وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

Sungguh, kalian benar-benar telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kalian pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kalian kera yang hina!”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِwa-la-qad 'alimtumu lladziina 'tadaw minkum fii s-sabtidan sungguh kalian telah mengetahui orang-orang yang melanggar di antara kalian pada hari Sabat
  2. فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَfa-qulnaa lahum kuunuu qiradatan khaasi'iinalalu Kami berfirman kepada mereka, jadilah kalian kera yang hina

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. عَلِمْتُمُ'alimtumukalian telah mengetahui
  3. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  4. اعْتَدَوْا'tadawmelampaui batas
  5. مِنْكُمْminkumdari kalian
  6. فِيfiipada
  7. السَّبْتِs-sabtiSabat
  8. فَقُلْنَاfa-qulnaamaka Kami berkata
  9. لَهُمْlahumkepada mereka
  10. كُونُواkuunuujadilah kalian
  11. قِرَدَةًqiradatankera
  12. خَاسِئِينَkhaasi'iinayang hina

Inti bacaan

Pelanggaran hari Sabat (melanggar batas yang jelas-jelas diketahui) berujung konsekuensi berat, ayat menekankan 'kalian benar-benar telah mengetahui', menghilangkan alasan ketidaktahuan. Konkretnya: pelanggaran terhadap aturan yang sudah dipahami jelas menanggung bobot berbeda dari kesalahan karena ketidaktahuan, sebuah pengingat untuk jujur pada diri sendiri tentang batas mana yang sebenarnya sudah kuketahui tapi kulanggar juga.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan “dan sungguh kalian benar-benar telah mengetahui” (وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ, wa-la-qad 'alimtumu). Pembukaan persis ini hanya muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini (2:65) dan di 56:62, dan dua-duanya bekerja dengan cara yang sama: ia tidak menyampaikan kabar baru, melainkan menagih kabar yang sudah dipegang pendengarnya. Di 56:62 yang sudah diketahui adalah penciptaan yang pertama, dan tagihannya diucapkan terang-terangan, “mengapa kalian tidak mengambil pelajaran” (فَلَوْلَا تَذَكَّرُونَ, fa-lawlaa tadzakkaruuna). Di sini tagihan itu tidak diucapkan. Ia diserahkan kepada peristiwa yang disebut sesudahnya.

Karena itulah ayat ini tampak begitu ringkas sampai terasa memotong. Ia menyebut “orang-orang yang melanggar di antara kalian pada hari Sabat” (الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ, alladziina 'tadaw minkum fii s-sabti) tanpa menerangkan apa pun tentang bentuk pelanggarannya: tidak disebut apa yang mereka kerjakan, kapan, berapa lama, atau bagaimana ketahuannya. Kata “Sabat” sendiri muncul lima kali di seluruh Al-Qur'an (2:65, 4:47, 4:154, 7:163, 16:124), dan keterangan yang tidak diberikan di sini justru diberikan di tempat lain: 4:154 menyebut larangannya, 7:163 menggambarkan keadaan yang menjadi ujian, dan 16:124 menyatakan bahwa hari itu ditetapkan atas orang-orang yang memperselisihkannya. Ayat ini melewati semuanya. Itu masuk akal bila diingat pembukaannya: kepada orang yang sudah tahu, cerita tidak perlu diulang, cukup ditunjuk.

Kata kerja “melanggar” di sini berakar pada gagasan melewati batas, bukan pada gagasan berbuat jahat. Bentuk yang sama muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 2:194, dan di ayat itu ia dipakai untuk penyerangan yang harus dibalas setimpal. Artinya yang disorot bukanlah besar kecilnya perbuatan, melainkan adanya garis yang sudah ditarik lalu dilewati. Yang dipersoalkan adalah batasnya, bukan kadarnya.

Bagian kedua dibuka dengan “lalu Kami katakan kepada mereka” (فَقُلْنَا لَهُمْ, fa-qulnaa lahum). Huruf penyambungnya menyatakan urutan yang rapat: tidak ada jeda yang disebutkan antara pelanggaran dan ucapan itu, tidak ada peringatan tambahan, dan tidak ada tawaran untuk kembali. Perbandingannya terlihat di 7:166, satu-satunya ayat lain yang memuat kalimat penutup yang sama persis. Di sana ucapan itu didahului keterangan sebab, “maka ketika mereka melampaui apa yang dilarang atas mereka” (فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ, fa-lammaa 'ataw 'an maa nuhuu 'anhu). Di sini keterangan sebab itu tidak ada, dan tempatnya digantikan oleh pengetahuan pendengar. Dua ayat memakai kalimat yang identik untuk dua pekerjaan yang berbeda: yang satu menceritakan, yang satu menagih ingatan.

Kalimat penutupnya, “jadilah kalian kera yang terhalau” (كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ, kuunuu qiradatan khaasi'iina), muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an (2:65, 7:166). Kata “kera” sendiri muncul tiga kali (2:65, 5:60, 7:166), dan yang ketiga berbentuk berita, bukan perintah: di 5:60 disebut “Dia jadikan sebagian mereka kera dan babi” (جَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ, ja'ala minhumu l-qiradata wa-l-khanaaziira). Perlu dicatat bahwa ayat ini berhenti pada ucapannya dan tidak menggambarkan apa yang terjadi sesudah ucapan itu. Apa yang tidak diterangkan sebaiknya tidak ditambahkan.

Kata terakhirnya patut diperhatikan tersendiri. Bentuk ini hanya muncul tiga kali (2:65, 7:166, 67:4), dan pemakaian yang ketiga sama sekali tidak berkaitan dengan manusia atau binatang: di 67:4 ia menerangkan pandangan mata yang kembali kepada pemiliknya, “dengan kecewa” (خَاسِئًا, khaasi'an), sesudah dua kali disuruh mencari cacat pada langit dan tidak menemukannya. Di sana kata itu berarti terpental balik, dihalau pulang tanpa membawa apa-apa. Makna itulah yang dibawanya ke ayat ini. Yang ditekankan bukan sekadar rendah, melainkan ditolak dan dipulangkan, sesuai dengan perbuatan yang mendahuluinya: mereka melewati batas, lalu batas itu memulangkan mereka.

Tafsiran

Ayat ini bekerja dengan cara yang tidak biasa: ia menyebut sebuah peristiwa besar, lalu menolak menceritakannya. Yang diberikan hanya kerangkanya, siapa yang melanggar dan pada hari apa, sementara seluruh isinya dibiarkan kosong. Kekosongan itu bukan kekurangan. Ia dibenarkan oleh kalimat pembukanya, yang menyatakan bahwa pendengarnya sudah tahu. Kepada orang yang sudah tahu, mengulang cerita justru bisa menumpulkan, sebab ia mengubah teguran menjadi bacaan.

Yang menarik, pelanggarannya sendiri tidak dinyatakan besar. Kata kerjanya berbicara tentang melewati garis, dan garis bisa dilewati sejengkal. Ayat ini tidak menimbang berat perbuatan, ia hanya mencatat bahwa batas yang sudah diketahui telah diseberangi oleh orang-orang yang mengetahuinya. Justru itulah yang membuatnya berat: bukan kadar perbuatannya, melainkan bahwa ia dilakukan dengan mata terbuka.

Letak ayat ini pun berbicara. Ia datang sesudah ayat yang menyebutkan bahwa mereka tidak jadi rugi karena karunia dan rahmat. Urutannya menyusun sebuah peringatan yang tenang: karunia yang menahan akibat bukanlah jaminan bahwa akibat tidak akan pernah datang. Ada saat ketika ia memang datang, dan ayat ini adalah contohnya. Dua ayat berdampingan menutup dua pintu yang berlawanan sekaligus, pintu putus asa dan pintu merasa aman.

Bagian yang paling sering menyita perhatian pembaca adalah kalimat penutupnya. Perlu kejujuran di sini: ayat ini berhenti pada ucapan dan tidak menerangkan apa yang terjadi sesudahnya. Orang telah lama berbeda dalam membacanya, dan perbedaan itu tidak diselesaikan oleh kata-kata yang ada di hadapan kita. Yang bisa dibaca dengan pasti justru terletak pada kata terakhirnya. Kata itu, di satu-satunya tempat lain yang tidak berbicara tentang manusia, dipakai untuk pandangan mata yang kembali dengan tangan hampa sesudah dua kali mencari dan tidak menemukan. Ia bermakna terpental, dipulangkan, dihalau. Dengan begitu hukuman yang disebut di sini punya bentuk yang sejajar dengan pelanggarannya: mereka bergerak melewati batas, dan yang mereka terima adalah gerakan yang berbalik arah, dipulangkan ke tempat yang lebih rendah daripada saat mereka berangkat.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut peristiwanya tanpa menceritakannya, karena dibuka dengan pernyataan bahwa pendengarnya sudah mengetahui. Pengetahuan yang sudah dimiliki bukan alasan untuk merasa selesai, melainkan alasan untuk ditagih. Yang paling sering luput dari kita justru bukan hal yang belum kita ketahui, melainkan hal yang sudah lama kita ketahui sampai berhenti terasa sebagai tuntutan.
  • Kata kerjanya berbicara tentang melewati garis, bukan tentang besar kecilnya perbuatan. Ayat ini sama sekali tidak menimbang berat pelanggarannya. Cara menilai seperti ini menutup satu tempat sembunyi yang nyaman: menghitung-hitung bahwa yang dilanggar hanyalah aturan kecil. Yang dipersoalkan adalah adanya batas yang sudah dikenal, lalu tetap diseberangi.
  • Yang melanggar adalah orang-orang di antara mereka sendiri, pada hari yang larangannya sudah diketahui bersama. Tidak ada ketidaktahuan yang bisa diajukan sebagai alasan. Pelanggaran yang paling sulit dibela bukanlah yang dilakukan karena bodoh, melainkan yang dilakukan sambil tahu persis sedang melakukan apa, dan tetap dikerjakan karena merasa tidak akan ada yang menagih.
  • Ayat ini berdiri persis sesudah ayat yang menyatakan bahwa mereka tidak jadi rugi karena karunia dan rahmat. Susunan itu tidak bertentangan, ia menyeimbangkan. Rahmat yang menahan akibat pada satu peristiwa bukan jaminan bahwa akibat tidak akan pernah datang pada peristiwa lain. Membaca satu ayat tanpa tetangganya menghasilkan dua kesalahan yang berlawanan: merasa aman, atau merasa habis.
  • Ayat ini berhenti pada ucapannya dan tidak menggambarkan apa yang terjadi sesudah itu. Godaan pembaca adalah mengisi kekosongan itu dengan bayangannya sendiri lalu memperlakukan bayangan itu sebagai bagian dari ayat. Disiplin yang lebih jujur adalah membedakan dengan tegas antara apa yang tertulis dan apa yang kita duga, dan tidak memberikan bobot yang sama kepada keduanya. Mengapa keterangan sepenting itu justru ditahan? Karena yang sedang dibicarakan bukan bentuk hukumannya melainkan sebabnya. Pembaca yang sibuk membayangkan wujudnya sedang membicarakan hal yang tidak dibicarakan Allah di ayat ini, dan sambil begitu ia melewati satu-satunya hal yang memang disebutkan, yaitu bahwa mereka tahu batasnya dan melewatinya juga.
  • Kata terakhir ayat ini dipakai juga di 67:4 untuk pandangan mata yang kembali dengan tangan hampa sesudah dua kali mencari dan tidak menemukan apa-apa. Maknanya terpental balik, dihalau pulang. Bentuk akibat semacam ini sejajar dengan bentuk pelanggarannya: gerakan melewati batas dibalas dengan gerakan yang dipulangkan. Yang dicari dengan menyeberang garis justru berujung membawa pulang lebih sedikit daripada yang dibawa saat berangkat. Kata untuk wujud yang disebutkan (قِرَدَةً) muncul di dua ayat, di sini dan di 7:166, dan keduanya menceritakan peristiwa yang sama. Yang membedakan keduanya adalah keterangan sebelumnya: 7:166 menyebutkan lebih dulu bahwa mereka menyombongkan diri terhadap apa yang dilarang, sedangkan ayat ini cukup menyebut bahwa pendengarnya sudah tahu. Dua kali disebut, dan tak satu pun kali menggambarkan wujud yang dimaksud.