Ayat 2:83
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ
Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil, “Janganlah kalian menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, dan tegakkanlah salat, dan berikanlah zakat.” Kemudian kalian berpaling, kecuali sebagian kecil dari kalian, sedangkan kalian pembangkang.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَwa-idz akhadznaa miitsaaqa banii israa'iiladan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari Bani Israil
- لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِlaa ta'buduuna illaa llaaha wa-bi-l-waalidayni ihsaanan wa-dzi l-qurbaa wa-l-yataamaa wa-l-masaakiinijanganlah kalian menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin
- وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَwa-quuluu li-n-naasi husnan wa-aqiimuu sh-shalaata wa-aatuu z-zakaatadan bertutur katalah yang baik kepada manusia, dan tegakkanlah salat, dan berikanlah zakat
- ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَtsumma tawallaytum illaa qaliilan minkum wa-antum mu'ridhuunakemudian kalian berpaling, kecuali sebagian kecil dari kalian, sedangkan kalian pembangkang
Terjemahan per kata (29 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- أَخَذْنَاakhadznaaKami mengambil
- مِيثَاقَmiitsaaqaperjanjian
- بَنِيbaniiBani
- إِسْرَائِيلَisraa'iilaIsrail
- لَاlaatidak
- تَعْبُدُونَta'buduunakalian menyembah
- إِلَّاillaakecuali
- اللَّهَllaahaAllah
- وَبِالْوَالِدَيْنِwa-bi-l-waalidaynidan kepada kedua orang tua
- إِحْسَانًاihsaananberbuat baik
- وَذِيwa-dzidan pemilik
- الْقُرْبَىٰl-qurbaakekerabatan
- وَالْيَتَامَىٰwa-l-yataamaadan anak-anak yatim
- وَالْمَسَاكِينِwa-l-masaakiinidan orang-orang miskin
- وَقُولُواwa-quuluudan katakanlah kalian
- لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
- حُسْنًاhusnanyang baik
- وَأَقِيمُواwa-aqiimuudan tegakkanlah kalian
- الصَّلَاةَsh-shalaatasalat
- وَآتُواwa-aatuudan berikanlah kalian
- الزَّكَاةَz-zakaatazakat
- ثُمَّtsummakemudian
- تَوَلَّيْتُمْtawallaytumkalian berpaling
- إِلَّاillaakecuali
- قَلِيلًاqaliilansedikit
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- وَأَنْتُمْwa-antumpadahal kalian
- مُعْرِضُونَmu'ridhuunaberpaling menolak
Inti bacaan
Perjanjian ini mendaftar kewajiban berlapis: tauhid, bakti orang tua, kepedulian kerabat-yatim-miskin, tutur kata baik, salat, zakat, sebuah paket lengkap yang menyatukan vertikal dan horizontal dalam satu perjanjian tunggal. Konkretnya: komitmen spiritual yang sehat tidak bisa dipilah-pilah sesuka hati (mengambil salat tapi mengabaikan bakti orang tua, atau sebaliknya), semuanya bagian dari satu paket kewajiban yang saling menopang.
Penjelasan pilihan kata
"Perjanjian" (مِيثَاقَ, miitsaaqa), dari akar yang berarti "mengikat erat, mempercayai". Kata ini berbeda dari "'ahd" (عَهْدًا) yang dipakai di 2:80 untuk bertanya "sudahkah kalian menerima janji". Bedanya terlihat di 2:27, "yanqudhuuna 'ahda llaahi min ba'di miithaaqihi" (mereka menguraikan janji Allah sesudah diikat erat); di sana "miithaaq" menandai kekuatan pengikatan janjinya, bukan janji itu sendiri. Ketika 2:83 memakai "miithaaq" untuk perjanjian dengan Bani Israil, ia menegaskan bahwa perjanjian ini bukan sekadar kesepakatan biasa, melainkan sesuatu yang diikat dengan kekuatan khusus, jauh lebih kokoh daripada "'ahd" generik yang dipertanyakan keberadaannya di 2:80.
"Orang-orang miskin" (الْمَسَاكِينِ, al-masaakiini), dari akar yang berarti diam dan tenang, akar yang sama dengan "menetap, diam". Akar ini dipakai di 2:35 untuk perintah kepada Adam, "uskun anta wa zawjuka l-jannata" (اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ, tinggallah engkau dan istrimu di taman). "Miskin" secara akar bukan sekadar "tidak punya", melainkan seseorang yang seolah tertahan diam di tempatnya, tidak mampu bergerak memperbaiki keadaannya sendiri. Penyebutannya berdampingan dengan anak yatim dalam daftar ini bukan kebetulan; keduanya sama-sama pihak yang kekurangan daya untuk mengubah posisinya sendiri.
"Berbuat baiklah" (إِحْسَانًا, ihsaanan), untuk orang tua, dan "yang baik" (حُسْنًا, husnan), untuk tutur kata kepada manusia secara umum, dua kata dari akar yang sama, yang berarti baik dan elok, terpakai di 177 ayat. Kata ini muncul dua kali dalam satu ayat, sekali untuk kualitas perlakuan kepada pihak yang paling dekat, sekali untuk kualitas ucapan kepada siapa pun yang dijumpai. Akar yang sama menaungi jarak terdekat dan terjauh dalam daftar ini, seolah menegaskan kebaikan yang dituntut bukan dua jenis kebaikan berbeda tergantung siapa penerimanya, melainkan satu kualitas yang sama, hanya diterapkan pada rentang kedekatan yang berbeda.
"Kemudian kalian berpaling" (ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ, tsumma tawallaytum), dari akar yang berarti dekat dan mengurus, bentuk lampau, satu tindakan yang sudah selesai. "Sedangkan kalian pembangkang" (وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ, wa-antum mu'ridhuuna), dari akar yang berarti menghadapkan dan melintang, bentuk pelaku yang menggambarkan keadaan berlangsung, bukan tindakan sekali. Dua akar berbeda dipakai berurutan untuk dua nuansa penolakan yang berbeda, satu sebagai peristiwa yang terjadi lalu selesai, satu sebagai sifat yang terus melekat sesudahnya, pola yang sama seperti pergeseran dari "sayyi'ah" ke "khatii'atuhu" di 2:81, sebuah tindakan yang mengeras jadi keadaan.
Tafsiran
Ayat ini jawaban penuh atas pertanyaan yang digantung di 2:80. Bukan janji pembebasan dari hukuman yang pernah diambil Bani Israil, melainkan delapan kewajiban konkret: tauhid, kebaikan kepada orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tutur kata yang baik kepada semua orang, salat, dan zakat. Kontras antara isi perjanjian yang sungguh ada dan jaminan yang diklaim di 2:80 tidak bisa lebih tajam lagi.
Susunan daftar ini bergerak dalam sebuah lingkaran yang melebar. Dimulai dari yang vertikal, hanya kepada Allah, lalu melebar secara horizontal, orang tua yang paling dekat, kerabat, lalu anak yatim dan orang miskin yang mungkin tidak ada hubungan darah sama sekali, sampai akhirnya mencakup "manusia" secara umum lewat tutur kata yang baik. Kewajiban ritual, salat dan zakat, ditempatkan di penghujung, bukan di awal, seolah ibadah formal adalah puncak dari kepedulian yang sudah dibangun secara sosial, bukan pengganti bagi kepedulian itu.
Penutup ayat ini menahan diri dari generalisasi penuh. "Kecuali sedikit dari kalian" mengakui ada yang tetap setia di tengah keberpalingan mayoritas, sebuah pengakuan yang mencegah pembacaan ayat ini sebagai tuduhan kolektif tanpa pengecualian. Pola yang sama akan terus muncul di ayat-ayat berikutnya: kegagalan yang dibicarakan selalu kegagalan sebagian, bukan seluruh, betapa pun beratnya kegagalan itu digambarkan.
Renungan dan Hikmah
- Ayat sebelumnya mempertanyakan dasar dari sebuah klaim keselamatan yang tak bisa ditunjukkan. Ayat ini menjawabnya dengan menunjukkan perjanjian yang sungguh ada, dan isinya sama sekali bukan jaminan bebas hukuman, melainkan delapan kewajiban konkret yang bisa diperiksa satu per satu. Kontras ini adalah pengingat bahwa cara paling efektif membongkar klaim yang tidak berdasar bukan dengan menyangkalnya secara umum, melainkan dengan menunjukkan seperti apa sebenarnya yang berdasar itu.
- Daftar kewajiban ini tidak dimulai dari yang jauh dan asing; ia dimulai dari yang paling dekat, orang tua, lalu melebar ke kerabat, ke yatim dan miskin yang mungkin tidak dikenal sama sekali, sampai ke manusia secara umum. Pola melebar seperti ini menyingkap bahwa kepedulian yang sejati biasanya tumbuh dari lingkaran terdekat, bukan langsung meloncat ke yang jauh sementara mengabaikan yang di depan mata. Seseorang yang mengabaikan orang tuanya sendiri sambil mengklaim peduli pada kemanusiaan secara umum sedang melewatkan urutan yang justru ditegaskan ayat ini.
- Kata yang dipakai untuk orang miskin di sini berakar pada gagasan tertahan diam di tempat, bukan sekadar tidak memiliki sesuatu. Cara memandang kemiskinan seperti ini berbeda dari sekadar menghitung kekurangan harta; ia mengarahkan perhatian kepada ketidakmampuan bergerak memperbaiki keadaan sendiri, sesuatu yang sering butuh uluran dari luar untuk bisa terurai, bukan semata soal berapa banyak yang kurang.
- Salat dan zakat, dua kewajiban yang paling sering dianggap sebagai inti keberagamaan, justru ditempatkan di akhir daftar ini, sesudah seluruh rangkaian kepedulian sosial disebutkan lebih dulu. Penempatan ini menyingkap bahwa ibadah formal bukan pengganti bagi kepedulian kepada sesama, melainkan puncak yang berdiri di atas fondasi yang sudah dibangun lebih dulu. Menjalankan salat dan zakat sambil mengabaikan orang tua, kerabat, yatim, dan miskin adalah membangun puncak tanpa fondasi yang seharusnya menopangnya.
- Ayat ini menutup dengan dua kata berbeda untuk penolakan, satu menggambarkan tindakan yang terjadi lalu selesai, satu menggambarkan keadaan yang terus melekat sesudahnya. Pergeseran dari tindakan sesaat ke sifat yang menetap ini pola yang sama yang muncul di ayat lain dalam rangkaian ini, sebuah kesalahan yang dibiarkan cenderung tidak berhenti sebagai kejadian tunggal, ia mengeras jadi bagian dari siapa pelakunya.
- Ayat ini tidak menyapu rata seluruh kelompok sebagai pengingkar; ia secara eksplisit menyisakan ruang bagi sedikit yang tetap setia. Pengecualian sekecil apa pun ini penting, sebab tanpanya, pembaca mudah tergelincir membaca seluruh rangkaian kegagalan sebagai tuduhan kolektif terhadap satu golongan secara keseluruhan. Kegagalan yang digambarkan tetap kegagalan sebagian, dan pengecualian yang disebutkan secara eksplisit adalah pengingat untuk tidak menggeneralisasi lebih jauh daripada yang dinyatakan teksnya sendiri.
Ayat 2:84
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ
Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian kalian, “Janganlah kalian menumpahkan darah kalian dan janganlah kalian mengusir diri kalian dari kampung halaman kalian.” Kemudian kalian mengikrarkannya, sedangkan kalian menyaksikan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْwa-idz akhadznaa miitsaaqakumdan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian kalian
- لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْlaa tasfikuuna dimaa'akum wa-laa tukhrijuuna anfusakum min diyaarikumjanganlah kalian menumpahkan darah kalian dan janganlah kalian mengusir diri kalian dari kampung halaman kalian
- ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَtsumma aqrartum wa-antum tasyhaduunakemudian kalian mengikrarkannya, sedangkan kalian menyaksikan
Terjemahan per kata (15 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- أَخَذْنَاakhadznaaKami mengambil
- مِيثَاقَكُمْmiitsaaqakumperjanjian kalian
- لَاlaatidak
- تَسْفِكُونَtasfikuunakalian menumpahkan
- دِمَاءَكُمْdimaa'akumdarah kalian
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- تُخْرِجُونَtukhrijuunakalian mengeluarkan
- أَنْفُسَكُمْanfusakumdiri kalian
- مِنْmindari
- دِيَارِكُمْdiyaarikumkampung halaman kalian
- ثُمَّtsummakemudian
- أَقْرَرْتُمْaqrartumkalian mengikrarkan
- وَأَنْتُمْwa-antumpadahal kalian
- تَشْهَدُونَtasyhaduunakalian menyaksikan
Inti bacaan
Perjanjian eksplisit: jangan menumpahkan darah, jangan saling mengusir dari kampung halaman, ditegaskan dengan 'kalian berikrar sedang kalian menyaksikan', menghapus alasan lupa atau tak sadar. Konkretnya: komitmen menjaga perdamaian dan tidak mengusir sesama dari tempat tinggalnya adalah kewajiban dasar yang disaksikan sendiri, bukan aturan asing yang bisa diklaim tak pernah disetujui.
Penjelasan pilihan kata
"Janganlah kalian menumpahkan darah kalian" (لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ, laa tasfikuuna dimaa'akum), dari akar yang berarti menumpahkan darah. Akar ini adalah salah satu akar paling langka di seluruh mushaf terkait ayat ini: hanya terpakai di 2 ayat, di sini dan di 2:30. Di 2:30, para malaikat mempertanyakan rencana Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, "a-taj'alu fiihaa man yufsidu fiihaa wa-yasfiku d-dimaa'a" (أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ, apakah Engkau hendak menjadikan di sana orang yang merusak dan menumpahkan darah), dan dijawab, "sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui". Kata kerja yang sama, dipakai di seluruh mushaf hanya dua kali, muncul kembali di sini sebagai larangan eksplisit yang diambil dari Bani Israil, seolah perjanjian ini secara langsung menjawab kekhawatiran yang diajukan para malaikat sejak awal surah, larangan atas persis apa yang mereka khawatirkan.
"Janganlah kalian mengusir diri kalian" (وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ, wa-laa tukhrijuuna anfusakum), dari akar yang berarti diri dan yang berarti mengeluarkan. Larangan ini tidak berbunyi "janganlah kalian mengusir satu sama lain", melainkan memakai kata ganti refleksif, "diri kalian sendiri", seolah mengusir sesama anggota bangsa yang sama sama artinya dengan mengusir diri sendiri. Kata "anfusakum" yang sama muncul lagi persis di pembuka ayat berikutnya, 2:85, "tsumma antum haa'ulaa'i taqtuluuna anfusakum" (ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ, kemudian kalian ini membunuh diri kalian sendiri), kali ini dipasangkan dengan kata kerja yang lebih berat, membunuh, bukan lagi sekadar mengusir. Pengulangan kata ganti refleksif yang sama pada dua ayat berurutan menautkan larangan di sini langsung dengan pelanggarannya yang akan diceritakan segera sesudahnya.
"Kemudian kalian mengikrarkannya" (ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ, tsumma aqrartum), dari akar yang berarti menetap dan sejuk, bentuk yang berarti menetapkan atau mengakui secara aktif, bukan sekadar mendengar secara pasif. "Sedangkan kalian menyaksikan" (وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ, wa-antum tasyhaduuna), dari akar yang berarti menyaksikan. Dua kata ini bekerja berpasangan menutup dua jalur pembelaan yang berbeda: "aqrartum" menutup kemungkinan mengaku tidak pernah menyetujuinya, dan "tasyhaduuna" menutup kemungkinan mengaku tidak menyaksikan sendiri prosesnya. Perjanjian ini bukan sesuatu yang dipaksakan tanpa persetujuan, dan bukan pula sesuatu yang terjadi tanpa disaksikan langsung oleh yang terikat olehnya, dua penyangkalan sekaligus terhadap dua jenis pembelaan yang paling umum dipakai.
Tafsiran
Ayat ini menautkan perjanjian dengan Bani Israil kembali ke titik paling awal surah ini. Ketika para malaikat mempertanyakan penciptaan manusia sebagai khalifah dengan menyebut kekhawatiran spesifik, penumpahan darah dan kerusakan, jawaban yang diberikan bukan sanggahan, melainkan "Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui". Ayat ini memperlihatkan salah satu bagian dari pengetahuan itu: sebuah perjanjian eksplisit yang justru melarang persis apa yang dikhawatirkan malaikat, diambil dari satu bangsa tertentu, lengkap dengan pengakuan dan kesaksian mereka sendiri atas perjanjian itu.
Ayat berikutnya, 2:85, akan menunjukkan bahwa larangan ini dilanggar, bukan oleh orang lain, melainkan oleh mereka sendiri terhadap sesama mereka. Jika demikian, kekhawatiran malaikat di 2:30 bukan sesuatu yang terbukti keliru; ia justru terbukti berdasar. Yang tersisa sebagai jawaban Allah bukan penyangkalan atas kekhawatiran itu, melainkan sesuatu lain yang tidak diketahui malaikat, yang teksnya sendiri tidak merincikan lebih jauh di sini.
Penyebutan "aqrartum" dan "tasyhaduuna" berdampingan menutup ruang bagi pembelaan yang biasa dipakai, tidak pernah setuju, atau tidak pernah tahu prosesnya. Perjanjian ini diakui secara aktif dan disaksikan langsung, dua lapis yang membuat pelanggarannya nanti, di ayat berikutnya, tidak bisa dijelaskan sebagai kesalahpahaman atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar disepakati.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai untuk melarang penumpahan darah di sini adalah kata yang sama, dan satu-satunya yang sama di seluruh mushaf, dengan kata yang dipakai malaikat saat mempertanyakan penciptaan manusia. Sebuah kekhawatiran yang diajukan di titik paling awal ternyata mendapat jawabannya jauh kemudian, bukan lewat sanggahan langsung, melainkan lewat sebuah larangan eksplisit yang diambil dari salah satu bangsa manusia. Jawaban yang datang belakangan kadang lebih meyakinkan daripada jawaban yang datang seketika.
- Ayat berikutnya akan memperlihatkan bahwa larangan ini dilanggar oleh yang mengikrarkannya sendiri. Ini menyingkap sesuatu yang jarang diakui secara terbuka, bahwa kekhawatiran yang tampak diragukan Allah lewat jawaban-Nya kepada malaikat ternyata bukan kekhawatiran yang keliru; ia kekhawatiran yang berdasar, dan yang tidak diketahui malaikat bukan bahwa kekhawatiran itu salah, melainkan sesuatu lain yang lebih besar yang menyertainya.
- Mengikrarkan secara aktif dan menyaksikan secara langsung adalah dua hal yang berbeda, dan ayat ini menyebut keduanya, bukan hanya salah satu. Seseorang bisa saja hadir menyaksikan sesuatu tanpa pernah benar-benar menyetujuinya, atau menyetujui sesuatu tanpa benar-benar memperhatikan prosesnya. Disebutkannya keduanya sekaligus menutup kedua celah itu bersamaan, tidak menyisakan satu pun jalan untuk mengaku tidak benar-benar terlibat.
- Dari sekian banyak kemungkinan isi perjanjian, yang disebut di sini bukan aturan rumit atau kewajiban berat, melainkan sesuatu yang nyaris menjadi syarat minimal bagi hidup bersama, tidak saling membunuh dan tidak saling mengusir dari kampung halaman. Bahwa justru batas paling dasar inilah yang kelak dilanggar menyingkap bahwa kegagalan yang dibicarakan bukan kegagalan pada aturan yang rumit dan mudah disalahpahami, melainkan kegagalan pada sesuatu yang seharusnya paling jelas.
- Kalimat Allah kepada malaikat, mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, tidak pernah dijelaskan lebih lanjut isinya di ayat ini atau ayat-ayat sesudahnya secara langsung. Membiarkan sebuah jawaban tetap terbuka seperti ini, alih-alih memaksakan kepastian yang tidak tersedia dari teksnya, adalah bagian dari bagaimana seharusnya sebuah pertanyaan besar diperlakukan, diakui batasnya, bukan diisi dengan jawaban yang dikarang sendiri.
- Larangan di ayat ini tidak berbunyi jangan saling mengusir; ia berbunyi jangan mengusir diri kalian sendiri, seolah kerugian yang ditimbulkan pada sesama anggota bangsa yang sama pada akhirnya kembali kepada diri sendiri juga. Cara memandang seperti ini mengubah perhitungan untung-rugi dari sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam sebuah konflik internal, menjadi kesadaran bahwa tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan ketika yang terluka adalah bagian dari diri yang sama.