ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۖ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Setelah itu, kalian berpaling. Maka seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, pasti kalian termasuk orang-orang yang rugi.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَtsumma tawallaytum min ba'di dzaalikakemudian kalian berpaling setelah itu
  2. فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَfa-lawlaa fadhlu llaahi 'alaykum wa-rahmatuhu la-kuntum mina l-khaasiriinamaka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya kalian termasuk orang-orang yang rugi

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. تَوَلَّيْتُمْtawallaytumkalian berpaling
  3. مِنْmindari
  4. بَعْدِba'disesudah
  5. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  6. فَلَوْلَاfa-lawlaamaka seandainya bukan karena
  7. فَضْلُfadhlukarunia
  8. اللَّهِllaahiAllah
  9. عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
  10. وَرَحْمَتُهُwa-rahmatuhudan rahmat-Nya
  11. لَكُنْتُمْla-kuntumpasti kalian adalah
  12. مِنَminadari
  13. الْخَاسِرِينَl-khaasiriinaorang-orang yang rugi

Inti bacaan

'Kalian berpaling setelah itu', pengingkaran terjadi bahkan setelah perjanjian serius baru saja diambil, menunjukkan betapa cepatnya komitmen bisa luntur tanpa penjagaan aktif. Konkretnya: momentum spiritual/moral yang kuat (setelah janji, resolusi, atau momen kesadaran besar) rentan memudar cepat jika tidak dijaga dengan tindakan konsisten, kewaspadaan terhadap kelunturan pasca-momen-tinggi adalah pelajaran praktis di sini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan “kemudian kalian berpaling setelah itu” (ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ, tsumma tawallaytum min ba'di dzaalika). Kata kerja “berpaling” di sini bukan sekadar menolak dengan lisan. Bentuknya menggambarkan gerakan badan yang memutar arah, memunggungi sesuatu yang tadinya dihadapi. Yang dipunggungi disebut oleh dua kata terakhirnya, “setelah itu”, dan “itu” menunjuk pada seluruh isi ayat sebelumnya: perjanjian yang diambil, gunung yang diangkat di atas kepala, dan perintah memegang teguh apa yang diberikan.

Rangkaian “kemudian kalian berpaling” hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini (2:64) dan sekali lagi di 2:83, dan dua-duanya berdiri persis sesudah kalimat tentang perjanjian yang diambil. Kesejajaran itu membuat perbedaan di antara keduanya terasa. Di 2:83 masih ada pengecualian yang disebutkan, “kecuali sebagian kecil dari kalian” (إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ, illaa qaliilan minkum). Di ayat ini tidak ada pengecualian sama sekali. Berpalingnya disebut tanpa sisa, tanpa golongan yang dikecualikan, dan tanpa keterangan berapa lama jaraknya dari peristiwa sebelumnya. Yang ditekankan bukan seberapa banyak yang berpaling, melainkan bahwa berpaling itu datang sesudah bukti yang paling sulit dibantah.

Bagian kedua ayat ini adalah pengandaian terbalik: “maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian” (فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ, fa-lawlaa fadhlu llaahi 'alaykum wa-rahmatuhu). Susunan “sekiranya bukan karena karunia Allah kepada kalian dan rahmat-Nya” muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:64, 4:83, 24:10, 24:14, 24:20, 24:21), dan bila yang disapa tunggal dihitung juga, tujuh kali dengan tambahan 4:113. Dari tujuh kemunculan itu, hanya di sini ia diawali huruf penyambung “maka” (فَلَوْلَا, fa-lawlaa). Enam sisanya diawali “dan” (وَلَوْلَا, wa-lawlaa). Perbedaan satu huruf itu mengubah hubungan antara dua bagian ayat. Dengan “dan”, pengandaian itu berdiri sebagai kalimat baru di samping kalimat sebelumnya. Dengan “maka”, ia menjadi akibat yang langsung menempel: justru karena kalian berpaling itulah pengandaian ini perlu diucapkan.

Ada satu hal lagi yang membedakan ayat ini dari enam saudaranya, yaitu apa yang diletakkan sesudah pengandaian. Di 24:10 dan 24:20 jawabannya tidak diucapkan sama sekali, kalimatnya berhenti sebelum akibatnya disebut. Di 24:14 yang disebut adalah hukuman yang akan menimpa, di 4:83 yang disebut adalah perbuatan yang akan dilakukan, di 24:21 yang disebut adalah kesucian yang tidak akan tercapai. Hanya di sini jawabannya berbentuk “niscaya kalian termasuk” (لَكُنْتُمْ, la-kuntum), dan bentuk kata ini tidak muncul di ayat lain mana pun dalam Al-Qur'an. Yang diandaikan bukan apa yang akan menimpa mereka dan bukan pula apa yang akan mereka kerjakan, melainkan menjadi apa mereka: sebuah golongan, bukan sebuah peristiwa.

Golongan itu disebut “orang-orang yang rugi” (مِنَ الْخَاسِرِينَ, mina l-khaasiriina). Kata ini berakar pada gagasan perdagangan yang merugi, modal yang keluar lebih besar daripada yang kembali, dan ia muncul dalam bentuk ini sepuluh kali di seluruh Al-Qur'an (2:64, 3:85, 5:5, 5:30, 7:23, 7:149, 10:95, 11:47, 39:65, 41:23). Karena bertetangga dengan kata “termasuk”, kerugian di sini tidak dibaca sebagai kejadian yang menimpa seseorang sekali lalu berlalu, melainkan sebagai keanggotaan: nama yang tercatat dalam satu daftar. Dua kata terakhir ayat ini menutup dengan pemberitahuan bahwa yang menahan nama itu dari tercatat bukanlah tobat yang menyusul, melainkan sesuatu yang datang dari pihak lain sama sekali.

Tafsiran

Ayat ini menempatkan dua hal yang biasanya dipisahkan ke dalam satu tarikan napas: pelanggaran yang baru saja terjadi, dan sebab mengapa pelanggaran itu tidak berakhir dengan kehancuran. Urutannya penting. Ayat sebelumnya menutup dengan harapan “agar kalian bertakwa”, dan ayat ini dibuka dengan kabar bahwa harapan itu tidak terpenuhi. Jarak antara janji dan pelanggaran dipadatkan sampai tinggal satu kata sambung.

Yang menarik, ayat ini tidak berlanjut ke hukuman. Ia justru berbelok ke pengandaian yang menyebutkan hukuman itu sebagai sesuatu yang tidak jadi terjadi. Cara bercerita seperti ini menaruh pembaca pada posisi yang tidak nyaman: ia diberi tahu apa yang seharusnya menimpa, lalu diberi tahu bahwa itu tidak menimpa, dan sebabnya sama sekali bukan sesuatu yang ada pada dirinya. Tidak disebutkan bahwa mereka bertobat, tidak disebutkan bahwa mereka memperbaiki diri, dan tidak disebutkan pula bahwa ada golongan yang bertahan. Yang disebutkan hanya karunia dan rahmat.

Pemilihan “niscaya kalian termasuk orang-orang yang rugi”, bukan “niscaya kalian dihancurkan”, membuat taruhannya berbeda. Kehancuran adalah peristiwa yang punya awal dan akhir. Termasuk dalam suatu golongan adalah keadaan yang menetap, dan ia tidak berhenti ketika peristiwanya berlalu. Ayat ini seakan mengatakan bahwa yang paling ditakutkan dari berpaling bukanlah akibat yang segera, melainkan perubahan identitas yang mengikutinya: berpindah daftar tanpa pernah merasakan pindahnya.

Pada akhirnya ayat ini menyusun sebuah urutan yang tidak berpihak pada pembacanya sendiri. Bukti diberikan, perjanjian diambil, lalu dipunggungi. Dan yang menahan akibatnya bukan sisa kebaikan pihak yang berpaling, melainkan sifat pihak yang dipunggungi. Bacaan seperti ini menutup pintu bagi rasa aman yang berdasar pada catatan diri sendiri, sekaligus membuka pintu yang lain: kalau yang menahan bukan kelayakan, maka yang berpaling pun belum kehabisan jalan pulang.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat sebelumnya ditutup dengan harapan agar mereka bertakwa, dan ayat ini dibuka dengan kabar bahwa mereka berpaling. Tidak ada keterangan waktu di antaranya. Yang paling rapuh ternyata bukan saat kita belum yakin, melainkan saat kita baru saja sangat yakin. Sesudah keputusan besar diambil, sesudah janji diucapkan dengan sungguh-sungguh, di situlah penjagaan justru paling sering dilepas karena merasa urusannya sudah selesai.
  • Kata yang dipakai menggambarkan memunggungi, bukan membantah. Tidak ada penyangkalan yang diucapkan, tidak ada perdebatan, hanya arah badan yang berubah. Bentuk pengingkaran yang paling umum memang bukan penolakan yang lantang, melainkan berhenti menghadap: berhenti membaca, berhenti menimbang, berhenti menanyakan, sambil tetap mengaku menerima. Kata itu (تَوَلَّيْتُمْ) muncul di delapan ayat, dan dua di antaranya di surah ini. Yang menarik, di hampir semua tempat ia dipasangkan dengan sesuatu yang baru saja diterima atau baru saja diperintahkan, bukan dengan sesuatu yang jauh. Berapa lama jarak antara menerima dan memunggungi? Di ayat ini jaraknya satu ayat.
  • Ayat serupa di 2:83 masih menyebut adanya sebagian kecil yang tidak ikut berpaling. Ayat ini tidak menyebut siapa pun. Ketika sebuah teguran datang tanpa mengecualikan siapa pun, godaan pertama pembacanya adalah mencari celah untuk mengeluarkan diri dari sasaran. Bacaan yang jujur berjalan ke arah sebaliknya: memperlakukan diri sebagai yang tercakup lebih dahulu, dan membiarkan pengecualian dibuktikan oleh perbuatan, bukan oleh perasaan.
  • Kalimat pengandaian di ayat ini tidak menyebut tobat, perbaikan, atau sisa kebaikan sebagai penahan akibat. Yang disebut hanya karunia dan rahmat. Rasa aman yang dibangun di atas catatan sendiri, atas seberapa rajin dan seberapa bersih, berdiri di atas dasar yang tidak disebut ayat ini sama sekali. Kesadaran itu tidak melumpuhkan usaha, tetapi memindahkan dasarnya dari kebanggaan ke syukur. Rangkaian yang menyebut penahannya (فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ) muncul di enam ayat, dan empat di antaranya berkumpul di surah 24, yaitu 24:10, 24:14, 24:20, dan 24:21. Di sana rangkaian ini dipakai berulang-ulang dalam perkara tuduhan palsu terhadap kehormatan seseorang. Jadi kalimat yang sama menahan akibat di dua peristiwa yang sama sekali berbeda, dan di keduanya yang menahan bukan sisa kebaikan yang dimiliki orangnya.
  • Yang diandaikan bukan hukuman yang menimpa, melainkan menjadi bagian dari suatu golongan. Kerugian di sini bukan kejadian yang lewat, melainkan keadaan yang menetap. Perpindahan semacam ini jarang terasa saat berlangsung, sebab tidak ada satu momen yang bisa ditunjuk sebagai saat berpindahnya. Ia terjadi lewat pengabaian yang diulang sampai menjadi kebiasaan, dan baru terbaca ketika ditengok ke belakang.
  • Ayat ini memberitahukan bahwa akibat yang seharusnya datang tidak jadi datang, dan sebabnya ada pada pihak yang dipunggungi, bukan pada yang memunggungi. Bagi orang yang menyadari dirinya sedang berpaling, kabar itu bekerja dua arah: ia menutup alasan untuk merasa aman, sekaligus menutup alasan untuk merasa sudah terlambat. Yang menahan kehancuran sejak awal bukan kelayakan, sehingga hilangnya kelayakan bukan akhir dari kemungkinan kembali.