وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ ۖ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ
Sungguh, Kami benar-benar telah memberikan Kitab kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya rasul-rasul. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang nyata, dan Kami kuatkan dia dengan Ruh Kudus. Maka apakah setiap kali seorang rasul datang kepada kalian membawa sesuatu yang tidak diinginkan diri kalian, kalian menyombongkan diri? Lalu sebagian kalian dustakan, dan sebagian kalian bunuh?
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِwa-la-qad aataynaa muusaa l-kitaaba wa-qaffaynaa min ba'dihi bi-r-rusulisungguh, Kami benar-benar telah memberikan Kitab kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya rasul-rasul
- وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِwa-aataynaa 'iisaa bna maryama l-bayyinaati wa-ayyadnaahu bi-ruuhi l-qudusidan Kami berikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti yang nyata, dan Kami kuatkan dia dengan Ruh Kudus
- أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْa-fa-kullamaa jaa'akum rasuulun bi-maa laa tahwaa anfusukumu istakbartummaka apakah setiap kali seorang rasul datang kepada kalian membawa sesuatu yang tidak diinginkan diri kalian, kalian menyombongkan diri
- فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَfa-fariiqan kadzdzabtum wa-fariiqan taqtuluunalalu sebagian kalian dustakan, dan sebagian kalian bunuh
Terjemahan per kata (28 kata)
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- آتَيْنَاaataynaaKami memberikan
- مُوسَىmuusaaMusa
- الْكِتَابَl-kitaabaKitab
- وَقَفَّيْنَاwa-qaffaynaadan Kami susulkan
- مِنْmindari
- بَعْدِهِba'dihisesudahnya
- بِالرُّسُلِbi-r-rusulidengan rasul-rasul
- وَآتَيْنَاwa-aataynaadan Kami berikan
- عِيسَى'iisaaIsa
- ابْنَbnaputra
- مَرْيَمَmaryamaMaryam
- الْبَيِّنَاتِl-bayyinaatibukti-bukti yang nyata
- وَأَيَّدْنَاهُwa-ayyadnaahudan Kami kuatkan dia
- بِرُوحِbi-ruuhidengan Ruh
- الْقُدُسِl-qudusiKudus
- أَفَكُلَّمَاa-fa-kullamaamaka apakah setiap kali
- جَاءَكُمْjaa'akumdatang kepada kalian
- رَسُولٌrasuulunseorang rasul
- بِمَاbi-maadengan apa yang
- لَاlaatidak
- تَهْوَىٰtahwaamenginginkan
- أَنْفُسُكُمُanfusukumudiri kalian
- اسْتَكْبَرْتُمْistakbartumkalian menyombongkan diri
- فَفَرِيقًاfa-fariiqanmaka segolongan
- كَذَّبْتُمْkadzdzabtumkalian dustakan
- وَفَرِيقًاwa-fariiqandan segolongan
- تَقْتُلُونَtaqtuluunakalian bunuh
Inti bacaan
Ingat usulan terakhir yang kautolak di tempat kerja atau di rumah. Tulis dua daftar: apa yang keliru dari usulan itu, dan apa yang akan berubah bagimu kalau ia dijalankan. Kalau daftar kedua lebih panjang daripada yang pertama, keberatanmu bukan tentang usulannya. Katakan keberatan yang sebenarnya itu, meski lebih tidak enak diucapkan.
Penjelasan pilihan kata
"Kami susulkan setelahnya rasul-rasul" (وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ, wa-qaffaynaa min ba'dihi bi-r-rusuli), dari akar yang berarti mengikuti dari belakang, salah satu akar paling langka di seluruh mushaf, hanya terpakai di 4 ayat. Akar yang sama dipakai lagi di 5:46, "wa-qaffaynaa 'alaa aatsaarihim bi-'iisaa ibni maryama" (وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ, Kami iringkan jejak mereka dengan Isa putra Maryam), kali ini menyebut Isa secara langsung sebagai yang menyusul. Kata kerja yang sama, yang jarang dipakai, muncul dua kali untuk menggambarkan rangkaian pengutusan yang sama, dari Musa, lewat rasul-rasul yang menyusul, sampai Isa, sebuah barisan yang disambung, bukan sekumpulan kejadian terpisah.
"Dan Kami kuatkan dia dengan Ruh Kudus" (وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ, wa-ayyadnaahu bi-ruuhi l-qudusi), dari akar yang berarti suci, akar yang juga jarang, 10 ayat. Frasa yang sama persis, "ayyadtuka bi-ruuhi l-qudus" (Aku menguatkanmu dengan Ruh Kudus), diucapkan lagi kepada Isa di 5:110. Di 16:102, frasa "ruuh al-qudus" dipakai untuk sesuatu yang berbeda penerimanya, membawa turun wahyu "untuk meneguhkan orang-orang yang telah beriman". Nama yang sama menandai dua peran, menguatkan seorang rasul secara langsung di satu tempat, membawa wahyu turun di tempat lain, dua bentuk dukungan yang berbeda wujudnya tapi berasal dari sebutan yang sama.
"Menyombongkan diri" (اسْتَكْبَرْتُمْ, istakbartum), dari akar yang berarti besar, adalah kata pertama yang muncul sesudah pertanyaan retoris "afakullamaa" (setiap kali). Baru sesudah kesombongan disebut, ayat ini bercabang ke dua akibat berbeda, "sebagian kalian dustakan" (فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ, fa-fariiqan kadzdzabtum) dan "sebagian kalian bunuh" (وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ, wa-fariiqan taqtuluuna). Susunan ini menaruh kesombongan sebagai akar tunggal yang kemudian bercabang dua, bukan dua akibat yang berdiri sendiri-sendiri; mendustakan dan membunuh sama-sama tumbuh dari satu sikap yang sama, hanya berbeda kadarnya. Akar yang berarti besar itu sendiri terpakai luas, 153 ayat, dan bentuk "istakbara" yang dipakai di sini secara konsisten menandai penolakan yang berpangkal pada rasa diri lebih tinggi, muncul pertama kali di seluruh mushaf pada iblis yang menolak sujud kepada Adam, "abaa wa-stakbara" (أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ, ia enggan dan menyombongkan diri, 2:34). Kata yang sama yang menandai penolakan pertama di seluruh mushaf kini dipakai lagi untuk penolakan berulang terhadap para rasul.
Kedua kata kerja dalam percabangan ini juga berbeda bentuknya. "Mendustakan" (كَذَّبْتُمْ, kadzdzabtum) berbentuk selesai, sedangkan "membunuh" (تَقْتُلُونَ, taqtuluuna) berbentuk sedang atau terus berlangsung. Mendustakan di sini terasa sebagai tindakan yang telah tuntas, sementara membunuh terasa sebagai sesuatu yang berkelanjutan, bukan peristiwa tunggal yang sudah berakhir, sebuah perbedaan kecil yang menambah berat pada cabang kedua tanpa mengubah akar keduanya yang sama.
Tafsiran
Ayat ini mengubah cakupan pembicaraan. Rangkaian sejak 2:74 berbicara tentang episode-episode tertentu, hati yang mengeras, firman yang diubah, perjanjian yang dikhianati. Ayat ini melangkah mundur untuk melihat pola yang lebih besar, membentang dari Musa, melalui barisan rasul yang menyusul, sampai Isa, dan menyimpulkan bahwa yang baru saja diceritakan bukan penyimpangan sesaat, melainkan pengulangan dari sesuatu yang sudah terjadi berkali-kali sepanjang sejarah pengutusan.
Pertanyaan retoris "afakullamaa", apakah setiap kali, mengarahkan tuduhan bukan kepada satu generasi tertentu, melainkan kepada sebuah pola yang berulang lintas generasi. Penyebutan Musa dan Isa berdampingan, dua tokoh yang sama-sama dihormati, bukan untuk memuji keduanya semata, melainkan untuk menunjukkan bahwa pola penolakan ini tidak pandang bulu terhadap siapa pun yang diutus, betapa pun mulia kedudukannya.
Percabangan menjadi "mendustakan" dan "membunuh" di penutup ayat ini bukan dua pilihan yang setara beratnya, tapi keduanya disebut tumbuh dari akar yang sama, kesombongan menolak sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Ini menyingkap bahwa jarak antara sekadar menolak sebuah kebenaran dan bertindak keras terhadap pembawanya bisa jadi tidak sejauh yang terasa; keduanya bermula dari titik yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja langka yang dipakai untuk menggambarkan pengutusan rasul demi rasul menyiratkan sebuah barisan yang tersambung, bukan sekumpulan peristiwa yang berdiri sendiri-sendiri. Memandang sejarah pengutusan sebagai rangkaian yang tersambung, bukan kejadian acak yang kebetulan berulang, mengubah cara membaca setiap penolakan di dalamnya, bukan lagi insiden terpisah, melainkan bagian dari satu pola yang sama yang terus diulang. Pola berulang: setiap rasul yang membawa sesuatu yang 'tidak diinginkan hawa nafsu' direspons dengan kesombongan, pendustaan, bahkan pembunuhan.
- Ayat ini tidak menyebut mendustakan dan membunuh sebagai dua sikap yang terpisah asal-usulnya; keduanya disebut tumbuh dari satu sikap yang sama, menolak sesuatu yang tidak sesuai keinginan. Jarak antara sekadar tidak percaya dan bertindak keras terhadap yang dianggap mengganggu keinginan seseorang mungkin lebih pendek daripada yang terasa; keduanya bisa mulai dari titik yang identik, hanya berbeda seberapa jauh dibiarkan berkembang.
- Musa dan Isa disebut berdampingan di ayat ini, dua sosok yang sama-sama dihormati luas, dan keduanya sama-sama menghadapi pola penolakan yang sama. Ini menyingkap bahwa penolakan seperti ini tidak ditentukan oleh kekurangan pada yang membawa pesan, sebab yang membawanya di sini adalah tokoh-tokoh yang kedudukannya tidak diragukan; ia ditentukan oleh kesediaan yang menerima untuk mendengarkan sesuatu yang tidak sesuai keinginannya. Kedudukan yang tinggi pada pembawa pesan tidak pernah cukup untuk menjamin pesan itu diterima.
- Nama yang sama, Ruh Kudus, dipakai untuk menguatkan seorang rasul secara langsung di satu ayat, dan untuk membawa turun wahyu di ayat lain. Bentuk dukungan yang berbeda wujudnya ternyata bisa berasal dari sebutan yang sama, sebuah pengingat bahwa satu sumber pertolongan bisa hadir dalam rupa yang berbeda-beda tergantung apa yang sedang dibutuhkan penerimanya. Menelusuri satu sebutan lewat berbagai perannya sering menyingkap kesatuan yang tidak terlihat kalau tiap perannya dipandang terpisah-pisah.
- Alasan penolakan yang disebut ayat ini bukan bahwa pesan yang dibawa rasul itu keliru, melainkan bahwa ia tidak sesuai dengan yang diinginkan diri sendiri. Konkretnya: kebenaran yang tidak nyaman/tidak sesuai keinginan pribadi cenderung ditolak lebih keras daripada kebenaran yang menyenangkan, kewaspadaan terhadap diri sendiri saat menolak sesuatu: apakah karena benar-benar salah, atau karena tidak nyaman bagi keinginanku?
- Ayat ini beralih dari bercerita tentang generasi terdahulu menjadi bertanya langsung kepada audiens yang sedang mendengarkannya, setiap kali rasul datang kepada kalian. Pergeseran dari kisah masa lalu ke pertanyaan langsung ini menutup jarak aman yang biasa dinikmati pembaca kisah orang lain; pola yang baru saja digambarkan sebagai sejarah panjang tiba-tiba menjadi cermin bagi audiensnya sendiri saat ini.