أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Apakah kalian menyuruh manusia berbuat kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Kitab? Tidakkah kalian berakal?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَa-ta'muruuna n-naasa bi-l-birri wa-tansawna anfusakum wa-antum tatluuna l-kitaabaapakah kalian menyuruh manusia berbuat kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Kitab
- أَفَلَا تَعْقِلُونَa-fa-laa ta'qiluunatidakkah kalian berakal
Catatan pilihan kata (ringkas)
Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab suci (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti? Enjoin you virtue upon mankind, and forget yourselves when you recite the Writ? Will you then not use reason! *al-kitaab* diterjemahkan 'sang hukum' (bukan 'kitab suci (Taurat)'), pilihan tak-lazim; 'sang hukum' menekankan fungsi (aturan yg dibaca-dipegang) drpd identitas (Taurat scr spesifik, tambahan terjemahan lain). 'sang hukum' terdengar janggal dibanding konvensi 'kitab'/'Kitab' yg dipakai korpus luas utk *al-kitaab*; kemungkinan gaya draf-awal yg tak terulang.
Aplikasi
Tuduhan 'menyuruh kebajikan tapi melupakan diri sendiri' adalah kritik tajam atas kemunafikan nasihat: memberi petunjuk kepada orang lain sambil gagal menjalankannya sendiri. Konkretnya: sebelum menasihati atau mengkritik orang lain, ayat ini menuntut pemeriksaan-diri lebih dulu, apakah aku sudah menjalankan apa yang kunasihatkan, atau nasihatku hanya berlaku untuk orang lain?