وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Dia menghadapkan mereka kepada para malaikat, seraya berfirman, “Beritahukan kepada-Ku nama-nama mereka ini, jika kalian benar!”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَwa-allama aadama l-asmaa'a kullahaa tsumma aradahum alaa l-malaa'ikati fa-qaala anbi'uunii bi-asmaa'i haa'ulaa'i in kuntum saadiqiinadan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian Dia menghadapkan mereka kepada para malaikat, seraya berfirman, beritahukan kepada-Ku nama-nama mereka ini, jika kalian benar
Terjemahan per kata (15 kata)
- وَعَلَّمَwa-'allamadan Dia mengajarkan
- آدَمَaadamakepada Adam
- الْأَسْمَاءَl-asmaa'anama-nama itu
- كُلَّهَاkullahaaseluruhnya
- ثُمَّtsummakemudian
- عَرَضَهُمْ'aradahumDia menghadapkan mereka
- عَلَى'alaakepada
- الْمَلَائِكَةِl-malaa'ikatipara malaikat
- فَقَالَfa-qaalalalu Dia berfirman
- أَنْبِئُونِيanbi'uuniiberitahukan kepada-Ku
- بِأَسْمَاءِbi-asmaa'idengan nama-nama
- هَٰؤُلَاءِhaa'ulaa'imereka ini
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- صَادِقِينَsaadiqiinaorang-orang yang benar
Penjelasan pilihan kata
Tiga ayat berturut-turut memakai akar kata yang sama. Di 2:29 disebutkan bahwa Dia berilmu akan segala sesuatu; di 2:30 dikatakan “Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”; dan di sini (وَعَلَّمَ, wa-'allama) akar itu muncul sebagai perbuatan mengajarkan. Pernyataan, penegasan, lalu pembuktian, dengan satu akar kata yang sama.
Yang diajarkan disebut “nama-nama itu, seluruhnya” (الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا, l-asmaa'a kullahaa), rangkaian yang hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Yang diberikan bukan sebagian, dan bukan pula kesanggupan untuk mencari sendiri.
Bagian berikutnya menyimpan hal yang mudah terlewat. Kata ganti pada “seluruhnya” (كُلَّهَا, kullahaa) memakai bentuk yang lazim dipakai untuk benda dan hal, sedangkan kata ganti pada “Dia menghadapkan mereka” (عَرَضَهُمْ, 'aradahum) memakai bentuk yang dalam bahasa Arab dipakai untuk kumpulan makhluk yang berakal. Kata gantinya berganti bentuk di tengah kalimat. Yang dihadapkan kepada para malaikat, menurut bentuk kata gantinya, bukan sekumpulan kata melainkan sekumpulan yang berakal. Demikian pula kata penunjuk pada “mereka ini” (هَٰؤُلَاءِ, haa'ulaa'i), yang merupakan bentuk penunjuk untuk jamak.
Kata kerja “menghadapkan” (عَرَضَهُمْ, 'aradahum) sendiri hanya muncul sekali dalam bentuk ini. Bentuk lain dari kata kerja yang sama muncul sepuluh kali lagi, dan pemakaiannya menerangkan banyak: di 33:72 sesuatu “ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi mereka enggan memikulnya”, dan di 18:48 serta 69:18 manusia yang “dihadapkan” untuk diperiksa. Kata ini dipakai untuk menyodorkan sesuatu di hadapan pihak lain agar diperiksa atau ditanggapi.
Perintah yang menyusul, “beritahukan kepada-Ku” (أَنْبِئُونِي, anbi'uunii), juga hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya adalah akar kata untuk kabar dan berita, sehingga yang diminta bukan sekadar menyebut, melainkan membawa keterangan.
Penutupnya, “jika kalian benar” (إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ, in kuntum saadiqiina), muncul dua puluh delapan kali di seluruh Al-Qur'an. Yang perlu diperhatikan, rangkaian yang sama sudah dipakai delapan ayat sebelumnya di 2:23, ketika para penyangkal ditantang mendatangkan satu surah. Kalimat penutup yang sama kini ditujukan kepada para malaikat.
Tafsiran
Jawaban atas keberatan di ayat sebelumnya tidak diberikan dalam bentuk keterangan. Tidak ada penjelasan tentang mengapa kedudukan itu diberikan, tidak ada bantahan atas kekhawatiran tentang kerusakan dan darah. Yang ada hanyalah sebuah peragaan, dan peragaan itu dilakukan dengan cara memperlihatkan sesuatu yang bisa dikerjakan oleh yang satu dan tidak oleh yang lain.
Yang diajarkan disebut seluruhnya, tanpa sisa. Dan yang diajarkan itu nama. Nama adalah alat untuk membedakan satu hal dari hal lain, untuk mengingatnya ketika tidak ada di hadapan mata, dan untuk membicarakannya dengan orang lain. Kesanggupan itulah yang diberikan lebih dulu, sebelum kedudukan yang dijanjikan di ayat sebelumnya sempat dijalankan.
Bentuk kata gantinya berganti di tengah kalimat, dan pergantian itu bukan hal kecil. Nama-nama disebut dengan bentuk untuk benda; yang dihadapkan kepada para malaikat disebut dengan bentuk untuk yang berakal. Apa yang sebenarnya dihadapkan di sana menjadi pertanyaan yang teksnya sendiri tidak menutup, dan bentuk kata gantinya menahan pembacaan yang terlalu cepat.
Kata kerja yang dipakai untuk menghadapkan itu juga kata yang di tempat lain dipakai ketika sesuatu ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, lalu ditolak; dan ketika manusia dihadapkan untuk diperiksa tanpa ada yang tersembunyi. Kata ini selalu menyangkut sesuatu yang disodorkan agar ditanggapi, bukan sekadar diperlihatkan.
Dan penutupnya menyimpan kejutan tersendiri. Kalimat “jika kalian benar” adalah kalimat yang delapan ayat sebelumnya dipakai untuk menantang orang-orang yang menyangkal. Kini kalimat yang sama ditujukan kepada para malaikat. Ukuran yang dipakai ternyata satu untuk semua: siapa pun yang berpendapat diminta menunjukkan dasarnya, dan tidak ada golongan yang dibebaskan dari permintaan itu.
Implikasi (9)
- Keberatan di ayat sebelumnya tidak dijawab dengan penjelasan, melainkan dengan peragaan. Tidak ada uraian tentang mengapa keputusan itu diambil; yang ada hanya sesuatu yang bisa dikerjakan oleh yang satu dan tidak oleh yang lain. Ada perbedaan pendapat yang memang tidak selesai lewat perdebatan, dan baru selesai ketika salah satunya dikerjakan di depan mata.
- Yang diajarkan adalah nama. Nama adalah alat untuk membedakan satu hal dari yang lain, untuk mengingatnya ketika ia tidak ada di hadapan mata, dan untuk membicarakannya dengan orang lain. Hampir seluruh yang kemudian disebut sebagai pengetahuan bertumpu pada kesanggupan sederhana itu, dan kesanggupan itu diberikan lebih dulu daripada kedudukan yang menyertainya.
- Yang diajarkan disebut seluruhnya, tanpa sisa, dan rangkaian kata itu tidak muncul di tempat lain mana pun. Yang diberikan bukan sebagian yang cukup untuk keperluan saat itu, dan bukan pula sekadar kesanggupan mencari sendiri. Pemberian sebesar itu di awal cerita menaruh beban yang sepadan di sepanjang sisanya.
- Kata ganti berganti bentuk di tengah kalimat: nama-nama disebut dengan bentuk untuk benda, sedangkan yang dihadapkan kepada para malaikat disebut dengan bentuk untuk yang berakal. Teksnya sendiri tidak menutup pertanyaan tentang apa yang sebenarnya dihadapkan di sana. Kesediaan membiarkan pertanyaan tetap terbuka biasanya lebih jujur daripada kepastian yang dibangun dengan melewati satu kata.
- Kata kerja yang dipakai untuk menghadapkan adalah kata yang di tempat lain dipakai ketika sesuatu ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung-gunung lalu ditolak, dan ketika manusia dihadapkan untuk diperiksa tanpa ada yang tersembunyi. Kata ini tidak pernah berarti sekadar memperlihatkan; ia selalu menyangkut sesuatu yang disodorkan agar ditanggapi.
- Perintahnya berakar pada kata untuk kabar dan berita, sehingga yang diminta bukan sekadar menyebut melainkan membawa keterangan. Menyebutkan sesuatu dan mengetahui sesuatu adalah dua hal yang sangat mudah tertukar, dan jarak di antara keduanya baru terlihat ketika yang menyebutkan diminta menerangkan.
- Kalimat penutupnya adalah kalimat yang delapan ayat sebelumnya dipakai untuk menantang orang-orang yang menyangkal. Kini kalimat yang sama ditujukan kepada para malaikat. Siapa pun yang berpendapat diminta menunjukkan dasarnya, dan tidak ada golongan yang dibebaskan dari permintaan itu karena kedudukannya.
- Tiga ayat berturut-turut bergerak dengan satu akar kata yang sama: dinyatakan bahwa Dia berilmu akan segala sesuatu, lalu ditegaskan bahwa ada yang diketahui dan tidak mereka ketahui, lalu diperlihatkan dengan mengajarkan. Pernyataan, penegasan, dan pembuktian tersusun berurutan, dan yang terakhir tidak pernah ditinggalkan.
- Yang lebih dulu diminta menjawab justru pihak yang baru saja diberi tahu bahwa ada yang tidak mereka ketahui. Permintaan itu tidak mempermalukan; ia hanya membuat batas yang tadi disebutkan menjadi terasa sendiri, bukan sekadar diberitahukan. Batas yang dialami hampir selalu lebih meyakinkan daripada batas yang dikabarkan.