ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Kemudian hati kalian mengeras setelah itu, sehingga ia seperti batu, bahkan lebih keras. Dan sungguh, di antara batu ada yang darinya memancar sungai-sungai. Dan sungguh, di antaranya ada yang terbelah lalu keluar air darinya. Dan sungguh, di antaranya ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan.

Terjemahan bertahap (5 jeda)
  1. ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةًtsumma qasat quluubukum min ba'di dzaalika fa-hiya ka-l-hijaarati aw ashaddu qaswatankemudian hati kalian mengeras setelah itu, sehingga ia seperti batu, bahkan lebih keras
  2. وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُwa-inna mina l-hijaarati la-maa yatafajjaru minhu l-anhaarudan sungguh, di antara batu ada yang darinya memancar sungai-sungai
  3. وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُwa-inna minhaa la-maa yashshaqqaqu fa-yakhruju minhu l-maa'udan sungguh, di antaranya ada yang terbelah lalu keluar air darinya
  4. وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِwa-inna minhaa la-maa yahbitu min khashyati llaahidan sungguh, di antaranya ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah
  5. وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَwa-maa llaahu bi-ghaafilin ammaa ta'maluunadan Allah tidak lengah terhadap apa yang kalian kerjakan
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar q-s-w, q-l-b, b-'-d, h-j-r, sh-d-d, f-j-r, n-h-r, sh-q-q, kh-r-j, m-w-h, h-b-t, kh-sh-y, a-l-h, gh-f-l, '-m-l): qasat quluub diterjemahkan 'hati mengeras'. qalb dipertahankan 'hati', temuan qalb=organ NALAR (putaran 73) ditandai T1-005 sbg ketaksepadanan bahasa-sasaran, rendering BELUM diputus Pak FD.. Selaras.

Aplikasi

Kontras yang tajam: hati manusia bisa lebih keras dari batu, padahal batu sekalipun bisa memancarkan air atau 'meluncur jatuh karena takut kepada Allah'. Konkretnya: ayat ini menantang asumsi bahwa kekerasan hati adalah kondisi alami yang tak bisa diubah, jika benda mati bisa merespons dengan 'ketundukan', kekerasan hati manusia adalah pilihan/pola yang bisa dan seharusnya dilunakkan kembali, bukan takdir permanen.