إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ

Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa seekor nyamuk, atau apa pun yang lebih dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhan mereka. Akan tetapi, orang-orang yang kufur berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” Dengan itu banyak orang yang disesatkan-Nya, dan dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Namun, tidak ada yang Dia sesatkan dengannya, selain orang-orang fasik,

Terjemahan bertahap (5 jeda)
  1. إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَاinna llaaha laa yastahyii an yadriba matsalan maa ba'uudatan fa-maa fawqahaasesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa seekor nyamuk, atau apa pun yang lebih dari itu
  2. فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْfa-ammaa lladziina aamanuu fa-ya'lamuuna annahu l-haqqu min rabbihimadapun orang-orang yang beriman, mereka mengetahui bahwa itu kebenaran dari Tuhan mereka
  3. وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًاwa-ammaa lladziina kafaruu fa-yaquuluuna maadzaa araada llaahu bi-haadzaa matsalanakan tetapi orang-orang yang kufur berkata, apa maksud Allah dengan perumpamaan ini
  4. يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًاyudillu bihi katsiiran wa-yahdii bihi katsiirandengan itu banyak orang yang disesatkan-Nya, dan dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk
  5. وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَwa-maa yudillu bihi illaa l-faasiqiinanamun tidak ada yang Dia sesatkan dengannya, selain orang-orang fasik
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini datang tepat sesudah rentetan perumpamaan: api yang dinyalakan lalu padam, hujan lebat dengan gelap, guruh, dan kilat, kemudian api dan taman di dua ayat sebelumnya. Yang dijawab di sini adalah keberatan terhadap perumpamaan itu sendiri.

Kata yang dipakai untuk menyangkal keberatan itu, “tidak segan” (لَا يَسْتَحْيِي, laa yastahyii), berasal dari akar yang sama dengan kata untuk hidup. Bentuk kata ini muncul sepuluh kali di seluruh Al-Qur'an dan memuat dua arti yang berbeda. Enam kali artinya membiarkan hidup, tidak membinasakan, termasuk di surah ini sendiri pada 2:49. Empat kali artinya merasa malu, dan lebih khusus lagi: enggan menyentuh sesuatu karena menganggapnya terlalu rendah. Arti yang kedua inilah yang berlaku di sini, dan pilihan katanya mengenai persis keberatan yang sedang dijawab. Yang disangkal bukan ketakutan, melainkan anggapan bahwa ada hal yang terlalu remeh untuk disebut.

Membuat perumpamaan dinyatakan dengan kata kerja yang arti dasarnya memukul: “memukulkan sebuah perumpamaan” (أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا, an yadriba matsalan). Kata “perumpamaan” muncul delapan puluh delapan kali di seluruh Al-Qur'an, dan sesudahnya di sini ditambahkan sebuah kata penegas (مَثَلًا مَا, matsalan maa) yang membuatnya berbunyi: perumpamaan apa pun juga, tanpa kecuali.

Yang dijadikan contoh adalah “seekor nyamuk” (بَعُوضَةً, ba'uudatan), kata yang hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Contohnya sendiri sudah menjadi jawaban: kalimat yang menyangkal adanya hal yang terlalu remeh dibuktikan dengan memakai hal yang paling remeh.

Bagian berikutnya, “atau apa pun yang lebih dari itu” (فَمَا فَوْقَهَا, fa-maa fawqahaa), perlu diterangkan karena terjemahannya berbeda-beda. Sebagian pembaca menerjemahkannya “atau yang lebih kecil daripada itu”, dengan alasan arahnya mengikuti kecilnya nyamuk. Tetapi kata “di atas” yang dipakai di sini muncul di tiga puluh sembilan ayat, dan di seluruhnya berarti di atas, lebih tinggi, lebih banyak, atau lebih unggul: gunung diangkat di atas mereka (2:63), “lebih dari dua” (4:11), “di atas setiap pemilik pengetahuan ada yang lebih mengetahui” (12:76), “azab di atas azab” (16:88). Tidak satu pun berarti lebih kecil. Yang dipakai di sini adalah arti yang didukung seluruh pemakaian kata itu: nyamuk disebut sebagai batas yang paling bawah, dan segala yang di atasnya ikut tercakup dengan sendirinya.

Sesudah itu kalimatnya bercabang dua, dan yang membelah bukan perumpamaannya melainkan tanggapan atasnya. Cabang pertama: “mereka mengetahui” (فَيَعْلَمُونَ, fa-ya'lamuuna). Cabang kedua: “mereka berkata” (فَيَقُولُونَ, fa-yaquuluuna). Yang satu digambarkan dengan pekerjaan yang berlangsung di dalam, yang lain dengan pekerjaan yang keluar sebagai suara.

“Dengan itu banyak orang yang disesatkan-Nya, dan dengan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk” (يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا, yudillu bihi katsiiran wa-yahdii bihi katsiiran). Kata “dengan itu” diulang, dan yang dirujuknya sama persis pada kedua belahnya. Bahan yang satu, hasilnya dua, dan jumlah yang disebut untuk keduanya juga sama: banyak.

Penutupnya memasang batas atas kalimat sebelumnya: “dan tidak ada yang Dia sesatkan dengannya, selain orang-orang fasik” (وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ, wa-maa yudillu bihi illaa l-faasiqiina). Kata “orang-orang fasik” (الْفَاسِقِينَ, l-faasiqiina) dalam bentuk ini muncul sebelas kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti keluar dari pembungkusnya: kurma masak yang keluar dari kulitnya disebut dengan kata kerja ini. Yang ditunjuk bukan orang yang tidak tahu batas, melainkan yang sudah keluar dari batas yang diketahuinya.

Tafsiran

Keberatan yang dijawab ayat ini bukan keberatan terhadap isi, melainkan terhadap ukuran. Bukan “ini tidak benar”, melainkan “masa hal sekecil itu?”. Dan kata yang dipakai untuk menyangkalnya sangat tepat sasaran. Kata itu bukan kata untuk takut, melainkan kata untuk enggan menyentuh sesuatu karena merasa hal itu terlalu rendah. Keberatan semacam itu memang tidak pernah benar-benar tentang yang kecil; ia tentang kedudukan yang merasa dirugikan bila harus berurusan dengan yang kecil.

Jawabannya diberikan bukan dengan bantahan, melainkan dengan melakukannya lagi. Kalimat yang menyangkal bahwa ada hal terlalu remeh untuk disebut justru memakai hal yang paling remeh sebagai contohnya, dan kata yang dipakai untuk hewan itu tidak muncul di tempat lain mana pun. Sekali dipakai, dan sekali itu untuk membuktikan bahwa sekali pun sudah cukup.

Lalu kalimatnya bercabang, dan cabangnya bukan dua macam perumpamaan, melainkan dua macam pembaca. Bahan yang sampai kepada keduanya sama persis. Yang berbeda adalah apa yang mereka bawa ketika mendatanginya. Satu golongan digambarkan mengetahui, satu golongan digambarkan berkata. Yang pertama berlangsung di dalam tanpa perlu terdengar; yang kedua berbentuk pertanyaan yang, dilihat dari susunannya, tidak sedang menunggu jawaban.

Kalimat berikutnya sering terasa berat: satu hal yang sama menyesatkan banyak orang dan menuntun banyak orang. Tetapi kalimat itu tidak dibiarkan berdiri sendiri. Ayat ini menutup dengan memasang batasnya sendiri: yang tersesat karenanya hanyalah mereka yang memang sudah keluar dari batas. Perumpamaan itu tidak menciptakan arah baru bagi siapa pun; ia menampakkan arah yang sudah diambil.

Dan kata terakhirnya menyimpan gambaran yang tajam. Akarnya dipakai untuk kurma masak yang terlepas keluar dari kulitnya sendiri. Yang digambarkan bukan orang asing yang menyerang dari luar, melainkan sesuatu yang keluar dari pembungkus yang seharusnya memuatnya. Kerusakan yang dibicarakan datang dari arah dalam.

Implikasi (10)
  • Keberatan yang dijawab di sini bukan “ini keliru”, melainkan “masa hal sekecil itu?”. Anggapan bahwa kebenaran besar mesti datang dalam kemasan besar bertahan sangat lama dan sangat rapi. Gagasan dinilai dari ukuran panggungnya, nama yang membawanya, dan kemegahan cara menyajikannya, sementara hal yang menentukan sering datang dalam bentuk yang tidak sempat dianggap layak diperhatikan.
  • Kata yang dipakai bukan kata untuk takut, melainkan kata untuk enggan menyentuh sesuatu karena menganggapnya terlalu rendah. Keengganan semacam itu jarang berasal dari ketidakmampuan. Ia berasal dari kedudukan yang merasa akan turun harganya bila terlihat mengurus perkara kecil, dan justru di situlah biasanya banyak hal penting mulai terbengkalai.
  • Bentuk kata yang sama, di enam tempat lain, berarti membiarkan hidup dan tidak membinasakan; salah satunya berada di surah yang sama. Satu bentuk kata memuat dua sikap yang bisa diambil terhadap sesuatu yang lemah: merasa terlalu tinggi untuk berurusan dengannya, atau menahan diri dari membinasakannya. Bahasa meletakkan dua sikap itu berdekatan jauh sebelum siapa pun memikirkannya.
  • Sangkalan atas keberatan itu tidak disampaikan sebagai bantahan, melainkan dengan melakukannya sekali lagi di kalimat yang sama. Kalimat yang menolak anggapan bahwa ada hal terlalu remeh untuk disebut justru memakai hal paling remeh sebagai contohnya. Sebuah pendirian yang dijalankan di kalimat yang menyatakannya tidak lagi memerlukan pembelaan terpisah.
  • Yang membelah kedua golongan bukan perumpamaannya, melainkan apa yang mereka bawa ketika mendatanginya. Dua orang membaca kalimat yang sama dan keluar dengan dua kesimpulan yang berlawanan setiap hari, dan yang berbeda hampir tidak pernah bahan bacaannya. Bahan yang sama ternyata bekerja seperti cermin lebih daripada seperti pelajaran.
  • Satu golongan digambarkan mengetahui, golongan yang lain digambarkan berkata. Yang pertama berlangsung tanpa perlu terdengar siapa pun; yang kedua langsung keluar sebagai suara, dalam bentuk pertanyaan yang sebenarnya tidak sedang menunggu jawaban. Pertanyaan yang diajukan untuk menunjukkan sikap dan pertanyaan yang diajukan untuk mencari jawaban terdengar mirip, dan bisa dibedakan dari apakah penanya masih ada ketika jawabannya datang.
  • Bahan yang satu disebut menyesatkan banyak orang dan menuntun banyak orang, dengan kata penghubung yang sama persis pada kedua belahnya. Hal ini bukan keanehan yang jauh dari pengalaman sehari-hari: perangkat yang sama, dan keterangan yang sama, setiap hari membuat sebagian orang lebih paham dan sebagian lain lebih jauh tersesat. Yang menentukan bukan alatnya.
  • Kalimat yang terasa paling berat di ayat ini tidak dibiarkan berdiri sendirian. Ayat ini menutup dengan memasang batas atas kalimatnya sendiri: yang tersesat karenanya hanyalah mereka yang memang sudah keluar dari batas. Sebuah pernyataan yang menyertakan batasnya sendiri jauh lebih sulit disalahgunakan daripada pernyataan yang dibiarkan terbuka lebar untuk ditafsirkan sesuka hati.
  • Akar kata terakhir ayat ini dipakai untuk kurma masak yang terlepas keluar dari kulitnya sendiri. Yang digambarkan bukan serangan dari luar, melainkan sesuatu yang keluar dari pembungkus yang seharusnya menahannya. Rusaknya sebuah rumah tangga, sebuah lembaga, atau sebuah negeri hampir selalu dimulai dari arah itu, dan hampir selalu lebih dulu terlihat oleh yang berada di luar.
  • Satu kata di ayat ini dibaca ke dua arah yang berlawanan oleh para penerjemahnya, dan cara memutuskannya tersedia di dalam teks itu sendiri: kumpulkan seluruh tempat kata itu dipakai, lalu lihat ke arah mana ia selalu menunjuk. Kesan sesaat tentang apa yang “terasa cocok” hampir selalu lebih cepat sampai daripada pemeriksaan seperti itu, dan hampir selalu lebih sulit diluruskan setelah cukup lama diulang.