وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Dan di antara mereka ada yang umi, tidak mengetahui Kitab kecuali hanya angan-angan, dan mereka hanyalah menduga-duga.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَwa-minhum ummiyyuuna laa ya'lamuuna l-kitaabadan di antara mereka ada yang umi, tidak mengetahui Kitab
- إِلَّا أَمَانِيَّillaa amaaniyyakecuali hanya angan-angan
- وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَwa-in hum illaa yazhunnuunadan mereka hanyalah menduga-duga
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَمِنْهُمْwa-minhumdan di antara mereka
- أُمِّيُّونَummiyyuunaorang-orang umi
- لَاlaatidak
- يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui
- الْكِتَابَl-kitaabaKitab
- إِلَّاillaakecuali
- أَمَانِيَّamaaniyyaangan-angan
- وَإِنْwa-indan tidaklah
- هُمْhummereka
- إِلَّاillaakecuali
- يَظُنُّونَyazhunnuunamenduga-duga
Inti bacaan
Kelompok 'ummii' (awam tak-ber-Kitab) di sini bukan dikutuk karena buta-huruf, tapi karena mengandalkan 'angan-angan dan dugaan' alih-alih pemahaman mendalam atas apa yang mereka klaim yakini. Konkretnya: bahaya sesungguhnya bukan ketidaktahuan itu sendiri, tapi ketidaktahuan yang tetap merasa yakin dan berbicara seolah-olah memahami, kerendahan-hati untuk mengakui 'aku belum benar-benar memahami ini' lebih aman daripada berpegang pada dugaan yang dibalut kepercayaan diri.
Penjelasan pilihan kata
"Di antara mereka ada yang umi" (وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ, wa-minhum ummiyyuuna), dari lema أُمِّيّ. Bentuk persis ini hanya dipakai di 6 ayat: di sini ia menandai kekurangan, tidak menguasai Kitab, tapi di tiga tempat lain, 7:157, 7:158, dan 62:2, kata yang sama dipakai untuk menyebut Nabi sendiri, "an-nabiyy al-ummiyy" (النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ, an-nabiyya l-ummiyya), nabi yang umi. Kata yang sama menandai dua hal yang jauh berbeda nilainya tergantung konteksnya: di 2:78 ia menjelaskan kenapa kelompok ini tidak menguasai Kitab; pada Nabi, sifat yang sama justru dipakai sebagai penanda bahwa apa yang disampaikannya bukan hasil belajar dari sumber tertulis yang sudah ada.
"Kecuali hanya angan-angan" (إِلَّا أَمَانِيَّ, illaa amaaniyya), dari akar yang berarti berangan-angan, dan "mereka hanyalah menduga-duga" (وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ, wa-in hum illaa yazhunnuuna), dari akar yang berarti menyangka. Kedua kata ini bekerja berpasangan menandai ketiadaan dasar: "amaaniyy" adalah harapan tanpa bukti, dan "zhann" adalah dugaan tanpa kepastian. Akar yang berarti berangan-angan itu terpakai di 18 ayat, dan pemakaiannya konsisten menandai klaim tanpa pijakan, di 2:111 klaim "hanya Yahudi atau Nasrani yang masuk taman" disebut "angan-angan mereka" (أَمَانِيُّهُمْ, amaaniyyuhum) lalu langsung ditantang, "tunjukkan dalil kalian". Di 4:123, kata yang sama menegur bukan hanya Ahlulkitab, "bukan menurut angan-angan kalian, dan bukan pula angan-angan Ahlulkitab" (لَيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ, laysa bi-amaaniyyikum wa-laa amaaniyyi ahli l-kitaabi), menyertakan orang beriman sendiri sebagai pihak yang sama rentan pada kegagalan ini.
Akar yang berarti menyangka itu sendiri tidak selalu bernada negatif seperti di sini. Terpakai di 57 ayat, dan di 2:46, bentuk kata kerja yang sama persis, "yazhunnuuna" (يَظُنُّونَ), diterjemahkan bukan "menduga-duga" melainkan "yakin", memuji orang yang yakin akan menemui Tuhan mereka (الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ, alladziina yazhunnuuna annahum mulaaquu rabbihim). Kata yang sama bisa berarti dugaan yang rapuh atau keyakinan yang kokoh, tergantung pada apa yang menyertainya; di 2:78 konteksnya menariknya ke arah yang pertama, sebab ia dipasangkan dengan "illaa" yang membatasi dan dengan "amaaniyy" yang sudah menandai ketiadaan dasar.
Susunan "illaa...illaa" berulang dua kali di ayat pendek ini, "tidak mengetahui Kitab kecuali angan-angan" dan "mereka hanyalah kecuali menduga-duga", sebuah pembatasan ganda yang menutup semua kemungkinan lain: bukan sekadar pengetahuan yang kurang, melainkan tidak tersisa apa pun selain angan-angan dan dugaan di tempat yang seharusnya diisi pengetahuan.
Tafsiran
Ayat ini memperkenalkan kegagalan berjenis lain dari yang baru dibahas. Kelompok di 2:75 mendengar firman dengan jelas, memahaminya, lalu sengaja mengubahnya, sebuah kegagalan yang berpijak pada pengetahuan yang justru disalahgunakan. Kelompok yang disebut di sini tidak pernah sampai pada tahap itu; yang mereka miliki bukan pengetahuan yang diselewengkan, melainkan ketiadaan pengetahuan yang ditutupi dengan angan-angan. Dua ayat ini bersama menunjukkan bahwa kegagalan terhadap kebenaran punya lebih dari satu wajah, dan tidak semuanya berupa niat jahat.
Ayat 4:123 menjadi pengingat penting bahwa kegagalan jenis ini bukan monopoli kelompok yang disebut di sini. Dengan menegur "angan-angan kalian" bersamaan dengan "angan-angan Ahlulkitab", teks menempatkan orang beriman pada risiko yang sama persis: berpegang pada harapan yang terasa benar tanpa pernah diperiksa dasarnya. Ayat 2:78 dengan demikian bukan sekadar laporan tentang kegagalan orang lain; ia juga cermin tentang jenis kegagalan yang bisa menimpa siapa saja yang berhenti bertanya dari mana keyakinannya berasal.
Ayat berikutnya, 2:79, memperlihatkan ke mana angan-angan semacam ini bisa berujung ketika dimanfaatkan pihak lain: penulisan kitab dengan tangan sendiri, diklaim datang dari Allah, dijual demi keuntungan kecil. Kekosongan pengetahuan yang dibiarkan di 2:78 bukan keadaan netral yang berhenti pada dirinya sendiri; ia ruang yang bisa diisi oleh siapa pun yang punya kepentingan untuk mengisinya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini tidak menuduh kelompok ini berbohong dengan sengaja; ia menggambarkan ruang kosong yang seharusnya diisi pengetahuan, tapi malah diisi harapan yang terasa benar. Ruang kosong semacam ini jarang terasa kosong dari dalam, sebab angan-angan mengisi kekosongan itu dengan begitu meyakinkan sehingga pemiliknya sendiri sulit membedakan antara yang ia ketahui dan yang cuma ia harapkan. Inilah kenapa menegur kekurangan semacam ini lebih sulit daripada menegur kebohongan yang disadari; yang ditegur tidak merasa sedang berbohong.
- Kelompok yang disebut di sini berbeda dari yang mengubah firman dengan sadar; mereka tidak digambarkan berniat menipu. Ini sebuah pengingat bahwa keliru terhadap kebenaran tidak selalu lahir dari niat buruk; ia bisa lahir semata dari berhenti bertanya, dari puas dengan angan-angan tanpa pernah menempuh jalan untuk memeriksanya. Kegagalan yang tidak disengaja tetap kegagalan, meski wajahnya jauh lebih ramah dari pengkhianatan yang disengaja.
- Ayat lain menegur angan-angan orang beriman sendiri sejajar dengan angan-angan Ahlulkitab, tanpa membedakan siapa yang lebih berhak merasa aman. Godaan membaca ayat ini sebagai laporan tentang kelemahan kelompok lain semata perlu ditahan, sebab teks lain sudah menyatakan dengan gamblang bahwa cara berpikir yang sama, berpegang pada harapan tanpa memeriksanya, sama-sama mengintai siapa pun yang merasa dirinya sudah pasti berada di pihak yang benar.
- Sifat yang menjelaskan kekurangan kelompok ini, tidak menguasai Kitab lewat jalur tertulis, adalah sifat yang sama yang disandang Nabi sendiri di ayat-ayat lain. Satu sifat yang persis sama bisa menjadi penjelasan bagi ketertinggalan di satu tempat, dan penjelasan bagi keaslian sesuatu yang datang bukan dari pembelajaran manusia di tempat lain. Nilai sebuah sifat, ternyata, tidak pernah lepas dari apa yang menyertainya. Menilai sebuah sifat hanya dari kata yang menyebutnya, tanpa memeriksa apa yang menyertainya, gampang menuntun pada kesimpulan yang keliru.
- Kata yang dipakai untuk menggambarkan isi pikiran kelompok ini bukan kata untuk kebohongan yang disadari, melainkan kata untuk dugaan, sesuatu yang di dalam kepala pemiliknya sering terasa sama kuatnya dengan keyakinan yang benar-benar berdasar. Bahaya dugaan bukan pada kelemahannya yang kentara, melainkan pada kemampuannya menyamar sebagai sesuatu yang lebih kokoh daripada yang sebenarnya, sehingga pemiliknya tidak merasa perlu memeriksanya lagi. Akar kata yang sama bahkan bisa berarti keyakinan yang kokoh di ayat lain, membuat dugaan yang rapuh dan keyakinan yang benar sulit dibedakan hanya dari rasanya saja.
- Ayat sesudah ini memperlihatkan bahwa ketiadaan pengetahuan yang dibiarkan bukan keadaan yang berhenti pada dirinya sendiri; ia ruang yang bisa diisi oleh siapa pun yang punya alasan untuk mengisinya, termasuk dengan sesuatu yang dikarang lalu diklaim datang dari Allah. Membiarkan sebuah ruang tetap kosong dari pengetahuan bukan pilihan netral yang tidak berakibat apa-apa; ia adalah undangan terbuka bagi apa pun yang kebetulan datang lebih dulu mengisinya.