قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

Mereka berkata, “Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu serupa bagi kami; dan sungguh kami, jika Allah menghendaki, pasti akan mendapat petunjuk.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَqaaluu du lanaa rabbaka yubayyin lanaa maa hiya inna l-baqara tasyaabaha 'alaynaa wa-innaa in syaa'a llaahu la-muhtaduunamereka berkata, serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu mirip bagi kami, dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan mendapat petunjuk

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. ادْعُd'userukanlah
  3. لَنَاlanaabagi kami
  4. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  5. يُبَيِّنْyubayyinDia menjelaskan
  6. لَنَاlanaabagi kami
  7. مَاmaaapa
  8. هِيَhiyaia
  9. إِنَّinnasesungguhnya
  10. الْبَقَرَl-baqarasapi-sapi
  11. تَشَابَهَtasyaabahaserupa
  12. عَلَيْنَا'alaynaaatas kami
  13. وَإِنَّاwa-innaadan sesungguhnya kami
  14. إِنْinjika
  15. شَاءَsyaa'amenghendaki
  16. اللَّهُllaahuAllah
  17. لَمُهْتَدُونَla-muhtaduunapasti orang-orang yang mendapat petunjuk

Inti bacaan

Pengakuan 'sapi-sapi itu serupa bagi kami' menunjukkan kebingungan yang sebagiannya genuine, tapi diikuti harapan 'jika Allah menghendaki, kami pasti mendapat petunjuk', sebuah sikap yang tetap membuka ruang bagi bimbingan meski dalam kebingungan. Konkretnya: kebingungan yang jujur (bukan dalih menunda) tetap sah diakui, selama disertai kesediaan untuk terus mencari kejelasan, bukan berhenti di titik bingung.

Penjelasan pilihan kata

Pertanyaan ketiga: "Serukanlah untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia menjelaskan kepada kami apa itu; sungguh sapi-sapi itu mirip bagi kami." Setelah diberi umur dan warna, mereka mengaku bingung, semua sapi terlihat mirip. Padahal dengan dua kriteria itu seharusnya sudah cukup.

Mereka menambahkan: "dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan mendapat petunjuk", kali ini mereka menyelipkan insya allah. Tapi di balik kesalehan verbal itu, pertanyaan mereka tetaplah penundaan. Kata-kata saleh tidak otomatis membuat niat menjadi bersih.

Pertanyaan di ayat ini bukan pertanyaan baru. Susunannya sama persis dengan pertanyaan pertama di 2:68, sampai ke kata terakhirnya: "apa itu" (مَا هِيَ, maa hiya). Dua jawaban sudah diberikan di antara keduanya, satu tentang umur dan satu tentang warna, dan sesudah dua jawaban itu mereka mengajukan kembali pertanyaan yang sama dengan kata yang sama. Bukan pertanyaan lanjutan, bukan pula pertanyaan yang lebih tajam. Pertanyaan yang identik, diulang.

Alasan yang mereka berikan memakai kata kerja yang menarik: "serupa bagi kami" (تَشَابَهَ, tasyaabaha). Kata kerja yang sama, dalam bentuk perempuannya, dipakai di 2:118 untuk hal yang sama sekali berbeda. Di sana disebutkan bahwa orang-orang yang tidak berilmu meminta agar Allah berbicara langsung kepada mereka atau mendatangkan tanda, lalu dikatakan bahwa orang-orang sebelum mereka berkata seperti itu juga, dan hati mereka serupa. Kata itu dipakai dua kali dalam surah yang sama untuk dua hal yang berlawanan kedudukannya: sekali sebagai alasan yang diajukan orang yang menuntut kejelasan lebih, sekali sebagai penilaian atas orang yang menuntut kejelasan lebih.

Penutup ayat ini juga tidak biasa untuk sebuah permintaan. "Sungguh kami, jika Allah menghendaki, pasti akan mendapat petunjuk" diucapkan sebelum jawaban diberikan, bukan sesudahnya. Janji akan menemukan dipasang di depan, sebagai bagian dari permintaan yang ketiga, sesudah dua permintaan sebelumnya sudah dipenuhi tanpa menghasilkan seekor sapi pun.

Ucapan itu sendiri jarang. "Jika Allah menghendaki" (إِنْ شَاءَ اللَّهُ, in syaa'a llaahu) muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:70, 12:99, 18:69, 28:27, 37:102, 48:27). Yang paling dekat dengan ayat ini adalah 37:102, dan kedekatannya bukan kebetulan kata. Di sana Ismail menjawab ayahnya yang bermimpi menyembelihnya: kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, jika Allah menghendaki engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Dua unsur yang di perikop ini terpisah, yaitu perintah mengerjakan apa yang diperintahkan di 2:68 dan penyandaran kepada kehendak Allah di ayat ini, berkumpul di satu kalimat di sana. Bedanya terletak pada apa yang disanggupi. Ismail menyandarkan kesabarannya sendiri menghadapi pisau; mereka di sini menyandarkan keberhasilan menemukan seekor sapi yang belum juga mulai mereka cari.

Tafsiran

Pertanyaan ketiga disertai "insya Allah", tapi konteksnya adalah penundaan, bukan kepasrahan. Ini adalah contoh bagaimana kata-kata saleh bisa dipakai untuk menutupi keengganan. Mengucapkan insya Allah tidak otomatis membuat tindakan kita benar. Yang menentukan adalah niat dan tindakan, bukan formulasinya.

Mengulang pertanyaan yang sama sesudah dua jawaban adalah tanda yang sukar disalahartikan. Kalau dua keterangan tidak mencukupi untuk sebuah pertanyaan, biasanya pertanyaannya yang berganti bentuk. Di sini pertanyaannya tetap utuh, dan yang berganti hanya alasan mengapa ia diajukan lagi.

Kalimat penutup mereka membuat ayat ini sulit dibaca sebagai keengganan yang murni. Mereka menggantungkan penemuan sapi itu pada kehendak Allah, dan kalimat semacam itu tidak diucapkan orang yang hendak membangkang terang-terangan. Barangkali di situ letak kesulitan yang sesungguhnya. Yang digambarkan bukan penolakan, melainkan sesuatu yang lebih rumit: kesungguhan yang tidak pernah sampai pada perbuatan, disertai ucapan yang sepenuhnya benar tentang siapa yang menentukan hasilnya.

Alasan yang mereka pakai pun tidak bisa disebut mengada-ada. Sapi memang mirip satu sama lain, dan orang yang belum terbiasa memang sukar membedakannya. Kesulitan yang mereka sebutkan nyata. Yang membuat ayat ini tidak berhenti pada simpati adalah urutannya: kesulitan itu baru diucapkan sesudah dua keterangan diberikan, bukan sebelumnya, dan pada saat diucapkan ia memuat permintaan agar keterangan ditambah lagi, bukan permintaan agar mereka ditolong mencari. Orang yang benar-benar tidak bisa membedakan biasanya meminta pendamping, bukan meminta daftar ciri yang lebih panjang.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka mengucapkan insya Allah, tapi di baliknya ada keengganan yang sama. Kata-kata saleh bisa dipakai untuk menutupi penundaan. Ini peringatan: jangan pakai frasa keagamaan untuk membungkus keengganan. Insya Allah yang tulus adalah kepasrahan; insya Allah yang palsu adalah penundaan yang dibungkus rapi.
  • Pertanyaan di ayat ini bukan lanjutan, bukan pula pertanyaan yang dipertajam. Susunannya sama persis dengan pertanyaan pertama di 2:68, sampai ke kata terakhirnya, padahal dua jawaban sudah diberikan di antara keduanya. Kalau dua keterangan tidak cukup untuk sebuah pertanyaan, biasanya pertanyaannya yang berganti bentuk. Di sini yang berganti hanya alasan mengapa ia diajukan lagi. Apa yang sesungguhnya dicari orang yang mengulang pertanyaannya kata demi kata sesudah dijawab dua kali?
  • Kata kerja yang mereka pakai untuk mengatakan sapi-sapi itu serupa dipakai lagi di 2:118 dalam bentuk perempuannya. Di sana disebutkan bahwa orang-orang yang tidak berilmu menuntut agar Allah berbicara langsung atau mendatangkan tanda, lalu dinyatakan bahwa orang-orang sebelum mereka berkata seperti itu juga, dan hati mereka serupa. Satu kata dipakai dua kali dalam surah yang sama: sekali sebagai alasan yang diajukan orang yang menuntut kejelasan lebih, sekali sebagai penilaian atas orang yang menuntut kejelasan lebih.
  • Alasan mereka tidak mengada-ada. Sapi memang mirip satu sama lain, dan orang yang tidak terbiasa memang sukar membedakannya. Yang membuat ayat ini tidak berhenti pada simpati adalah urutannya. Kesulitan itu baru disebut sesudah dua keterangan diberikan, bukan sebelumnya, dan ketika disebut ia disertai permintaan agar keterangan ditambah lagi, bukan permintaan agar mereka ditolong mencari. Orang yang benar-benar tidak bisa membedakan biasanya meminta pendamping, bukan daftar ciri yang lebih panjang.
  • Mereka menutup permintaan dengan menyandarkan keberhasilan kepada kehendak Allah, dan itu diucapkan sebelum jawaban diberikan, bukan sesudahnya. Janji akan menemukan dipasang di muka, sebagai bagian dari permintaan yang ketiga, sesudah dua permintaan sebelumnya dipenuhi tanpa menghasilkan seekor sapi pun. Ucapan itu sendiri sepenuhnya benar; tidak ada yang keliru dalam menggantungkan hasil kepada kehendak-Nya. Yang membuatnya ganjil adalah tempatnya berdiri, yaitu di ujung sebuah permintaan penundaan, bukan di awal sebuah keberangkatan.
  • Kalimat penyandaran kepada kehendak Allah yang mereka pakai muncul juga di 37:102, dan di sana ia diucapkan Ismail kepada ayahnya yang bermimpi menyembelihnya: jika Allah menghendaki, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Yang disanggupi Ismail adalah kesabarannya sendiri menghadapi pisau. Yang disanggupi mereka di sini adalah keberhasilan menemukan seekor sapi yang belum juga mulai mereka cari. Kalimat yang sama menopang kesediaan di satu tempat dan menopang penundaan di tempat yang lain.