وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ
Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian kalian, “Janganlah kalian menumpahkan darah kalian dan janganlah kalian mengusir diri kalian dari kampung halaman kalian.” Kemudian kalian mengikrarkannya, sedangkan kalian menyaksikan.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْwa-idz akhadznaa miitsaaqakumdan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian kalian
- لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْlaa tasfikuuna dimaa'akum wa-laa tukhrijuuna anfusakum min diyaarikumjanganlah kalian menumpahkan darah kalian dan janganlah kalian mengusir diri kalian dari kampung halaman kalian
- ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَtsumma aqrartum wa-antum tasyhaduunakemudian kalian mengikrarkannya, sedangkan kalian menyaksikan
Terjemahan per kata (15 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- أَخَذْنَاakhadznaaKami mengambil
- مِيثَاقَكُمْmiitsaaqakumperjanjian kalian
- لَاlaatidak
- تَسْفِكُونَtasfikuunakalian menumpahkan
- دِمَاءَكُمْdimaa'akumdarah kalian
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- تُخْرِجُونَtukhrijuunakalian mengeluarkan
- أَنْفُسَكُمْanfusakumdiri kalian
- مِنْmindari
- دِيَارِكُمْdiyaarikumkampung halaman kalian
- ثُمَّtsummakemudian
- أَقْرَرْتُمْaqrartumkalian mengikrarkan
- وَأَنْتُمْwa-antumpadahal kalian
- تَشْهَدُونَtasyhaduunakalian menyaksikan
Inti bacaan
Perjanjian eksplisit: jangan menumpahkan darah, jangan saling mengusir dari kampung halaman, ditegaskan dengan 'kalian berikrar sedang kalian menyaksikan', menghapus alasan lupa atau tak sadar. Konkretnya: komitmen menjaga perdamaian dan tidak mengusir sesama dari tempat tinggalnya adalah kewajiban dasar yang disaksikan sendiri, bukan aturan asing yang bisa diklaim tak pernah disetujui.
Penjelasan pilihan kata
"Janganlah kalian menumpahkan darah kalian" (لَا تَسْفِكُونَ دِمَاءَكُمْ, laa tasfikuuna dimaa'akum), dari akar yang berarti menumpahkan darah. Akar ini adalah salah satu akar paling langka di seluruh mushaf terkait ayat ini: hanya terpakai di 2 ayat, di sini dan di 2:30. Di 2:30, para malaikat mempertanyakan rencana Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, "a-taj'alu fiihaa man yufsidu fiihaa wa-yasfiku d-dimaa'a" (أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ, apakah Engkau hendak menjadikan di sana orang yang merusak dan menumpahkan darah), dan dijawab, "sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui". Kata kerja yang sama, dipakai di seluruh mushaf hanya dua kali, muncul kembali di sini sebagai larangan eksplisit yang diambil dari Bani Israil, seolah perjanjian ini secara langsung menjawab kekhawatiran yang diajukan para malaikat sejak awal surah, larangan atas persis apa yang mereka khawatirkan.
"Janganlah kalian mengusir diri kalian" (وَلَا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ, wa-laa tukhrijuuna anfusakum), dari akar yang berarti diri dan yang berarti mengeluarkan. Larangan ini tidak berbunyi "janganlah kalian mengusir satu sama lain", melainkan memakai kata ganti refleksif, "diri kalian sendiri", seolah mengusir sesama anggota bangsa yang sama sama artinya dengan mengusir diri sendiri. Kata "anfusakum" yang sama muncul lagi persis di pembuka ayat berikutnya, 2:85, "tsumma antum haa'ulaa'i taqtuluuna anfusakum" (ثُمَّ أَنْتُمْ هَٰؤُلَاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ, kemudian kalian ini membunuh diri kalian sendiri), kali ini dipasangkan dengan kata kerja yang lebih berat, membunuh, bukan lagi sekadar mengusir. Pengulangan kata ganti refleksif yang sama pada dua ayat berurutan menautkan larangan di sini langsung dengan pelanggarannya yang akan diceritakan segera sesudahnya.
"Kemudian kalian mengikrarkannya" (ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ, tsumma aqrartum), dari akar yang berarti menetap dan sejuk, bentuk yang berarti menetapkan atau mengakui secara aktif, bukan sekadar mendengar secara pasif. "Sedangkan kalian menyaksikan" (وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ, wa-antum tasyhaduuna), dari akar yang berarti menyaksikan. Dua kata ini bekerja berpasangan menutup dua jalur pembelaan yang berbeda: "aqrartum" menutup kemungkinan mengaku tidak pernah menyetujuinya, dan "tasyhaduuna" menutup kemungkinan mengaku tidak menyaksikan sendiri prosesnya. Perjanjian ini bukan sesuatu yang dipaksakan tanpa persetujuan, dan bukan pula sesuatu yang terjadi tanpa disaksikan langsung oleh yang terikat olehnya, dua penyangkalan sekaligus terhadap dua jenis pembelaan yang paling umum dipakai.
Tafsiran
Ayat ini menautkan perjanjian dengan Bani Israil kembali ke titik paling awal surah ini. Ketika para malaikat mempertanyakan penciptaan manusia sebagai khalifah dengan menyebut kekhawatiran spesifik, penumpahan darah dan kerusakan, jawaban yang diberikan bukan sanggahan, melainkan "Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui". Ayat ini memperlihatkan salah satu bagian dari pengetahuan itu: sebuah perjanjian eksplisit yang justru melarang persis apa yang dikhawatirkan malaikat, diambil dari satu bangsa tertentu, lengkap dengan pengakuan dan kesaksian mereka sendiri atas perjanjian itu.
Ayat berikutnya, 2:85, akan menunjukkan bahwa larangan ini dilanggar, bukan oleh orang lain, melainkan oleh mereka sendiri terhadap sesama mereka. Jika demikian, kekhawatiran malaikat di 2:30 bukan sesuatu yang terbukti keliru; ia justru terbukti berdasar. Yang tersisa sebagai jawaban Allah bukan penyangkalan atas kekhawatiran itu, melainkan sesuatu lain yang tidak diketahui malaikat, yang teksnya sendiri tidak merincikan lebih jauh di sini.
Penyebutan "aqrartum" dan "tasyhaduuna" berdampingan menutup ruang bagi pembelaan yang biasa dipakai, tidak pernah setuju, atau tidak pernah tahu prosesnya. Perjanjian ini diakui secara aktif dan disaksikan langsung, dua lapis yang membuat pelanggarannya nanti, di ayat berikutnya, tidak bisa dijelaskan sebagai kesalahpahaman atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar disepakati.
Renungan dan Hikmah
- Kata yang dipakai untuk melarang penumpahan darah di sini adalah kata yang sama, dan satu-satunya yang sama di seluruh mushaf, dengan kata yang dipakai malaikat saat mempertanyakan penciptaan manusia. Sebuah kekhawatiran yang diajukan di titik paling awal ternyata mendapat jawabannya jauh kemudian, bukan lewat sanggahan langsung, melainkan lewat sebuah larangan eksplisit yang diambil dari salah satu bangsa manusia. Jawaban yang datang belakangan kadang lebih meyakinkan daripada jawaban yang datang seketika.
- Ayat berikutnya akan memperlihatkan bahwa larangan ini dilanggar oleh yang mengikrarkannya sendiri. Ini menyingkap sesuatu yang jarang diakui secara terbuka, bahwa kekhawatiran yang tampak diragukan Allah lewat jawaban-Nya kepada malaikat ternyata bukan kekhawatiran yang keliru; ia kekhawatiran yang berdasar, dan yang tidak diketahui malaikat bukan bahwa kekhawatiran itu salah, melainkan sesuatu lain yang lebih besar yang menyertainya.
- Mengikrarkan secara aktif dan menyaksikan secara langsung adalah dua hal yang berbeda, dan ayat ini menyebut keduanya, bukan hanya salah satu. Seseorang bisa saja hadir menyaksikan sesuatu tanpa pernah benar-benar menyetujuinya, atau menyetujui sesuatu tanpa benar-benar memperhatikan prosesnya. Disebutkannya keduanya sekaligus menutup kedua celah itu bersamaan, tidak menyisakan satu pun jalan untuk mengaku tidak benar-benar terlibat.
- Dari sekian banyak kemungkinan isi perjanjian, yang disebut di sini bukan aturan rumit atau kewajiban berat, melainkan sesuatu yang nyaris menjadi syarat minimal bagi hidup bersama, tidak saling membunuh dan tidak saling mengusir dari kampung halaman. Bahwa justru batas paling dasar inilah yang kelak dilanggar menyingkap bahwa kegagalan yang dibicarakan bukan kegagalan pada aturan yang rumit dan mudah disalahpahami, melainkan kegagalan pada sesuatu yang seharusnya paling jelas.
- Kalimat Allah kepada malaikat, mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, tidak pernah dijelaskan lebih lanjut isinya di ayat ini atau ayat-ayat sesudahnya secara langsung. Membiarkan sebuah jawaban tetap terbuka seperti ini, alih-alih memaksakan kepastian yang tidak tersedia dari teksnya, adalah bagian dari bagaimana seharusnya sebuah pertanyaan besar diperlakukan, diakui batasnya, bukan diisi dengan jawaban yang dikarang sendiri.
- Larangan di ayat ini tidak berbunyi jangan saling mengusir; ia berbunyi jangan mengusir diri kalian sendiri, seolah kerugian yang ditimbulkan pada sesama anggota bangsa yang sama pada akhirnya kembali kepada diri sendiri juga. Cara memandang seperti ini mengubah perhitungan untung-rugi dari sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam sebuah konflik internal, menjadi kesadaran bahwa tidak ada pihak yang benar-benar diuntungkan ketika yang terluka adalah bagian dari diri yang sama.