وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi.” Mereka berkata, “Apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan?” Ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةًwa-idz qaala muusaa li-qawmihi inna llaaha ya'murukum an tadzbahuu baqaratandan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi
  2. قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَqaaluu a-tattakhidzunaa huzuwan qaala a'uudzu bi-llaahi an akuuna mina l-jaahiliinamereka berkata, apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan? Musa berkata, aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang bodoh

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. وَإِذْwa-idzdan ketika
  2. قَالَqaalaberkata
  3. مُوسَىٰmuusaaMusa
  4. لِقَوْمِهِli-qawmihikepada kaumnya
  5. إِنَّinnasesungguhnya
  6. اللَّهَllaahaAllah
  7. يَأْمُرُكُمْya'murukummemerintahkan kalian
  8. أَنْanuntuk
  9. تَذْبَحُواtadzbahuukalian menyembelih
  10. بَقَرَةًbaqaratanseekor sapi
  11. قَالُواqaaluumereka berkata
  12. أَتَتَّخِذُنَاa-tattakhidzunaaapakah engkau menjadikan kami
  13. هُزُوًاhuzuwanejekan
  14. قَالَqaalaberkata
  15. أَعُوذُa'uudzuaku berlindung
  16. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  17. أَنْandari
  18. أَكُونَakuunaaku menjadi
  19. مِنَminadari
  20. الْجَاهِلِينَl-jaahiliinaorang-orang yang jahil

Inti bacaan

Reaksi awal ('apakah engkau menjadikan kami ejekan?') menunjukkan kecurigaan terhadap perintah yang tampak aneh, sebuah respons manusiawi yang wajar terhadap instruksi yang tidak langsung masuk akal. Konkretnya: kewaspadaan terhadap instruksi yang tampak ganjil itu sah, tapi cara meresponsnya penting, bertanya untuk memahami (seperti yang terjadi di ayat-ayat berikutnya) lebih produktif daripada menolak mentah-mentah atau curiga tanpa dasar.

Penjelasan pilihan kata

"Ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menyembelih seekor sapi", perintah yang sederhana: sembelih sapi. Tapi respons mereka: "Mereka berkata, Apakah engkau menjadikan kami sebagai ejekan?", mereka mencurigai Musa. Bukannya taat, mereka malah balik bertanya dengan nada menantang. "Musa berkata, Aku berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang bodoh", Musa menolak tuduhan itu. Ini bukan ejekan; ini perintah.

Dari sini dimulai dialog panjang (2:67-71) yang menunjukkan betapa Bani Israil mempersulit diri sendiri: setiap kali mereka bertanya lebih detail, perintahnya menjadi lebih spesifik dan lebih sulit. Pola ini menjadi nama surah: AL-baqarah, Sapi Betina.

Perintah yang membuka seluruh rangkaian ini diucapkan dengan kata yang tidak dipakai lagi di mana pun. "Kalian menyembelih" (تَذْبَحُوا, tadzbahuu) muncul sekali saja di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Begitu pula bantahan yang menyambutnya: "apakah engkau menjadikan kami" (أَتَتَّخِذُنَا, a-tattakhidzunaa) juga sekali pakai. Dua kata sekali pakai berhadapan dalam satu ayat, yang satu memerintahkan dan yang satu menampiknya, dan tidak satu pun dari keduanya terdengar lagi sesudah ini.

Hewan yang memberi nama pada surah terpanjang Al-Qur'an ternyata hampir tidak dibicarakan di dalamnya. Sapi disebut sembilan kali di seluruh Al-Qur'an (2:67, 2:68, 2:69, 2:70, 2:71, 6:144, 6:146, 12:43, 12:46), dan lima dari sembilan itu berkumpul di lima ayat berturut ini. Dua yang lain muncul dalam daftar hewan ternak yang dibicarakan hukumnya (6:144, 6:146), dan dua terakhir dalam mimpi seorang raja yang ditakwilkan Yusuf (12:43, 12:46). Di luar itu tidak ada. Nama surah ini diambil dari sesuatu yang lewat sebentar lalu tidak kembali.

"Aku berlindung" (أَعُوذُ, a'uudzu) muncul tujuh kali di seluruh Al-Qur'an (2:67, 11:47, 19:18, 23:97, 23:98, 113:1, 114:1), dan "orang-orang yang jahil" (الْجَاهِلِينَ, l-jaahiliina) enam kali (2:67, 6:35, 7:199, 11:46, 12:33, 28:55). Kedua daftar itu bersinggungan di dua tempat saja, dan tempat yang satu lagi berdempetan: di 11:46 Nuh diberi tahu agar tidak termasuk orang jahil karena memohon sesuatu yang tidak ia ketahui, dan di 11:47 ia menjawab dengan berlindung kepada Tuhannya dari memohon yang tidak ia ketahui. Susunannya berkebalikan dengan yang di sini. Di sana yang terlalu banyak meminta adalah nabinya sendiri, dan ia berlindung dari dirinya. Di sini yang akan terlalu banyak meminta adalah kaumnya, dan nabinya berlindung sebelum permintaan itu bahkan dimulai.

Tafsiran

Dialog sapi betina (2:67-71) adalah kisah yang memberi nama pada seluruh surah. Esensinya: perintah sederhana yang dipersulit oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu. Setiap kali Bani Israil bertanya "seperti apa sapinya?", jawabannya semakin spesifik, dan semakin sulit dipenuhi. Ini adalah pelajaran tentang bahaya mempersulit diri sendiri dengan pertanyaan yang tidak perlu terhadap perintah yang sudah jelas. Makin banyak bertanya, makin sempit ruang gerak.

Yang layak diperhatikan dari bantahan mereka adalah bentuknya. Mereka tidak mengatakan perintah itu berat, tidak pula meminta alasannya. Mereka bertanya apakah sedang dipermainkan. Tuduhan semacam itu mengandaikan sesuatu: bahwa perintah sesederhana menyembelih seekor sapi terlalu remeh untuk sungguh-sungguh datang dari Allah. Bukan kesulitan perintahnya yang membuat mereka curiga, melainkan kesederhanaannya.

Jawaban Musa tidak membela perintah itu dan tidak menerangkan hikmahnya. Ia hanya menolak masuk ke dalam golongan yang menganggap urusan semacam ini pantas dijadikan bahan olok-olok. Jarak antara dia dan kaumnya sudah terlihat di sini, sebelum satu pertanyaan pun diajukan. Bagi mereka sebuah perintah perlu masuk akal lebih dulu baru dikerjakan; bagi dia perintah itu dikerjakan, dan soal masuk akalnya bukan syarat yang mendahului.

Renungan dan Hikmah

  • Satu perintah sederhana: sembelih sapi. Mereka membalas dengan kecurigaan, lalu dengan pertanyaan demi pertanyaan: umur berapa? warna apa? Setiap pertanyaan mempersempit pilihan, membuat perintah yang tadinya mudah menjadi semakin sulit. Jenis kelaminnya tidak pernah mereka tanyakan, sebab kata yang dipakai Allah sejak semula sudah menyebut sapi betina. Yang mereka tanyakan justru hal-hal yang tidak ditentukan, dan tiap jawaban atasnya menutup satu demi satu pintu yang tadinya terbuka lebar. Perintah yang bisa diselesaikan pada hari itu juga berubah menjadi pencarian yang hampir gagal, dan yang mengubahnya bukan Yang memerintahkan melainkan yang diperintah.
  • Jawaban pertama mereka bukan keluhan bahwa perintah itu berat. Mereka bertanya apakah sedang dipermainkan. Tuduhan semacam itu hanya masuk akal kalau mereka menganggap urusan menyembelih seekor sapi terlalu remeh untuk sungguh-sungguh datang dari Allah. Wahyu, dalam bayangan mereka, mestinya berisi sesuatu yang besar. Apa yang membuat sebuah perintah terasa terlalu kecil untuk dianggap serius, dan siapa sebenarnya yang menetapkan ukuran besar kecilnya? Perintah itu tidak berubah oleh anggapan mereka; yang berubah hanyalah kesediaan mereka mengerjakannya, dan kesediaan itu ternyata bergantung pada ukuran yang mereka tetapkan sendiri.
  • Urutannya layak diperhatikan. Kalau mereka tidak paham, pertanyaan adalah tanggapan yang wajar. Tetapi tanggapan pertama mereka bukan pertanyaan melainkan tuduhan, dan pertanyaan baru menyusul di ayat berikutnya sesudah tuduhan itu ditampik. Rangkaian tanya jawab yang panjang di perikop ini karena itu tidak berdiri di atas ketidaktahuan. Ia berdiri di atas kecurigaan yang sudah lebih dulu diucapkan, dan pertanyaan yang datang sesudahnya mewarisi kecurigaan itu. Bertanya sesudah menuduh bukan lagi mencari tahu; ia mencari alasan.
  • Musa tidak membela perintah itu, tidak menerangkan hikmahnya, dan tidak membalas tuduhan dengan tuduhan. Ia berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang yang menjadikan urusan seperti ini bahan olok-olok. Tanggapan itu memindahkan perkaranya dari perdebatan tentang masuk akal atau tidak ke tempat yang lain sama sekali. Yang ia jaga bukan wibawanya sendiri sebagai penyampai, melainkan kedudukannya di hadapan Yang mengutusnya. Seluruh sisa perikop ini akan dijalaninya dengan sikap yang sama: menyampaikan, tanpa sekali pun ikut menawar.
  • Sebutan yang Musa hindari bukan sebutan untuk orang yang kurang ilmu. Di 7:199 Nabi diperintahkan berpaling dari orang-orang jahil, dan yang dimaksud di sana bukan orang bodoh melainkan orang yang menanggapi dengan sembrono. Di 11:46 Nuh dinasihati agar tidak termasuk golongan itu, padahal yang ia lakukan adalah memohon kepada Allah untuk anaknya sendiri. Jahil dalam pemakaian ini adalah cara bersikap, bukan kadar pengetahuan. Musa berlindung dari sebuah tabiat, bukan dari kekurangan.
  • Surah terpanjang Al-Qur'an memakai nama seekor sapi, padahal sapi disebut sembilan kali saja di seluruh Al-Qur'an (2:67, 2:68, 2:69, 2:70, 2:71, 6:144, 6:146, 12:43, 12:46), dan lima di antaranya berkumpul di perikop pendek ini. Dua sisanya menyangkut hukum hewan ternak, dua terakhir sebuah mimpi yang ditakwilkan Yusuf. Nama itu tidak diambil dari ayat pembuka surah, tidak pula dari pokok bahasannya yang paling luas. Ia diambil dari sebuah peristiwa yang isinya tanya jawab yang berkepanjangan dan ketaatan yang nyaris tidak jadi. Ada keputusan penamaan di situ yang tidak menonjolkan bagian paling agung dari surah ini, melainkan bagian yang paling menyulitkan untuk dibanggakan.