قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

Mereka berkata, “Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu.” Ia berkata, “Sesungguhnya Dia berfirman, ‘Ia sapi yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan antara itu.’ Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَqaaluu du lanaa rabbaka yubayyin lanaa maa hiyamereka berkata, serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu
  2. قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَqaala innahu yaquulu innahaa baqaratun laa faaridhun wa-laa bikrun 'awaanun bayna dzaalika fa-'faluu maa tu'maruunaia berkata, sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu; maka laksanakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian

Terjemahan per kata (23 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. ادْعُd'userukanlah
  3. لَنَاlanaabagi kami
  4. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  5. يُبَيِّنْyubayyinDia menjelaskan
  6. لَنَاlanaabagi kami
  7. مَاmaaapa
  8. هِيَhiyaia
  9. قَالَqaalaberkata
  10. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  11. يَقُولُyaquuluberkata
  12. إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
  13. بَقَرَةٌbaqaratunsapi
  14. لَاlaatidak
  15. فَارِضٌfaaridhuntua
  16. وَلَاwa-laadan tidak pula
  17. بِكْرٌbikrunmuda
  18. عَوَانٌ'awaanunpertengahan
  19. بَيْنَbaynadi antara
  20. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  21. فَافْعَلُواfa-'faluumaka kerjakanlah kalian
  22. مَاmaaapa yang
  23. تُؤْمَرُونَtu'maruunakalian diperintahkan

Inti bacaan

Pertanyaan berulang tentang detail sapi (2:68-2:71) menunjukkan pola menunda kepatuhan dengan terus meminta spesifikasi tambahan, padahal perintah dasarnya sudah jelas sejak 2:67. Konkretnya: pola menunda tindakan dengan alasan 'butuh lebih banyak informasi' kadang menyamarkan keengganan sebenarnya untuk bertindak, periksa apakah pertanyaan lanjutan yang kuajukan benar-benar dibutuhkan, atau sekadar cara menunda.

Penjelasan pilihan kata

Mereka bertanya: "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu", setelah perintah menyembelih sapi (2:67), mereka tidak langsung mencari sapi. Mereka bertanya: sapi yang bagaimana? Padahal perintahnya sederhana: sembelih sapi. Tidak disebutkan jenis, warna, atau umur. Yang diminta adalah ketaatan, bukan spesifikasi.

Jawaban: sapi itu "tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu", kriteria umur: sapi setengah baya, tidak terlalu tua (sulit disembelih) dan tidak terlalu muda (belum cukup daging). Allah mempersempit setelah mereka bertanya, padahal tadinya sapi apa pun bisa. "Maka laksanakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian", penutup tegas: Sudah cukup bertanya. Laksanakan.

Kalimat permintaan mereka bukan susunan yang jarang. "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu" (ادْعُ لَنَا رَبَّكَ, ud'u lanaa rabbaka) dipakai enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:61, 2:68, 2:69, 2:70, 7:134, 43:49), dan empat di antaranya ada di surah ini. Yang paling menerangkan justru yang di luar rangkaian ini. Di 2:61, tujuh ayat sebelumnya, kalimat yang sama persis dipakai untuk meminta agar makanan yang satu macam diganti dengan sayuran, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah. Dua kali kalimat itu diucapkan, dua kali isinya sama: yang diberikan dianggap kurang jelas atau kurang berselera, dan Musa diminta menyampaikan permintaan tambahan.

Sedangkan potongan keduanya jauh lebih sempit sebarannya. "Agar Dia menjelaskan kepada kami" (يُبَيِّنْ لَنَا, yubayyin lanaa) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya ada di perikop ini (2:68, 2:69, 2:70). Permintaan penjelasan dengan susunan kata itu tidak pernah terdengar di tempat lain mana pun. Ia lahir di sini, diulang dua kali lagi dalam tiga ayat, lalu berhenti.

Jawaban atas permintaan itu memakai tiga kata yang masing-masing hanya sekali ada di seluruh Al-Qur'an: "tua" (فَارِضٌ, faaridhun), "muda" (بِكْرٌ, bikrun), dan "pertengahan" (عَوَانٌ, 'awaanun). Tiga kata sekali pakai berturut-turut dalam satu kalimat pendek. Perbendaharaan yang dipakai untuk mempersempit pilihan mereka ternyata perbendaharaan yang tidak dipakai untuk apa pun yang lain.

Cara jawaban itu sampai kepada mereka pun punya penanda sendiri. "Sesungguhnya Dia berfirman" (إِنَّهُ يَقُولُ, innahu yaquulu) muncul tiga kali di seluruh Al-Qur'an, dan ketiganya ada di perikop ini (2:68, 2:69, 2:71). Tiap jawaban datang berlapis: mereka bertanya kepada Musa, Musa membawanya kepada Tuhannya, lalu jawaban itu kembali melalui Musa dengan pembuka yang sama persis. Lapisan itu tidak pernah dilepas sampai jawaban yang terakhir. Mereka tidak sekali pun berbicara langsung, dan tidak sekali pun meminta untuk itu.

Penutupnya juga berdiri sendiri. "Maka kerjakanlah" (فَافْعَلُوا, fa-f'aluu) hanya muncul di ayat ini dan tidak di tempat lain mana pun. Bentuk perintah yang sama untuk satu orang dipakai di 37:102, ketika Ismail berkata kepada ayahnya agar mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, dan yang diperintahkan di sana adalah menyembelih Ismail sendiri. Kalimat itu keluar dari mulut orang yang akan disembelih, dipakai untuk mendorong agar perintah dijalankan. Di sini kalimat yang sebentuk dipakai untuk menghentikan rentetan pertanyaan dari orang yang diminta menyembelih seekor sapi.

Tafsiran

Ini dialog yang menunjukkan bagaimana manusia mempersulit diri sendiri. Setiap pertanyaan, bukannya membantu, malah mempersempit ruang gerak. Tadinya sapi apa pun boleh. Sekarang ada kriteria umur. Di ayat-ayat berikutnya, mereka akan terus bertanya, dan kriteria akan terus menyempit. Pelajaran: jangan bertanya hanya untuk menunda.

Permintaan pertama ini tampak wajar kalau dibaca sendirian. Orang yang diperintah menyembelih sapi memang bisa bertanya sapi yang mana. Yang membuatnya berbeda adalah apa yang terjadi pada jawabannya. Sebelum bertanya, seluruh sapi memenuhi syarat. Sesudah dijawab, hanya yang berumur pertengahan. Penjelasan yang mereka minta tidak menambah kemudahan, melainkan mengurangi kemungkinan.

Penutup ayat ini terdengar seperti pintu yang ditutup pelan. Sesudah keterangan umur diberikan, disusulkan perintah agar mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka. Kalimat itu tidak menjawab pertanyaan apa pun; ia menghentikan pertanyaan. Ada satu titik dalam setiap perintah ketika keterangan tambahan berhenti menolong, dan penutup ini menandai bahwa titik itu sudah terlampaui pada permintaan yang pertama.

Ada hal lain yang tersirat dari keterangan umur yang diberikan. Sapi pertengahan bukan sapi yang istimewa; ia justru sapi yang paling biasa, yang paling banyak ada di kandang mana pun. Kalau tujuan jawaban ini menyulitkan, umur pertengahan adalah pilihan yang buruk. Syarat pertama yang mereka dapatkan sebenarnya masih sangat longgar, dan kesempitan yang kelak mereka keluhkan belum terjadi pada tahap ini. Yang mempersempitnya adalah pertanyaan mereka berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Tadinya sapi apa pun boleh. Setelah bertanya, ada kriteria umur. Kita sering minta penjelasan lebih detail, berharap itu mempermudah, tapi ternyata malah mempersulit. Semakin spesifik kriteria, semakin sedikit yang memenuhi. Kadang lebih baik menerima perintah sebagaimana adanya daripada terus bertanya sampai tidak ada lagi pilihan yang tersisa.
  • Sebelum pertanyaan diajukan, setiap sapi memenuhi perintah. Sesudah dijawab, hanya sapi berumur pertengahan. Penjelasan yang diminta tidak menambah kemampuan mereka melaksanakan; ia mengurangi jumlah yang bisa dipakai. Ini kebalikan dari apa yang biasanya diharapkan orang ketika meminta kejelasan. Kejelasan dibayangkan sebagai penerangan yang memperlihatkan lebih banyak, padahal pada perintah yang sengaja Allah biarkan longgar, kejelasan tambahan bekerja sebaliknya: ia mengubah keluasan menjadi daftar syarat.
  • Setiap jawaban di perikop ini melewati Musa. Mereka bertanya kepadanya, ia membawanya kepada Tuhannya, dan jawaban kembali melalui mulutnya dengan pembuka yang selalu sama. Tidak sekali pun mereka meminta agar lapisan itu dihilangkan, padahal yang mereka cari adalah kepastian. Mengapa orang yang ingin sekali yakin justru merasa cukup bertanya lewat orang lain? Barangkali karena perantara juga menyediakan jarak, dan jarak memberi ruang untuk bertanya sekali lagi tanpa harus berhadapan sendiri dengan jawabannya.
  • Sapi berumur pertengahan bukan sapi yang langka. Justru itulah yang paling banyak ada di kandang mana pun, sebab yang terlalu tua sudah disingkirkan dan yang terlalu muda belum dipakai. Kalau jawaban ini dimaksudkan menyulitkan, umur pertengahan adalah pilihan yang buruk sekali. Kesempitan yang kelak mereka keluhkan belum ada pada tahap ini. Tahap pertama masih longgar, dan pada tahap pertama itu pula mereka sebenarnya sudah bisa berangkat mencari.
  • Sesudah keterangan umur diberikan, disusulkan perintah agar mereka mengerjakan apa yang diperintahkan. Kalimat itu tidak menambah satu pun keterangan; ia menghentikan pertanyaan. Ada satu titik pada setiap perintah ketika keterangan tambahan berhenti menolong dan mulai menggantikan pekerjaan itu sendiri, dan penutup ini menandai bahwa Allah menilai titik itu sudah terlampaui pada permintaan yang pertama, bukan pada yang keempat. Peringatan itu diucapkan sekali, lalu tidak pernah diulang di tiga ayat sesudahnya.
  • Perintah mengerjakan apa yang diperintahkan muncul lagi di 37:102, dan di sana ia keluar dari mulut Ismail kepada ayahnya, tentang mimpi menyembelih Ismail sendiri. Yang mengucapkannya adalah pihak yang akan kehilangan nyawanya, dan ia memakainya untuk mendorong agar perintah Allah segera dijalankan. Di sini kalimat yang sebentuk dipakai untuk menghentikan rentetan pertanyaan dari orang yang hanya diminta menyembelih seekor hewan. Satu kalimat, dua keadaan yang jaraknya sejauh itu.