الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dia yang menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan menurunkan air dari langit, lalu menghasilkan dengannya buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Maka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْalladzii ja'ala lakumu l-ardha firaasyan wa-s-samaa'a binaa'an wa-anzala mina s-samaa'i maa'an fa-akhraja bihi mina ts-tsamaraati rizqan lakumDia yang menjadikan bagi kalian bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, dan menurunkan air dari langit, lalu menghasilkan dengannya buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian
  2. فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَfa-laa taj'aluu li-llaahi andaadan wa-antum ta'lamuunamaka janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. الَّذِيalladziiyang
  2. جَعَلَja'alamenjadikan
  3. لَكُمُlakumubagi kalian
  4. الْأَرْضَl-ardhabumi
  5. فِرَاشًاfiraasyanhamparan
  6. وَالسَّمَاءَwa-s-samaa'adan langit
  7. بِنَاءًbinaa'anbangunan
  8. وَأَنْزَلَwa-anzaladan menurunkan
  9. مِنَminadari
  10. السَّمَاءِs-samaa'ilangit
  11. مَاءًmaa'anair
  12. فَأَخْرَجَfa-akhrajalalu mengeluarkan
  13. بِهِbihidengannya
  14. مِنَminadari
  15. الثَّمَرَاتِts-tsamaraatibuah-buahan
  16. رِزْقًاrizqanrezeki
  17. لَكُمْlakumbagi kalian
  18. فَلَاfa-laamaka janganlah
  19. تَجْعَلُواtaj'aluukalian menjadikan
  20. لِلَّهِli-llaahibagi Allah
  21. أَنْدَادًاandaadantandingan-tandingan
  22. وَأَنْتُمْwa-antumpadahal kalian
  23. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Ciptaan (bumi sebagai hamparan, langit, hujan, buah-buahan) disebut sebagai bukti sebelum larangan menyekutukan Allah diberikan, urutan yang penting: perintah/larangan yang masuk akal dibangun di atas bukti yang bisa diperiksa, bukan sekadar otoritas. Konkretnya: keimanan yang sehat mengundang refleksi atas sistem-penopang-hidup yang kita nikmati setiap hari (udara, air, pangan) sebagai dasar rasa syukur harian, bukan sesuatu yang dianggap otomatis.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini melanjutkan kalimat dari ayat sebelumnya, menjelaskan siapa Tuhan yang diseru untuk diabdi, lalu menutup dengan sebuah larangan.

Yang paling menentukan dalam ayat ini adalah satu kata kerja yang dipakai dua kali dengan arah yang berlawanan. Di awal disebut "Dia yang menjadikan bagi kalian" (الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ, alladzii ja'ala lakumu), dan di akhir disebut "janganlah kalian mengadakan bagi Allah" (فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ, fa-laa taj'aluu lillaahi). Kata kerjanya sama persis; yang bertukar hanyalah siapa pelakunya dan untuk siapa perbuatan itu dilakukan. Dia menjadikan sesuatu untuk kalian; kalian dilarang menjadikan sesuatu untuk Dia.

Empat hal disebut sebagai apa yang telah dijadikan: bumi sebagai hamparan, langit sebagai bangunan, air yang diturunkan, dan buah yang dihasilkan. Susunannya bergerak dari yang paling tetap menuju yang paling bisa dinikmati langsung: tempat berpijak, atap di atasnya, air yang turun, lalu makanan yang tumbuh. Rangkaian "bumi sebagai hamparan" (الْأَرْضَ فِرَاشًا, l-ardha firaasyan) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan "langit sebagai bangunan" muncul dua kali (2:22 dan 40:64).

Larangannya baru datang setelah keempat bukti itu disebutkan. Yang dilarang adalah mengadakan "tandingan-tandingan" (أَنْدَادًا, andaadan), sebuah kata yang muncul enam kali di Al-Qur'an (2:22, 2:165, 14:30, 34:33, 39:8, 41:9). Seluruh rangkaian larangan ini hanya muncul satu kali.

Penutupnya, "padahal kalian mengetahui" (وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ, wa-antum ta'lamuuna), muncul lima kali di Al-Qur'an (2:22, 2:42, 2:188, 3:71, 8:27) dan merupakan kebalikan langsung dari penutup 2:13, "tetapi mereka tidak tahu". Dalam surah yang sama, dua kelompok dibedakan bukan oleh perbuatannya melainkan oleh pengetahuannya: yang satu digambarkan tidak tahu, yang lain dinyatakan tahu.

Kata "langit" disebut dua kali dalam ayat ini, dan dua kali itu memberinya dua peran. Pertama ia sesuatu yang dibangun di atas, kedua ia tempat air diturunkan dari. Yang ada di atas kepala bukan hanya atap yang menutupi, melainkan juga jalan turunnya yang menghidupi.

Kata "rezeki" (رِزْقًا, rizqan) di sini juga disebut sebagai hasil, bukan sebagai pemberian yang langsung jadi. Ia keluar lewat rangkaian: air diturunkan, buah dikeluarkan, barulah disebut rezeki. Urutan itu menempatkannya di ujung sebuah proses, bukan di awalnya.

Penutupnya, "padahal kalian mengetahui", mengikat ayat ini dengan larangan lain di surah yang sama. Di 2:42 larangan yang berbeda ditutup dengan kalimat yang sama persis, dan di sana yang dilarang adalah mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan lalu menyembunyikannya. Dua larangan, dua perbuatan yang tidak serupa, satu keberatan yang sama: bukan karena tidak tahu.

Tafsiran

Susunan ayat ini menyerupai sebuah alasan yang disampaikan sebelum permintaan. Empat hal disebutkan lebih dulu, semuanya bisa dilihat dan dialami siapa saja tanpa perlu menerima klaim apa pun: bumi yang dipijak, langit di atasnya, air yang turun, makanan yang tumbuh. Baru setelah itu larangannya datang. Yang diminta tidak diletakkan di depan sebagai perintah yang harus diterima; ia diletakkan di belakang sebagai kesimpulan yang ditarik dari apa yang sudah disepakati.

Dan kata kerja yang sama dipakai di kedua ujungnya. Dia menjadikan untuk kalian; kalian jangan menjadikan untuk Dia. Pertukaran ini menyingkap kejanggalan yang tersembunyi dalam setiap penyekutuan: yang menerima justru bertindak seolah ia yang memberi, dan yang bergantung justru mengatur kedudukan tempatnya bergantung.

Kata yang dipakai untuk yang dilarang berarti tandingan atau sesuatu yang disejajarkan. Yang dilarang bukan mengingkari, melainkan menyejajarkan. Ini bentuk penolakan yang jauh lebih halus: tidak ada yang disangkal, hanya ada yang ditambahkan di sampingnya. Dan justru penambahan itulah yang membatalkan, sebab sesuatu yang tidak ada tandingannya berhenti menjadi demikian begitu satu tandingan diakui.

Penutupnya menempatkan seluruh larangan itu dalam terang yang berbeda. Bukan "padahal kalian tidak tahu", melainkan "padahal kalian mengetahui". Beberapa ayat sebelumnya, ketidaktahuan disebut sebagai keadaan yang menutup jalan; di sini pengetahuan disebut sebagai keadaan yang memberatkan. Mengetahui tidak selalu meringankan; kadang ia justru menghapus satu-satunya alasan yang tersisa.

Renungan dan Hikmah

  • Satu kata kerja dipakai dua kali dalam ayat ini: Dia menjadikan untuk kalian, dan kalian jangan menjadikan untuk Dia. Pertukaran ini menyingkap kejanggalan yang tersembunyi dalam setiap penyekutuan: yang menerima bertindak seolah ia yang memberi, dan yang bergantung justru mengatur kedudukan tempatnya bergantung.
  • Empat hal disebutkan lebih dulu, semuanya bisa dilihat dan dialami siapa saja tanpa perlu menerima klaim apa pun. Baru setelah itu larangannya datang. Yang diminta tidak diletakkan di depan sebagai perintah yang harus diterima, melainkan di belakang sebagai kesimpulan yang ditarik dari apa yang sudah disepakati bersama.
  • Yang dilarang adalah mengadakan tandingan, bukan mengingkari. Ini bentuk penolakan yang jauh lebih halus: tidak ada yang disangkal, hanya ada yang ditambahkan di sampingnya. Dan justru penambahan itulah yang membatalkan, sebab sesuatu yang tidak ada tandingannya berhenti menjadi demikian begitu satu tandingan diakui. Kata untuk tandingan itu (أَنْدَادًا) muncul di enam ayat (2:22, 2:165, 14:30, 34:33, 39:8, 41:9), dan dua di antaranya di surah ini. Yang menarik, tak satu pun dari keenamnya menggambarkan orang yang menyangkal Allah. Semuanya menggambarkan orang yang menaruh sesuatu di samping-Nya. Bentuk penolakan yang dibicarakan Al-Qur'an dengan kata ini selalu penambahan, tidak pernah pengurangan.
  • Penutupnya bukan "padahal kalian tidak tahu", melainkan "padahal kalian mengetahui". Beberapa ayat sebelumnya, ketidaktahuan disebut sebagai keadaan yang menutup jalan; di sini pengetahuan disebut sebagai keadaan yang memberatkan. Mengetahui tidak selalu meringankan; kadang ia justru menghapus satu-satunya alasan yang tersisa. Lalu apa gunanya mengetahui kalau pengetahuan itu justru yang memberatkan? Gunanya persis di situ. Peringatan yang ditujukan kepada orang yang tidak tahu masih memerlukan penjelasan lebih dulu; peringatan kepada orang yang sudah tahu cukup berupa pengingatan. Allah menutup ayat ini dengan menyebutkan bahwa bahan untuk menimbang sudah ada di tangan yang diajak bicara, jadi yang tersisa bukan soal keterangan melainkan soal kemauan.
  • Empat hal yang disebut bukan peristiwa luar biasa yang perlu disaksikan sekali seumur hidup: bumi yang dipijak, langit di atas kepala, air yang turun, makanan yang tumbuh. Semuanya dialami setiap hari sampai berhenti terasa sebagai sesuatu. Yang paling sering hadir memang yang paling mudah luput dari perhatian. Dua kata yang dipakai untuk keduanya juga jarang. "Hamparan" (فِرَاشًا) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan kata itu sehari-hari dipakai untuk alas tidur, bukan untuk permukaan tanah. "Atap" (بِنَاءً) muncul dua kali (2:22, 40:64), dan 40:64 memakai pasangan yang sama persis, yaitu bumi sebagai tempat menetap dan langit sebagai bangunan. Yang dipilih untuk menerangkan alam bukan kosakata alam, melainkan kosakata rumah.
  • Urutan keempat hal itu bergerak dari yang paling tetap menuju yang paling langsung dinikmati: tempat berpijak, atap di atasnya, air yang turun, lalu makanan yang tumbuh. Yang paling mudah disyukuri biasanya yang terakhir, sedangkan yang paling mendasar justru yang pertama dan paling jarang diingat. Urutan itu juga bergerak dari yang tidak bisa diminta menuju yang bisa diminta. Tidak ada yang berdoa meminta bumi atau langit, sebab keduanya sudah ada sebelum siapa pun lahir. Buah-buahan diminta setiap musim. Ayat ini menaruh yang biasa diminta di ujung daftar, sesudah dua hal yang tak pernah terpikir untuk diminta, dan susunan itu memperbaiki ukuran orang tentang apa saja yang sebenarnya sudah diberikan.