وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ
Dan ingatlah ketika kalian membunuh seseorang, lalu kalian saling menuduh tentangnya, sedang Allah menyingkapkan apa yang kalian sembunyikan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَwa-idz qataltum nafsan fa-ddaarat'tum fiihaa wa-llaahu mukhrijun maa kuntum taktumuunadan ingatlah ketika kalian membunuh seseorang, lalu kalian saling melempar tuduhan tentangnya, dan Allah menyingkapkan apa yang kalian sembunyikan
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- قَتَلْتُمْqataltumkalian membunuh
- نَفْسًاnafsanjiwa
- فَادَّارَأْتُمْfa-ddaarat'tumlalu kalian saling menuduh
- فِيهَاfiihaatentangnya
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- مُخْرِجٌmukhrijunyang menyingkapkan
- مَاmaaapa yang
- كُنْتُمْkuntumkalian selalu
- تَكْتُمُونَtaktumuunakalian sembunyikan
Inti bacaan
Pembunuhan yang disembunyikan dengan saling tuduh akhirnya disingkapkan Allah, 'menyingkapkan apa yang kalian sembunyikan' menegaskan bahwa kebenaran tersembunyi cenderung terungkap pada waktunya. Konkretnya: upaya menutupi kesalahan lewat saling-menyalahkan atau kebohongan kolektif jarang bertahan permanen, kejujuran dari awal, meski sulit, lebih murah biayanya daripada penyingkapan yang tertunda.
Penjelasan pilihan kata
Dan ingatlah ketika kalian membunuh seseorang, lalu kalian saling melempar tuduhan tentangnya, sebuah pembunuhan terjadi di antara Bani Israil, dan mereka saling tuduh. Tidak ada yang mau mengaku. Lalu, di ayat berikutnya, Allah berfirman: "Pukullah mayat itu dengan sebagian darinya" (2:73), perintah untuk memukul mayat korban dengan bagian dari sapi yang disembelih (dari kisah 2:67-71), dan mayat itu hidup kembali untuk menyebutkan pembunuhnya. Inilah mukjizat yang menunjukkan bahwa Allah bisa menghidupkan yang mati, dan bahwa kebenaran tidak bisa disembunyikan, bahkan setelah kematian.
"Demikianlah Allah menghidupkan yang mati, dan Dia memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda-Nya agar kalian berakal" (2:73), penutup yang menghubungkan peristiwa ini dengan tema yang lebih besar: Kebangkitan. Pembunuhan ini menjadi bukti bahwa Allah bisa menghidupkan kembali, sebuah pelajaran tentang hari akhir yang dikemas dalam peristiwa sejarah.Dua kalimat di atas mengambil isi ayat berikutnya, dan itu perlu disebut terang-terangan supaya batas ayatnya jelas. 2:72 sendiri berhenti sebelum mukjizatnya. Yang ada di dalamnya cuma tiga hal: sebuah nyawa yang dihabisi, tuduhan yang dilempar berkeliling, dan satu kalimat tentang Allah. Pemukulan mayat, hidupnya kembali, dan seruan supaya berakal semuanya ada di 2:73.
Ayat ini pendek, dan hampir tiap katanya jarang. "Kalian membunuh" (قَتَلْتُمْ, qataltum) muncul dalam bentuk persis ini satu kali saja di seluruh Al-Qur'an; sebagai kata yang sama dengan akhiran berbeda ia muncul dua kali, karena 3:183 memakai qataltumuuhum dengan tambahan "mereka". Kata sesudahnya lebih jarang lagi: "lalu kalian saling melempar tuduhan", fa-ddaara'tum, tidak punya kembaran di mana pun. Bentuknya bentuk timbal balik, yaitu bentuk yang dipakai untuk perbuatan yang dilakukan dua pihak kepada satu sama lain.
Akar kata itu, د-ر-أ, muncul di lima ayat: 2:72, 3:168, 13:22, 24:8, dan 28:54. Di empat ayat selain ayat ini, pekerjaannya selalu sama, yaitu menepis sesuatu yang buruk supaya tidak kena. 3:168 menantang mereka yang berkata bahwa kawan-kawan mereka tidak akan terbunuh seandainya menurut: "maka tepiskanlah kematian dari diri kalian sendiri". 13:22 dan 28:54 memuji orang yang menepis keburukan dengan kebaikan. 24:8 memakainya untuk hukuman yang tertepis dari seorang istri lewat sumpahnya. Jadi akar ini memang alat penepis, dan yang lazim ditepis adalah bahaya. Di 2:72 yang ditepis bukan bahaya melainkan tuduhan, dan arahnya bukan menjauh dari semua orang melainkan ke sesama. Masing-masing menepis ke tetangganya.
Paruh kedua ayat ini tidak berbentuk kata kerja. "Allah menyingkapkan" (مُخْرِجٌ, mukhrijun) adalah kata sifat pelaku, bukan kata kerja lampau dan bukan kata kerja akan datang, jadi ia menyatakan sifat yang melekat, bukan satu kejadian yang dijadwalkan. Bentuk ini cuma dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 9:64, dan susunannya nyaris kembar. Di 9:64 yang disingkapkan adalah apa yang ditakutkan orang munafik di Madinah, yaitu isi hati mereka sendiri; di sini "apa yang kalian sembunyikan" (تَكْتُمُونَ, taktumuuna), yaitu sebuah pembunuhan di kalangan Bani Israil. Dua umat, dua zaman, satu susunan kalimat.
Kata "kalian sembunyikan" itu sendiri muncul tujuh kali (2:33, 2:72, 3:71, 3:187, 5:99, 21:110, 24:29), dan tak satu pun dari enam yang lain dijawab dengan penyingkapan. Tiga kali jawabannya pengetahuan Allah: Dia mengetahui apa yang ditampakkan dan apa yang disembunyikan (5:99, 24:29), dan Dia mengetahui apa yang dirahasiakan (21:110). Sekali ia bagian dari teguran kepada malaikat bahwa Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan (2:33). Dua kali lagi ia masuk ke celaan atas Ahlulkitab yang menyembunyikan kebenaran padahal tahu (3:71) dan yang berjanji tidak akan menyembunyikan Kitab lalu melemparnya ke belakang punggung (3:187). Hanya di 2:72 kata itu berhadapan dengan mukhrijun. Selisihnya bukan hiasan bahasa. Yang diketahui masih bisa tetap tersimpan; yang dikeluarkan tidak.
Urutan penceritaannya juga patut diperhatikan. Pembunuhan inilah sebab seluruh perkara sapi, sebab perintah menyembelih baru ada gunanya kalau ada mayat yang perlu ditanyai. Tapi mayat itu baru disebut di sini, sesudah lima ayat tawar-menawar tentang hewannya selesai. Pembaca sudah terlanjur mengikuti kerewelan mereka memilih sapi sebelum diberi tahu apa yang sedang menggantung di tengah mereka.
Tafsiran
Kisah pembunuhan dan sapi betina adalah satu rangkaian: perintah menyembelih sapi (2:67-71) ternyata bukan perintah acak. Sapi itu nanti dipakai untuk menghidupkan mayat dan mengungkap pembunuh. Apa yang tampak sebagai perintah aneh kini terungkap tujuannya. Beginilah cara Allah bekerja: sering kali kita tidak mengerti tujuan suatu perintah saat menerimanya, tapi di kemudian hari, tujuannya menjadi jelas. Perintah yang tampaknya tidak masuk akal (sapi dengan spesifikasi super spesifik) ternyata memiliki fungsi yang tidak terduga.Ada dua cara sebuah rahasia berakhir. Ia bisa diketahui, dan ia bisa dikeluarkan. Bedanya terasa sepele sampai kita berada di pihak yang menyembunyikan. Rahasia yang diketahui masih bisa hidup berdampingan dengan kita: ada yang tahu, tapi keadaan tidak berubah, hubungan tidak berubah, nama di mata orang tidak berubah. Rahasia yang dikeluarkan mengubah semuanya sekaligus. Ayat ini memilih kata yang kedua, dan enam ayat lain yang memakai kata "menyembunyikan" memilih yang pertama.
Yang dipotret di paruh pertama bukan kebohongan seorang pembunuh, melainkan kebohongan sebuah kelompok. Bentuk timbal baliknya penting: tak seorang pun berbohong sendirian di sini. Tiap tuduhan yang dilempar menambah satu lapis kabut, dan makin banyak yang menuduh makin sukar dibedakan mana suara pelaku dan mana suara saksi. Kelompok yang saling menuduh bukan kelompok yang sedang mencari kebenaran. Ia kelompok yang sedang membagi rata risiko supaya tak ada yang menanggungnya penuh. Cara itu berhasil terhadap sesama manusia, sebab manusia cuma bisa menimbang keterangan yang sampai kepadanya.
Lalu paruh kedua datang tanpa perdebatan. Ia tidak membantah satu tuduhan pun dan tidak memihak satu pihak pun. Ia cuma menyebut satu sifat: Allah mengeluarkan. Kalimatnya tidak menyebut kapan, dan justru di situ tekanannya. Janji punya tanggal, dan tanggal bisa ditunggu sampai lewat. Sifat tidak punya tanggal.
Renungan dan Hikmah
- Perintah menyembelih sapi dengan spesifikasi aneh (2:67-71) ternyata bertujuan untuk membuktikan sesuatu yang lebih besar: Allah bisa menghidupkan yang mati. Apa yang tampak sebagai perintah acak kini terungkap sebagai bagian dari rencana yang lebih besar. Dalam hidup, kita sering menerima perintah atau ujian yang tidak kita mengerti tujuannya. Waktu akan mengungkapkan, dan sering kali, tujuannya jauh lebih besar dari yang kita duga.
- Kata yang dipakai untuk perbuatan mereka, fa-ddaara'tum, berbentuk timbal balik: bukan satu orang menepis, melainkan semua menepis ke arah satu sama lain. Akar kata itu muncul di lima ayat (2:72, 3:168, 13:22, 24:8, 28:54), dan di empat ayat lainnya yang ditepis selalu sesuatu yang buruk, yaitu kematian (3:168), keburukan yang dibalas kebaikan (13:22, 28:54), dan hukuman yang gugur lewat sumpah (24:8). Hanya di sini yang ditepis adalah tanggung jawab, dan hanya di sini tepisannya berputar di dalam kelompok itu sendiri. Menuduh bergantian memang meringankan beban tiap orang, tapi ia tidak memindahkan beban itu keluar. Ia cuma membuatnya tak bertuan.
- Kata "kalian sembunyikan" (تَكْتُمُونَ) muncul tujuh kali di Al-Qur'an: 2:33, 2:72, 3:71, 3:187, 5:99, 21:110, dan 24:29. Enam di antaranya berpasangan dengan pengetahuan Allah atau dengan celaan, dan hanya 2:72 yang berpasangan dengan penyingkapan. Apa bedanya bagi orang yang sedang menyimpan sesuatu? Rahasia yang diketahui Allah masih terasa bisa ditanggung, sebab hidup sehari-hari tidak berubah karenanya. Rahasia yang dikeluarkan mengubah keadaan di hadapan orang lain juga. Ayat ini tidak menakut-nakuti dengan pengawasan. Ia menyebut satu hal yang lebih sukar dihindari, yaitu bahwa yang tersembunyi punya jalan keluarnya sendiri.
- Paruh kedua ayat ini tidak memakai kata kerja. مُخْرِجٌ adalah kata sifat pelaku, jadi kalimatnya berbunyi "Allah adalah Yang menyingkapkan", bukan "Allah akan menyingkapkan". Bentuk ini cuma dua kali di seluruh Al-Qur'an, di sini dan di 9:64, dan dua-duanya berhadapan dengan orang yang menyimpan sesuatu: sebuah pembunuhan di sini, isi hati orang munafik di sana. Selisih antara janji dan sifat terasa persis saat kita menunggu. Janji punya waktu, dan waktu bisa dilewati. Sifat tidak menunggu apa pun untuk berlaku, sebab ia bukan sesuatu yang Allah kerjakan pada suatu hari, melainkan cara Dia ada.
- Rangkaian مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ, "apa yang kalian sembunyikan", muncul persis dua kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua-duanya di surah ini: 2:33 dan 2:72. Yang pertama ditujukan kepada malaikat di awal penciptaan, yang kedua kepada Bani Israil di tengah sebuah perkara pembunuhan. Jarak antara keduanya sejauh yang bisa dibayangkan, tapi kalimat Allah kepada keduanya sama persis. Menyembunyikan ternyata bukan kelakuan khas satu golongan atau satu zaman. Yang membedakan bukan siapa yang menyembunyikan, melainkan apakah yang disembunyikan itu keberatan hati atau sebuah nyawa.
- Pembunuhan inilah sebab seluruh perkara sapi, tapi Al-Qur'an baru menyebutnya sesudah lima ayat tawar-menawar tentang hewan sembelihan (2:67 sampai 2:71). Pembaca lebih dulu diajak mengikuti kerewelan mereka memilih sapi, dan baru sesudah itu diberi tahu bahwa ada mayat yang menunggu. Susunan begitu mengubah arti kerewelan tadi. Ia bukan lagi sekadar sikap terhadap perintah yang terdengar aneh, melainkan sikap orang yang menunda satu perkara yang sedang menggantung di tengah mereka sendiri. Allah tidak memarahi penundaan itu dengan kata-kata. Sebabnya cukup ditaruh di belakang, dan dari situ kelihatan berapa lama mereka menawar.