فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Maka celakalah orang-orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka, kemudian berkata, “Ini dari sisi Allah,” agar mereka membelinya dengan harga murah. Maka celakalah mereka karena apa yang ditulis tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka usahakan.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْfa-waylun li-lladziina yaktubuuna l-kitaaba bi-aydiihimmaka celakalah orang-orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka
  2. ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًاtsumma yaquuluuna haadzaa min 'indi llaahi li-yasytaruu bihi tsamanan qaliilankemudian berkata, ini dari sisi Allah, agar mereka membelinya dengan harga murah
  3. فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْfa-waylun lahum mimmaa katabat aydiihimmaka celakalah mereka karena apa yang ditulis tangan mereka
  4. وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَwa-waylun lahum mimmaa yaksibuunadan celakalah mereka karena apa yang mereka usahakan

Terjemahan per kata (24 kata)

  1. فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
  2. لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
  3. يَكْتُبُونَyaktubuunamenulis
  4. الْكِتَابَl-kitaabaKitab
  5. بِأَيْدِيهِمْbi-aydiihimdengan tangan mereka
  6. ثُمَّtsummakemudian
  7. يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
  8. هَٰذَاhaadzaaini
  9. مِنْmindari
  10. عِنْدِ'indisisi
  11. اللَّهِllaahiAllah
  12. لِيَشْتَرُواli-yasytaruuagar mereka membeli
  13. بِهِbihidengannya
  14. ثَمَنًاtsamananharga
  15. قَلِيلًاqaliilansedikit
  16. فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
  17. لَهُمْlahumbagi mereka
  18. مِمَّاmimmaakarena apa yang
  19. كَتَبَتْkatabatmenulis
  20. أَيْدِيهِمْaydiihimtangan mereka
  21. وَوَيْلٌwa-waylundan celaka
  22. لَهُمْlahumbagi mereka
  23. مِمَّاmimmaakarena apa yang
  24. يَكْسِبُونَyaksibuunamereka usahakan

Inti bacaan

Kecaman keras jatuh pada mereka yang menulis dengan tangan sendiri lalu mengklaimnya 'dari Allah' demi keuntungan kecil, pemalsuan otoritas untuk kepentingan pribadi. Konkretnya: mengatasnamakan sumber yang lebih tinggi (agama, sains, otoritas) untuk melegitimasi klaim yang sebenarnya buatan sendiri demi keuntungan adalah pelanggaran serius yang dikutuk berulang ('celakalah. celakalah. celakalah'), tiga kali penekanan menunjukkan beratnya pelanggaran ini.

Penjelasan pilihan kata

"Maka celakalah" (فَوَيْلٌ, fa-waylun), diulang tiga kali dalam satu ayat ini, di awal, di tengah, dan di akhir. Dicek ke seluruh mushaf, tidak ada ayat lain yang mengulang kata ini lebih dari sekali; 2:79 satu-satunya. Ayat ini juga kemunculan pertama kata "wayl" menurut urutan mushaf, sebelum kemunculannya di 37 ayat lain yang tersebar dari sini hingga akhir Al-Quran. Kata ini tidak diturunkan dari akar tiga huruf biasa seperti kebanyakan kata lain di ayat ini; ia berdiri sebagai seruan tersendiri, dan pengulangannya tiga kali di sini adalah penyimpangan dari pola pemakaiannya sendiri di tempat lain.

"Menulis Kitab dengan tangan mereka" (يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ, yaktubuuna l-kitaaba bi-aydiihim), dari akar yang berarti menulis dan menetapkan dua kali dalam frasa yang sama, sekali sebagai kata kerja menulis, sekali sebagai kata benda Kitab yang ditulis. "Tangan" (أَيْدِيهِمْ, aydiihim) disebut lagi di larik ketiga, "karena apa yang ditulis tangan mereka" (مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ, mimmaa katabat aydiihim), memakai akar yang berarti menulis dan menetapkan untuk ketiga kalinya. Penekanan berulang pada tangan yang menulis berdiri berlawanan dengan klaim yang diucapkan, "ini dari sisi Allah" (هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ, haadzaa min 'indi llaahi): sumber yang sebenarnya, tangan manusia, disebut tiga kali; sumber yang diklaim, disebut sekali sebagai ucapan yang dikutip, bukan sebagai fakta yang ditegaskan teks.

"Agar mereka membelinya dengan harga murah" (لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا, li-yasytaruu bihi tsamanan qaliilan), dari akar yang berarti membeli atau menukar dan yang berarti harga. Pasangan "tsamanan qaliilan" bukan ungkapan khusus ayat ini; rumus yang sama muncul lagi di 3:77, 3:187, 5:44, 9:9, dan 16:95, semuanya menuduh hal serupa, menukar sesuatu yang seharusnya dijaga, perjanjian, tanda-tanda Allah, kebenaran Kitab, dengan keuntungan duniawi yang kecil. Akar yang berarti menjual dan membeli itu sendiri terpakai di 23 ayat, dan pola "membeli kesesatan dengan petunjuk" berulang di 2:16, 2:86, 2:90, dan 2:175, semuanya dalam surah yang sama, menjadikan citra jual-beli ini salah satu metafora yang paling sering dipakai surah al-Baqarah untuk menggambarkan pengkhianatan terhadap kebenaran.

"Karena apa yang mereka usahakan" (مِمَّا يَكْسِبُونَ, mimmaa yaksibuuna), dari akar yang berarti mengusahakan, celaka ketiga yang menyasar bukan perbuatan atau tulisannya, melainkan hasil yang diperoleh darinya. Dua ayat berikutnya, 2:81, memakai akar yang sama untuk menyatakan "siapa yang mengusahakan keburukan" (مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً, man kasaba sayyi'atan) akan dikepung dosanya sendiri. Akar yang berarti mengusahakan itu dalam kedua ayat ini menaruh penekanan pada sesuatu yang diperoleh lewat usaha sendiri, bukan yang menimpa begitu saja, menjadikan hasil dari menulis Kitab palsu setara kedudukannya dengan keburukan yang diusahakan secara sengaja.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai dari 2:75 dengan bentuk kegagalan yang paling berat. Kelompok di 2:75 mengubah firman setelah memahaminya; kelompok di 2:78 tidak pernah benar-benar tahu, hanya berpegang pada angan-angan. Ayat ini menyebut kelompok ketiga, yang tidak sekadar mengubah atau salah paham, melainkan mengarang teks baru dan mengklaimnya datang dari Allah, demi harga yang murah. Dari tiga bentuk kegagalan yang disebut berturut-turut, hanya inilah yang mendapat kata "celaka", dan hanya inilah yang mendapatkannya tiga kali.

Tiga pengulangan "celaka" itu bukan penekanan kosong; masing-masing menyasar sisi yang berbeda. Yang pertama menyasar pelakunya, orang-orang yang menulis. Yang kedua menyasar hasil tulisannya, apa yang ditulis tangan mereka. Yang ketiga menyasar motifnya, apa yang mereka usahakan atau peroleh. Perbuatan, produk, dan keuntungan, ketiganya dikutuk secara terpisah, seolah teks ini menolak membiarkan satu pun dari ketiganya lolos dengan berlindung di balik yang lain, tidak bisa berdalih "saya hanya menulis" atau "saya hanya mengambil untung dari yang sudah ada".

Ayat ini juga menjadi kemunculan pertama kata "celaka" dalam susunan mushaf. Dari sekian banyak pelanggaran yang sudah disebutkan sejak awal surah, kekerasan hati, distorsi firman, penyembunyian, kebodohan yang dipelihara, justru pengarangan teks palsu demi keuntungan kecillah yang pertama kali dianggap pantas menerima seruan ini.

Renungan dan Hikmah

  • Kutukan yang diulang tiga kali di ayat ini tidak mengulang hal yang sama; yang pertama menyasar perbuatan, yang kedua menyasar hasilnya, yang ketiga menyasar keuntungan yang diperoleh darinya. Struktur ini menutup jalan keluar yang biasa dipakai untuk meringankan kesalahan, memisahkan diri dari perbuatan, dari hasilnya, atau dari motifnya, seolah hanya salah satu dari ketiganya yang benar-benar miliknya. Ayat ini menyatakan ketiganya sama-sama menempel pada pelakunya, tidak satu pun bisa dilepaskan.
  • Tangan yang menulis disebut tiga kali, sementara klaim tentang asal tulisan itu, dari sisi Allah, hanya disebut sekali dan itu pun sebagai kutipan ucapan, bukan pernyataan yang ditegaskan teks. Susunan ini menaruh bukti fisik berulang kali berhadapan dengan klaim lisan yang hanya sekali diucapkan, seolah teks sendiri sedang menunjukkan mana yang lebih bisa dipercaya. Sebuah klaim tidak menjadi benar hanya karena diucapkan dengan yakin; jejak yang bisa ditelusuri selalu berbicara lebih keras daripada pernyataan tentang asal-usulnya.
  • Ayat ini tidak mempersoalkan berapa besar keuntungan yang mereka dapatkan; ia justru menekankan bahwa harganya kecil. Ini membalik cara biasa menilai sebuah pengkhianatan, bukan besar-kecilnya hasil yang menentukan beratnya kesalahan, melainkan betapa kecilnya hasil itu dibandingkan dengan apa yang dikorbankan untuk mendapatkannya. Kebenaran yang ditukar dengan harga yang sangat murah menunjukkan betapa rendahnya penilaian pelakunya terhadap kebenaran itu sendiri, bukan sekadar keserakahan biasa.
  • Citra membeli dan menjual muncul berkali-kali di surah yang sama untuk menggambarkan pengkhianatan terhadap kebenaran, membeli kesesatan dengan petunjuk, membeli kehidupan dunia dengan akhirat, dan di sini, menukar Kitab palsu demi harga murah. Pengulangan citra yang sama dalam satu surah bukan kebetulan; ia membangun satu cara berpikir yang konsisten, bahwa berpaling dari kebenaran selalu punya struktur transaksi, ada sesuatu yang dilepaskan dan sesuatu yang diharapkan sebagai gantinya, betapapun kecil dan tidak sepadan gantinya itu.
  • Sejak awal surah ini sudah disebut berbagai pelanggaran, mengingkari, mengeraskan hati, mengubah firman, menyembunyikan, membiarkan diri tetap tidak tahu. Kata celaka yang pertama kali muncul dalam seluruh susunan mushaf justru dialamatkan bukan untuk yang paling awal disebut, melainkan untuk mengarang teks palsu demi keuntungan kecil. Urutan ini mengajak bertanya sendiri apa yang membuat sebuah pelanggaran pantas mendapat kata seberat itu, bukan seberapa dini ia muncul dalam daftar kesalahan.
  • Rangkaian sejak 2:75 memperlihatkan beberapa cara berbeda kebenaran gagal disampaikan, dan ayat ini meletakkan motif yang mungkin diam-diam menggerakkan sebagiannya, keuntungan, betapapun kecil. Membaca ulang rangkaian ini dengan motif itu di tangan mengubah beberapa hal yang tadinya terlihat sebagai kegagalan memahami menjadi layak dipertanyakan lagi, apakah benar-benar semata kegagalan, atau ada kepentingan kecil yang diam-diam ikut menentukan arah kegagalan itu.