قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ
Mereka berkata, “Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya.” Ia berkata, “Sesungguhnya Dia berfirman, ‘Ia sapi kuning, cerah warnanya, menyenangkan orang-orang yang memandang.’”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَاqaaluu du lanaa rabbaka yubayyin lanaa maa lawnuhaamereka berkata, serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya
- قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَqaala innahu yaquulu innahaa baqaratun shafraau faaqiun lawnuhaa tasurru n-naazhiriinaia berkata, sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu kuning tua, warnanya menyenangkan orang yang melihatnya
Terjemahan per kata (18 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- ادْعُd'userukanlah
- لَنَاlanaabagi kami
- رَبَّكَrabbakaTuhanmu
- يُبَيِّنْyubayyinDia menjelaskan
- لَنَاlanaabagi kami
- مَاmaaapa
- لَوْنُهَاlawnuhaawarnanya
- قَالَqaalaberkata
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- يَقُولُyaquuluberkata
- إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
- بَقَرَةٌbaqaratunsapi
- صَفْرَاءُshafraaukuning
- فَاقِعٌfaaqiuncerah
- لَوْنُهَاlawnuhaawarnanya
- تَسُرُّtasurrumenyenangkan
- النَّاظِرِينَn-naazhiriinaorang-orang yang memandang
Inti bacaan
Pertanyaan lanjutan soal warna sapi memperpanjang lagi proses yang seharusnya sederhana. Konkretnya: perfeksionisme dalam mencari kondisi 'ideal' sebelum bertindak bisa menjadi bentuk penundaan terselubung, kadang tindakan yang 'cukup baik dan segera' lebih berharga daripada terus mencari kepastian sempurna.
Penjelasan pilihan kata
Pertanyaan kedua: "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa warnanya." Mereka belum puas dengan kriteria umur. Sekarang warna. "Ia berkata, Sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu kuning tua, warnanya menyenangkan orang yang melihatnya", kuning tua yang cerah, tidak kusam. Setiap pertanyaan membawa satu kriteria baru: dari sapi apa pun ke sapi setengah baya ke sapi kuning tua yang indah.
Mereka masih belum berhenti. Pertanyaan ketiga akan datang.
Ayat ini kepadatan hapaksnya paling tinggi di seluruh perikop. Empat kata di dalamnya masing-masing hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an: "kuning" (صَفْرَاءُ, shafraa'u), "cerah" (فَاقِعٌ, faaqi'un), "menyenangkan" (تَسُرُّ, tasurru), dan "orang-orang yang memandang" (النَّاظِرِينَ, n-naazhiriina). Seluruh keterangan warna sapi itu, dari warnanya sampai efeknya pada yang melihat, disusun dari kata-kata yang tidak dipakai lagi untuk apa pun.
Ada pola yang terbaca kalau ketiga jawaban dijajarkan. Jawaban pertama di 2:68 memuat tiga kata sekali pakai, jawaban kedua di ayat ini memuat empat, dan jawaban terakhir di 2:71 memuat dua lagi. Semakin rinci syarat yang diminta, semakin sempit pula perbendaharaan yang dipakai menjawabnya. Bahasa Al-Qur'an sendiri ikut menyempit seiring pertanyaan mereka menyempit, dan kata-kata yang lahir di sana tidak pernah dipakai lagi sesudahnya.
Satu hal yang layak dicatat tentang isi jawaban ini: tidak satu pun dari keterangannya menyangkut kelayakan sapi itu untuk disembelih. Warna kuning tidak membuat seekor sapi lebih sah dijadikan kurban, dan menyenangkan orang yang memandang bukan syarat penyembelihan. Yang ditambahkan bukan syarat keagamaan melainkan ciri pengenal, dan ciri pengenal hanya dibutuhkan oleh orang yang masih mencari, bukan oleh orang yang sudah bersiap menyembelih.
Satu keterangan di ayat ini berbeda jenisnya dari semua keterangan lain di perikop. Umur, warna, riwayat kerja, dan ketiadaan belang adalah sifat yang melekat pada sapinya sendiri, bisa diperiksa tanpa kehadiran siapa pun. Tetapi "menyenangkan orang-orang yang memandang" melekat pada penontonnya. Ia tidak bisa diperiksa pada tubuh sapi itu; ia hanya muncul kalau ada yang berdiri dan melihat. Dari semua syarat yang dituntut lewat empat pertanyaan, satu-satunya yang membutuhkan mata manusia justru disisipkan tanpa diminta, di tengah jawaban atas pertanyaan tentang warna.
Arah jawaban ini juga layak diperhatikan. Setiap tambahan syarat memang mempersempit pilihan, tetapi tidak setiap tambahan memberatkan. Sapi yang berumur pertengahan lebih sukar dicari daripada sapi mana saja, dan sapi kuning cerah lebih sukar lagi. Namun keterangan bahwa ia menyenangkan yang memandang tidak menambah satu pun kesukaran pencarian. Ia hanya membuat hewan yang sedang dicari itu terbayang lebih indah oleh orang yang sedang enggan mencarinya.
Tafsiran
Pertanyaan kedua: warna. Ini semakin memperlihatkan bahwa mereka tidak serius ingin melaksanakan. Setiap pertanyaan adalah penundaan, berharap dengan memperumit, perintah menjadi mustahil dan mereka terbebas. Tapi Allah tidak membatalkan; Ia terus menjawab, dan setiap jawaban justru memperjelas bahwa perintah ini serius.
Pertanyaan tentang warna datang sesudah pertanyaan tentang umur dijawab, dan itu memberi tahu sesuatu tentang apa yang sebenarnya sedang dicari. Orang yang hendak menyembelih tidak memerlukan warna. Warna berguna bagi orang yang sedang mencari, atau bagi orang yang ingin memastikan bahwa yang dicari belum ditemukan.
Jawaban yang diberikan kepada mereka justru bergerak ke arah lain. Sapi itu tidak disifati dengan sesuatu yang menyulitkan, melainkan dengan sesuatu yang menyenangkan orang yang memandangnya. Keterangan itu tidak menambah beban; ia menambah keindahan. Ada semacam kesabaran dalam cara Allah menjawab di sini. Permintaan yang lahir dari keengganan dibalas dengan gambaran yang cerah, bukan dengan hardikan, dan hardikan yang sebenarnya sudah diucapkan satu ayat sebelumnya lalu tidak diulang.
Kalau seluruh perikop ini dibaca sebagai ujian, ayat inilah bagian yang paling ringan ujiannya sekaligus paling berat akibatnya. Yang ditambahkan hanyalah warna, sesuatu yang mudah dilihat dan mudah dicocokkan. Namun justru sesudah keterangan yang paling mudah inilah mereka mengulang pertanyaan yang paling awal. Kemudahan sebuah keterangan ternyata tidak menentukan apakah ia akan dipakai.
Renungan dan Hikmah
- Setiap pertanyaan adalah penundaan halus. Mereka tidak menolak secara terbuka; mereka bertanya, berharap semakin rumit semakin tidak mungkin. Ini strategi yang sering dipakai: menunda dengan berpura-pura mencari kejelasan. Tapi perintah yang benar tidak akan hilang hanya karena kita memperumitnya.
- Tidak satu pun keterangan di ayat ini menyangkut layak tidaknya sapi itu disembelih. Warna kuning tidak membuat seekor hewan lebih sah dijadikan sembelihan, dan menyenangkan orang yang memandang bukan syarat dalam hukum mana pun. Yang bertambah bukan syarat keagamaan melainkan ciri pengenal. Ciri pengenal hanya berguna bagi orang yang masih mencari, dan mereka meminta ciri justru pada tahap ketika seharusnya sudah berangkat. Pertanyaan mereka membuka isi kepala mereka lebih banyak daripada yang mereka sadari.
- Umur, warna, riwayat kerja, dan ketiadaan belang semuanya melekat pada tubuh sapi itu dan bisa diperiksa tanpa kehadiran siapa pun. Tetapi keterangan bahwa ia menyenangkan orang-orang yang memandang melekat pada penontonnya. Ia tidak ada pada sapi itu sendiri; ia muncul hanya kalau ada yang berdiri dan melihat. Dari seluruh syarat yang lahir karena pertanyaan mereka, satu-satunya yang membutuhkan mata manusia justru diberikan Allah tanpa diminta, disisipkan di tengah jawaban tentang warna.
- Permintaan ini lahir dari keengganan, dan yang paling wajar menyusul adalah teguran. Yang datang justru gambaran yang cerah: kuning yang tidak kusam, warna yang menyenangkan siapa pun yang memandangnya. Teguran memang sudah diucapkan satu ayat sebelumnya, lalu tidak diulang lagi sampai perikop ini berakhir. Apa yang sebenarnya sedang dikerjakan oleh jawaban yang lebih indah daripada yang pantas diterima penanyanya? Kesabaran Allah di sini tidak diucapkan sebagai pernyataan; ia hanya tampak dari pilihan kata yang dipakai menjawab.
- Empat kata di ayat ini masing-masing tidak muncul lagi di mana pun: kuning, cerah, menyenangkan, dan orang-orang yang memandang. Seluruh keterangan warna itu, dari warnanya sampai efeknya pada yang melihat, disusun dari perbendaharaan sekali pakai. Pola yang sama terlihat pada jawaban sebelum dan sesudahnya. Makin rinci syarat yang dituntut, makin sempit pula perbendaharaan yang dipakai menjawabnya, sampai kata-kata yang lahir di sana tidak pernah terpakai lagi untuk apa pun sesudah perikop ini ditutup.
- Warna adalah keterangan yang paling mudah dicocokkan dari semua yang diberikan di perikop ini. Ia terlihat dari jauh, tidak menuntut pemeriksaan, dan tidak memerlukan keahlian. Namun justru sesudah keterangan yang paling mudah inilah mereka kembali mengajukan pertanyaan yang paling awal. Kemudahan sebuah keterangan ternyata tidak menentukan apakah ia akan dipakai, dan kalau yang mudah pun tidak memadai, yang kurang sejak semula bukanlah keterangannya. Allah memberi lebih dari yang diminta di ayat ini, dan tetap saja belum cukup bagi mereka.