الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Mereka yang yakin akan menemui Tuhan mereka, dan bahwa kepada-Nya mereka akan kembali,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْalladziina yazhunnuuna annahum mulaaquu rabbihimmereka yang yakin akan menemui Tuhan mereka
- وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَwa-annahum ilayhi raaji'uunadan bahwa kepada-Nya mereka akan kembali
Terjemahan per kata (8 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- يَظُنُّونَyazhunnuunayakin
- أَنَّهُمْannahumbahwa mereka
- مُلَاقُوmulaaquumenemui
- رَبِّهِمْrabbihimTuhan mereka
- وَأَنَّهُمْwa-annahumdan bahwa mereka
- إِلَيْهِilayhikepada-Nya
- رَاجِعُونَraaji'uunakembali
Inti bacaan
Keyakinan akan pertemuan dengan Tuhan digambarkan sebagai sumber khusyuk (2:45), kesadaran akan pertanggungjawaban akhir justru yang membuat seseorang bisa tenang dan fokus saat ini, bukan panik. Konkretnya: mengingat bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan bukan untuk menimbulkan kecemasan kronis, tapi untuk memberi jangkar-makna pada usaha hari ini, sebuah motivasi jangka-panjang yang menenangkan, bukan menggelisahkan.
Penjelasan pilihan kata
"Mereka yang yakin" (الَّذِينَ يَظُنُّونَ, alladziina yazhunnuuna), 'yazhunnuuna' (يَظُنُّونَ) dari akar zh-n-n, bentuk yang menandai keadaan yang berlangsung. Akar zh-n-n memiliki rentang makna yang lebar: dari 'dugaan lemah' sampai 'keyakinan kuat.' Di sini, konteksnya adalah keyakinan, bukan sekadar 'menduga' atau 'berprasangka.' Ayat ini mendeskripsikan siapa 'al-khaasyi'iin' (orang-orang yang khusyuk) dari 2:45: mereka adalah orang yang yakin akan bertemu Tuhan. Keyakinan ini adalah sumber dari kekhusyukan mereka, bukan teknik konsentrasi, melainkan kesadaran bahwa salat adalah pertemuan.
"Akan menemui Tuhan mereka" (أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ, annahum mulaaquu rabbihim), 'mulaaquu' (مُلَاقُو) adalah partisipial aktif dari akar l-q-y, 'bertemu, menemui.' Bentuk ini menandai pertemuan yang pasti dan aktif: mereka adalah orang-orang yang akan bertemu. Bukan 'berharap bertemu,' bukan 'mungkin bertemu,' melainkan pasti bertemu. Kata 'rabbihim', 'Tuhan mereka', menandai hubungan personal. Bukan sekadar 'Tuhan' secara abstrak, melainkan 'Tuhan mereka', yang mereka kenal, yang memberi mereka nikmat (2:40), yang membuat perjanjian dengan mereka (2:40).
"Dan bahwa kepada-Nya mereka akan kembali" (وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ, wa-annahum ilayhi raaji'uuna), 'raaji'uuna' (رَاجِعُون) adalah partisipial aktif jamak dari akar r-j-', 'kembali.' Dua keyakinan dalam ayat ini, akan bertemu dan akan kembali, adalah fondasi dari seluruh ibadah. Salat terasa ringan bagi yang khusyuk karena mereka tahu bahwa mereka sedang menuju pertemuan dan kepulangan. Setiap sujud adalah satu langkah lebih dekat. Inilah yang membedakan salatnya al-khaasyi'iin dari salatnya orang lain: bukan GERAKANnya yang berbeda, melainkan kesadaran yang menyertainya.
Ayat ini punya kembaran yang tidak terduga di surah yang sama. Kata "mereka yakin" (يَظُنُّونَ, yazhunnuuna) muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an (2:46, 2:78, 2:249, 3:154, 45:24), dan bentuk "akan menemui" (مُلَاقُو, mulaaquu) muncul di 2:46, 2:223, 2:249, dan 11:29. Kedua kata itu bertemu di dua tempat saja: di ayat ini dan di 2:249. Di 2:249 yang mengucapkannya adalah pasukan kecil yang tetap maju menghadapi jumlah yang jauh lebih besar, justru karena yakin akan menemui Allah. Keyakinan yang sama disebut dua kali dalam satu surah: sekali sebagai yang meringankan salat, sekali sebagai yang meringankan pertempuran.
Kata penutupnya, "orang-orang yang kembali" (رَاجِعُونَ, raaji'uuna), muncul empat kali (2:46, 2:156, 21:93, 23:60). Yang paling dikenal ada di surah ini juga, yaitu 2:156, kalimat yang diucapkan ketika musibah menimpa: sungguh kami milik Allah, dan sungguh kepada-Nya kami kembali. Kata yang di sini menyifati orang yang khusyuk dalam salat, di sana menjadi ucapan orang yang sedang kehilangan. Satu kesadaran, dua keadaan yang sangat berjauhan.
Tafsiran
Ayat ini adalah penjelasan dari 2:45, siapa sebenarnya 'al-khaasyi'iin' itu? Mereka bukan orang yang punya teknik konsentrasi superior. Mereka bukan orang yang emosinya mudah tersentuh. Mereka adalah orang yang hidup dalam kesadaran bahwa mereka akan bertemu Tuhan dan kembali kepada-Nya. Dua keyakinan ini, pertemuan dan kepulangan, mengubah salat dari kewajiban menjadi kerinduan. Orang yang tahu akan bertemu kekasihnya tidak perlu dipaksa untuk bersiap; ia justru menanti-nanti. Begitu pula al-khaasyi'iin: mereka tidak merasa salat sebagai beban karena mereka melihatnya sebagai persiapan untuk pertemuan yang pasti.
Perhatikan bahwa 'yazhunnuuna' di sini diterjemahkan 'yakin,' bukan 'menduga.' Dalam bahasa Arab, zhann bisa berarti keduanya, dan konteks menentukan. Di sini, konteksnya adalah fondasi keagamaan, bertemu Tuhan dan kembali kepada-Nya, yang dalam Al-Quran selalu dinyatakan sebagai kepastian, bukan dugaan. Menerjemahkan 'yazhunnuuna' sebagai 'menduga' di sini akan bertentangan dengan keseluruhan pesan Al-Quran tentang kepastian hari akhir. Pilihan kata 'yakin' di sini adalah pilihan yang didukung oleh pola pemakaian zhann dalam konteks eskatologis di seluruh Al-Quran.
Dua keyakinan itu juga tersusun sebagai urutan waktu: menemui lebih dulu, kembali sesudahnya. Yang disebut belakangan bukan tambahan, melainkan tujuan akhir dari yang pertama.
Renungan dan Hikmah
- Orang khusyuk bukan orang yang paling bisa berkonsentrasi; ia adalah orang yang paling yakin akan bertemu Tuhannya. Khusyuk bukanlah keterampilan, ia adalah buah dari keyakinan. Ini membalikkan pendekatan umum yang mencoba 'melatih khusyuk' dengan teknik konsentrasi. Ayat ini mengatakan: perkuat dulu keyakinan bahwa engkau akan bertemu Allah, maka khusyuk akan mengikuti. Karena orang yang benar-benar yakin akan bertemu kekasihnya tidak perlu dilatih untuk mempersiapkan diri; ia akan melakukannya dengan sendirinya.
- Kata 'zhann' bisa berarti 'dugaan' atau 'keyakinan' tergantung konteks. Di sini, konteksnya adalah hal yang paling pasti dalam Al-Quran, pertemuan dengan Tuhan. Menerjemahkannya sebagai 'menduga' akan menghasilkan bacaan yang ganjil: 'mereka yang menduga akan bertemu Tuhan.' Ini adalah contoh bagaimana konteks menentukan makna, dan mengapa terjemahan tidak bisa dilakukan kata per kata tanpa memahami kerangka besar. Satu kata bisa bergeser maknanya secara drastis tergantung apa yang sedang dibicarakan.
- Kalau salat adalah persiapan untuk bertemu Tuhan, dan al-khaasyi'iin yakin akan bertemu-Nya, maka salat berubah dari kewajiban menjadi kerinduan. Orang yang dipaksa menyiapkan diri untuk pertemuan yang ia tidak yakini akan terjadi akan merasa terbebani. Tapi orang yang tahu bahwa pertemuan itu pasti dan ia sedang bersiap untuknya? Ia justru menanti-nanti waktu salat. Inilah transformasi yang terjadi ketika zhann berubah dari 'mungkin' menjadi 'pasti.' Salat tidak berubah, yang berubah adalah kesadaran tentang apa yang sedang terjadi di dalamnya.
- 'Rabbihim', Tuhan mereka. Bukan sekadar 'Tuhan' atau 'Sang Pencipta,' melainkan Tuhan yang memiliki hubungan personal dengan mereka. Kata ini menggemakan 'ni'matiya' (nikmat-KU) dan 'bi-'ahdii' (janji-KU) di 2:40. Al-khaasyi'iin bukan hanya tahu bahwa Tuhan itu ada; mereka tahu bahwa Tuhan itu adalah Tuhan mereka, yang memberi mereka nikmat, yang membuat perjanjian dengan mereka. Hubungan personal inilah yang membuat keyakinan akan pertemuan menjadi sesuatu yang dirindukan, bukan sesuatu yang ditakuti.
- Ada dua hal yang diyakini di ayat ini, dan keduanya tidak sama. Yang pertama adalah perjumpaan dengan Tuhan, sebuah peristiwa yang akan terjadi. Yang kedua adalah kepulangan kepada-Nya, dan kepulangan bukan peristiwa melainkan arah. Orang bisa percaya penuh bahwa suatu hari akan ada perhitungan dan tetap menjalani hari-harinya tanpa merasa sedang menuju ke mana-mana. Keyakinan yang pertama menaruh sesuatu di ujung jalan; keyakinan yang kedua mengubah setiap langkah di jalan itu menjadi langkah pulang. Ayat ini menyebut keduanya berurutan, dan yang kedua itulah yang menerangkan mengapa mereka disebut khusyuk.
- Ayat sebelumnya menyebut sekelompok orang, dan ayat ini menerangkan siapa mereka. Yang menarik adalah bahan keterangannya. Bukan daftar amal, bukan ciri yang bisa disaksikan, melainkan isi keyakinan. Kelompok ini karena itu tidak bisa dikenali dari luar oleh siapa pun, termasuk oleh anggotanya sendiri ketika menilai orang lain. Dua orang bisa berdiri bersebelahan dalam satu barisan salat, mengerjakan gerakan yang sama persis pada waktu yang sama, dan hanya satu yang termasuk di dalamnya. Pengecualian yang disebut di ayat sebelumnya ternyata tidak memisahkan orang berdasarkan apa yang mereka kerjakan.