumpamaan yang berurutan memakai dua bentuk dari satu kata, dan tidak satu pun dipakai lagi sesudahnya.

Kata "mereka berhenti" (قَامُوا, qaamuu) dipakai juga di tempat lain dengan nada yang jauh berbeda. Di 18:14 ia menggambarkan orang yang hatinya diteguhkan ketika berdiri menyatakan keyakinan. Di 4:142 ia menggambarkan orang yang berdiri untuk salat dengan malas. Di sini ia menggambarkan orang yang berhenti melangkah karena gelap. Satu kata untuk tegak, untuk enggan, dan untuk terpaku.

Tafsiran

Gambaran yang paling hidup dari ayat ini adalah langkah yang mengikuti kedipan cahaya. Ketika terang, mereka berjalan; ketika gelap, mereka berhenti. Seluruh gerak mereka ditentukan oleh sesuatu di luar diri yang datang dan pergi tanpa mereka kendalikan. Berjalan hanya ketika keadaan mengizinkan bukanlah perjalanan; itu hanya reaksi terhadap keadaan.

Kata yang dipakai untuk berhenti itu berasal dari akar yang sama dengan kata untuk menegakkan dan untuk jalan yang tegak. Ada ironi yang tersimpan di sana: akar yang sama bisa melahirkan tegak yang berarti kokoh, dan tegak yang berarti mematung. Perbedaannya bukan pada berdirinya, melainkan pada apakah berdiri itu untuk menopang sesuatu atau sekadar karena tidak tahu harus ke mana.

Dan gelap yang membuat mereka berhenti berasal dari akar yang di seluruh Al-Qur'an lebih sering berarti aniaya. Bahasa Arab menempatkan kegelapan dan kezaliman dalam satu keluarga kata, dan pertemuan itu bukan kebetulan bunyi: keduanya sama-sama berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, sehingga yang seharusnya terang menjadi tertutup.

Namun ayat ini tidak ditutup seperti perumpamaan sebelumnya. Di sana cahaya sudah diambil; di sini penghilangan pendengaran dan penglihatan masih berupa pengandaian yang belum terjadi. Kalimat itu menyatakan bahwa hal itu mungkin, bukan bahwa hal itu sudah berlangsung. Selama masih berupa pengandaian, masih ada yang tersisa untuk dipakai, dan masih ada waktu untuk memakainya.

Renungan dan Hikmah

  • Ketika terang, mereka berjalan; ketika gelap, mereka berhenti. Seluruh gerak mereka ditentukan oleh sesuatu di luar diri yang datang dan pergi tanpa mereka kendalikan. Berjalan hanya ketika keadaan mengizinkan bukanlah perjalanan, melainkan reaksi terhadap keadaan. Perjalanan yang sebenarnya diuji justru pada bagian yang gelap, ketika tidak ada yang menuntun selain arah yang sudah dipilih sebelumnya. Apakah berhenti ketika gelap itu salah? Berhenti karena tidak melihat adalah kehati-hatian yang wajar. Yang digambarkan ayat ini bukan itu, melainkan pola yang berulang tanpa perubahan apa pun: setiap kali terang, jalan; setiap kali gelap, berhenti. Tak ada satu pun tanda bahwa mereka mencoba mengingat arah, menandai jalan, atau menyiapkan diri untuk gelap berikutnya. Yang dinilai bukan berhentinya, melainkan tidak adanya kemajuan di antara dua terang.
  • Kata untuk berhenti di ayat ini berakar sama dengan kata untuk menegakkan dan untuk jalan yang tegak. Akar yang sama melahirkan tegak yang berarti kokoh menopang, dan tegak yang berarti mematung tak tahu arah. Perbedaannya bukan pada berdirinya, melainkan pada apakah berdiri itu menopang sesuatu atau sekadar karena tidak tahu harus ke mana melangkah.
  • Kata untuk gelap di ayat ini berakar sama dengan kata untuk kezaliman, dan di seluruh Al-Qur'an akar itu jauh lebih sering melahirkan kata untuk aniaya daripada untuk gelap. Keduanya sama-sama berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, sehingga yang seharusnya terang menjadi tertutup. Setiap kezaliman, dalam bahasa ini, adalah pemadaman.
  • Untuk terang dipakai kata yang berarti "setiap kali", menandai sesuatu yang datang berulang-ulang; untuk gelap dipakai kata yang lebih biasa. Kesempatan disebut sebagai sesuatu yang berkali-kali datang, bukan sekali lewat. Yang terlewat hari ini masih mungkin datang lagi, dan justru pengulangan itu yang membuat pengabaiannya lebih sulit dimaafkan.
  • Penghilangan pendengaran dan penglihatan mereka disebutkan sebagai pengandaian, bukan sebagai sesuatu yang sudah berlangsung. Berbeda dari perumpamaan sebelumnya, di mana cahaya sudah benar-benar diambil. Selama masih berupa pengandaian, masih ada yang tersisa untuk dipakai. Dan yang masih tersisa selalu punya batas waktu yang tidak diberitahukan. Pengandaian itu juga menyiratkan sesuatu tentang keadaan mereka sekarang. Kalau pendengaran dan penglihatan mereka masih ada, dan hilangnya baru disebut sebagai kemungkinan, maka alat untuk kembali belum diambil. Perumpamaan pertama ditutup dengan kehilangan yang sudah terjadi; yang kedua ditutup dengan kuasa yang belum dipakai.
  • Kilat yang menerangi jalan mereka disebut hampir menyambar penglihatan. Yang sama-sama datang dari satu sumber bisa menerangi sekaligus membutakan, tergantung seberapa siap mata yang menerimanya. Terang yang datang tiba-tiba kepada mata yang lama berada dalam gelap tidak selalu terasa sebagai pertolongan; kadang ia terasa seperti serangan. Kata kerja untuk menyambar itu (يَخْطَفُ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Ia berarti merampas dengan cepat, mengambil dalam sekejap sebelum sempat ditahan. Yang dipakai untuk menerangi jalan mereka ternyata kata yang sama yang hampir merampas penglihatan mereka.