فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Maka jika kalian tidak melakukannya, dan kalian tidak akan pernah dapat melakukannya, maka jagalah diri kalian dari api yang bahan bakarnya manusia dan batu, disediakan bagi orang-orang yang kufur.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُfa-in lam taf'aluu wa-lan taf'aluu fa-ttaquu n-naara llatii waquuduhaa n-naasu wa-l-hijaaratumaka jika kalian tidak melakukannya, dan kalian tidak akan pernah dapat melakukannya, maka jagalah diri kalian dari api yang bahan bakarnya manusia dan batu
  2. أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَu'iddat li-l-kaafiriinadisediakan bagi orang-orang yang kufur
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini melanjutkan tantangan ayat sebelumnya, dan cara melanjutkannya tidak biasa.

Kalimatnya dibuka dengan pengandaian: “maka jika kalian tidak melakukannya” (فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا, fa-in lam taf'aluu). Sebuah pengandaian biasanya membiarkan kedua kemungkinan tetap terbuka. Tetapi pada napas yang sama, salah satunya ditutup: “dan kalian tidak akan pernah dapat melakukannya” (وَلَنْ تَفْعَلُوا, wa-lan taf'aluu). Kata pengingkaran yang dipakai di sini adalah bentuk yang paling tegas untuk menyangkal sesuatu yang belum terjadi, dan rangkaian dua kata ini hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Tantangan di ayat sebelumnya sudah diringankan sampai takaran yang paling kecil; di sini dinyatakan bahwa takaran yang paling kecil itu pun tidak akan pernah terpenuhi.

Perintah yang menyusul, “maka jagalah diri kalian” (فَاتَّقُوا, fa-ttaquu), berasal dari akar yang arti dasarnya memasang sesuatu di antara diri dan bahaya, yaitu melindungi dan menahan. Akar yang sama melahirkan sebutan yang lazim diterjemahkan “orang-orang yang bertakwa” pada 2:2, ketika Kitab ini disebut petunjuk bagi mereka, dan melahirkan penutup seruan pada 2:21, “agar kalian bertakwa”. Surah ini membuka dengan menyebut siapa yang mengambil manfaat, lalu pada ayat 21 menyebut hal yang sama sebagai tujuan seruan, dan di sini perintahnya sendiri diucapkan. Yang diminta bukan perasaan tertentu terhadap api, melainkan tindakan memasang pelindung.

Api itu diterangkan dengan “yang bahan bakarnya manusia dan batu” (وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ, waquuduhaa n-naasu wa-l-hijaaratu). Rangkaian ini muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 66:6. Di sana perintahnya memakai akar yang sama dengan perintah di ayat ini, dan sekaligus meluas: jagalah diri kalian dan keluarga kalian.

Kata “batu” (وَالْحِجَارَةُ, wa-l-hijaaratu) berasal dari akar yang arti dasarnya menahan, menghalangi, dan melarang; benda itu dinamai batu justru karena ia menolak ditembus. Kata yang sama kembali di surah ini pada 2:74, ketika hati yang mengeras disebut “seperti batu, bahkan lebih keras”, lalu ayat itu menambahkan bahwa di antara batu ada yang darinya memancar sungai, ada yang terbelah lalu keluar air darinya, dan ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dua ayat sebelum ayat ini, pada 2:22, dilarang mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah; pada 21:98 disebutkan bahwa apa yang diabdikan selain Allah ikut menjadi bahan bakar bersama yang mengabdikan diri kepadanya.

Penutupnya, “disediakan bagi orang-orang yang kufur” (أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ, u'iddat li-l-kaafiriina), memakai kata kerja yang menyatakan pekerjaan sudah selesai dikerjakan tanpa menyebut siapa yang mengerjakannya. Kata kerja itu muncul empat kali di seluruh Al-Qur'an: di sini; di 3:131 dengan susunan yang hampir sama persis dengan ayat ini, hanya tanpa keterangan bahan bakarnya; di 3:133, dua ayat sesudahnya, untuk taman yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa; dan di 57:21 untuk taman yang disediakan bagi orang-orang yang beriman. Kata kerja yang sama dipakai untuk kedua tempat, dan keduanya sama-sama disebut sudah disediakan.

Yang perlu diperhatikan, sebutan penerima pada 3:133 itu berasal dari akar yang sama persis dengan perintah di ayat ini. Perintah “jagalah diri kalian” sekaligus menyebutkan nama golongan yang untuknya tempat yang lain telah disediakan.

Tafsiran

Yang paling berani dari ayat ini terletak pada beberapa kata di awalnya. Sebuah pengandaian dibuka, lalu ditutup sendiri sebelum kalimatnya selesai: kalau kalian tidak melakukannya, dan kalian memang tidak akan pernah bisa. Ramalan semacam ini menyerahkan senjata kepada lawannya. Ia bisa digugurkan kapan saja, oleh siapa saja, di abad mana saja, cukup dengan satu bukti tandingan. Menyatakan bahwa lawan tidak akan pernah berhasil adalah cara yang paling cepat untuk kalah, kecuali kalau yang menyatakannya memang tidak sedang menggertak.

Sesudah itu nada kalimatnya berubah. Sampai ayat sebelumnya yang ditawarkan adalah pemeriksaan; mulai di sini yang disebut adalah akibat. Perubahan ini bukan peralihan dari alasan ke ancaman, melainkan urutan yang wajar: sesuatu yang sudah dipersilakan diperiksa dan tidak juga tergugurkan menuntut sikap, dan sikap itulah yang kemudian diperintahkan.

Perintahnya sendiri sering dibaca sebagai perintah merasa takut, padahal kata yang dipakai berbicara tentang memasang pelindung. Perbedaannya besar. Rasa takut adalah keadaan yang bisa datang dan pergi tanpa mengubah apa pun; memasang pelindung adalah pekerjaan yang meninggalkan jejak. Orang bisa sangat takut pada sesuatu selama bertahun-tahun dan tetap tidak mengambil satu langkah pun untuk menjauhinya.

Lalu api itu diterangkan, dan keterangannya bukan tentang panasnya, melainkan tentang apa yang membuatnya menyala: manusia. Yang terbakar bukan sekadar berada di dalamnya, melainkan yang membuatnya tetap hidup. Dan di samping manusia disebut batu, benda yang dinamai justru karena menolak ditembus, kata yang nanti dipakai surah ini untuk hati yang mengeras.

Penutupnya menyebut golongan, bukan nama. “Disediakan bagi orang-orang yang kufur” menerangkan untuk perbuatan yang mana tempat itu disediakan, bukan untuk orang yang mana. Dan di ayat-ayat lain, dengan kata kerja yang sama persis, disebutkan pula tempat lain yang telah disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, sebutan yang berasal dari akar kata perintah di ayat ini. Perintah itu, kalau dikerjakan, sekaligus memindahkan yang mengerjakannya ke golongan yang lain.

Implikasi (9)
  • Sebuah pernyataan yang meramalkan kegagalan lawannya untuk selamanya menyerahkan cara membantahnya kepada siapa pun, kapan pun. Cukup satu bukti tandingan, di abad mana pun, dan ramalan itu runtuh. Di zaman ketika sebuah klaim justru dirawat dengan cara dijauhkan dari pemeriksaan, dan pertanyaan dianggap serangan yang harus dibungkam, pernyataan yang malah memberitahukan cara menjatuhkannya berdiri di tempat yang sama sekali berbeda.
  • Perintahnya berbicara tentang memasang pelindung, bukan tentang perasaan takut. Peringatan tentang bahaya, entah bahaya kesehatan, keuangan, atau lingkungan hidup, sering sangat berhasil menciptakan kecemasan yang meluas tanpa mengubah satu pun kebiasaan. Kecemasan terasa seperti tanggapan, padahal ia belum tentu satu langkah pun. Yang diminta di sini adalah sesuatu yang meninggalkan jejak, bukan sesuatu yang cukup dirasakan.
  • Api itu diterangkan lewat apa yang membuatnya menyala, dan yang disebut lebih dulu adalah manusia. Yang terbakar bukan sekadar berada di dalam, melainkan yang membuat api itu terus hidup. Ada tatanan, kebiasaan, dan cara hidup yang bekerja persis seperti itu: ia menyala hanya selama ada yang bersedia menjadi bahan bakarnya, dan mereka yang paling habis di dalamnya biasanya justru mereka yang paling rajin menyalakannya.
  • Kata “batu” berasal dari akar yang berarti menahan dan menghalangi; benda itu dinamai justru karena menolak ditembus. Surah ini kemudian memakai kata yang sama untuk hati yang mengeras, lalu buru-buru menambahkan bahwa di antara batu ada yang terbelah dan mengeluarkan air, bahkan ada yang jatuh karena takut kepada Allah. Di dalam perumpamaan yang paling keras sekalipun, kemungkinan retak itu tetap ikut disebut.
  • Kata kerja yang sama, dalam bentuk pekerjaan yang sudah selesai, dipakai untuk kedua tempat itu. Yang belum selesai bukanlah persiapannya, melainkan siapa yang menuju ke mana. Persoalannya tidak pernah pintu mana yang tersedia; persoalannya arah langkah yang sedang diambil hari ini.
  • Perintah di ayat ini memakai akar kata yang sama dengan sebutan golongan yang untuknya tempat yang lain telah disediakan. Jalan keluarnya tidak disembunyikan di ayat lain atau di syarat yang tidak diucapkan; ia terletak di dalam kalimat peringatannya sendiri. Peringatan yang memuat jalan keluarnya bukan peringatan yang sedang mencari korban.
  • Penutupnya menyebutkan golongan yang ditandai oleh perbuatan, bukan daftar nama. Kecenderungan yang paling mudah adalah membalik urutan itu: menetapkan orangnya lebih dulu, lalu mencari perbuatan yang cocok untuk membenarkan penetapan tadi. Selama masih ada ajakan, tantangan, dan perintah yang ditujukan kepada mereka, yang sedang berlangsung belum pembacaan putusan.
  • Keterangan tentang api yang sama muncul sekali lagi di tempat lain, dan di sana perintah menjaga diri melebar: jagalah diri kalian dan keluarga kalian. Menjaga diri ternyata tidak berhenti di kulit sendiri. Di masa ketika perhatian orang tua paling banyak tersita oleh nilai sekolah, jenjang karier, dan keamanan keuangan anak-anaknya, perluasan itu menunjuk ke arah yang jarang sempat masuk daftar.
  • Ayat sebelumnya menawarkan pemeriksaan; ayat ini menyebut akibat. Di antara keduanya terbentang jarak yang paling sering dipakai untuk menghindar: selama sebuah persoalan masih bisa didiskusikan, ia belum perlu ditanggung. Perdebatan yang dijaga agar tidak pernah selesai adalah cara yang sangat halus untuk tidak pernah sampai pada langkah.