وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan di sana orang yang merusak dan menumpahkan darah, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةًwa-idz qaala rabbuka li-l-malaa'ikati innii jaa'ilun fii l-ardhi khaliifataningatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi
  2. قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَqaaluu a-taj'alu fiihaa man yufsidu fiihaa wa-yasfiku d-dimaa'a wa-nahnu nusabbihu bi-hamdika wa-nuqaddisu lakamereka berkata, apakah Engkau hendak menjadikan di sana orang yang merusak dan menumpahkan darah, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan-Mu
  3. قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَqaala innii a'lamu maa laa ta'lamuunaDia berfirman, sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui

Terjemahan per kata (28 kata)

  1. وَإِذْwa-idzdan ketika
  2. قَالَqaalaberkata
  3. رَبُّكَrabbukaTuhanmu
  4. لِلْمَلَائِكَةِli-l-malaa'ikatikepada para malaikat
  5. إِنِّيinniisesungguhnya Aku
  6. جَاعِلٌjaa'ilunyang menjadikan
  7. فِيfiidi
  8. الْأَرْضِl-ardhibumi
  9. خَلِيفَةًkhaliifatankhalifah
  10. قَالُواqaaluumereka berkata
  11. أَتَجْعَلُa-taj'aluapakah Engkau menjadikan
  12. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  13. مَنْmanorang yang
  14. يُفْسِدُyufsidumerusak
  15. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  16. وَيَسْفِكُwa-yasfikudan menumpahkan
  17. الدِّمَاءَd-dimaa'adarah
  18. وَنَحْنُwa-nahnupadahal kami
  19. نُسَبِّحُnusabbihubertasbih
  20. بِحَمْدِكَbi-hamdikadengan memuji-Mu
  21. وَنُقَدِّسُwa-nuqaddisudan menyucikan
  22. لَكَlakabagi-Mu
  23. قَالَqaalaberkata
  24. إِنِّيinniisesungguhnya Aku
  25. أَعْلَمُa'lamuAku mengetahui
  26. مَاmaaapa yang
  27. لَاlaatidak
  28. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Keberatan malaikat ('mengapa ciptakan yang akan merusak dan menumpahkan darah?') dijawab bukan dengan sanggahan, tapi dengan 'Aku mengetahui yang tidak kalian ketahui', sebuah model penting: potensi kerusakan yang nyata pada manusia tidak membatalkan nilai keberadaannya sebagai khalifah. Konkretnya: kegagalan atau kerusakan yang manusia timbulkan tidak meniadakan tanggung jawab (khilaafah) yang diberikan, justru menuntut usaha lebih keras untuk membuktikan bahwa kepercayaan itu tidak sia-sia.

Penjelasan pilihan kata

Ayat sebelumnya ditutup dengan pernyataan bahwa Dia berilmu akan segala sesuatu. Ayat ini memperlihatkan pernyataan itu bekerja di dalam sebuah percakapan, dan ditutup dengan kata dari akar yang sama: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”.

Kata “khalifah” (خَلِيفَةً, khaliifatan) berasal dari akar yang arti dasarnya datang sesudah dan menggantikan. Dalam bentuk tunggal, kata ini hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: di sini dan di 38:26. Dan yang di 38:26 langsung menyebutkan pekerjaannya: “berilah keputusan di antara manusia dengan hak dan janganlah mengikuti hawa nafsu”. Bentuk jamaknya muncul tujuh kali lagi, di 6:165, 7:69, 7:74, 10:14, 10:73, 27:62, dan 35:39.

Yang perlu diperhatikan, di seluruh keluarga kata itu kedudukan ini tidak pernah disebut sebagai kehormatan yang berdiri sendiri. Di 6:165 disertai keterangan “untuk menguji kalian dalam apa yang diberikan-Nya kepada kalian”; di 10:14 “untuk Kami lihat bagaimana kalian berbuat”; di 35:39 disusul “siapa yang kufur, atasnyalah kekufurannya”; di 38:26 disertai perintah memutus perkara dengan hak dan larangan menuruti keinginan sendiri. Sedangkan di 7:69, 7:74, dan 10:73 kedudukan itu diberikan kepada mereka yang menempati tempat kaum yang sudah dibinasakan sebelumnya.

Bentuk kata “hendak menjadikan” (جَاعِلٌ, jaa'ilun) menyatakan pekerjaan yang sedang atau segera dikerjakan, bukan yang sudah lewat. Pemberitahuannya datang sebelum yang diberitahukan itu ada.

Keberatan yang diucapkan berbunyi “orang yang merusak di dalamnya” (مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا, man yufsidu fiihaa). Akar kata “merusak” di sini sama persis dengan akar kata di 2:27, tiga ayat sebelumnya, ketika disebutkan orang-orang yang “membuat kerusakan di bumi”. Keberatan itu tidak dikarang-karang: surah ini baru saja menggambarkan orang-orang yang persis seperti itu.

Bagian keduanya, “dan menumpahkan darah” (وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ, wa-yasfiku d-dimaa'a), memakai akar yang hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya berada di surah ini. Yang pertama di sini, sebagai kekhawatiran yang diucapkan; yang kedua di 2:84, sebagai isi perjanjian yang diambil dari manusia, “Janganlah kalian menumpahkan darah kalian”. Yang dikhawatirkan di awal muncul kembali kemudian sebagai larangan yang diperjanjikan.

Para malaikat menyebutkan dua pekerjaan mereka sendiri: “sedangkan kami bertasbih memuji-Mu” (وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ, wa-nahnu nusabbihu bi-hamdika) dan “dan kami menyucikan-Mu” (وَنُقَدِّسُ لَكَ, wa-nuqaddisu laka). Bentuk “kami bertasbih” hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 20:33. Sedangkan “kami menyucikan” (وَنُقَدِّسُ, wa-nuqaddisu) adalah satu-satunya tempat akar itu dipakai sebagai kata kerja di seluruh Al-Qur'an; di sembilan tempat lainnya akar yang sama selalu berupa kata benda atau kata sifat. Adapun “memuji-Mu” (بِحَمْدِكَ, bi-hamdika) berasal dari akar yang sama dengan pembuka 1:2.

Jawaban yang diberikan, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui” (إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ, innii a'lamu maa laa ta'lamuuna), layak diperhatikan bentuknya. Dan yang paling perlu diperhatikan: jawaban itu tidak membantah keberatan yang baru diucapkan. Tidak dikatakan bahwa yang dikhawatirkan itu tidak akan terjadi.

Tafsiran

Kata yang dipakai untuk kedudukan ini bukan kata untuk penguasa atau pemilik. Akarnya berarti datang sesudah. Nama kedudukannya sendiri sudah memuat keterangan bahwa ada yang mendahului dan akan ada yang menggantikan, dan di beberapa tempat lain yang menerima kedudukan itu justru menempati tempat kaum yang sudah dibinasakan. Kedudukan yang namanya berarti giliran tidak mudah dibaca sebagai milik.

Sepanjang keluarga kata itu, tidak sekali pun kedudukan ini disebutkan tanpa disertai sesuatu yang menyertainya: ujian, pengawasan, tanggungan atas perbuatan sendiri, atau perintah memutus perkara dengan hak. Yang melekat padanya selalu berupa beban, bukan keistimewaan. Pembicaraan tentang kedudukan yang berhenti pada kewenangannya dan tidak sampai pada apa yang akan ditanyakan darinya sudah berhenti terlalu cepat.

Keberatan yang diucapkan para malaikat juga bukan dugaan yang muncul entah dari mana. Kata yang mereka pakai untuk kerusakan adalah kata yang sama yang baru dipakai surah ini beberapa ayat sebelumnya untuk menggambarkan orang-orang yang membongkar perjanjian. Kekhawatiran itu punya dasar, dan teks yang sama menyediakan dasarnya.

Yang paling menarik justru jawabannya. Jawaban itu tidak membantah. Tidak dikatakan bahwa kerusakan itu tidak akan terjadi, tidak pula bahwa darah tidak akan tertumpah. Yang dikatakan hanya bahwa ada yang diketahui dan tidak mereka ketahui. Sesuatu yang tetap diteruskan meskipun akibat buruknya sudah diketahui sejak awal berdiri di atas pertimbangan yang sama sekali lain daripada sesuatu yang diteruskan karena disangka aman.

Dan kekhawatiran itu tidak menguap begitu saja. Kata untuk menumpahkan darah muncul sekali lagi di surah yang sama, kali ini sebagai isi perjanjian yang diambil dari manusia. Keberatan yang diucapkan di awal dijawab bukan dengan bantahan, melainkan kemudian dengan aturan.

Ada satu hal lagi yang mudah terlewat. Yang menyebutkan jasa dan ketekunannya sendiri sebagai bahan perbandingan dalam percakapan ini bukan manusia. Dan yang diberi tahu bahwa ada yang tidak mereka ketahui justru yang paling tekun mengerjakan pengabdian. Ketekunan dan pengetahuan ternyata dua hal yang berbeda, dan yang pertama tidak otomatis mendatangkan yang kedua.

Renungan dan Hikmah

  • Kata yang dipakai untuk kedudukan ini berakar pada arti datang sesudah dan menggantikan. Namanya sendiri sudah memuat keterangan bahwa ada yang mendahului dan akan ada yang menggantikan. Kedudukan yang namanya berarti giliran tidak mudah dibaca sebagai milik, meskipun hampir selalu diperlakukan begitu oleh yang sedang memegangnya. Bentuk tunggalnya (خَلِيفَةً) muncul di dua ayat saja, yaitu di sini dan di 38:26. Yang kedua ditujukan kepada Dawud, dan di sana kedudukan itu langsung disusul perintah memutuskan perkara di antara manusia dengan benar serta larangan mengikuti hawa nafsu. Dua kali kata ini dipakai dalam bentuk tunggal, dan dua kali pula yang menyusulnya adalah pekerjaan, bukan penghormatan.
  • Di seluruh tempat kata ini dipakai, kedudukan itu tidak pernah berdiri sendirian: selalu disertai ujian, pengawasan, tanggungan atas perbuatan sendiri, atau perintah memutus perkara dengan hak. Pembicaraan tentang jabatan yang berhenti pada kewenangannya dan tidak sampai pada apa yang akan ditanyakan darinya sudah berhenti terlalu cepat.
  • Di beberapa tempat, yang menerima kedudukan ini adalah mereka yang menempati tempat kaum yang sudah dibinasakan sebelumnya. Menduduki tempat yang ditinggalkan oleh yang gagal adalah keterangan yang sangat berbeda rasanya daripada menerima penghargaan, dan biasanya yang menduduki lebih senang mengingat yang kedua.
  • Kata yang dipakai untuk kerusakan dalam keberatan itu adalah kata yang sama yang baru dipakai beberapa ayat sebelumnya untuk menggambarkan orang-orang yang membongkar perjanjian. Kekhawatiran itu bukan dugaan yang muncul entah dari mana. Keberatan yang berdasar dan pembangkangan adalah dua hal yang berbeda, meskipun keduanya sering diperlakukan sama oleh yang sedang tidak ingin mendengar.
  • Jawabannya tidak membantah. Tidak dikatakan bahwa kerusakan itu tidak akan terjadi, tidak pula bahwa darah tidak akan tertumpah. Sesuatu yang tetap diteruskan meskipun akibat buruknya sudah diketahui sejak semula berdiri di atas pertimbangan yang sama sekali lain daripada sesuatu yang diteruskan karena disangka aman. Apa yang membuat jawaban semacam itu tetap terasa cukup? Sebuah bantahan hanya menyelesaikan perkara kalau yang membantah dan yang dibantah memakai ukuran yang sama. Di sini ukurannya justru yang sedang dipersoalkan. Karena itu Allah tidak membantah isi keberatannya, melainkan menyebutkan bahwa keberatan itu disusun dari bahan yang belum lengkap.
  • Yang disampaikan bukan teguran atas keberatannya, melainkan keterangan tentang batas. Yang bertanya tidak dibungkam, tidak pula dinyatakan salah; ia hanya diberi tahu bahwa ada bagian yang tidak berada dalam jangkauannya. Menjawab keberatan dengan menerangkan batas adalah tanggapan yang jauh lebih jarang daripada menjawabnya dengan menyingkirkan yang berkeberatan. Cara menjawab itu juga meninggalkan sesuatu bagi pembacanya. Keberatan malaikat tetap tercatat di dalam kitab, tidak dihapus dan tidak diperhalus, lengkap dengan isinya yang keras. Sebuah keberatan yang dibiarkan berdiri di dalam teks memberi tahu bahwa bertanya bukan pelanggaran, dan yang membedakan bertanya dari membangkang adalah kesediaan menerima jawabannya.
  • Yang diberi tahu bahwa ada yang tidak mereka ketahui justru yang paling tekun mengerjakan pengabdian, dan mereka sendiri yang menyebutkan ketekunan itu sebagai bahan perbandingan. Ketekunan dan pengetahuan ternyata dua hal yang berbeda. Yang pertama tidak dengan sendirinya mendatangkan yang kedua, dan kadang justru membuat batasnya lebih sukar terlihat. Kata kerja yang mereka pakai untuk menyucikan (نُقَدِّسُ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Pengabdian yang mereka sebutkan sebagai pembanding ternyata dinyatakan dengan kata yang tidak dipakai lagi di mana pun, dan itu menegaskan bahwa yang mereka lakukan memang tidak diragukan. Yang diragukan bukan mutu ibadah mereka melainkan kecukupan ibadah sebagai dasar untuk menilai sebuah keputusan.
  • Kata untuk menumpahkan darah hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an (2:30, 2:84), dan keduanya di surah yang sama: sekali sebagai kekhawatiran yang diucapkan, sekali lagi sebagai isi perjanjian yang melarangnya. Kekhawatiran itu tidak diabaikan dan tidak pula dibantah; ia dijawab belakangan dengan aturan yang mengikat.
  • Bentuk kata yang dipakai menyatakan pekerjaan yang sedang atau segera dikerjakan. Pemberitahuannya datang sebelum yang diberitahukan itu ada, dan keberatan atasnya diucapkan sebelum ada yang bisa membela diri. Seluruh perbincangan tentang manusia di ayat ini berlangsung tanpa satu pun manusia hadir di dalamnya.
  • Beberapa kata dalam ayat ini hampir tidak muncul di tempat lain mana pun: bentuk tunggal sebutan kedudukannya hanya dua kali, kata untuk menumpahkan darah dua kali, kata untuk menyucikan sekali sebagai kata kerja, dan jawaban penutupnya sekali. Percakapan sependek ini menyimpan kosakata yang tidak dipakai ulang, seolah seluruh peristiwanya memang tidak berulang.