هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Dialah yang menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi, seluruhnya, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyerasikannya menjadi tujuh langit. Dan Dia berilmu akan segala sesuatu.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍhuwa lladzii khalaqa lakum maa fii l-ardi jamii'an tsumma stawaa ilaa s-samaa'i fa-sawwaahunna sab'a samaawaatinDialah yang menciptakan untuk kalian segala yang ada di bumi, seluruhnya, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyerasikannya menjadi tujuh langit
  2. وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌwa-huwa bi-kulli shay'in aliimundan Dia berilmu akan segala sesuatu
Penjelasan pilihan kata

Ayat ini melanjutkan pertanyaan ayat sebelumnya dengan bahan yang lebih luas. Di 2:28 yang disodorkan adalah riwayat hidup mereka sendiri; di sini yang disodorkan adalah segala sesuatu yang mengelilingi mereka.

Rangkaian pembukanya (خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا, khalaqa lakum maa fii l-ardi jamii'an) hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Susunan katanya menaruh “untuk kalian” (لَكُمْ, lakum) mendahului apa yang diciptakan. Yang disebut lebih dulu bukan bendanya, melainkan untuk siapa benda itu ada. Lalu ditutup dengan “seluruhnya” (جَمِيعًا, jamii'an), yang menghapus kemungkinan adanya bagian yang dikecualikan.

Pola “untuk kalian” ini sudah muncul beberapa ayat sebelumnya di 2:22, ketika bumi disebut sebagai hamparan dan langit sebagai atap bagi mereka. Di sana yang disebutkan dua hal; di sini yang di bumi disebut seluruhnya sekaligus.

Rangkaian berikutnya, “kemudian Dia menuju ke langit” (اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ, stawaa ilaa s-samaa'i), hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: di sini dan di 41:11. Kedua tempat itu memakai urutan yang sama, bumi lebih dulu lalu langit dijadikan tujuh, dan di 41:9 sampai 41:12 urutan itu diuraikan lebih panjang beserta jangka waktunya.

Yang menarik, kata “menuju” dan kata “menyerasikannya” (فَسَوَّاهُنَّ, fa-sawwaahunna) berasal dari satu akar yang sama. Arti dasar akar itu adalah rata, seimbang, serasi ukurannya, dan setara. Bentuk yang kedua berarti membuat sesuatu rata dan selaras, sedangkan bentuk yang pertama, ketika diikuti kata “ke”, berarti mengarahkan diri menuju sesuatu. Akar yang sama pula yang dipakai pada pertanyaan yang berulang-ulang di Al-Qur'an: “apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat” (13:16, 35:19) dan “apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” (39:9). Satu akar kata dipakai untuk menyerasikan langit dan untuk menimbang apakah dua golongan manusia berada pada tingkat yang sama.

Bentuk “lalu Dia menyerasikannya” itu sendiri hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata gantinya diucapkan sebelum yang dirujuknya disebutkan: diserasikan dahulu, baru diterangkan bahwa yang diserasikan itu “tujuh langit” (سَبْعَ سَمَاوَاتٍ, sab'a samaawaatin). Susunan yang sama muncul di 41:12. Sebutan “tujuh langit” sendiri muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an.

Perlu dicatat bahwa urutan yang lain disebutkan di 79:27 sampai 79:30: langit dibangun dan disempurnakan lebih dulu, lalu “dan bumi, setelah itu, Dia hamparkan”. Kata kerja yang dipakai untuk bumi di sana bukan menciptakan melainkan menghamparkan, dan kata “menyempurnakannya” di 79:28 berasal dari akar yang sama dengan kata di ayat ini. Perbedaan kata kerjanya layak diperhatikan sebelum urutannya diperbandingkan.

Penutupnya, “dan Dia berilmu akan segala sesuatu” (وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ, wa-huwa bi-kulli shay'in aliimun), muncul enam belas kali di seluruh Al-Qur'an. Ayat ini dibuka dengan “untuk kalian” dan ditutup dengan “segala sesuatu”: dari yang paling dekat dengan pendengarnya sampai yang tidak berbatas.

Tafsiran

Yang paling mudah terlewat dari ayat ini adalah urutan katanya. “Untuk kalian” diucapkan sebelum apa yang diciptakan disebutkan. Bendanya datang belakangan; yang didahulukan adalah kepada siapa benda itu ditujukan. Susunan seperti itu mengubah cara memandang segala yang ada di bumi: bukan persediaan yang kebetulan ditemukan lalu diperebutkan, melainkan sesuatu yang penerimanya sudah ditentukan sebelum ia sendiri ada untuk menerimanya.

Dan tidak ada yang dikecualikan. Kata “seluruhnya” menutup pintu bagi penggolongan yang biasanya kita buat sendiri antara bagian yang berguna dan bagian yang dianggap tidak ada gunanya. Yang belum diketahui manfaatnya tetap termasuk di dalamnya, dan yang tampak tidak berharga hari ini tidak dikeluarkan dari hitungan.

Bagian yang paling halus terletak pada akar katanya. Langit diserasikan dengan kata yang arti dasarnya rata dan setara, dan akar yang sama itulah yang dipakai Al-Qur'an berulang-ulang untuk bertanya apakah dua golongan manusia sama: yang buta dengan yang melihat, yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Yang di atas dibuat serasi dengan sendirinya; yang di bawah dibiarkan tidak serupa, lalu ketidaksamaan itu dijadikan bahan pertanyaan. Kata yang sama dipakai untuk keduanya, dan justru perbedaannya yang terasa.

Ayat ini juga tidak menutupi bahwa urutan penciptaan disebutkan dengan susunan yang berbeda di tempat lain. Yang membedakan bukan sekadar mana yang lebih dulu, melainkan kata kerja apa yang dipakai: menciptakan tidak sama dengan menghamparkan. Membaca dengan jujur berarti memperhatikan kata kerjanya lebih dulu, bukan berhenti pada urutannya saja, dan tidak buru-buru menutup persoalan ke arah mana pun.

Kalimat penutupnya meletakkan dua hal berdampingan yang jarang disandingkan. Sesudah menyebutkan pemberian yang begitu dekat, ayat ini menutup dengan pengetahuan yang tidak berbatas. Yang memberikan juga yang mengetahui, termasuk mengetahui apa yang kemudian dilakukan terhadap yang diberikan.

Implikasi (Renungan dan Hikmah, 9)
  • “Untuk kalian” diucapkan sebelum apa yang diciptakan disebutkan. Yang didahulukan bukan bendanya, melainkan kepada siapa benda itu ditujukan. Cara memandang segala yang ada di bumi sebagai persediaan yang kebetulan ditemukan lalu diperebutkan menghasilkan perilaku yang sangat berbeda dari cara memandang yang sama sebagai titipan yang penerimanya sudah ditentukan sebelum ia ada.
  • Kata “seluruhnya” menutup kemungkinan adanya bagian yang dikecualikan. Penggolongan antara yang berguna dan yang dianggap tidak ada gunanya adalah buatan yang menggolongkan, bukan bagian dari pemberiannya. Sebagian besar hal yang kini dianggap paling berharga pernah cukup lama berada di sisi daftar yang salah.
  • Langit diserasikan dengan kata yang arti dasarnya rata dan setara, dan akar yang sama dipakai berulang-ulang untuk bertanya apakah dua golongan manusia sama: yang buta dengan yang melihat, yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui. Yang di atas dibuat serasi dengan sendirinya; yang di bawah dibiarkan tidak serupa, dan justru ketidaksamaan itu yang dijadikan bahan pertanyaan.
  • Tidak seorang pun pernah meminta agar bumi disiapkan lebih dulu sebelum ia ada untuk memintanya. Segala yang paling menopang hidup sudah lengkap sebelum ada yang sanggup menyadari bahwa itu diperlukan. Rasa berhak yang tumbuh belakangan hampir selalu lupa bahwa urutannya justru terbalik.
  • Dua ayat berturut-turut menutup dua arah sekaligus. Yang satu menunjukkan bahwa hidup itu sendiri diberikan; yang berikutnya menunjukkan bahwa segala yang mengelilinginya juga diberikan. Sesudah kedua arah itu, tidak banyak lagi yang tersisa untuk diakui sebagai murni hasil sendiri.
  • Urutan penciptaan disebutkan dengan susunan yang berbeda di tempat lain, dan yang membedakan bukan sekadar mana yang lebih dulu melainkan kata kerja apa yang dipakai: menciptakan tidak sama dengan menghamparkan. Perbedaan pendapat yang paling panjang umurnya sering lahir dari dua pihak yang sama-sama berhenti pada urutan dan sama-sama melewati kata kerjanya.
  • Ayat ini dibuka dengan “untuk kalian” dan ditutup dengan “segala sesuatu”. Jarak antara keduanya ditempuh dalam satu kalimat. Yang paling dekat dengan pendengarnya dan yang paling tidak terjangkau olehnya ternyata diletakkan dalam satu tarikan napas, dan keduanya dinyatakan berasal dari sumber yang sama.
  • Sesudah menyebutkan pemberian yang begitu dekat, kalimatnya ditutup dengan pengetahuan yang tidak berbatas. Kedua hal itu diletakkan berdampingan tanpa penjelasan tambahan. Pemberian yang diberikan oleh pihak yang tidak mengetahui apa yang kemudian dilakukan terhadapnya adalah pemberian yang lain sama sekali sifatnya.
  • Kata gantinya diucapkan sebelum yang dirujuknya disebutkan: diserasikan dahulu, baru diterangkan bahwa yang diserasikan itu tujuh langit. Susunan seperti itu menempatkan pekerjaannya lebih dulu dan hasilnya belakangan, dan pembaca menunggu satu ketukan sebelum tahu apa yang sedang dikerjakan.