Ayat 2:67

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata, “Apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan?” Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةًwa-idz qaala muusaa li-qawmihi inna llaaha ya'murukum an tadzbahuu baqaratandan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi
  2. قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَqaaluu a-tattakhidzunaa huzuwan qaala a'uudzu bi-llaahi an akuuna mina l-jaahiliinamereka berkata, apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan? Musa berkata, aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang bodoh

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. وَإِذْwa-idzdan ketika
  2. قَالَqaalaberkata
  3. مُوسَىٰmuusaaMusa
  4. لِقَوْمِهِli-qawmihikepada kaumnya
  5. إِنَّinnasesungguhnya
  6. اللَّهَllaahaAllah
  7. يَأْمُرُكُمْya'murukummemerintahkan kalian
  8. أَنْanuntuk
  9. تَذْبَحُواtadzbahuukalian menyembelih
  10. بَقَرَةًbaqaratanseekor sapi
  11. قَالُواqaaluumereka berkata
  12. أَتَتَّخِذُنَاa-tattakhidzunaaapakah engkau menjadikan kami
  13. هُزُوًاhuzuwanejekan
  14. قَالَqaalaberkata
  15. أَعُوذُa'uudzuaku berlindung
  16. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  17. أَنْandari
  18. أَكُونَakuunaaku menjadi
  19. مِنَminadari
  20. الْجَاهِلِينَl-jaahiliinaorang-orang yang jahil

Inti bacaan

Reaksi awal ('apakah engkau menjadikan kami ejekan?') menunjukkan kecurigaan terhadap perintah yang tampak aneh, sebuah respons manusiawi yang wajar terhadap instruksi yang tidak langsung masuk akal. Konkretnya: kewaspadaan terhadap instruksi yang tampak ganjil itu sah, tapi cara meresponsnya penting, bertanya untuk memahami (seperti yang terjadi di ayat-ayat berikutnya) lebih produktif daripada menolak mentah-mentah atau curiga tanpa dasar.

Penjelasan pilihan kata

"Ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi", perintah yang sederhana: sembelih sapi. Tapi respons mereka: "Mereka berkata, Apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan?", mereka mencurigai Musa. Bukannya taat, mereka malah balik bertanya dengan nada menantang. "Musa berkata, Aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang bodoh", Musa menolak tuduhan itu. Ini bukan ejekan; ini perintah.

Dari sini dimulai dialog panjang (2:67-71) yang menunjukkan betapa Bani Israil mempersulit diri sendiri: setiap kali mereka bertanya lebih detail, perintahnya menjadi lebih spesifik dan lebih sulit. Pola ini menjadi nama surah: AL-baqarah, Sapi Betina.

Perintah yang membuka seluruh rangkaian ini diucapkan dengan kata yang tidak dipakai lagi di mana pun. "Kalian menyembelih" (تَذْبَحُوا, tadzbahuu) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Begitu pula bantahan yang menyambutnya: "apakah engkau menjadikan kami" (أَتَتَّخِذُنَا, a-tattakhidzunaa) juga sekali pakai. Dua kata sekali pakai berhadapan dalam satu ayat, yang satu memerintahkan dan yang satu menampiknya, dan tidak satu pun dari keduanya terdengar lagi sesudah ini.

Hewan yang memberi nama pada surah terpanjang Al-Qur'an ternyata hampir tidak dibicarakan di dalamnya. Sapi disebut sembilan kali di seluruh Al-Qur'an (2:67, 2:68, 2:69, 2:70, 2:71, 6:144, 6:146, 12:43, 12:46), dan lima dari sembilan itu berkumpul di lima ayat berturut ini. Dua yang lain muncul dalam daftar hewan ternak yang dibicarakan hukumnya (6:144, 6:146), dan dua terakhir dalam mimpi seorang raja yang ditakwilkan Yusuf (12:43, 12:46). Di luar itu tidak ada. Nama surah ini diambil dari sesuatu yang lewat sebentar lalu tidak kembali.

"Aku berlindung" (أَعُوذُ, a'uudzu) muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an (2:67, 11:47, 19:18, 23:97, 23:98, 113:1, 114:1), dan "orang-orang yang jahil" (الْجَاهِلِينَ, l-jaahiliina) enam kali (2:67, 6:35, 7:199, 11:46, 12:33, 28:55). Kedua daftar itu bersinggungan di dua tempat saja, dan tempat yang satu lagi berdempetan: di 11:46 Nuh diberi tahu agar tidak termasuk orang jahil karena memohon sesuatu yang tidak ia ketahui, dan di 11:47 ia menjawab dengan berlindung kepada Tuhannya dari memohon yang tidak ia ketahui. Susunannya berkebalikan dengan yang di sini. Di sana yang terlalu banyak meminta adalah nabinya sendiri, dan ia berlindung dari dirinya. Di sini yang akan terlalu banyak meminta adalah kaumnya, dan nabinya berlindung sebelum permintaan itu bahkan dimulai.

Tafsiran

Dialog sapi betina (2:67-71) adalah kisah yang memberi nama pada seluruh surah. Esensinya: perintah sederhana yang dipersulit oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu. Setiap kali Bani Israil bertanya "seperti apa sapinya?", jawabannya semakin spesifik, dan semakin sulit dipenuhi. Ini adalah pelajaran tentang bahaya mempersulit diri sendiri dengan pertanyaan yang tidak perlu terhadap perintah yang sudah jelas. Makin banyak bertanya, makin sempit ruang gerak.

Yang layak diperhatikan dari bantahan mereka adalah bentuknya. Mereka tidak mengatakan perintah itu berat, tidak pula meminta alasannya. Mereka bertanya apakah sedang dipermainkan. Tuduhan semacam itu mengandaikan sesuatu: bahwa perintah sesederhana menyembelih seekor sapi terlalu remeh untuk sungguh-sungguh datang dari Allah. Bukan kesulitan perintahnya yang membuat mereka curiga, melainkan kesederhanaannya.

Jawaban Musa tidak membela perintah itu dan tidak menerangkan hikmahnya. Ia hanya menolak masuk ke dalam golongan yang menganggap urusan semacam ini pantas dijadikan bahan olok-olok. Jarak antara dia dan kaumnya sudah terlihat di sini, sebelum satu pertanyaan pun diajukan. Bagi mereka sebuah perintah perlu masuk akal lebih dulu baru dikerjakan; bagi dia perintah itu dikerjakan, dan soal masuk akalnya bukan syarat yang mendahului.

Renungan dan Hikmah

  • Satu perintah sederhana: sembelih sapi. Mereka membalas dengan kecurigaan, lalu dengan pertanyaan demi pertanyaan: umur berapa? warna apa? Setiap pertanyaan mempersempit pilihan, membuat perintah yang tadinya mudah menjadi semakin sulit. Jenis kelaminnya tidak pernah mereka tanyakan, sebab kata yang dipakai Allah sejak semula sudah menyebut sapi betina. Yang mereka tanyakan justru hal-hal yang tidak ditentukan, dan tiap jawaban atasnya menutup satu demi satu pintu yang tadinya terbuka lebar. Perintah yang bisa diselesaikan pada hari itu juga berubah menjadi pencarian yang hampir gagal, dan yang mengubahnya bukan Yang memerintahkan melainkan yang diperintah.
  • Jawaban pertama mereka bukan keluhan bahwa perintah itu berat. Mereka bertanya apakah sedang dipermainkan. Tuduhan semacam itu hanya masuk akal kalau mereka menganggap urusan menyembelih seekor sapi terlalu remeh untuk sungguh-sungguh datang dari Allah. Wahyu, dalam bayangan mereka, mestinya berisi sesuatu yang besar. Apa yang membuat sebuah perintah terasa terlalu kecil untuk dianggap serius, dan siapa sebenarnya yang menetapkan ukuran besar kecilnya? Perintah itu tidak berubah oleh anggapan mereka; yang berubah hanyalah kesediaan mereka mengerjakannya, dan kesediaan itu ternyata bergantung pada ukuran yang mereka tetapkan sendiri.
  • Urutannya layak diperhatikan. Kalau mereka tidak paham, pertanyaan adalah tanggapan yang wajar. Tetapi tanggapan pertama mereka bukan pertanyaan melainkan tuduhan, dan pertanyaan baru menyusul di ayat berikutnya sesudah tuduhan itu ditampik. Rangkaian tanya jawab yang panjang di perikop ini karena itu tidak berdiri di atas ketidaktahuan. Ia berdiri di atas kecurigaan yang sudah lebih dulu diucapkan, dan pertanyaan yang datang sesudahnya mewarisi kecurigaan itu. Bertanya sesudah menuduh bukan lagi mencari tahu; ia mencari alasan.
  • Musa tidak membela perintah itu, tidak menerangkan hikmahnya, dan tidak membalas tuduhan dengan tuduhan. Ia berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang yang menjadikan urusan seperti ini bahan olok-olok. Tanggapan itu memindahkan perkaranya dari perdebatan tentang masuk akal atau tidak ke tempat yang lain sama sekali. Yang ia jaga bukan wibawanya sendiri sebagai penyampai, melainkan kedudukannya di hadapan Yang mengutusnya. Seluruh sisa perikop ini akan dijalaninya dengan sikap yang sama: menyampaikan, tanpa sekali pun ikut menawar.
  • Sebutan yang Musa hindari bukan sebutan untuk orang yang kurang ilmu. Di 7:199 Nabi diperintahkan berpaling dari orang-orang jahil, dan yang dimaksud di sana bukan orang bodoh melainkan orang yang menanggapi dengan sembrono. Di 11:46 Nuh dinasihati agar tidak termasuk golongan itu, padahal yang ia lakukan adalah memohon kepada Allah untuk anaknya sendiri. Jahil dalam pemakaian ini adalah cara bersikap, bukan kadar pengetahuan. Musa berlindung dari sebuah tabiat, bukan dari kekurangan.
  • Surah terpanjang Al-Qur'an memakai nama seekor sapi, padahal sapi disebut sembilan kali saja di seluruh Al-Qur'an (2:67, 2:68, 2:69, 2:70, 2:71, 6:144, 6:146, 12:43, 12:46), dan lima di antaranya berkumpul di perikop pendek ini. Dua sisanya menyangkut hukum hewan ternak, dua terakhir sebuah mimpi yang ditakwilkan Yusuf. Nama itu tidak diambil dari ayat pembuka surah, tidak pula dari pokok bahasannya yang paling luas. Ia diambil dari sebuah peristiwa yang isinya tanya jawab yang berkepanjangan dan ketaatan yang nyaris tidak jadi. Ada keputusan penamaan di situ yang tidak menonjolkan bagian paling agung dari surah ini, melainkan bagian yang paling menyulitkan untuk dibanggakan.

Ayat 2:68

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

Mereka berkata, “Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu.” Ia berkata, “Sesungguhnya Dia berfirman, ‘Ia sapi yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu.’ Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَqaaluu du lanaa rabbaka yubayyin lanaa maa hiyamereka berkata, serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu
  2. قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَqaala innahu yaquulu innahaa baqaratun laa faaridhun wa-laa bikrun 'awaanun bayna dzaalika fa-'faluu maa tu'maruunaia berkata, sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu; maka laksanakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. ادْعُd'userukanlah
  3. لَنَاlanaabagi kami
  4. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  5. يُبَيِّنْyubayyinDia menjelaskan
  6. لَنَاlanaabagi kami
  7. مَاmaaapa
  8. هِيَhiyaia
  9. قَالَqaalaberkata
  10. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  11. يَقُولُyaquuluberkata
  12. إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
  13. بَقَرَةٌbaqaratunsapi
  14. لَاlaatidak
  15. فَارِضٌfaaridhuntua
  16. وَلَاwa-laadan tidak pula
  17. بِكْرٌbikrunmuda
  18. عَوَانٌ'awaanunpertengahan
  19. بَيْنَbaynadi antara
  20. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  21. فَافْعَلُواfa-'faluumaka kerjakanlah kalian
  22. مَاmaaapa yang
  23. تُؤْمَرُونَtu'maruunakalian diperintahkan

Inti bacaan

Pertanyaan berulang tentang detail sapi (2:68-2:71) menunjukkan pola menunda kepatuhan dengan terus meminta spesifikasi tambahan, padahal perintah dasarnya sudah jelas sejak 2:67. Konkretnya: pola menunda tindakan dengan alasan 'butuh lebih banyak informasi' kadang menyamarkan keengganan sebenarnya untuk bertindak, periksa apakah pertanyaan lanjutan yang kuajukan benar-benar dibutuhkan, atau sekadar cara menunda.

Penjelasan pilihan kata

Mereka bertanya: "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu", setelah perintah menyembelih sapi (2:67), mereka tidak langsung mencari sapi. Mereka bertanya: sapi yang bagaimana? Padahal perintahnya sederhana: sembelih sapi. Tidak disebutkan jenis, warna, atau umur. Yang diminta adalah ketaatan, bukan spesifikasi.

Jawaban: sapi itu "tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu", kriteria umur: sapi setengah baya, tidak terlalu tua (sulit disembelih) dan tidak terlalu muda (belum cukup daging). Allah mempersempit setelah mereka bertanya, padahal tadinya sapi apa pun bisa. "Maka laksanakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian", penutup tegas: Sudah cukup bertanya. Laksanakan.

Kalimat permintaan mereka bukan susunan yang jarang. "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu" (ادْعُ لَنَا رَبَّكَ, ud'u lanaa rabbaka) dipakai enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:61, 2:68, 2:69, 2:70, 7:134, 43:49), dan empat di antaranya ada di surah ini. Yang paling menerangkan justru yang di luar rangkaian ini. Di 2:61, tujuh ayat sebelumnya, kalimat yang sama persis dipakai untuk meminta agar makanan yang satu macam diganti dengan sayuran, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah. Dua kali kalimat itu diucapkan, dua kali isinya sama: yang diberikan dianggap kurang jelas atau kurang berselera, dan Musa diminta menyampaikan permintaan tambahan.

Sedangkan potongan keduanya jauh lebih sempit sebarannya. "Agar Dia menjelaskan kepada kami" (يُبَيِّنْ لَنَا, yubayyin lanaa) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya ada di perikop ini (2:68, 2:69, 2:70). Permintaan penjelasan dengan susunan kata itu tidak pernah terdengar di tempat lain mana pun. Ia lahir di sini, diulang dua kali lagi dalam tiga ayat, lalu berhenti.

Jawaban atas permintaan itu memakai tiga kata yang masing-masing hanya sekali ada di seluruh Al-Qur'an: "tua" (فَارِضٌ, faaridhun), "muda" (بِكْرٌ, bikrun), dan "pertengahan" (عَوَانٌ, 'awaanun). Tiga kata sekali pakai berturut-turut dalam satu kalimat pendek. Perbendaharaan yang dipakai untuk mempersempit pilihan mereka ternyata perbendaharaan yang tidak dipakai untuk apa pun yang lain.

Cara jawaban itu sampai kepada mereka pun punya penanda sendiri. "Sesungguhnya Dia berfirman" (إِنَّهُ يَقُولُ, innahu yaquulu) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya ada di perikop ini (2:68, 2:69, 2:71). Tiap jawaban datang berlapis: mereka bertanya kepada Musa, Musa membawanya kepada Tuhannya, lalu jawaban itu kembali melalui Musa dengan pembuka yang sama persis. Lapisan itu tidak pernah dilepas sampai jawaban yang terakhir. Mereka tidak sekali pun berbicara langsung, dan tidak sekali pun meminta untuk itu.

Penutupnya juga berdiri sendiri. "Maka kerjakanlah" (فَافْعَلُوا, fa-f'aluu) hanya muncul di ayat ini dan tidak di tempat lain mana pun. Bentuk perintah yang sama untuk satu orang dipakai di 37:102, ketika Ismail berkata kepada ayahnya agar mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, dan yang diperintahkan di sana adalah menyembelih Ismail sendiri. Kalimat itu keluar dari mulut orang yang akan disembelih, dipakai untuk mendorong agar perintah dijalankan. Di sini kalimat yang sebentuk dipakai untuk menghentikan rentetan pertanyaan dari orang yang diminta menyembelih seekor sapi.

Tafsiran

Ini dialog yang menunjukkan bagaimana manusia mempersulit diri sendiri. Setiap pertanyaan, bukannya membantu, malah mempersempit ruang gerak. Tadinya sapi apa pun boleh. Sekarang ada kriteria umur. Di ayat-ayat berikutnya, mereka akan terus bertanya, dan kriteria akan terus menyempit. Pelajaran: jangan bertanya hanya untuk menunda.

Permintaan pertama ini tampak wajar kalau dibaca sendirian. Orang yang diperintah menyembelih sapi memang bisa bertanya sapi yang mana. Yang membuatnya berbeda adalah apa yang terjadi pada jawabannya. Sebelum bertanya, seluruh sapi memenuhi syarat. Sesudah dijawab, hanya yang berumur pertengahan. Penjelasan yang mereka minta tidak menambah kemudahan, melainkan mengurangi kemungkinan.

Penutup ayat ini terdengar seperti pintu yang ditutup pelan. Sesudah keterangan umur diberikan, disusulkan perintah agar mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Kalimat itu tidak menjawab pertanyaan apa pun; ia menghentikan pertanyaan. Ada satu titik dalam setiap perintah ketika keterangan tambahan berhenti menolong, dan penutup ini menandai bahwa titik itu sudah terlampaui pada permintaan yang pertama.

Ada hal lain yang tersirat dari keterangan umur yang diberikan. Sapi pertengahan bukan sapi yang istimewa; ia justru sapi yang paling biasa, yang paling banyak ada di kandang mana pun. Kalau tujuan jawaban ini menyulitkan, umur pertengahan adalah pilihan yang buruk. Syarat pertama yang mereka dapatkan sebenarnya masih sangat longgar, dan kesempitan yang kelak mereka keluhkan belum terjadi pada tahap ini. Yang mempersempitnya adalah pertanyaan mereka berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Tadinya sapi apa pun boleh. Setelah bertanya, ada kriteria umur. Kita sering minta penjelasan lebih detail, berharap itu mempermudah, tapi ternyata malah mempersulit. Semakin spesifik kriteria, semakin sedikit yang memenuhi. Kadang lebih baik menerima perintah sebagaimana adanya daripada terus bertanya sampai tidak ada lagi pilihan yang tersisa.
  • Sebelum pertanyaan diajukan, setiap sapi memenuhi perintah. Sesudah dijawab, hanya sapi berumur pertengahan. Penjelasan yang diminta tidak menambah kemampuan mereka melaksanakan; ia mengurangi jumlah yang bisa dipakai. Ini kebalikan dari apa yang biasanya diharapkan orang ketika meminta kejelasan. Kejelasan dibayangkan sebagai penerangan yang memperlihatkan lebih banyak, padahal pada perintah yang sengaja Allah biarkan longgar, kejelasan tambahan bekerja sebaliknya: ia mengubah keluasan menjadi daftar syarat.
  • Setiap jawaban di perikop ini melewati Musa. Mereka bertanya kepadanya, ia membawanya kepada Tuhannya, dan jawaban kembali melalui mulutnya dengan pembuka yang selalu sama. Tidak sekali pun mereka meminta agar lapisan itu dihilangkan, padahal yang mereka cari adalah kepastian. Mengapa orang yang ingin sekali yakin justru merasa cukup bertanya lewat orang lain? Barangkali karena perantara juga menyediakan jarak, dan jarak memberi ruang untuk bertanya sekali lagi tanpa harus berhadapan sendiri dengan jawabannya.
  • Sapi berumur pertengahan bukan sapi yang langka. Justru itulah yang paling banyak ada di kandang mana pun, sebab yang terlalu tua sudah disingkirkan dan yang terlalu muda belum dipakai. Kalau jawaban ini dimaksudkan menyulitkan, umur pertengahan adalah pilihan yang buruk sekali. Kesempitan yang kelak mereka keluhkan belum ada pada tahap ini. Tahap pertama masih longgar, dan pada tahap pertama itu pula mereka sebenarnya sudah bisa berangkat mencari.
  • Sesudah keterangan umur diberikan, disusulkan perintah agar mereka mengerjakan apa yang diperintahkan. Kalimat itu tidak menambah satu pun keterangan; ia menghentikan pertanyaan. Ada satu titik pada setiap perintah ketika keterangan tambahan berhenti menolong dan mulai menggantikan pekerjaan itu sendiri, dan penutup ini menandai bahwa Allah menilai titik itu sudah terlampaui pada permintaan yang pertama, bukan pada yang keempat. Peringatan itu diucapkan sekali, lalu tidak pernah diulang di tiga ayat sesudahnya.
  • Perintah mengerjakan apa yang diperintahkan muncul lagi di 37:102, dan di sana ia keluar dari mulut Ismail kepada ayahnya, tentang mimpi menyembelih Ismail sendiri. Yang mengucapkannya adalah pihak yang akan kehilangan nyawanya, dan ia memakainya untuk mendorong agar perintah Allah segera dijalankan. Di sini kalimat yang sebentuk dipakai untuk menghentikan rentetan pertanyaan dari orang yang hanya diminta menyembelih seekor hewan. Satu kalimat, dua keadaan yang jaraknya sejauh itu.

Ayat 2:69

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

Mereka berkata, “Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.” Ia berkata, “Sesungguhnya Dia berfirman, ‘Ia sapi kuning, cerah warnanya, menyenangkan orang-orang yang memandang.’”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَاqaaluu du lanaa rabbaka yubayyin lanaa maa lawnuhaamereka berkata, serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya
  2. قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَqaala innahu yaquulu innahaa baqaratun shafraau faaqiun lawnuhaa tasurru n-naazhiriinaia berkata, sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu kuning tua, warnanya menyenangkan orang yang melihatnya

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. ادْعُd'userukanlah
  3. لَنَاlanaabagi kami
  4. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  5. يُبَيِّنْyubayyinDia menjelaskan
  6. لَنَاlanaabagi kami
  7. مَاmaaapa
  8. لَوْنُهَاlawnuhaawarnanya
  9. قَالَqaalaberkata
  10. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  11. يَقُولُyaquuluberkata
  12. إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
  13. بَقَرَةٌbaqaratunsapi
  14. صَفْرَاءُshafraaukuning
  15. فَاقِعٌfaaqiuncerah
  16. لَوْنُهَاlawnuhaawarnanya
  17. تَسُرُّtasurrumenyenangkan
  18. النَّاظِرِينَn-naazhiriinaorang-orang yang memandang

Inti bacaan

Pertanyaan lanjutan soal warna sapi memperpanjang lagi proses yang seharusnya sederhana. Konkretnya: perfeksionisme dalam mencari kondisi 'ideal' sebelum bertindak bisa menjadi bentuk penundaan terselubung, kadang tindakan yang 'cukup baik dan segera' lebih berharga daripada terus mencari kepastian sempurna.

Penjelasan pilihan kata

Pertanyaan kedua: "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya." Mereka belum puas dengan kriteria umur. Sekarang warna. "Ia berkata, Sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu kuning tua, warnanya menyenangkan orang yang melihatnya", kuning tua yang cerah, tidak kusam. Setiap pertanyaan membawa satu kriteria baru: dari sapi apa pun ke sapi setengah baya ke sapi kuning tua yang indah.

Mereka masih belum berhenti. Pertanyaan ketiga akan datang.

Ayat ini kepadatan hapaksnya paling tinggi di seluruh perikop. Empat kata di dalamnya masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an: "kuning" (صَفْرَاءُ, shafraa'u), "cerah" (فَاقِعٌ, faaqi'un), "menyenangkan" (تَسُرُّ, tasurru), dan "orang-orang yang memandang" (النَّاظِرِينَ, n-naazhiriina). Seluruh keterangan warna sapi itu, dari warnanya sampai efeknya pada yang melihat, disusun dari kata-kata yang tidak dipakai lagi untuk apa pun.

Ada pola yang terbaca kalau ketiga jawaban dijajarkan. Jawaban pertama di 2:68 memuat tiga kata sekali pakai, jawaban kedua di ayat ini memuat empat, dan jawaban terakhir di 2:71 memuat dua lagi. Semakin rinci syarat yang diminta, semakin sempit pula perbendaharaan yang dipakai menjawabnya. Bahasa Al-Qur'an sendiri ikut menyempit seiring pertanyaan mereka menyempit, dan kata-kata yang lahir di sana tidak pernah dipakai lagi sesudahnya.

Satu hal yang layak dicatat tentang isi jawaban ini: tidak satu pun dari keterangannya menyangkut kelayakan sapi itu untuk disembelih. Warna kuning tidak membuat seekor sapi lebih sah dijadikan kurban, dan menyenangkan orang yang memandang bukan syarat penyembelihan. Yang ditambahkan bukan syarat keagamaan melainkan ciri pengenal, dan ciri pengenal hanya dibutuhkan oleh orang yang masih mencari, bukan oleh orang yang sudah bersiap menyembelih.

Satu keterangan di ayat ini berbeda jenisnya dari semua keterangan lain di perikop. Umur, warna, riwayat kerja, dan ketiadaan belang adalah sifat yang melekat pada sapinya sendiri, bisa diperiksa tanpa kehadiran siapa pun. Tetapi "menyenangkan orang-orang yang memandang" melekat pada penontonnya. Ia tidak bisa diperiksa pada tubuh sapi itu; ia hanya muncul kalau ada yang berdiri dan melihat. Dari semua syarat yang dituntut lewat empat pertanyaan, satu-satunya yang membutuhkan mata manusia justru disisipkan tanpa diminta, di tengah jawaban atas pertanyaan tentang warna.

Arah jawaban ini juga layak diperhatikan. Setiap tambahan syarat memang mempersempit pilihan, tetapi tidak setiap tambahan memberatkan. Sapi yang berumur pertengahan lebih sukar dicari daripada sapi mana saja, dan sapi kuning cerah lebih sukar lagi. Namun keterangan bahwa ia menyenangkan yang memandang tidak menambah satu pun kesukaran pencarian. Ia hanya membuat hewan yang sedang dicari itu terbayang lebih indah oleh orang yang sedang enggan mencarinya.

Tafsiran

Pertanyaan kedua: warna. Ini semakin memperlihatkan bahwa mereka tidak serius ingin melaksanakan. Setiap pertanyaan adalah penundaan, berharap dengan memperumit, perintah menjadi mustahil dan mereka terbebas. Tapi Allah tidak membatalkan; Ia terus menjawab, dan setiap jawaban justru memperjelas bahwa perintah ini serius.

Pertanyaan tentang warna datang sesudah pertanyaan tentang umur dijawab, dan itu memberi tahu sesuatu tentang apa yang sebenarnya sedang dicari. Orang yang hendak menyembelih tidak memerlukan warna. Warna berguna bagi orang yang sedang mencari, atau bagi orang yang ingin memastikan bahwa yang dicari belum ditemukan.

Jawaban yang diberikan kepada mereka justru bergerak ke arah lain. Sapi itu tidak disifati dengan sesuatu yang menyulitkan, melainkan dengan sesuatu yang menyenangkan orang yang memandangnya. Keterangan itu tidak menambah beban; ia menambah keindahan. Ada semacam kesabaran dalam cara Allah menjawab di sini. Permintaan yang lahir dari keengganan dibalas dengan gambaran yang cerah, bukan dengan hardikan, dan hardikan yang sebenarnya sudah diucapkan satu ayat sebelumnya lalu tidak diulang.

Kalau seluruh perikop ini dibaca sebagai ujian, ayat inilah bagian yang paling ringan ujiannya sekaligus paling berat akibatnya. Yang ditambahkan hanyalah warna, sesuatu yang mudah dilihat dan mudah dicocokkan. Namun justru sesudah keterangan yang paling mudah inilah mereka mengulang pertanyaan yang paling awal. Kemudahan sebuah keterangan ternyata tidak menentukan apakah ia akan dipakai.

Renungan dan Hikmah

  • Setiap pertanyaan adalah penundaan halus. Mereka tidak menolak secara terbuka; mereka bertanya, berharap semakin rumit semakin tidak mungkin. Ini strategi yang sering dipakai: menunda dengan berpura-pura mencari kejelasan. Tapi perintah yang benar tidak akan hilang hanya karena kita memperumitnya.
  • Tidak satu pun keterangan di ayat ini menyangkut layak tidaknya sapi itu disembelih. Warna kuning tidak membuat seekor hewan lebih sah dijadikan sembelihan, dan menyenangkan orang yang memandang bukan syarat dalam hukum mana pun. Yang bertambah bukan syarat keagamaan melainkan ciri pengenal. Ciri pengenal hanya berguna bagi orang yang masih mencari, dan mereka meminta ciri justru pada tahap ketika seharusnya sudah berangkat. Pertanyaan mereka membuka isi kepala mereka lebih banyak daripada yang mereka sadari.
  • Umur, warna, riwayat kerja, dan ketiadaan belang semuanya melekat pada tubuh sapi itu dan bisa diperiksa tanpa kehadiran siapa pun. Tetapi keterangan bahwa ia menyenangkan orang-orang yang memandang melekat pada penontonnya. Ia tidak ada pada sapi itu sendiri; ia muncul hanya kalau ada yang berdiri dan melihat. Dari seluruh syarat yang lahir karena pertanyaan mereka, satu-satunya yang membutuhkan mata manusia justru diberikan Allah tanpa diminta, disisipkan di tengah jawaban tentang warna.
  • Permintaan ini lahir dari keengganan, dan yang paling wajar menyusul adalah teguran. Yang datang justru gambaran yang cerah: kuning yang tidak kusam, warna yang menyenangkan siapa pun yang memandangnya. Teguran memang sudah diucapkan satu ayat sebelumnya, lalu tidak diulang lagi sampai perikop ini berakhir. Apa yang sebenarnya sedang dikerjakan oleh jawaban yang lebih indah daripada yang pantas diterima penanyanya? Kesabaran Allah di sini tidak diucapkan sebagai pernyataan; ia hanya tampak dari pilihan kata yang dipakai menjawab.
  • Empat kata di ayat ini masing-masing tidak muncul lagi di mana pun: kuning, cerah, menyenangkan, dan orang-orang yang memandang. Seluruh keterangan warna itu, dari warnanya sampai efeknya pada yang melihat, disusun dari perbendaharaan sekali pakai. Pola yang sama terlihat pada jawaban sebelum dan sesudahnya. Makin rinci syarat yang dituntut, makin sempit pula perbendaharaan yang dipakai menjawabnya, sampai kata-kata yang lahir di sana tidak pernah terpakai lagi untuk apa pun sesudah perikop ini ditutup.
  • Warna adalah keterangan yang paling mudah dicocokkan dari semua yang diberikan di perikop ini. Ia terlihat dari jauh, tidak menuntut pemeriksaan, dan tidak memerlukan keahlian. Namun justru sesudah keterangan yang paling mudah inilah mereka kembali mengajukan pertanyaan yang paling awal. Kemudahan sebuah keterangan ternyata tidak menentukan apakah ia akan dipakai, dan kalau yang mudah pun tidak memadai, yang kurang sejak semula bukanlah keterangannya. Allah memberi lebih dari yang diminta di ayat ini, dan tetap saja belum cukup bagi mereka.

Ayat 2:70

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

Mereka berkata, “Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu serupa bagi kami; dan sungguh kami, jika Allah menghendaki, pasti akan mendapat petunjuk.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَqaaluu du lanaa rabbaka yubayyin lanaa maa hiya inna l-baqara tasyaabaha 'alaynaa wa-innaa in syaa'a llaahu la-muhtaduunamereka berkata, serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu mirip bagi kami, dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan mendapat petunjuk

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. ادْعُd'userukanlah
  3. لَنَاlanaabagi kami
  4. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  5. يُبَيِّنْyubayyinDia menjelaskan
  6. لَنَاlanaabagi kami
  7. مَاmaaapa
  8. هِيَhiyaia
  9. إِنَّinnasesungguhnya
  10. الْبَقَرَl-baqarasapi-sapi
  11. تَشَابَهَtasyaabahaserupa
  12. عَلَيْنَا'alaynaaatas kami
  13. وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
  14. إِنْinjika
  15. شَاءَsyaa'amenghendaki
  16. اللَّهُllaahuAllah
  17. لَمُهْتَدُونَla-muhtaduunapasti orang-orang yang mendapat petunjuk

Inti bacaan

Pengakuan 'sapi-sapi itu serupa bagi kami' menunjukkan kebingungan yang sebagiannya genuine, tapi diikuti harapan 'jika Allah menghendaki, kami pasti mendapat petunjuk', sebuah sikap yang tetap membuka ruang bagi bimbingan meski dalam kebingungan. Konkretnya: kebingungan yang jujur (bukan dalih menunda) tetap sah diakui, selama disertai kesediaan untuk terus mencari kejelasan, bukan berhenti di titik bingung.

Penjelasan pilihan kata

Pertanyaan ketiga: "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu mirip bagi kami." Setelah diberi umur dan warna, mereka mengaku bingung, semua sapi terlihat mirip. Padahal dengan dua kriteria itu seharusnya sudah cukup.

Mereka menambahkan: "dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan mendapat petunjuk", kali ini mereka menyelipkan insya allah. Tapi di balik kesalehan verbal itu, pertanyaan mereka tetaplah penundaan. Kata-kata saleh tidak otomatis membuat niat menjadi bersih.

Pertanyaan di ayat ini bukan pertanyaan baru. Susunannya sama persis dengan pertanyaan pertama di 2:68, sampai ke kata terakhirnya: "apa itu" (مَا هِيَ, maa hiya). Dua jawaban sudah diberikan di antara keduanya, satu tentang umur dan satu tentang warna, dan sesudah dua jawaban itu mereka mengajukan kembali pertanyaan yang sama dengan kata yang sama. Bukan pertanyaan lanjutan, bukan pula pertanyaan yang lebih tajam. Pertanyaan yang identik, diulang.

Alasan yang mereka berikan memakai kata kerja yang menarik: "serupa bagi kami" (تَشَابَهَ, tasyaabaha). Kata kerja yang sama, dalam bentuk perempuannya, dipakai di 2:118 untuk hal yang sama sekali berbeda. Di sana disebutkan bahwa orang-orang yang tidak berilmu meminta agar Allah berbicara langsung kepada mereka atau mendatangkan tanda, lalu dikatakan bahwa orang-orang sebelum mereka berkata seperti itu juga, dan hati mereka serupa. Kata itu dipakai dua kali dalam surah yang sama untuk dua hal yang berlawanan kedudukannya: sekali sebagai alasan yang diajukan orang yang menuntut kejelasan lebih, sekali sebagai penilaian atas orang yang menuntut kejelasan lebih.

Penutup ayat ini juga tidak biasa untuk sebuah permintaan. "Sungguh kami, jika Allah menghendaki, pasti akan mendapat petunjuk" diucapkan sebelum jawaban diberikan, bukan sesudahnya. Janji akan menemukan dipasang di depan, sebagai bagian dari permintaan yang ketiga, sesudah dua permintaan sebelumnya sudah dipenuhi tanpa menghasilkan seekor sapi pun.

Ucapan itu sendiri jarang. "Jika Allah menghendaki" (إِنْ شَاءَ اللَّهُ, in syaa'a llaahu) muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:70, 12:99, 18:69, 28:27, 37:102, 48:27). Yang paling dekat dengan ayat ini adalah 37:102, dan kedekatannya bukan kebetulan kata. Di sana Ismail menjawab ayahnya yang bermimpi menyembelihnya: kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, jika Allah menghendaki engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Dua unsur yang di perikop ini terpisah, yaitu perintah mengerjakan apa yang diperintahkan di 2:68 dan penyandaran kepada kehendak Allah di ayat ini, berkumpul di satu kalimat di sana. Bedanya terletak pada apa yang disanggupi. Ismail menyandarkan kesabarannya sendiri menghadapi pisau; mereka di sini menyandarkan keberhasilan menemukan seekor sapi yang belum juga mulai mereka cari.

Tafsiran

Pertanyaan ketiga disertai "insya Allah", tapi konteksnya adalah penundaan, bukan kepasrahan. Ini adalah contoh bagaimana kata-kata saleh bisa dipakai untuk menutupi keengganan. Mengucapkan insya Allah tidak otomatis membuat tindakan kita benar. Yang menentukan adalah niat dan tindakan, bukan formulasinya.

Mengulang pertanyaan yang sama sesudah dua jawaban adalah tanda yang sukar disalahartikan. Kalau dua keterangan tidak mencukupi untuk sebuah pertanyaan, biasanya pertanyaannya yang berganti bentuk. Di sini pertanyaannya tetap utuh, dan yang berganti hanya alasan mengapa ia diajukan lagi.

Kalimat penutup mereka membuat ayat ini sulit dibaca sebagai keengganan yang murni. Mereka menggantungkan penemuan sapi itu pada kehendak Allah, dan kalimat semacam itu tidak diucapkan orang yang hendak membangkang terang-terangan. Barangkali di situ letak kesulitan yang sesungguhnya. Yang digambarkan bukan penolakan, melainkan sesuatu yang lebih rumit: kesungguhan yang tidak pernah sampai pada perbuatan, disertai ucapan yang sepenuhnya benar tentang siapa yang menentukan hasilnya.

Alasan yang mereka pakai pun tidak bisa disebut mengada-ada. Sapi memang mirip satu sama lain, dan orang yang belum terbiasa memang sukar membedakannya. Kesulitan yang mereka sebutkan nyata. Yang membuat ayat ini tidak berhenti pada simpati adalah urutannya: kesulitan itu baru diucapkan sesudah dua keterangan diberikan, bukan sebelumnya, dan pada saat diucapkan ia memuat permintaan agar keterangan ditambah lagi, bukan permintaan agar mereka ditolong mencari. Orang yang benar-benar tidak bisa membedakan biasanya meminta pendamping, bukan meminta daftar ciri yang lebih panjang.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka mengucapkan insya Allah, tapi di baliknya ada keengganan yang sama. Kata-kata saleh bisa dipakai untuk menutupi penundaan. Ini peringatan: jangan pakai frasa keagamaan untuk membungkus keengganan. Insya Allah yang tulus adalah kepasrahan; insya Allah yang palsu adalah penundaan yang dibungkus rapi.
  • Pertanyaan di ayat ini bukan lanjutan, bukan pula pertanyaan yang dipertajam. Susunannya sama persis dengan pertanyaan pertama di 2:68, sampai ke kata terakhirnya, padahal dua jawaban sudah diberikan di antara keduanya. Kalau dua keterangan tidak cukup untuk sebuah pertanyaan, biasanya pertanyaannya yang berganti bentuk. Di sini yang berganti hanya alasan mengapa ia diajukan lagi. Apa yang sesungguhnya dicari orang yang mengulang pertanyaannya kata demi kata sesudah dijawab dua kali?
  • Kata kerja yang mereka pakai untuk mengatakan sapi-sapi itu serupa dipakai lagi di 2:118 dalam bentuk perempuannya. Di sana disebutkan bahwa orang-orang yang tidak berilmu menuntut agar Allah berbicara langsung atau mendatangkan tanda, lalu dinyatakan bahwa orang-orang sebelum mereka berkata seperti itu juga, dan hati mereka serupa. Satu kata dipakai dua kali dalam surah yang sama: sekali sebagai alasan yang diajukan orang yang menuntut kejelasan lebih, sekali sebagai penilaian atas orang yang menuntut kejelasan lebih.
  • Alasan mereka tidak mengada-ada. Sapi memang mirip satu sama lain, dan orang yang tidak terbiasa memang sukar membedakannya. Yang membuat ayat ini tidak berhenti pada simpati adalah urutannya. Kesulitan itu baru disebut sesudah dua keterangan diberikan, bukan sebelumnya, dan ketika disebut ia disertai permintaan agar keterangan ditambah lagi, bukan permintaan agar mereka ditolong mencari. Orang yang benar-benar tidak bisa membedakan biasanya meminta pendamping, bukan daftar ciri yang lebih panjang.
  • Mereka menutup permintaan dengan menyandarkan keberhasilan kepada kehendak Allah, dan itu diucapkan sebelum jawaban diberikan, bukan sesudahnya. Janji akan menemukan dipasang di muka, sebagai bagian dari permintaan yang ketiga, sesudah dua permintaan sebelumnya dipenuhi tanpa menghasilkan seekor sapi pun. Ucapan itu sendiri sepenuhnya benar; tidak ada yang keliru dalam menggantungkan hasil kepada kehendak-Nya. Yang membuatnya ganjil adalah tempatnya berdiri, yaitu di ujung sebuah permintaan penundaan, bukan di awal sebuah keberangkatan.
  • Kalimat penyandaran kepada kehendak Allah yang mereka pakai muncul juga di 37:102, dan di sana ia diucapkan Ismail kepada ayahnya yang bermimpi menyembelihnya: jika Allah menghendaki, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Yang disanggupi Ismail adalah kesabarannya sendiri menghadapi pisau. Yang disanggupi mereka di sini adalah keberhasilan menemukan seekor sapi yang belum juga mulai mereka cari. Kalimat yang sama menopang kesediaan di satu tempat dan menopang penundaan di tempat yang lain.

Ayat 2:71

قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ

Ia berkata, “Sesungguhnya Dia berfirman, ‘Sapi itu tidak dipakai membajak tanah dan tidak pula mengairi ladang, sehat, tanpa belang.’” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan yang sebenarnya.” Lalu mereka menyembelihnya, dan mereka hampir tidak melakukannya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَqaala innahu yaquulu innahaa baqaratun laa dzaluulun tutsiiru l-ardha wa-laa tasqii l-hartsaia berkata, sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu tidak dipakai membajak tanah dan tidak pula mengairi ladang
  2. مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَmusallamatun laa syiyata fiihaa qaaluu l-aana ji'ta bi-l-haqqi fa-dzabahuuhaa wa-maa kaaduu yaf'aluunatidak bercacat, tidak ada belang di tubuhnya; mereka berkata, sekarang engkau membawa kebenaran; lalu mereka menyembelihnya, padahal mereka hampir tidak melakukannya

Terjemahan per kata (24 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  3. يَقُولُyaquuluberkata
  4. إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
  5. بَقَرَةٌbaqaratunsapi
  6. لَاlaatidak
  7. ذَلُولٌdzaluulundijinakkan
  8. تُثِيرُtutsiirumembajak
  9. الْأَرْضَl-ardhabumi
  10. وَلَاwa-laadan tidak pula
  11. تَسْقِيtasqiimengairi
  12. الْحَرْثَl-hartsaladang
  13. مُسَلَّمَةٌmusallamatunsehat
  14. لَاlaatidak ada
  15. شِيَةَsyiyatabelang
  16. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  17. قَالُواqaaluumereka berkata
  18. الْآنَl-aanasekarang
  19. جِئْتَji'taengkau datang
  20. بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
  21. فَذَبَحُوهَاfa-dzabahuuhaamaka mereka menyembelihnya
  22. وَمَاwa-maadan tidaklah
  23. كَادُواkaaduumereka hampir
  24. يَفْعَلُونَyaf'aluunamelakukan

Inti bacaan

Detail terakhir (tak cacat, tanpa belang) akhirnya memuaskan mereka, dan 'nyaris tak mereka lakukan' menutup kisah dengan catatan jujur: bahkan setelah semua kejelasan diperoleh, kepatuhan tetap nyaris tak terjadi. Konkretnya: memiliki informasi lengkap dan jelas tidak otomatis menghasilkan tindakan, ayat ini jujur mengakui jarak antara mengetahui dan melakukan, sebuah pengingat bahwa kejelasan saja tidak cukup, dibutuhkan kemauan untuk benar-benar bertindak.

Penjelasan pilihan kata

Jawaban terakhir: sapi itu "tidak dipakai membajak tanah dan tidak pula mengairi ladang, tidak bercacat, tidak ada belang di tubuhnya." Tiga kriteria tambahan: Belum pernah bekerja, tidak cacat, tidak berbelang. Ini hasil dari pertanyaan mereka sendiri, dari sapi apa pun menjadi sapi super-spesifik yang sangat sulit ditemukan.

"Mereka berkata, Sekarang engkau membawa kebenaran", pengakuan. Setelah semua pertanyaan, mereka akhirnya mengakui. "Lalu mereka menyembelihnya, padahal mereka hampir tidak melakukannya", mereka nyaris tidak jadi. Begitu banyak penundaan sampai hampir kehilangan kesempatan. Inilah klimaks dari kisah yang memberi nama pada seluruh surah: Al-Baqarah, Sapi Betina.

Jawaban terakhir memuat dua kata yang lagi-lagi tidak ada duanya: "dipekerjakan" (ذَلُولٌ, dzaluulun) dan "belang" (شِيَةَ, syiyata), keduanya hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Dua kata lain di sekitarnya lebih longgar sebarannya. "Membajak" (تُثِيرُ, tutsiiru) muncul tiga kali (2:71, 30:48, 35:9), dan dua tempat lainnya memakainya untuk angin yang menggerakkan awan, bukan untuk bajak yang menggerakkan tanah. "Ladang" (الْحَرْثَ, l-hartsa) muncul dua kali (2:71, 2:205), dan di 2:205 ia justru yang dirusak oleh orang yang berbuat kerusakan di bumi. Sapi yang disyaratkan di sini adalah sapi yang tidak pernah menyentuh ladang; di ayat yang lain ladang itulah yang jadi korban.

Satu kata di ayat ini menyimpan hubungan yang lebih jauh. "Sehat tanpa cacat" (مُسَلَّمَةٌ, musallamatun) hanya dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini dan di 4:92. Di 4:92 kata itu menyifati tebusan yang harus diserahkan kepada keluarga korban dalam perkara pembunuhan tak sengaja. Kata yang sama dipakai untuk seekor sapi yang akan disembelih dan untuk tebusan sebuah nyawa. Satu ayat sesudah ini, di 2:72, barulah terbuka bahwa seluruh perkara sapi ini memang bermula dari sebuah pembunuhan yang pelakunya saling menuduh.

Penutupnya menahan diri dengan cara yang jarang. Sesudah lima ayat tanya jawab, ayat ini tidak berkata mereka taat dan tidak pula berkata mereka menolak. Disebutkan dua hal berdampingan: mereka menyembelihnya, dan mereka hampir tidak melakukannya. Dua keterangan itu tidak saling membatalkan. Yang pertama mencatat perbuatannya selesai, yang kedua mencatat jaraknya dari tidak selesai, dan keduanya dibiarkan berdiri tanpa satu pun disebut lebih benar.

Kata pembuka pengakuan mereka menyimpan gemanya sendiri. "Sekarang" (الْآنَ, l-aana) muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:71, 2:187, 4:18, 8:66, 12:51, 72:9), dan dua di antaranya menandai pengakuan yang datang setelah waktunya lewat. Di 4:18 kata itu diucapkan orang yang baru menyatakan tobat ketika ajal sudah berdiri di depannya. Di 12:51 ia diucapkan istri al-Aziz yang akhirnya mengakui bahwa dialah yang bersalah, sesudah Yusuf lebih dulu mendekam di penjara. Di ketiga tempat itu yang berubah bukanlah kebenarannya, yang sejak semula sudah begitu, melainkan kesediaan orangnya untuk menyebutnya. Pengakuan mereka di sini, "sekarang barulah engkau menerangkan yang sebenarnya" (جِئْتَ بِالْحَقِّ, ji'ta bi-l-haqqi, sebuah rangkaian yang tidak ada duanya), menempatkan perubahan itu pada orang yang menyampaikan, padahal yang berubah ada pada mereka yang mendengar.

Tafsiran

Kisah sapi betina mengajarkan bahwa ketaatan sederhana lebih baik dari ketaatan yang dipertanyakan. Setiap pertanyaan Bani Israil menghasilkan kriteria tambahan, bukan kemudahan. Apa yang tadinya bisa dilakukan dalam satu hari menjadi proyek yang nyaris gagal. Dan nama surah ini, Al-Baqarah, adalah pengingat abadi tentang pelajaran itu: jangan seperti mereka yang hampir tidak melakukannya.

Pengakuan mereka di ujung perikop ini memuat kata yang menarik untuk ditimbang. Mereka berkata bahwa sekarang barulah kebenaran itu dibawakan. Padahal empat jawaban sebelumnya datang dari sumber yang sama dan disampaikan orang yang sama. Yang berubah bukan kebenarannya melainkan kecukupan keterangannya bagi mereka, dan keduanya tertukar dalam kalimat itu.

Catatan penutupnya menolak menyederhanakan apa pun. Perbuatan itu terjadi, dan hampir tidak terjadi, dan dua-duanya dicatat. Sebuah kisah yang berakhir dengan ketaatan biasanya berhenti pada kata menyembelih, tetapi ayat ini menambahkan satu keterangan lagi yang tidak menghapus keterangan sebelumnya. Perintah Allah akhirnya dikerjakan, dan jarak antara mengerjakannya dan tidak mengerjakannya ternyata setipis itu.

Perikop ini juga menutup tanpa pujian dan tanpa hukuman. Tidak disebutkan bahwa mereka diampuni karena akhirnya menurut, tidak pula bahwa mereka dicela karena begitu lama menunda. Yang tinggal hanyalah catatan tentang apa yang terjadi, dan satu keterangan tentang betapa nyaris tidak terjadi. Bagian yang membuat kisah ini terus dibaca barangkali justru itu: ia berhenti tepat sebelum memberi penilaian, dan menyerahkan penilaian itu kepada siapa pun yang membacanya berabad-abad kemudian.

Renungan dan Hikmah

  • Kalimat penutup yang menusuk: mereka hampir tidak melakukannya. Setelah semua pertanyaan, penundaan, spesifikasi yang menyempit, mereka nyaris kehilangan kesempatan untuk taat. Semakin lama menunda, semakin sulit melaksanakan. Dan semakin sulit, semakin besar godaan untuk tidak melakukannya sama sekali. Sampai akhirnya, hampir, terlambat. Jangan biarkan ketaatanmu sampai ke titik hampir tidak jadi.
  • Seluruh surah ini dinamai AL-baqarah, Sapi Betina, dari kisah ini. Bukan dari ayat pertama, bukan dari tema utama. Sebuah kisah tentang penundaan, pertanyaan tak perlu, dan ketaatan yang nyaris gagal. Dengan menamai surah terpanjang Al-Quran dengan kisah ini, seolah Al-Quran berkata: Jangan lupa. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Ketaatan sederhana lebih baik dari pertanyaan tanpa akhir.
  • Kata yang membuka pengakuan mereka muncul lagi di dua tempat yang sama-sama menandai keterlambatan. Di 4:18 ia diucapkan orang yang baru menyatakan tobat ketika ajal sudah berdiri di depannya, dan Allah menyatakan tobat itu bukan tobat. Di 12:51 ia diucapkan istri al-Aziz yang akhirnya mengaku bersalah sesudah Yusuf lebih dulu mendekam di penjara. Di ketiga tempat itu yang berubah bukan kebenarannya, yang sejak semula memang begitu, melainkan kesediaan orangnya menyebut kebenaran itu.
  • Keterangan bahwa sapi itu tanpa cacat memakai kata yang di seluruh Al-Qur'an hanya dipakai sekali lagi, yaitu di 4:92, untuk tebusan yang harus diserahkan kepada keluarga korban dalam perkara pembunuhan yang tidak disengaja. Satu kata dipakai untuk seekor hewan yang akan disembelih dan untuk harga sebuah nyawa. Satu ayat sesudah ini, di 2:72, barulah terbuka bahwa seluruh perkara sapi ini memang bermula dari sebuah pembunuhan yang pelakunya saling menuduh, sedang Allah menyingkapkan apa yang mereka sembunyikan. Kata itu sudah menunjuk ke sana sebelum perkaranya disebutkan.
  • Ayat ini tidak berkata mereka taat, dan tidak berkata mereka menolak. Disebutkan dua hal berdampingan: mereka menyembelihnya, dan mereka hampir tidak melakukannya. Yang pertama mencatat perbuatan itu selesai, yang kedua mencatat jaraknya dari tidak selesai, dan keduanya dibiarkan berdiri tanpa satu pun disebut lebih benar. Sebuah kisah ketaatan biasanya berhenti pada kata menyembelih, dan Allah tidak menghentikannya di situ. Apa yang bertambah ketika sebuah catatan menolak berhenti pada perbuatan yang sudah selesai dan menyebutkan juga betapa nyaris hal itu tidak terjadi?
  • Perikop ini ditutup tanpa pujian dan tanpa hukuman. Tidak disebutkan bahwa mereka diampuni karena akhirnya menurut, tidak pula bahwa mereka dihukum karena begitu lama menunda. Yang tinggal hanyalah catatan tentang apa yang terjadi, ditambah satu keterangan tentang betapa nyaris tidak terjadi. Allah menyudahi kisah ini tepat sebelum memberi penilaian, dan penilaian itu diserahkan kepada siapa pun yang membacanya kemudian. Kisah yang diberi vonis selesai bersama vonisnya; kisah yang dibiarkan terbuka terus dibaca berabad-abad sesudahnya.