كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Bagaimana kalian menjadi kufur kepada Allah, padahal kalian dahulu mati, lalu Dia menghidupkan kalian? Kemudian Dia mematikan kalian, kemudian Dia menghidupkan kalian lagi, kemudian kepada-Nya kalian dikembalikan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْkayfa takfuruuna billaahi wa-kuntum amwaatan fa-ahyaakumbagaimana kalian menjadi kufur kepada Allah, padahal kalian dahulu mati, lalu Dia menghidupkan kalian
  2. ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَtsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum tsumma ilayhi turja'uunakemudian Dia mematikan kalian, kemudian Dia menghidupkan kalian lagi, kemudian kepada-Nya kalian dikembalikan
Penjelasan pilihan kata

Sesudah ayat sebelumnya menyebutkan tiga perbuatan mereka, ayat ini berbalik dan berbicara langsung kepada mereka dalam bentuk pertanyaan.

Kata tanya yang dipakai, “bagaimana” (كَيْفَ تَكْفُرُونَ, kayfa takfuruuna), menanyakan cara, bukan sebab. Yang ditanyakan bukan apa alasannya, melainkan bagaimana hal itu bisa dilakukan sama sekali. Pembuka ini hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 3:101. Di sana yang disodorkan sebagai bahan pertanyaan adalah tanda-tanda Allah yang dibacakan kepada mereka; di sini yang disodorkan adalah riwayat hidup mereka sendiri.

Kata kerjanya (تَكْفُرُونَ, takfuruuna) berasal dari akar yang arti dasarnya menutupi. Akar itu sudah muncul tiga kali dalam lima ayat terakhir, dan yang tertutup di sini bukan sebuah ajaran, melainkan urutan kejadian yang dialami sendiri oleh yang ditanya.

Keterangan keadaannya berbunyi “padahal kalian dahulu mati” (وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا, wa-kuntum amwaatan), rangkaian yang hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Keadaan asal yang disebutkan bukan ketiadaan, melainkan kematian. Lalu menyusul “kemudian Dia menghidupkan kalian” (فَأَحْيَاكُمْ, fa-ahyaakum), dari akar yang sama dengan kata pembuka di 2:26 dua ayat sebelumnya.

Ayat ini menyusun lima tahap berurutan: mati, dihidupkan, dimatikan, dihidupkan lagi, lalu dikembalikan. Hitungan yang terkandung di dalamnya diucapkan secara terbuka di 40:11, ketika sebuah pengakuan berbunyi “Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali”. Dua kematian dan dua kehidupan, persis seperti yang tersusun di sini.

Rangkaian “kemudian Dia mematikan kalian, kemudian Dia menghidupkan kalian” (ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ, tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an: di sini, di 22:66, dan di 30:40. Hanya di sini urutannya dimulai dari keadaan mati. Di 22:66 dimulai dari hidup, dan di 30:40 dimulai dari penciptaan lalu rezeki. Yang menarik, 22:66 memakai rangkaian yang sama lalu menutupnya dengan kata dari akar yang sama dengan kata kerja di ayat ini: “sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat kufur”. Di sana akar itu berdiri di akhir sebagai penilaian; di sini ia berdiri di awal sebagai pertanyaan.

Penutupnya, “kemudian kepada-Nya kalian dikembalikan” (إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, ilayhi turja'uuna), muncul di tiga belas ayat. Bentuk katanya (تُرْجَعُونَ, turja'uuna) menyatakan dikembalikan, bukan kembali atas kehendak sendiri.

Perlu diperhatikan bahwa seluruh kata kerja yang menyangkut mereka di ayat ini berbentuk menerima: dihidupkan, dimatikan, dihidupkan lagi, dikembalikan. Satu-satunya perbuatan yang mereka kerjakan sendiri adalah kata kerja di awal pertanyaan itu, yaitu menutupi.

Tafsiran

Bentuk pertanyaannya sudah menentukan nada seluruh ayat. Yang ditanyakan bukan mengapa, melainkan bagaimana. Pertanyaan tentang alasan biasanya masih bisa dijawab, sebab alasan selalu tersedia bagi siapa pun yang mencarinya. Pertanyaan tentang cara jauh lebih sukar dijawab, karena ia menuntut ditunjukkannya jalan yang sebenarnya tidak ada.

Bahan yang dipakai untuk bertanya juga bukan bahan yang jauh. Bukan susunan langit, bukan pergantian musim, bukan pula tanda-tanda yang perlu diperhatikan dengan saksama. Yang disodorkan adalah riwayat hidup orang yang ditanya. Bukti yang paling dekat biasanya justru yang paling luput, karena terlalu akrab untuk sempat dihitung sebagai bukti.

Titik berangkat yang disebutkan pun tidak biasa. Keadaan asal manusia dinyatakan bukan sebagai ketiadaan, melainkan sebagai kematian. Perbedaannya besar. Yang tiada tidak berada dalam keadaan apa pun; yang mati berada dalam keadaan tertentu, dan keadaan itu berada di tangan pihak lain. Kalimat itu menempatkan pembacanya sudah berada di dalam sebuah urusan bahkan sebelum ia sanggup menyadari bahwa ia ada.

Susunan katanya kemudian menegaskan hal yang sama dengan cara lain. Dari lima hal yang disebut di ayat ini, empat dikerjakan atas mereka dan hanya satu yang mereka kerjakan sendiri. Dan yang satu itu adalah perbuatan menutupi keempat lainnya. Seluruh riwayat hidup diterima, dan satu-satunya sumbangan yang murni sendiri adalah menyangkal bahwa riwayat itu ada yang memberikan.

Dari lima tahap itu, satu sudah lewat tanpa disaksikan siapa pun, satu sedang dijalani, dan tiga belum tiba. Namun seluruhnya disebutkan dengan nada yang sama, seakan-akan semuanya sama pastinya. Dan yang paling menarik: kalimat ini berbentuk pertanyaan, bukan vonis. Rangkaian yang sama di tempat lain ditutup dengan penilaian tentang manusia; di sini ia dibuka dengan pertanyaan. Sebuah pertanyaan, betapapun tajamnya, masih mengandaikan ada yang diharapkan menjawab.

Implikasi (9)
  • Yang ditanyakan bukan mengapa, melainkan bagaimana. Perbedaannya menentukan. Sikap yang ditanya alasannya hampir selalu sanggup menyediakan alasan, dan biasanya alasan yang terdengar masuk akal. Sikap yang ditanya caranya sering tidak punya apa-apa untuk ditunjukkan, dan justru di situ ia mulai terlihat apa adanya.
  • Bahan yang dipakai untuk bertanya bukan susunan langit atau pergantian musim, melainkan riwayat hidup orang yang ditanya. Pencarian bukti biasanya berjalan menjauh, ke tempat-tempat yang lebih megah dan lebih sukar dijangkau, sementara yang paling dekat dilewati begitu saja karena terlalu akrab untuk sempat dihitung sebagai bukti.
  • Titik berangkat yang disebutkan bukan ketiadaan, melainkan kematian. Yang tiada tidak berada dalam keadaan apa pun; yang mati berada dalam suatu keadaan, dan keadaan itu ada di tangan pihak lain. Setiap orang sudah berada di dalam sebuah urusan jauh sebelum sanggup menyadari bahwa ia ada, dan tidak seorang pun pernah diminta persetujuannya untuk dimulai.
  • Dari lima hal yang disebut, empat dikerjakan atas mereka dan hanya satu yang mereka kerjakan sendiri. Dan yang satu itu adalah perbuatan menutupi keempat yang lain. Seluruh riwayat hidup diterima, dan satu-satunya sumbangan yang benar-benar milik sendiri ternyata berupa penyangkalan bahwa riwayat itu ada yang memberikan.
  • Akar kata kerjanya berarti menutupi, dan yang tertutup di sini bukan sebuah ajaran yang datang dari luar, melainkan urutan kejadian yang dialami sendiri. Menolak sebuah gagasan cukup memerlukan alasan; menutupi apa yang sudah dijalani sendiri memerlukan sesuatu yang lain, dan biasanya memerlukan pengulangan yang terus-menerus agar tetap tertutup.
  • Kata terakhirnya menyatakan dikembalikan, bukan kembali atas kehendak sendiri. Kepulangan yang tidak memerlukan persetujuan yang pulang, dan tidak menunggu ia merasa siap. Banyak hal besar dalam hidup memang berlangsung dengan bentuk kata seperti itu, dan biasanya baru terasa demikian ketika sudah tidak bisa ditunda lagi.
  • Dari lima tahap yang disusun, satu sudah lewat tanpa disaksikan siapa pun, satu sedang dijalani, dan tiga belum tiba. Namun seluruhnya disebutkan dengan nada yang sama pastinya. Yang sanggup diingat sendiri oleh siapa pun ternyata hanya sepotong kecil di tengah, dan potongan kecil itulah yang biasanya dianggap sebagai keseluruhan cerita.
  • Hitungan dua kematian dan dua kehidupan di ayat ini diucapkan secara terbuka di tempat lain, tetapi sebagai pengakuan yang datang belakangan, disusul pertanyaan apakah masih ada jalan keluar. Isi pengakuan itu tepat; yang tidak tepat hanya waktunya. Kebenaran yang sama bisa menyelamatkan atau tinggal menjadi catatan, dan yang membedakannya sering hanya soal kapan ia diucapkan.
  • Rangkaian yang sama di tempat lain ditutup dengan penilaian tentang manusia; di sini ia justru dibuka dengan pertanyaan. Sebuah pertanyaan, betapapun tajam bunyinya, masih mengandaikan ada yang diharapkan menjawab. Nada yang terdengar keras dan pintu yang masih terbuka ternyata bisa berada dalam satu kalimat yang sama.