قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ

Ia berkata, “Sesungguhnya Dia berfirman, ‘Sapi itu tidak dipakai membajak tanah dan tidak pula mengairi ladang, sehat, tanpa belang.’” Mereka berkata, “Sekarang barulah engkau menerangkan yang sebenarnya.” Lalu mereka menyembelihnya, dan mereka hampir tidak melakukannya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَqaala innahu yaquulu innahaa baqaratun laa dzaluulun tutsiiru l-ardha wa-laa tasqii l-hartsaia berkata, sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu tidak dipakai membajak tanah dan tidak pula mengairi ladang
  2. مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَmusallamatun laa syiyata fiihaa qaaluu l-aana ji'ta bi-l-haqqi fa-dzabahuuhaa wa-maa kaaduu yaf'aluunatidak bercacat, tidak ada belang di tubuhnya; mereka berkata, sekarang engkau membawa kebenaran; lalu mereka menyembelihnya, padahal mereka hampir tidak melakukannya

Terjemahan per kata (24 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  3. يَقُولُyaquuluberkata
  4. إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
  5. بَقَرَةٌbaqaratunsapi
  6. لَاlaatidak
  7. ذَلُولٌdzaluulundijinakkan
  8. تُثِيرُtutsiirumembajak
  9. الْأَرْضَl-ardhabumi
  10. وَلَاwa-laadan tidak pula
  11. تَسْقِيtasqiimengairi
  12. الْحَرْثَl-hartsaladang
  13. مُسَلَّمَةٌmusallamatunsehat
  14. لَاlaatidak ada
  15. شِيَةَsyiyatabelang
  16. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  17. قَالُواqaaluumereka berkata
  18. الْآنَl-aanasekarang
  19. جِئْتَji'taengkau datang
  20. بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
  21. فَذَبَحُوهَاfa-dzabahuuhaamaka mereka menyembelihnya
  22. وَمَاwa-maadan tidaklah
  23. كَادُواkaaduumereka hampir
  24. يَفْعَلُونَyaf'aluunamelakukan

Inti bacaan

Detail terakhir (tak cacat, tanpa belang) akhirnya memuaskan mereka, dan 'nyaris tak mereka lakukan' menutup kisah dengan catatan jujur: bahkan setelah semua kejelasan diperoleh, kepatuhan tetap nyaris tak terjadi. Konkretnya: memiliki informasi lengkap dan jelas tidak otomatis menghasilkan tindakan, ayat ini jujur mengakui jarak antara mengetahui dan melakukan, sebuah pengingat bahwa kejelasan saja tidak cukup, dibutuhkan kemauan untuk benar-benar bertindak.

Penjelasan pilihan kata

Jawaban terakhir: sapi itu "tidak dipakai membajak tanah dan tidak pula mengairi ladang, tidak bercacat, tidak ada belang di tubuhnya." Tiga kriteria tambahan: Belum pernah bekerja, tidak cacat, tidak berbelang. Ini hasil dari pertanyaan mereka sendiri, dari sapi apa pun menjadi sapi super-spesifik yang sangat sulit ditemukan.

"Mereka berkata, Sekarang engkau membawa kebenaran", pengakuan. Setelah semua pertanyaan, mereka akhirnya mengakui. "Lalu mereka menyembelihnya, padahal mereka hampir tidak melakukannya", mereka nyaris tidak jadi. Begitu banyak penundaan sampai hampir kehilangan kesempatan. Inilah klimaks dari kisah yang memberi nama pada seluruh surah: Al-Baqarah, Sapi Betina.

Jawaban terakhir memuat dua kata yang lagi-lagi tidak ada duanya: "dipekerjakan" (ذَلُولٌ, dzaluulun) dan "belang" (شِيَةَ, syiyata), keduanya hanya muncul sekali di seluruh Al-Qur'an. Dua kata lain di sekitarnya lebih longgar sebarannya. "Membajak" (تُثِيرُ, tutsiiru) muncul tiga kali (2:71, 30:48, 35:9), dan dua tempat lainnya memakainya untuk angin yang menggerakkan awan, bukan untuk bajak yang menggerakkan tanah. "Ladang" (الْحَرْثَ, l-hartsa) muncul dua kali (2:71, 2:205), dan di 2:205 ia justru yang dirusak oleh orang yang berbuat kerusakan di bumi. Sapi yang disyaratkan di sini adalah sapi yang tidak pernah menyentuh ladang; di ayat yang lain ladang itulah yang jadi korban.

Satu kata di ayat ini menyimpan hubungan yang lebih jauh. "Sehat tanpa cacat" (مُسَلَّمَةٌ, musallamatun) hanya dipakai dua kali di seluruh Al-Qur'an, di ayat ini dan di 4:92. Di 4:92 kata itu menyifati tebusan yang harus diserahkan kepada keluarga korban dalam perkara pembunuhan tak sengaja. Kata yang sama dipakai untuk seekor sapi yang akan disembelih dan untuk tebusan sebuah nyawa. Satu ayat sesudah ini, di 2:72, barulah terbuka bahwa seluruh perkara sapi ini memang bermula dari sebuah pembunuhan yang pelakunya saling menuduh.

Penutupnya menahan diri dengan cara yang jarang. Sesudah lima ayat tanya jawab, ayat ini tidak berkata mereka taat dan tidak pula berkata mereka menolak. Disebutkan dua hal berdampingan: mereka menyembelihnya, dan mereka hampir tidak melakukannya. Dua keterangan itu tidak saling membatalkan. Yang pertama mencatat perbuatannya selesai, yang kedua mencatat jaraknya dari tidak selesai, dan keduanya dibiarkan berdiri tanpa satu pun disebut lebih benar.

Kata pembuka pengakuan mereka menyimpan gemanya sendiri. "Sekarang" (الْآنَ, l-aana) muncul enam kali di seluruh Al-Qur'an (2:71, 2:187, 4:18, 8:66, 12:51, 72:9), dan dua di antaranya menandai pengakuan yang datang setelah waktunya lewat. Di 4:18 kata itu diucapkan orang yang baru menyatakan tobat ketika ajal sudah berdiri di depannya. Di 12:51 ia diucapkan istri al-Aziz yang akhirnya mengakui bahwa dialah yang bersalah, sesudah Yusuf lebih dulu mendekam di penjara. Di ketiga tempat itu yang berubah bukanlah kebenarannya, yang sejak semula sudah begitu, melainkan kesediaan orangnya untuk menyebutnya. Pengakuan mereka di sini, "sekarang barulah engkau menerangkan yang sebenarnya" (جِئْتَ بِالْحَقِّ, ji'ta bi-l-haqqi, sebuah rangkaian yang tidak ada duanya), menempatkan perubahan itu pada orang yang menyampaikan, padahal yang berubah ada pada mereka yang mendengar.

Tafsiran

Kisah sapi betina mengajarkan bahwa ketaatan sederhana lebih baik dari ketaatan yang dipertanyakan. Setiap pertanyaan Bani Israil menghasilkan kriteria tambahan, bukan kemudahan. Apa yang tadinya bisa dilakukan dalam satu hari menjadi proyek yang nyaris gagal. Dan nama surah ini, Al-Baqarah, adalah pengingat abadi tentang pelajaran itu: jangan seperti mereka yang hampir tidak melakukannya.

Pengakuan mereka di ujung perikop ini memuat kata yang menarik untuk ditimbang. Mereka berkata bahwa sekarang barulah kebenaran itu dibawakan. Padahal empat jawaban sebelumnya datang dari sumber yang sama dan disampaikan orang yang sama. Yang berubah bukan kebenarannya melainkan kecukupan keterangannya bagi mereka, dan keduanya tertukar dalam kalimat itu.

Catatan penutupnya menolak menyederhanakan apa pun. Perbuatan itu terjadi, dan hampir tidak terjadi, dan dua-duanya dicatat. Sebuah kisah yang berakhir dengan ketaatan biasanya berhenti pada kata menyembelih, tetapi ayat ini menambahkan satu keterangan lagi yang tidak menghapus keterangan sebelumnya. Perintah Allah akhirnya dikerjakan, dan jarak antara mengerjakannya dan tidak mengerjakannya ternyata setipis itu.

Perikop ini juga menutup tanpa pujian dan tanpa hukuman. Tidak disebutkan bahwa mereka diampuni karena akhirnya menurut, tidak pula bahwa mereka dicela karena begitu lama menunda. Yang tinggal hanyalah catatan tentang apa yang terjadi, dan satu keterangan tentang betapa nyaris tidak terjadi. Bagian yang membuat kisah ini terus dibaca barangkali justru itu: ia berhenti tepat sebelum memberi penilaian, dan menyerahkan penilaian itu kepada siapa pun yang membacanya berabad-abad kemudian.

Renungan dan Hikmah

  • Kalimat penutup yang menusuk: mereka hampir tidak melakukannya. Setelah semua pertanyaan, penundaan, spesifikasi yang menyempit, mereka nyaris kehilangan kesempatan untuk taat. Semakin lama menunda, semakin sulit melaksanakan. Dan semakin sulit, semakin besar godaan untuk tidak melakukannya sama sekali. Sampai akhirnya, hampir, terlambat. Jangan biarkan ketaatanmu sampai ke titik hampir tidak jadi.
  • Seluruh surah ini dinamai AL-baqarah, Sapi Betina, dari kisah ini. Bukan dari ayat pertama, bukan dari tema utama. Sebuah kisah tentang penundaan, pertanyaan tak perlu, dan ketaatan yang nyaris gagal. Dengan menamai surah terpanjang Al-Quran dengan kisah ini, seolah Al-Quran berkata: Jangan lupa. Jangan ulangi kesalahan yang sama. Ketaatan sederhana lebih baik dari pertanyaan tanpa akhir.
  • Kata yang membuka pengakuan mereka muncul lagi di dua tempat yang sama-sama menandai keterlambatan. Di 4:18 ia diucapkan orang yang baru menyatakan tobat ketika ajal sudah berdiri di depannya, dan Allah menyatakan tobat itu bukan tobat. Di 12:51 ia diucapkan istri al-Aziz yang akhirnya mengaku bersalah sesudah Yusuf lebih dulu mendekam di penjara. Di ketiga tempat itu yang berubah bukan kebenarannya, yang sejak semula memang begitu, melainkan kesediaan orangnya menyebut kebenaran itu.
  • Keterangan bahwa sapi itu tanpa cacat memakai kata yang di seluruh Al-Qur'an hanya dipakai sekali lagi, yaitu di 4:92, untuk tebusan yang harus diserahkan kepada keluarga korban dalam perkara pembunuhan yang tidak disengaja. Satu kata dipakai untuk seekor hewan yang akan disembelih dan untuk harga sebuah nyawa. Satu ayat sesudah ini, di 2:72, barulah terbuka bahwa seluruh perkara sapi ini memang bermula dari sebuah pembunuhan yang pelakunya saling menuduh, sedang Allah menyingkapkan apa yang mereka sembunyikan. Kata itu sudah menunjuk ke sana sebelum perkaranya disebutkan.
  • Ayat ini tidak berkata mereka taat, dan tidak berkata mereka menolak. Disebutkan dua hal berdampingan: mereka menyembelihnya, dan mereka hampir tidak melakukannya. Yang pertama mencatat perbuatan itu selesai, yang kedua mencatat jaraknya dari tidak selesai, dan keduanya dibiarkan berdiri tanpa satu pun disebut lebih benar. Sebuah kisah ketaatan biasanya berhenti pada kata menyembelih, dan Allah tidak menghentikannya di situ. Apa yang bertambah ketika sebuah catatan menolak berhenti pada perbuatan yang sudah selesai dan menyebutkan juga betapa nyaris hal itu tidak terjadi?
  • Perikop ini ditutup tanpa pujian dan tanpa hukuman. Tidak disebutkan bahwa mereka diampuni karena akhirnya menurut, tidak pula bahwa mereka dihukum karena begitu lama menunda. Yang tinggal hanyalah catatan tentang apa yang terjadi, ditambah satu keterangan tentang betapa nyaris tidak terjadi. Allah menyudahi kisah ini tepat sebelum memberi penilaian, dan penilaian itu diserahkan kepada siapa pun yang membacanya kemudian. Kisah yang diberi vonis selesai bersama vonisnya; kisah yang dibiarkan terbuka terus dibaca berabad-abad sesudahnya.